
"Sepertinya kau tidak bisa membaca situasi untuk menyerang." Kata Ash menyeringai.
"Argh... Sial!!!" Mengerang Arsen kesal.
Sebelum Arsen yang hendak ingin menusuk Ash dari belakang, Dayn lebih dulu menepis tangan Arsen dan memukulnya tepat di bagian dada kiri hingga dia tersungkur.
"Beraninya kau menyakiti putraku!!!" Geram Tuan Thomi, lalu mendekati putra angkatnya yang masih tersungkur menahan sakit. Meskipun begitu, ia sangat menyayangi Arsen dan Frey.
Meskipun begitu, Arsen juga tidak berlama terus membenci ayah angkatnya. Apa mereka sengaja merencanakan ini dari awal?
"Ayah... Arrrghh."
"Semua akan baik-baik saja." Ucap Tuan Thomi.
Tuan Thomi membantu putranya berdiri.
"SERANG MEREKA!!!"
Anak buah Arsen dengan segera menyerbu Ash cs dan Tuan Theo cs, termasuk Tuan Edison orang yang ditengah telah di kepung. Satu persatu dari mereka menyerang. Ash berusaha melindungi Shena di belakang tubuhnya, sedangkan yang lain sedikit kewalahan melawan anak buah Arsen yang jumlahnya tidak sedikit.
"Ash!! Bawa Shena pergi dari sini!!" Perintah Tuan Theo.
"Tidak!! Aku tidak ingin. Aku tidak akan meninggalkan Ayah." Kata Shena yang menangis.
Tuan Theo memeluk putrinya.
__ADS_1
"Pergilah dengan suamimu, nak. Tempat ini berbahaya untukmu. Tunggulah Ayah di rumah."
"Kenapa ayah juga tidak ikut pergi bersamaku?" Shena menggeleng disertai isakan. "Tidak. Aku akan tetap bersama Ayah disini. Hiks..."
"Sudah cukup drama malam ini." Sindir Arsen disertai senyum licik.
Sebelum itu, Arsen sudah menodongkan pistol tepat di depan Tuan Theo dan Shena. Membuat semua yang di sekitar terpaku ditempatnya masing-masing disertai khawatir. Sementara itu, para anak buah Arsen sudah tumbang di tangan Ash.
"Akulah lawanmu. Bukan mereka. Aku yang sudah mengkhianati mu. Jika kau ingin membunuh, tembak saja aku." Kata Tuan Thomi.
Arsen tersenyum manis. Rupanya Tuan Thomi merasa sia-sia telah merawat Arsen dengan manis yang akhirnya membuahkan rasa pahit yang membuat Arsen keras kepala dan penuh dendam. Disamping itu, Arsen perlahan menarik pelatuk pistolnya.
"AYAHH!!!!"
DUARR!!!
"Brengsek!!!!" Mengumpat Ash.
Ash hilang kendali, dia murka. Ia menghajar Arsen tanpa memberinya ampun. Untungnya beberapa kali senapan tidak mengenai siapapun.
Dalam keadaan murka dan berduka, Ash terus menghajar Arsen dengan kekuatannya yang luar biasa. Pukulan demi pukulan ditujukan ke arah Arsen, menunjukkan kemarahan yang tak terbendung dalam diri Ash. Tubuh Arsen bergoyang-goyang akibat serangan tak henti dari Ash.
Tuan Theo yang berusaha mempertahankan kesadarannya, melihat adegan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa meskipun Arsen telah dikhianatinya, ia masih merasa kesedihan dan penyesalan melihatnya menderita.
Sementara itu, Tuan Thomi yang telah berhasil meyakinkan Shena untuk pergi bersamanya, melihat kejadian itu dengan perasaan yang bertambah gelap. Ia tahu bahwa perpisahan itu sulit bagi Shena, tetapi demi keamanan keponakannya, ia harus memaksakan diri untuk membawanya pergi.
__ADS_1
"Ash, cukup! Hentikan!" seru Tuan Theo dengan suara lirih, mencoba memanggil perhatian Ash yang tenggelam dalam kemarahannya.
