
"Kalian tetap di sini. Jangan mengikuti ku! Mengerti?!"
Kedua pria itu hanya berdehem, dan menunggu di dalam mobil. Sedangkan Shena sudah turun dari mobil dan masuk ke sebuah cafe.
Di sana Shena menghampiri teman-temannya yang duduk bergerombol di meja cafe.
"Hai Girls..." Sapa Shena. Lalu, duduk di kursi yang kosong.
"Oh... Datang juga kau rupanya. Ku kira kau tidak jadi datang." Jawab salah satu temannya.
"Iya, Ku kira dia tidak akan datang. Apalagi berita kebangkrutan Ayahnya sudah tersebar kemana-mana. Aku pikir dia tidak akan memiliki wajah untuk berani menemui kita kemari." Ejek teman lainnya yang tidak mengenakkan.
"Yaa-Shena!!! Apa kau sanggup membayar makanan di sini?! Karena diantara kami tidak ada acara mentraktir hari ini. Jadi kami bayar sendiri-sendiri. Apa kau cukup memiliki uang untuk membayar, Shena?!" Ejek temannya lagi satu persatu. Dan kali ini serempak mereka tertawa keras bersama.
"Ap-apa maksud kalian? Tentu saja A-aku mempunyai uang." Mata Shena sedikit memanas dan berkaca-kaca karena tidak kuasa menahan kesedihan atas penghinaan teman-temannya.
Berbagai ejekan dan sindiran teman-teman Shena terus di lontarkan. Membuat Shena sudah tidak tahan lagi berlama-lama di sana. Tanpa menjawab sindiran dari teman-temannya, Shena langsung beranjak pergi meninggalkan tempat, dengan air mata yang sudah menetes lebih dulu.
Saat Shena terlihat pergi meninggalkan mereka dengan langkah cepat dan menangis pun, Hal itu masih menjadi bahan ejekan teman-temannya yang membicarakan dan menertawainya.
"BRAKK!!!"
Menutup pintu mobil kertas-kertas, Membuat 2 pemuda di jok depan berjingkat kaget dan sontak menoleh ke belakang.
"Pulang! Hiks..." Titah Shena sudah banjir air mata.
"Kenap-..."
"AKU KATAKAN PULANG!!! Hiks..." Shena memotong ucapan Arthur dengan sedikit berteriak di tengah isakannya.
Dayn melajukan mobilnya. Sesekali melirik Shena lewat kaca spion depan, begitu juga Arthur, lewat spion depan pula memerhatikan Shena yang memandang jalan lewat jendela mobil dengan tubuh yang masih bergetar, dan sedikit suara isakan.
Tak lama, mobil mereka terparkir di depan Mansion Ash.
Suara pintu yang ditutup keras masih Arthur dan Dayn dengar.
BRAK!!!!
BRAK!!!
"Kenapa dia?" Tanya Arthur saling menukar pandangan dengan Dayn.
"Tidak Tahu. Jika bukan karena Tuan Ash, Aku tidak ingin menjaga gadis aneh itu." Jawab Dayn demikian.
__ADS_1
"Kau tidak ikhlas?" Tanya Arthur memanas.
"Aku ikhlas, Tentu saja ikhlas, Tapi ini pertama kali aku menjaga seorang gadis dewasa selain kekasih yang aneh. Bahkan pertemuan pertama kali kami kurang berkesan di hati."
"Ck..." Arthur berdecak, Lalu meninggalkan Dayn.
Tap... tap...
"Kalian sudah sampai?! Di mana Shena?" Tanya Ash saat melihat Dayn dan Arthur masuk.
"Baru saja tadi dia masuk. Apa kau tidak melihat kehadirannya?" Ucap Arthur.
"Aku baru saja keluar dari dapur." Jawab Ash.
"Mungkin dia sudah di kamarnya." Ujar Dayn.
Ash meninggalkan semuanya menuju kamar.
Pintu kamar terbuka oleh Ash, menampilkan Shena yang duduk di tengah ranjang dengan memeluk lututnya sambil terisak.
Ash menghampiri Shena dan duduk di ranjang berhadapan dengan Shena, memandang Shena sekilas.
"Kau kenapa?" Tanya Ash menyentuh bahu istrinya.
"Ka-kau sudah pulang?! Apa kau bersama Ayah ku?" Tanya Shena sambil menghapus air matanya.
"Ayah di bawah dengan Dayn dan Arthur. Kenapa kau-..."
