
"Apa kau tidak ada keinginan mengambilkan ku minum?! Aku haus..."
30 menit dalam keheningan. Shena fokus menata makanan di meja depannya, sedangkan Ash duduk di sofa seberang Shena fokus dengan ponselnya.
Ekheemm...
Ash tetap fokus ke ponselnya.
"Aaaa... Aku lapaarrrr!!!!"
Suara sengaja dikeraskan untuk menarik pria tampan di depannya.
Tapi, gagal. Si pria tetap fokus pada ponselnya.
"YA!! Paman Ash!! Apa kau tuli?!" Teriak Shena menggema.
"Uh!! Kau memanggil ku?! Kenapa?!
"Aku lapar..." Rengeknya.
"Selesaikan dahulu, Baru bisa makan."
"Kau melarang ku untuk makan, Tapi kau sendiri makan. Ck.. Tidak adil! Aku laparr..." Kesal Shena meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai, dan mendaratkan bokongnya di sofa dengan kasar.
"Tidak ada yang berhak melarang ku di sini. Toh kau saja yang dihukum Ayah. Lebih baik kau selesaikan, atau ingin aku yang tambah lagi tugasnya?!"
Shena memutar bola malas dengan raut wajah masam. Seharusnya Ash yang membawa masuk semua barang-barang itu, Karena ia yang sudah membuatnya berada dalam masalah.
Ash tersenyum penuh kemenangan. Lalu, Ia meminum tehnya yang di buat dengan menyuruh Shena tadi di sela hukumannya.
"Kuharap air itu tidak sampai tenggorokannya." Bicara Shena pelan hampir tidak terdengar.
Dan tiba-tiba...
Uhuk... uhukk..
Uhukk... uhukk..
Uhuk... uhukk..
Pppfftt...
Shena menahan tawanya.
"Arrgh... Apa kau baru saja mengumpati suamimu? Uhukk..."
"Sedikit. Hehe..." Jawab Shena dengan senyum terlihat gigi.
Ash siap-siap untuk berdiri, mengambil ancang-ancang. Melihat Ash sepertinya akan berbuat sesuatu, Shena bersiap lari untuk menghindar dari sergapan Ash jika ia mendekatinya.
"Kau ingin kemana?" Tanya Shena terlihat gugup.
"Tidak kemana-mana..." Jawab Ash dengan senyum devil.
"Lalu, Kenapa kau berdiri?"
Ash berjalan mendekati Shena.
"Tidak. Aku hanya-..."
Belum selesai bicara, Karena melihat langkah Ash semakin mendekat, Jadi Shena putuskan berlari.
__ADS_1
"Ingin lari kemana kau gadis nakal??" Kata Ash gerak cepat mengejarnya.
"Hhaa... Aku tidak sengaja." Ucap Shena terus berlari.
"Kemari kau gadis naka!!!"
"Tidak Ingin!! Kau akan menghukum ku nanti."
"Tidak akan. Berhentilah!"
Aksi kejar-kejaran mereka mengitari ruang keluarga.
"Berhenti! Atau aku akan sungguhan menghukum mu."
DUAK!!
AKH!!
Belum juga Ash diam, Shena sudah terima karmanya. Dia menabrak suatu yang keras, membuat kepalanya berdenyut seketika.
"YA!! Apa kau tidak bisa jalan dengan mata?" Gerutu Ash menasihati.
"Eoh... Apa kau bodoh?! Semua jika jalan pakai kaki. Dan aku sedang berlari bukan jalan. Aww, kepala ku sakit.."
Shena tadi memang menabrak Arthur ketika di belokan ruangan, tabrakan itu membuat Arthur terpental membentur tembok di sampingnya, dan Shena menabrak dada keras Arthur yang hampir membuatnya limbung jika saja Ash tidak menangkapnya.
"Aakh... Kepala ku pusing gara-gara menabrak nya. Pusing sekali, aww. Semuanya jadi buram..." Ucap Shena memegangi kepalanya sangat erat.
"Kau harus istirahat, Aku akan ambilkan obat untukmu."
Ash menggendong Shena pergi dan meninggalkan Arthur.
"Ck... Apa yang sedang dia lakukan? Bodo amat! Aku tidak peduli. Karena Aku sangat lapar..." Ucap Arthur yang tidak mengerti apa maksud Shena, dan melanjutkan tujuannya ke dapur.
...***...
Di Suatu Tempat...
Terdapat dua orang pria yang sedang berdiskusi dengan sangat serius.
"Lalu, Bagaimana rencanamu?"
"Kita pakai rencana awal, Kau siapkan saja semuanya."
"Apa kau yakin?! di sana ada Shena."
"Kau mengerti? Justru itu kita pakai cara awal. Jadi, Shena tidak akan terluka di sana. Kau hanya membawanya keluar dari sana, dan bawa ke tempat aman."
"Rencana apa yang kalian maksudkan?" Seseorang datang di sela perbincangan mereka.
"Oh!! Ayah!! Tidak ada. Kami hanya sedang berbincang masalah perusahaan saja. Tidak sedang ada rencana apa-apa."
"Jangan berbohong, Arsen!! Ayah tahu raut wajahmu jika berbohong."
"Ayah... Ini tentang Theo Corp yang membatalkan kontrak sepihak." Timpal Frey setelahnya.
"Ayah tahu mengenai itu. Ayah hanya tidak ingin kalian melangkah lebih jauh lagi. Sekarang posisinya bukan Theo yang memimpin, melainkan Ash yang tidak bisa kita permainkan dia. Biarkan saja mereka melakukan apapun sesukanya. Mereka bukan satu-satunya perusahaan besar di negeri ini." Balas Thomi. Ayah angkat mereka.
