Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Rain Seith Abraham (Season 2)


__ADS_3

Rain Seith Abraham, anak kedua dari pasangan Brian Abraham dan Kayla Atharazka kini sudah berusia 27 tahun, usia di mana pria sudah cukup di katakan matang untuk menikah tapi dia belum ada pikiran menikah ataupun pacaraan padahal kakaknya sudah berkali-kali pacaran walaupun akhirnya gagal melanjut ke jenjang yang lebih serius


"Rain" panggil mama Kayla


"iya mah" Rain menoleh ke arah mamanya yang sedang mengoles selai yang akan di nikmati ayahnya


"kamu nanti pulang dari sekolah jam berapa" tanya mama Kayla tentang rencana anaknya hari ini


"gak tahu mah, soalnya Rain ada ngelatih anak buat lomba minggu depan jadi agak sibuk" balas Rain


"jangan cuma fokus di sekolah Rain tapi cari pacar sana" nasehat mama kayla yang di balas dengan seutas senyuman


Rain memang memilih bidang paling berbeda di antara keluarganya yang lain. Jika saudaranya yang lain memilih jadi pebisnis atau seorang dokter tapi Rain memilih menjadi seorang guru. Papa Brian saja sampai bingung perusahaannya nanti di berikan ke siapa jika anaknya tidak ada yang ingin mengikuti jejaknya sama sekali untuk menjadi seorang pembisnis


"malas mah, nanti kalau sudah ketemu jodohnya dan pas langsung nikah saja gak perlu pacaran " balas Rain dengan begitu santai


Mama Kayla menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putera bungsunya "kenapa cuma kakak kamu aja yang menurun sifat playboy papah  kamu sih" kesal Mama Kayla karena anaknya masih jomblo sejak ia di lahirkan


"loh kok papa di bawa-bawa" sahut papa Brian sambil menyantap roti selai yang di siapkan mama kayla


"ya papa kan papanya" balas mama kayla dengan ketus


"kalau belum mau pacaran ya sudah sih mah, toh dia laki-laki gak masalah juga kalau nikahnya lama" balas papa Brian


"tapi mama juga pengen kaya mba kinan dan mama sheryl yang sudah punya cucu pah" keluh mama kayla


papa Brian hanya bisa menghela nafas panjang "ya nanti kan ada waktunya mah, kalau ngebet kan ada Ghaly, Ghaly manggil kita kakek dan nenek juga kan karena putera masih manggil kita mama dan papa" balas papa Brian


"papa emang ngeselin " mama Kayla mendengus kesal akan sikap suaminya yang menanggapi biasanya saja kedua anaknya belum ada yang menikah

__ADS_1


"sudah ah mah, pah, Rain mau ke sekolah dulu" Rain beranjak darikursinya setelah menyelesaikan sarapannya dan bergegas ke sekolah tempat ia bekerja


Rain mengajar di salah satu SMA yang ada di Jakarta Selatan sebagai guru  mata pelajaran Fisika. Mata pelajaran yang banyak tidak di sukai oleh anak-anak sebab menurut beberapa anak, pelajaran itu begitu sulit  dan tidak membuat tertarik


(curcol ini, gegara gak suka pelajaran FIsika sejal dulu tapi terpaksa tetap mengikuti pelajaran itu gegara SMA dulu masuk jurusan IPA, dan kuliahnya Biologi. Ska Biologi tapi gak suka FIsika)


*"*Selamat pagi anak-anak" sapa Rain saat memasuki kelas XI


"pagi Rain" balas para siswa perempuan dengan begitu semnagatnya


sebab Rain adalah guru tertampan di sekolahan membuat para sisiwi begitu semangat mengikuti pelajaran Fisiika bahkan ada beberapa anak yang sengaja memilih jurusan IPA karena ingin berada di kelas Rain dan bisa memandangi wajah Rain dalam waktu yang cukup lama