Belum selesai Ash bicara, Shena sudah buru-buru turun dari ranjang dan lari keluar kamar dengan kaki telanjang.
"Ayah!!!" Teriak Shena menuruni anak tangga tanpa melihat langkahnya.
Tuan Theo pun memalingkan wajah dari Arthur dan Dayn pada putrinya yang berlari menuruni tangga dengan Kaki telanjang. Jangan lupakan dengan mata sembapnya dan hidung yang memerah.
Selesai menuruni tangga, Shena langsung berlari memeluk sang Ayah, dan makin terisak di dekapan Ayahnya.
"Eh, Kenapa putri Ayah menangis?! Siapa yang sudah mengganggu putri Ayah?"
"Nyonya, minumlah dulu." Dayn menyodorkan gelas minum dan langsung diraih Shena, meneguknya sampai habis dan masih terisak.
"Ayo duduk, Lalu ceritakan, Kenapa putri Ayah menangis."
"Ayahh... Hikss..."
__ADS_1
"Ceritakan! Akan Ayah dengarkan. Kenapa putri cantik Ayah sampai menangis."
"Teman-temanku.. Hiks..."
Shena menceritakan semua perilaku teman-temannya pada Ayahnya.
"Tinggalkan saja teman-teman mu itu. Mereka tidak tulus berteman denganmu." Jawab Tuan Theo menasihati.
Shena menggeleng.
"Mereka teman satu-satunya yang Shena miliki." Jawab Shena tidak ada kapoknya.
"Itu bukan alasan untuk mendapatkan teman Sayang. Lihat!! Waktu kau memiliki segalanya mereka sangat menempel padamu, Tapi setelah kau kehilangan segalanya, mereka membuang mu begitu saja."
"Tapi hanya mereka teman ku berbagi Ayah... Hiks.."
"Tapi sekarang mereka bukan temanmu lagi, Shena."
"Benar. Kami bisa menjadi temanmu pengganti mereka. Kau bisa berbagi apa saja dengan kami, benarkan Dayn?" Ucap Arthur menimpali.
"Benar Nyonya. Kami bisa menjadi temanmu, Jika kau ingin." Balas Dayn.
"Tidak ingin!! Kalian laki-laki. Bagaimana bisa aku berteman dengan laki-laki."
"Kenapa tidak!! Kita bisa menjadi teman sekarang. Benar kan, Paman?!" Tanya Arthur pada Tuan Theo.
"Iya.. Itu benar sayang. Lebih baik kau berteman dengan mereka." Jawab Tuan Theo tersenyum dan sama saja.
"Siapa yang sudah menyakiti istriku? Dayn, Arthur, balaskan rasa sakit istriku pada mereka yang sudah berani berbuat macam-macam." Ash datang menghampiri mereka dan bertanya.
"Siap Tuan!!!" Jawab mereka berdua serentak kala mendapat perintah dari Ash sembari mengangkat tangannya hormat.
"Tungguuu!! Kau tidak perlu membalas perbuatan teman-temanku. Mereka semua hanya belum tahu saja keadaan ku saat ini bagaimana, setelah tahu mereka akan berteman lagi dengan ku." Teriak Shena menahan Dayn dan Arthur yang hendak beranjak pergi. Lalu, menenangkan Ash yang sudah naik pitam sebab istrinya diperlakukan buruk.
"Kau masih ingin berteman dengan mereka? Apa kau tidak memiliki rasa sakit setelah mendapat penghinaan?" Tanya Ash tidak habis pikir.
"Kau tenang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lupakan saja dan tidak perlu ikut campur." Ucap Shena. Setelahnya ia pergi kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Teman merupakan istilah untuk hubungan manusia yang lebih dekat dari hanya sekedar kenal saja, atau bahkan ada yang lebih dekat dari teman yang disebut sebagai sahabat. Seorang sahabat biasanya banyak yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Percaya atau tidak, teman sejati itu tidak ada. Yang ada hanya 'teman momen' saja. Maksudnya adalah, mereka yang bersama kita, yang kita anggap sebagai sahabat sejati itu hanya sedang kebetulan saja memiliki tempat yang sama untuk tinggal, dan memiliki waktu yang sama untuk dihabiskan dengan kita.
Teman sejati tidak akan merasa tersinggung saat kita menghinanya. Mereka tersenyum dan menghinamu lebih parah lagi.
__ADS_1