"Tidak Ayah. Mereka sudah merebut segalanya darimu. Tuan Ash dan adik mu Theo harus menerima akibatnya." Ucap Arsen.
"Pikirkan baik-baik, Nak, Sebelum melangkah. Ayah tidak ingin kalian salah jalan dan menyesal nantinya."
__ADS_1
"Mereka sudah memalukan Ayah dan tidak bisa di biarkan!!" Gertak Arsen mengepalkan tangannya.
"Itu kesalahan dari pengacara kita, Arsen. Mereka memanipulasi semua data perusahaan Theo Corp pada kita. Mereka memanfaatkan kita untuk meraup keuntungan besar jika kita berhasil merebut Theo Corp. Mengertilah, Nak! Itu bukan hak kita."
"Tidak Ayah. Aku tidak bisa merima mereka memalukan Ayah di depan orang-orang penting. Akan ku buat perhitungan." Keras kepala Arsen dan keteguhan hatinya.
Tuan Thomi hanya beraut sedih dengan ambisi putra angkatnya yang ingin membalas rasa malu yang ia alami. Namun, jika diperhatikan baik-baik, tersirat senyum licik tipis di wajahnya samar, bahkan bisa hampir tidak terlihat!!
"Ayah, Aku pergi dulu. Ada urusan yang harus ku selesaikan, Mungkin nanti aku akan pulang larut. Ayah tidak perlu menunggu ku." Kata Arsen selanjutnya.
"Baiklah. Berhati-hatilah!" Jawab Tuan Thomi.
"Aku juga harus pergi!!" Kata Frey mengikuti kakaknya.
Frey juga pergi begitu saja tanpa menatap pria tua di sampingnya.
"Kau ingin kemana, Frey?? Frey!! Frey Oliver!!!" Teriak Tuan Thomi memanggil-manggil putra bungsu angkatnya, Karena ia bingung kemana akan perginya anak itu yang tidak memiliki urusan penting. Apakah ia pergi untuk menyusul kakaknya?!
Sia-sia si anak seakan tuli oleh panggilan sang ayah.
...***...
Di Mansion Ash...
"Kenapa tidak ada yang memberi tahu ku jika Ayah pergi?!" Tanya Shena pada Ash yang baru saja terbangun dari tidurnya, dan mendapatkan informasi dari Ash jika Tuan Theo dan juga Dayn pergi ke luar negeri subuh hari tadi dan hanya Ash dan Arthur yang akan menjaga Shena.
"Kau masih tertidur pulas, Shena. Bagaimana aku tega membangunkan mu, hem?? Lagipula Ayah mu pergi dengan Dayn dan beberapa bodyguard lain."
"Ck... Aku lapar. Siapkan aku sarapan!!" Titah Shena pada Ash.
"Bukankah seharusnya istri yang membuatkan sarapan untuk suaminya. Ayo sana!"
"Tapi kau yang paling bisa masak. Aku tidak terlalu mahir dalam memasak."
"Aku tidak percaya. Sepertinya kau hanya manja saja padaku. Kata Ayah, kau wanita mandiri yang senang memasak di Mansion kalian dulu, Bahkan setiap hari kau memasak untuk ayah mu bersama pelayan lain. Tapi kau ragu akan bakat mu itu dihadapan ku sekarang."
"Agh... Itu dulu. Tapi kau memiliki banyak maid yang bekerja untuk mu. Mereka bisa masak untuk mu." Alasan Shena memalingkan wajahnya.
"Tapi, Aku ingin makan masakan istriku. Masak atau aku potong jatah bulanan mu!?"
"Aku tidak terlalu yakin bisa mencobanya untuk mu." Kata Shena memberengut, tapi segera beranjak ke dapur.
Ash menatap Shena dengan tersenyum bengis. Dengan mimik wajah yang tidak bisa Shena artikan.
"Kenapa wajahmu begitu?!" Shena kesal melihat wajah dan tatapan Ash.
"Uh!! Kenapa dengan wajah ku?" Bingung Ash.
"Jangan berpura-pura tidak tahu dan angkuh akan ketampanan mu itu!!" Kecam Shena.
"Kau menggoda ku?! Atau kau sedang merayu ku? Apa kau tidak sabar untuk malam nanti, sehingga kau menggodaku sekarang, di saat Ayah tidak ada di Mansion, hum?! Apa kau menginginkan malam romantis dengan dikelilingi lilin-lilin cantik?! Atau kau ingin malam yang menantang dengan boneka-boneka kayu dan bunga-bunga persembahan disertai dengan-..." Goda Ash mendekati istrinya.
"Ya tuhan.. Ujian apalagi yang kau berikan. Setelah aku jatuh miskin, di tinggal Ayah pergi tanpa pamit, dinikahi pria asing yang ternyata paman mesum, kuno, bermulut sadis, dan sebentar lagi aku akan dijadikan tumbal ritual pemuja setan.." Ketus Shena memotong ucapan Ash dengan pengaduan kedua tangan di tautkan disertai langkah yang di entak-entakan kesal sangat kesal menuju dapur.
Ash terkekek geli melihat tingkah kesal Shena yang meninggalkannya.
"Masak yang lezat sayang..." Teriaknya setelah Shena hampir menghilang masuk dapur dan ia di selasar kamar lantai 2.
"Jika ingin enak, masak saja sendiri!!" Balasan teriak Shena dalam dapur dengan nada kesal.
"Menyenangkan sekali menggodanya. Hemm, Tidak buruk juga, Ini menjadi hobi yang baru untuk selalu mengganggunya. Istriku memang yang paling istimewa!!" Kata Ash tidak hentinya ia tersenyum menatap istri di bawah yang sedang di sungut kekesalan.
__ADS_1