Namun, Ash tidak menghiraukannya. Ia terus melancarkan pukulan-pukulan keras ke tubuh Arsen, memenuhi hatinya yang penuh dendam dan kekecewaan. Tuan Theo merasa iba melihat keadaan itu, tetapi ia harus berusaha menghentikan Ash sebelum Arsen terluka lebih parah atau bahkan tewas.
Dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, Tuan Theo mencoba menggapai tangan Ash yang sedang mengayunkan tinjunya. Ia berhasil meraih tangan Ash dan berbicara dengan suara lemah namun penuh kebijaksanaan.
"Ash, cukup sudah. Kau telah membuktikan kemarahan mu. Lebih baik biarkan hukum dan keadilan yang menyelesaikannya," ujar Tuan Theo dengan nafas tersengal-sengal.
Ash melihat wajah Tuan Theo yang penuh luka dan kelelahan. Ekspresi marahnya mulai mereda sedikit demi sedikit saat ia menyadari kata-kata bijak yang diucapkan oleh orang yang pernah memperlakukannya seperti anak sendiri.
Tuan Theo melanjutkan, "Jangan biarkan kebencian menguasai mu, Ash. Ini bukan jalan yang benar. Biarkan sistem hukum mengambil peran mereka dan memastikan Arsen mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Kenapa harus aku? Kau sendiri sudah membunuh ayahku." Ucap Arsen dalam lemahnya.
"Tapi kau melakukan percobaan pembunuhan menggunakan tangan mu sendiri disini. Meskipun seseorang sudah menjelaskan padamu, kau berusaha menghukum orang yang tidak salah. Dan kau sendiri sudah beberapa kali mengancam nyawa seseorang dengan meneror keluarga ku." Hardik Ash.
Ash merenung sejenak, melihat tubuh Arsen yang lemas di hadapannya. Meskipun hatinya masih dipenuhi amarah, perkataan Tuan Theo mulai merasuki pikirannya. Ia tahu bahwa membunuh Arsen bukanlah jalan yang benar, dan keadilan harus ditegakkan melalui jalur yang tepat.
Dengan nafas yang terengah-engah, Ash melepaskan pegangannya pada Arsen dan berbalik menghadap Tuan Theo. "Ayah, aku... aku akan menyerahkan Arsen pada pihak berwenang. Tapi aku tidak akan membiarkan dia lolos dari konsekuensi perbuatannya."
Tuan Theo mengangguk mengerti, merasa lega melihat perubahan pikiran Ash. "Terima kasih, Ash. Kau telah menunjukkan kedewasaanmu dalam menghadapi situasi ini. Ayo, kita bawa Arsen ke tempat yang aman dan serahkan pada pihak berwenang."
Dengan bantuan Tuan Theo, mereka mengangkat tubuh lemas Arsen dan membawanya keluar dari tempat tersebut. Ash masih merasa marah dan kecewa, tetapi ia memahami bahwa membawa Arsen ke pengadilan adalah tindakan yang lebih tepat daripada melakukan balas dendam sendiri.
Sementara itu, Tuan Thomi telah membawa Shena pergi dari tempat itu, menjauh dari pertumpahan darah dan bahaya. Ia berusaha meyakinkan Shena bahwa mereka akan kembali untuk menemui semua orang setelah situasi telah mereda.
__ADS_1
"Kita akan kembali, Shena. Ayah mu dan Ash akan baik-baik saja. Tapi sekarang, kita perlu melindungi diri kita sendiri dan memberikan waktu kepada Ash dan Theo untuk menyelesaikan masalah ini," kata Tuan Thomi dengan penuh kelembutan. Meskipun wajahnya garang, ia memang sangat penyayang terhadap seorang anak. Ia tetap diberi hati nurani karena tidak bisa dikaruniai seorang anak. Namun, hanya karena harta membuat hatinya buta.
Shena mengangguk dengan setengah hati, masih terisak-isak oleh perpisahan dengan suami dan ayahnya. Ia sangat khawatir dengan mereka. Ia berjanji dalam hati untuk tetap kuat dan berharap dapat kembali bersama keluarganya.