Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Harus Ikhlas (Season 2)


__ADS_3

Lama Mama Kinan menangis dalam diam di samping Kakek Bimo dan menatapnya sendu "semoga ayah tenang di sana, aku sudah memaafkan semua yang pernah ayah lakukan dan maafkan aku tak bisa membalas cinta ayah" gumam mama Kinan mengusap pipi kakek Bimo dengan lembut


mama kinan berjalan ke luar kamar dengan langkah lesu "ceklek" saat membuka pintu nenek Jemina tepat di depannya


"kakak" Mama kinan memanggilnya dengan panggilan kakak, panggilan yang sudah lama tidak ia pakai semenjak nenek Jemina menikah dengan ayahnya "ayah sudah kembali pada-Nya" gumam Mama Kinan dengan isak tangisnya


"hiks hiks hiks" nenek Jemina tidak bisa membendung air matanya lagi saat mendengar ayahnya sudah tiada


dia sudah memikirkan ini dari jauh hari kalau memang usia ayahnya tak lama lagi, hanya sedikit ada beban yang ia simpan dan saat beban itu sudah hilang, ayahnya akan segera kembali ke pelukan-Nya


Qiana yang mendengar hal itu langsung meminta perawat yang bertugas untuk merawat kakek Bimo memeriksa denyut nadi Kakek Bimo dan benar saja, denyut nadi itu sudah menghilang dan Kakek Bimo sudah tiada


Buru-buru Qiana meminta asisten suaminya untuk membawa suaminya pulang ke rumah kakek Burhan tapi tidak langsung memberi tahu kalau Kakek Bimo sudah meninggal sebab tak ingin membuat suaminya panik. Tak lupa ia mengabari semua anggota keluarga lainnya untuk datang melayat


Putera yang duduk di kursi belakang heran kenapa asistennya menuju rumah kakak iparnya padahal masih jam makan siang "loh kita pulang ke sini" tanya putera saat sang asisten berbelok ke gang perumahan kakek Burhan


"tadi nyonya minta tuanĀ  di antar kemari, saya cuma nuruti permintaan nyonya saja" balas asisten Putera


"ya sudah" putera pasrah saja, mungkin Qiana sedang merindukannya jadi memintanya untuk datang , sekalian ketemu ayahnya saja karena tadi pagi ia terlalu terburu-buru sampai tidak sempat menyapa ayahnya


saat sudah dekat Putera mengerutkan keningnya tatkala banyak mobil terparkir di rumah kakeknya dan ada bendera kining di gerbang milik Kakek Burhan "ada apa ini" Putera sudah bisa menebak ada apa tapi ettap saja ia tak meu mengucapkan itu, ada rasa takut saat mengucapkan hal yang terlintas di benaknya


"tuan nanti akan tahu sendiri" balas sang asisten

__ADS_1


Putera melangkah lebar tatkala sang asisten sudah membukakan pintu mobil, hatinya begitu berdenyut dan berdebar kencang saat melangkah masuk dan orang-orang sudah memakai pakaian hitam termasuk istrinya "sweetheart" panggil Putera


Qiana yang mendengar suara putera bergegas menoleh dan menghampiri suaminya "kakak" Qiana langsung menghadiahi pelukan untuk menguatkan suaminya "yang sabar ya kak, Ayah sudah tenang sejarang dan sudah gak merasakan sakit lagi" ucap Qiana meminta suaminya agar bisa merelakan kepergian ayahnya


"harusnya tadi kakak nengok dulu gak main asala pergi ya" bibir putera tersenyum tapi air matanya jatuh begitu saja dari pelupuk matanya


"ini bukan kesalahan kakak" qiana terus mengusap punggung suaminya "sabar kak, ayah sudah melepaskan bebannya dan sudah tenang sekarang" tukas Qiana


Putera mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya menuntut penjelasan "maksudnya" tanya Putera


"tadi Qiana minta mama ketemu dengan ayah dan setelah mama ngobrol sama ayah selam satu jam, ayah mengehmbuskan nafas terakhirnya" jelas Qiana mengutarakan apa yang ia lihat