"kemarin bapak memberikan tugas pada kalian kan, jadi sekarang mulai presentasi ke depan" ucap Rain membuat riuh suara dalam kelas karena saat presentasi pasti Rain akan bertanya banyak seputar proses pengerjaan dan itu akan membuat kepala anak-anak itu pusing tujuh keliling


"triiingggg" terdengar bel berbunyi pertanda waktu istirahat


Rain berjalan ke arah kantor sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena baru saja mengajar anak-anak yang cukup membuatnya repot karena mempertanyakan hal yang tidak nyambung padanya


Rain duduk di kursi kerjanya dan menyandarkan tubuhnya yang lelah di sandaran kursi "lelah banget ya pak" tanya seseorang mengagetkan Rain yang sedang memejamkan mata


Rain langsung membuak mata dan tersenyum tipis ke arah seseorang yang bertanya padanya " lumayan bu Bela" Bela adalah guru matematika yang duduk 3 meja darinya


"mau saya pijitan pak" bela menawarkan Rain untuk memijitnya


"tidak perlu bu, di rumah mama saya sering mijit soalnya adi tidak perlu repot" tolak Rain


Bela mengerucutkan bibirnya karena sering di tolak oleh Rain "oke deh" bela kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena ingin mengajak bicara Rain


"pak Rain" panggil seseorang dengan suara datarnya

__ADS_1


Rain mendongakan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya "ada apa bu Adinda" tanya Rain


"tadi di suruh pak kepala sekolah ke ruangannya" ucap Adinda, seorang guru musik


"iya bu, terima kasih" Rain langsung ke ruangan kepala sekolah untuk menanyakan keperluan kepala sekolah mencarinya


dan ternyata saat ia datang ke ruangan kepala sekolah, ia di kirim untuk mengikuti seminar mewakili sekolahannya di Bandung selama dua hari "kok saya yang ke sana pak, kan saya guru Fisika bukannya guru Kesenian" tanya Rain tak mengerti kenapa ia yang di pilih


"bu Adinda kasihan kalau pergi sendirian pak, dia kan seorang wanita. Pak jatmiko yang guru Seni Rupa tidak bisa ikut karena istrinya baru melahirkan" balas pak Dario, kepala sekolah SMA Nusa bangsa  tempat Rain bekerja


"kenapa gak guru yang lain pak" protes Rain


"yang lain sedang sibuk untuk persiapan lomba di hari senin, kalau perlombaan kamu kan masih minggu depan jadi anak-anak libur 2 atau 3 hari untuk latihan tidak masalah lah" jelas Pak Dario


Rain hanya bisa menghela nafas, tak bisa menyanggah lagi permintaan kepala sekolahnya "baiklah pak" Rain hanya bisa pasrah akan perintah atasanya


"bagus Rain, nanti sore langsung berangkat ya, hotel dan undangan serta materi seminarnya ada di sini" pak Dario menyerahkan map cokelat pada Rain


Dengan langkah lesu Rain kembali ke ruangannya dan berjalan ke arah Adinda "pak Dario sudah bilang ke akmu kan" tanya Rain  dan di balas anggukan kepala oleh Adinda


"sudah tadi tapi katanya mau nanya bapak, setyju atau enggak dulu" balas Adinda


"nanti langsung chat saja ke saya kalau sudah siap biar saya jemput ke rumah" ucap Rain


"iya pak" balas Adinda dengan muka datarnya


Rain tidak menyangka jika dia akan pergi hanya berdua saja dengan wanita yang bukan saudaranya, dan ini selama dua hari apalagi mereka tidak pernah bicara banyak


Rain emmang orang yang mudah bergaul dan dengan mudah berbaur berbeda dengan Adinda yang orangnya sungguh irit bicara, cuma permainan musiknya begitu bagus dan banyak alat musik yang ia kuasai di tambah ia juga mengajar anak-anak dengan baik sehingga kebanyakan anak yang di ajarnya bisa menggunakan alat musik dengan baik

__ADS_1


__ADS_2