
tatapan tajam laras tak membuat mario merasa tersinggung atau tak nyaman. mario tetap berjalan menghampiri laras yang masih setia menenangkan qiana "sayang, sama ayah dulu ya bik larasnya kasihan biar ayah obatin ya" ucap mario dengan suara lirih
qiana menghentikan tangisnya dan menatap mario dengan tanda tanya besar "bik laras kenapa yah, kenapa keningnya terluka? terus di luar juga ada yang teriak tadi" tanya qiana yang jelas masih ketakutan
mario mengambil alih qiana dari tangan laras "hanya monster galak yang tadi sempat datang tapi sudah ayah usir menjauh" ucap mario mengusap kepala qiana dengan lembut
"benar ayah, ayah gak bohong kan? qiana takut minster soalnya" ucap qiana dengan suara masih sesenggukan
"iya sayang" mario menggendong qiana mengambil kotak obat yang tersimpan di kamar pribadinya dan berjalan ke arah laras yang masih duduk di tepi ranjang
"biar saya obatin" tawar mario
"tidak usah tuan" laras mengambil kotak obat yang mario dan mengobati lukanya sendiri tanpa mengaduh sakit padahal jelas luka laras cukup lebar karena banyaknya sisa darah kering di pipinya
mario melirik postur tubuh laras "sepertinya ukuran tubuh kamu gak jauh beda dengan sheryl" laras menatap tajam mario akan ucapan pria itu barusan
"pakaianmu kotor, kebetulan ada pakaian sheryl di lemari jadi bisa kamu pakai dulu" ucap mario meluruskan pikiran laras yang jelas mario tahu karena tatapan laras bisa mengatakan semuanya
"tidak perlu tuan, saya bisa ganti nanti" tolak laras
"pakaianmu kotor laras, dan saya gak suka pengasuh anak saya dalam keadaan kotor. lagian pakaian yang di lemari belum pernah sheryl pakai. dulu saya membelikannya jaga-jaga kalau sheryl lama di sini dan sekarang gak mungkin terpakai juga kan" jelas mario
laras mengangguk mengiyakan akan mengganti pakaiannya, toh pakaian di lemari itu tak mungkin di pakai sheryl lagi secara sheryl sekarang sudah bukan istri mario lagi di tambah hubungannya dengan bachtiar yang tak mengizinkan sheryl untuk memakai pakaian itu lagi
"saya tunggu di luar ya" mario keluar kamar dengan membawa qiana
"qiana ganti baju dulu ya" mario memanggil satpam untuk mengambil pakaian anaknya dalam mobil agar anaknya bisa berganti pakaian
"anak ayah cantik banget" ucap mario setelah selesai memakaikan pakaian untuk qiana
"iya dong, qiana kan prinsesnya ayah, mama dan papa" ucap qiana dengan bangga
"iya princess ayah" mario mengecup pipi qiana dengan gemas
"waah bik laras cantik dengan pakaian itu" puji qiana saat melihatĀ bik laras keluar kamar dan sudah rapih dan terlihat segar dan terlihat sekali habis keramas
__ADS_1
mario menoleh ke arah bik laras, sejenak mario takjub akan penampilan larasyang terlihat begitu cantik saat memakaia pakaian yang jauh lebih baik dari pakaian yang ia pakai sehari-hari "benar kan ayah" tanya qiana menepuk bahu mario
"ah" mario tersadar dari lamunannya
mario mendudukan qiana di sofa, mario berjalan ke arah kamar pribadinya dan mengambil hairdryer lalu kembali lagi ke arah laras "jangan biasakan rambutmu basah aau bisa sakit" mario mendudukan laras di kursi kerjanya dan mengarahkan hairdryer ke arah kepala laras
"biar saya saja tuan"laras tentu tak enak jika ayah dari anak asuhannya mengeringkan rambutnya
"diam saja biar cepat selesai" mario memaksa laras untuk diam dan laras hanya menurutinya saja
qiana tertawa melihat mario yang sedang mengeringkan rambut bik laras "ayah sama kaya papa, papa juga sering keringin rambut mama katanya mama suka ngeyel gak mau keringin rambut dan papa suka takut kalau mama sakit" ucap qiana dengan tawa renyahnya
