
Shena terbangun lebih dulu. Mendapati Arthur yang masih tertidur pulas di sofa kamarnya. Ternyata Arthur benar-benar menjaganya semalaman. Shena segera ke kamar mandi membersihkan diri. Selesai, Lalu beranjak keluar kamar.
1 jam setelah Arthur terbangun dan membersihkan diri. Ia segera menuruni tangga dengan pakaian rapi.
"Kalian melihat Shena kemana?" Tanya Arthur pada Maid.
"Nona Shena di halaman belakang, Tuan." Jawab salah satu maid dengan ramah.
Arthur segera pergi ke halaman belakang.
Halaman Belakang...
Arthur menghampiri Shena dan Shena yang sadar hadirnya Arthur mulai berbalik.
"Eoh.. Kau sudah bangun?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tidak ada. Aku hanya bosan. Apa mereka belum ada kabar?" Tanya Shena menanyakan kabar Ash dan Ayahnya.
"Tadi, Dayn menelepon ku. Di sana mereka baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Apa kau sudah sarapan?"
Suasana hening. Shena sibuk dengan buah-buahan yang tumbuh di pohon halaman belakang Mansion dan dia petik, Sedangkan Arthur terbaring di bangku taman sambil memejakan mata, menikmati udara segar yang penuh penghijauan.
"Tuan Arthur!" Panggil Shena.
"Hmm..." Jawab Arthur demikian dan menatap Shena setelah memanggilnya.
"Aku bosan di dalam Mansion seharian. Bisakah kau mengizinkan ku keluar jalan-jalan?"
"Aku akan mengantarkan mu."
"Mengantar saja yaa?!! Seelah itu kau pulang. Aku berjanji tidak akan macam-macam, dan ketika pulang kau bisa menjemput ku kembali. Oke?!"
"Menemani mu!" Jawab Arthur tanpa basa-basi yang singkat dan jelas.
"Aaahh... Ayolah... Aku berjanji tidak akan nakal, Kau bisa mngawasiku lewat ponsel, Aku akan mngaktifkan gps agar kau bisa terus melacak keberadaan ku. Benarkan!?" Merengek Shena dengan sedikit memelas lucu.
__ADS_1
Arthur diam menatapnya datar.
Shena menelan salivanya, Jujur saja dia merinding di tatap Arthur seperti itu. Mengerikan!
"Bo-bolehkan?!" Tanya Shena memastikan.
"Baiklah." Keputusan Arthur setelah mempertimbangkan sangat panjang.
Shena tersenyum semringah.
"Ah... Terima kasih. Aku akan siap-siap!"
Shena bergegas berlari memasuki Mansion, Meninggalkan Arthur.
"Jangan matikan ponselmu. Kau sudah berjanji akan hal itu!!" Teriak Arthur.
"Kau tenang saja!" Balasnya berteriak, membuat Arthur geleng-geleng kepala.
Tak membutuhkan waktu lama, Shena sudah berada di luar dan ia akhirnya mengunjungi beberapa tempat yang dia kunjungi, sendirian, tanpa penjagaan. Seperti baru terbebas dari penjara sampai ia menyebutnya ini adalah surga. Ia memakan berbagai makanan yang di jual di pinggir lokasi, bermain permainan tanpa mempedulikan tatapan orang sekeliling yang menganggapnya seperti anak kecil saja. Shena sangat senang dan semangat hari ini. Dan tidak lupa di selalu mengabadikan moment-moment penting dalam ponselnya, Termasuk berselfie ria.
Berlama-lama seharian di luar tanpa penjagaan membuat Shena merasa baru mendapatkan dunianya kembali selama menikah dengan Ash yang ketika saat itu ia seperti ratu inggris yang mendapatkan pengawalan yang ketat. Ia juga merasa seperti Rapunzel yang dikurung dalam menara yang tinggi. Ketika begitu mendapatkan sebuah kesempatan emas, ia langsung puas-puaskan bermain di luar sampai tidak terasa waktu sudah malam.
Namun, Di sela keasyikannya, Perut Shena berbunyi keroncongan.