Putera menghampiri Papa Hans yang berdiri tak jauh dari mama Kinan "terima kasih ya pah" Putera memeluk Papanya erat "terima kasih sudah izinin mama ketemu ayah dan buat ayah ngelepas beban yang ayah simpan selama ini" ucap Putera


"Putera cuma gak mau menyinggung perasaan papah" jelas putera dengan isak tangisnya


"kamu harus kuat put, sekarang tugas untuk mengebumikakan ayahmu jatuh di pundakmu jadi kuatlah" Papa Hans mengurai pelukannya dan menepuk kedua lengan putera meminta putera untuk kuat dan ikhlas atas kepergian ayah kandungnya


putera menghampiri nenek Jemina "kak" panggil putera memeluk sang kakak dengan begitu erat


"ayah put" tangis nenek Jemina makin pecah "ayah sudah meninggalkan kita untuk selamanya" adu Nenek Jemina menyampaikan kesedihannya


"yang sabar kak, kita masih saling memiliki sebagai kakak adik dan kita masih bisa saling menguatkan " balas Putera

__ADS_1


"apa kakak sudah menjadi anak yang baik dan mengurus ayah dengan baik" tanya nenek jemina


"tentu saja kak, Putera tahu walaupun ada perawat yang mengurus ayah tapi kakak selalu memantau kesehatan ayah tapi memang tuhan lebih sayang ayah jadi lebih cepat memanggil ayah" balas Putera


"iya put" balas Nenek Jemina


setelah acara tersebut, Putera segera bergegas berganti pakaian agar bisa menerima para pelayat, walaupun rumah itu adalah rumah kakek Burhan tapi kali ini Putera lah yang berperan sebagai tuan rumah sebab Putera anak kandung kakek Bimo sedangkan Kakek Burhan hanyalah seorang menantu saja


Begitu banyak ucapan bela sungkawa dari para kerabat serta relasi bisnis Putera dan kenalan-kenala Kakek Bimo yang tentunya tidak sedikit, dan sekitar pukul lima sore Kakek Bimo di bawa ke pemakaman umum untuk segra di makamkan


"kamu di rumah saja ya sweetheart, gak baik kalau wanita hamil berada di pemakaman"ucap Putera mengusap perut Qiana


"iya kak, hati-hati ya" balas Qiana


Putera di temani beberapa anggota keluarga dan juga nenek Jemina segera pergi ke pemakaman agar bisa menguburkan ayah mereka. Selama proses pemakaman tak hentinya nenek Jemina menangis di sana sedangkan Putera menangis dalam diam dan tertutupi oleh kacamata hitamnya


Putera memang baru tahu kalau Kakek Bimo sebagai ayah kandungnya baru beberapa tahun tapi Putera sudah dekat dengan Kakek Bimo sejak kecil sebagai kakeknya dan tentu Putera sangat menyayangi Kakek Bimo yang begitu menyayanginya apalagi dulu dengan ayah Brian, putera tidaklah dekat walaupun dulu orang-orang selalu bilang kalau ayah Brian lah ayah kandung putera dan Kekek Bimo adalah kakek Putera


"semoga ayah tenang di sana, putera sayang ayah dan akan selalu doakan ayah" ucap Putera saat Kakek Bimo sudah benar-benar tertidur di dalam tanah dan hanya terlihat gundukan tanah sebagai tempat persemayaman terakhirnya


"jemina juga akan selalu doakan ayah" sahut nenek jemina yang berjongkok tepat di samping putera


"sudah petang, lebih baik kita pulang" ajak Kakek Burhan meminta nenek Jemina dan Putera untuk pulang sebab hari semakin petang

__ADS_1


"iya kek" Putera beranjak dari posisnya dan membantu nenek jemina untuk berdiri dan pergi meninggalkan area pemakaman meninggalkan kakek Bimo yang terbaring sendirian


__ADS_2