"ah" bik laras jadi makin tak enak karena cerita qiana
"gak papa kan ayah keringin rambut bik laras" tanya mario
"gak papa ayah, qiana juga gak mau bik laras sakit nanti gak ada yang ajak qiana mainan saat semua orang kerja kan cuma bik laras yang bisa nemenin qiana kapanpun dan gak pake alasan kerja" seru qiana dengan polosnya
"kamu bisa aja" mario tertawa renyah akan balasan anaknya yang begitu lucu untuknya karena begitu naif dan jujur itu
"nona mau makan" tanya bik laras
qiana mengangguk "iya bik, qiana lapar" balas qiana
laras memberikan celemek makan untuk qiana dan mulai menyuapi qiana makan "enak non" tanya bik laras
"enak bik, walaupun gak seenak masakan mama dan bik laras" ucap qiana
mario yang sedang ikut menyantap makanannya pun jadi kepo "emang bik laras bisa masak? perasaan ayah cuma lihat mama yang masak saat menginap di rumah papa" tanya mario
"bisa dong, cuma bik laras masak kalau mama lagi sibuk sama kerjaanny aja selebihnya mama gak pernah izinin orang lain masakin qiana dan papa" balas qiana
mario hanya mengangguk saja mendapati ucapan putri kecilnya perihal laras yang juga bisa memasak
"kalau sudah selesai, kita pulang ya" ajak mario
__ADS_1
"iya ayah" balas qiana
mario menoleh ke arah bik laras "beresin barang qiana, kita siap-siap pulang" ucap mario
"iya tuan" bik laras mulai membereskan barang bawaan qiana
"tok tok tok" terdengar suara pintu ruanga mario di ketuk
'masuk" seru mario
"tuan panggil saya" tanya seorang pria yang jelas adalah seorang satpam melihat dari pakaiannya
"iya, tolong bawakan barang anak saya ke mobil, saya mau ajak anak saya pulang" ucap mario
"ha" satpam itu sempat terbengong melirik bik laras dan qiana yang sedang duduk di sofa
"kamu gak dengar ucapan saya" ucap mario kesal karena satpam perusahaannya malah bengong dan tidak mengikuti perintahnya
"iya tuan" satpam itu mengambil barang qiana dan kunci mobil mario untuk meletakan barang qiana ke dalam mobil
mario menoleh ke arah qiana "ayah ke ruangan om rasta untuk pamitan pulang dulu ya" ucap mario
"iya ayah" balas qiana
setelah mario berpamitan pada asistennya, mario menggendong qiana dan laras setia mengekor di belakangnya "kita ke rumah ayah ya" ucap mario dengan girangnya bisa mengajak anaknya untuk ke rumahnya
"iya ayah" balas qiana antusias
saat melihat kedatangan mario yang menggendong qiana benar-benar menjadi perbincangan hangat tak kalah dari tadi pagi bahkan mungkin kali ini lebih heboh tapi karena mario dan laras yang tidak begitu memperhatikan jadilah mereka tidak memperdulikan prasangka demi prasangka yang mereka layangkan untuk laras dan qiana
"fix, mereka pasti ada hubungan, buktinya wanita itu ganti pakaian "ucap salah satu pegawai mario yang di angguki oleh teman yang lain
mata mereka terus mengikuti mario yang berjalan ke arah mobilnya yang sudah terparkiri di lobi "pegang qiana" mario menyerahkan qiana pada laras karena dia harus masuk ke kursi kemudi untuk menyetir mobilnya itu
bik laras membuka pintu dan duduk di kursi samping kemudi tepat di sebelah mario kemudian mobil mario pun melaju membelah jalanan
__ADS_1
"benar kan tebakan aku pasti itu anak dan selingkuhan pak mario makanya nyonya kita minta cerai dalam keadaan hamil besar" tebak seorang pegawai muda dengan yakinnya bahwa laras adalah selingkhan mario dan qiana adalah anak mario dengan selingkuhan itu