"Aku lapar.. Belum makan nasi dari siang. Haruskah aku mampir ke restaurant untuk makan?! Tapi ini sudah malam, harusnya aku sudah pulang sebelum Tuan Arthur khawatir mencari ku. Tapi aku lapar, Aku telepon Tuan Arthur saja. Aku tinggal makan, baru dia bisa menjemput ku." Kata Shena mengocek handphonenya di tas selempangnya.
Baru saja menyalakan ponselnya, Tapi tiba-tiba layarnya mati kembali.
"Ck... Baterainya habis segala lagi. Dan aku lupa tidak membawa powerbank. Sial!!" Sungut Shena kesal.
"Biarkan saja. Lebih baik aku makan terlebih dahulu, sebelum aku jatuh pingsan karena kelaparan. Mungkin di sana aku bisa meminta bantuan untuk mencharge handphone ku." Kata Shena.
Shena sampai di restaurant. Ia memang sungguh lapar saat ini. Shena memakan makanannya sambil melirik ke belakang dengan firasat kurang nyaman.
"Bukankah orang itu yang ku temui di mall dan taman tadi. Ah, Mungkin hanya mirip saja, Di dunia ini yang memiliki jaket Hoodie seperti itu tidak hanya dia." Batin Shena berkata.
Shena terus saja memerhatikan pria berhoodie yang duduk di meja sampingnya. Karena Shena dari tadi merasa di perhatikan pria itu.
__ADS_1
Setelah dari Restaurant, Shena berniat ingin langsung pulang.
"Bagaimana aku menghubungi Tuan Arthur jika ponselku mati begini?! Dia juga khawatir dan pasti mencoba untuk menghubungi ku. Aneh! Restaurant sebagus dan semahal itu saja tidak memiliki tempat charger handphone. Ck, Menyebalkan. Tuan Arthur juga mana bisa melacak ku jika ponsel mati. Bahkan, Sejak dari tadi tidak ada taksi lagi di jam segini." Mendumal Shena sendirian dengan kesalnya menendang-nendang batu kecil menelusuri trotoar yang sangat sepi hari ini. Entah kenapa!?
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki terdengar jelas di belakang Shena. Ia berusaha tenang di tempat yang mendadak sepi itu. Padahal seharusnya ramai oleh para pejalan kaki yang menghabiskan malam bersama pasangan atau baru pulang dari bekerja. Shena hanya menganggap suara berjalan tadi karena di sana ada orang yang berlalu lalang, Namun ia tidak melihat.
Jalanan semakin sepi, hanya dirinya saja yang lewat. Tapi suara langkah kaki masih terdengar di belakangnya. Dengan sedikit Shena menoleh ke belakang dengan tetap berjalan.
Dan ternyata, Shena memang melihat siapa yang datang.
"Pria itu lagi! Kenapa aku selalu bertemu dia sejak tadi. Tenang Shena, dia tidak mungkin mengikuti mu. Kemungkinan hanya lewat arah yang sama!" Dalam hati berusaha tenang.
Berulang kali mengambil napas kasar. Jantungnya berdebar, Sedari tadi Shena takut, Tapi mencoba tenang. Ia mengeratkan genggaman tangan di tasnya, Shena semakin mempercepat langkah, Tapi suara langkah di belakang juga semakin keras melangkah.
Shena setengah berlari, Hingga dia berlari kencang. Ia sudah sesak dan suasananya semakin mencekam. Dan sialnya langkah kaki itu juga semakin keras ikut berlari.
Shena yang seakan di ikuti sedari tadi. Tidak terasa Shena berlari dengan menangis, Dia benar-benar takut. Sedangkan di sana, Tidak ada seorang pun yang lewat, Shena salah mengambil jalan sepi.
"Hiks... Ayah!! Hikss..."
Sesekali Shena menengok ke belakang, pria itu masih tetap mengejarnya. Pria bercelana hitam, Hoodie hitam yang juga di tutupi topi hitam, Hingga wajah pria itu tidak dapat terlihat dengan jelas di tempat minim cahaya. Apalagi dalam kondisi berlari. Shena benar-benar ingin berteriak meminta tolong, Tapi tenggorokannya tercekat karena menangis.
Shena mempercepat larinya, Tapi-...
Sreettt...
Grepp!!
__ADS_1
Shena tertarik oleh sebuah tangan. Mulutnya di bekap. Ia takut itu adalah orang yang mengejarnya tadi yang berhasil menangkap dirinya!