
Kinan memeluk Hans "aku kira hidupku sudah sangat kacau mas, tapi hidup mas juga kacau sama sepertiku" kinan menyembunyikan wajahnya di dada Hans menghirup aroma tubuh maskulin hans
Hans balas memeluk kinan "gak sekacau yang kamu bayangkan kinan, terlepas dari keluargaku yang begitu aneh, mas punya kamu, punya dedek juga jadi gak seberapa kacau kok" balas Hans dengan kekehan
"iya mas, ada aku buat mas dan ada dedek juga kok" balas kinan
Hans mengurai pelukannya "sudah ah mas turun dulu, kamu istirahat sambil menunggu dedek bangun saja kalau kelamaan di sini sama kamu, nanti kita malah bikin adiknya dedek, kasihan kan kalau masih kecil sudah di kasih adik" ucap hans dengan nada gurauan
"mas" kinan setengah merajuk dengan mencubit pelan pinggang Hans
"ya sudah mas turun ya" hans mengecup kening kinan dan bergegas keluar kamar
saat keluar kamar dia di hadapkan dengan sosok wanita yang paling ingin hans hindari dalam hidupnya "ngapain kau disini" tanya hans dengan nada ketus
"apa kamu harus sekasar itu denganku mas" tanya sinta dengan mata berkaca-kaca
"tidak ada yang bisa menginjakan kaki di lantai ini seenaknya" Hans menunjuk sinta dengan tatapan nyalang "dan itu termasuk untukmu dan juga keluargamu itu" bentak Hans
"jangan kaya gini mas" sinta ingin meraih tangan Hans tapi dengan sigap Hans mundur ke belakang
Hans melirik tajam lurus ke arah sinta, lebih tepatnya pada orang yang ada di belakang Sinta "harusnya kau tahu tak ada yang bisa menginjakan kaki seenaknya di lantai ini saat ada aku di rumah, bahkan ayah saja tak bisa dan kenapa kau tak bisa mengajari istrimu ini hah!" teriak Hans
sinta menoleh ke belakang, tangannya gemetaran saat melihat suaminya ada di belakangnya "maaf"Jovan langsung menarik tangan sinta dengan kasar meninggalkan Hans begitu saja
kinan tak keluar bukan karena tak peduli ataupun tak ingin ikut campur tapi lebih karena dia tak mendengar. tak dengar karena kamar Hans kedap suara
Hans turun ke lantai bawah dan mengikuti jalannya acara pesta ulang tahun kakeknya yang lebih tepatnya perkenalan Hans sebagai pewaris keluarga Herlambang
sejauh interaksi hans yang di perkenalkan oleh kakek ramon sebagai pewaris, tentu rasti, ibu tiri Hans itu menatap sengit Hans dan sangat tidak suka dengan Intan yang tetap di anggap sebagai nyonya rumah dan dirinya yang sudah menjadi istri dari ayah adrian selama lebih dari tiga puluh tahun tetaplah tak di anggap dan hanya di kira orang luar
"kenapa, hanya dia yang di anggap penerus keluarga" rasti menatap suaminya dengan kesal "kenapa anak-anakku tak di anggap sama sekali" tanya rasti dengan nada penuh penuntutan
__ADS_1
ayah Adrian menatap jengah rasti istrinya itu "sudah lah rasti jangan terus mengungkitnya, aku kan bersamamu selama tiga puluh dua tahun ini dan gak pernah datang menghampiri intan sama sekali setelah tahu dia hamil" balas ayah adrian mengingat bagaimana dia dulu lebih memilih rasti dan kawin lari meninggalkan ibu intan walaupun ia harus di depak oleh ayah kandungnya sendiri
"tetap saja aku kesal sama kamu, andai kamu gak pernah nyentuh wanita itu mana mungkin nasib anak-anaku tak di anggap seperti ini" balas rasti tetap tak Terima Hans yang di anggap penerus keluarga padahal dia juga punya anak laki-laki
"jangan menghilangkan usahaku memberikan kehidupan yang layak untukmu ras, aku masih memberikanmu rumah, mobil, perhiasan dan apapun yang kamu mau" kesal ayah adrian tak Terima seolah rasti lupa dengan kerja kerasnya selama ini yang tetap memenuhi kehidupan mewah untuk rasti
"tetap saja ini gak adil" balas rasti
"harusnya intan yang bilang kaya gitu ke kamu ras, 33 tahun dia jadi istriku , aku hanya bersamanya selama 6 bulan, aku tak pernah berbicara ataupun menafkahinya, dia terkurung di rumah ini selama 33 tahun, dan jika kau yang di kurung di rumah ini kau pasti sudah minta cerai dariku dari dulu" ayah adrian pergi meninggalkan rasti karena kesal dengan sikap istrinya yang selalu marah akan dirinya yang tak pernah di anggap menantu dan anak-anak dari rasti di anggap cucu
jeni yang melihat pertengkaran kedua orang tuanya hanya bersikap biasa saja seolah itu bukan hal yang menakutkan ataupun tak mengenakkan.
jeni sudah terlalu biasa melihat ketegangan antara kedua orang tuanya yang membuat jeni sudah tidak kaget lagi
Brian dan ayah Bimo datang mengucapkan selamat pada kakek ramon "selamat ulang tahun tuan" ayah Bimo menyalami kakek Ramon untuk memberikan selamat
"terima kasih" kakek ramon melirik brian yang ada di sebelah ayah bimo "apa ini anak kamu bim" tanya kakek Ramon
kakek ramon melirik brian "aku dengar kau mendirikan perusahaan sendiri" tanya kakek Ramon
"iya kek, buat belajar aja" balas Brian sedikit merendah
"itu bagus jadi nanti saat kamu mengambil alih perusahaan ayahmu kamu tidak akan kaget" balas kakek ramon
kakek ramon melirik Hans yang ada di sampingnya "perkenalkan dia cucuku Hans" ucap kakek ramon memeperkenalkan Hans pada ayah bimo dan brian
"kami sudah saling mengenal kok kek" balas brian tersenyum pada kakek ramon tapi menatap sinis pada Hans
"bagaimana bisa kalian saling mengenal " kakek Ramon heran bagaimana hans bisa mengenal Brian karena lingkup kerja Hans dan brian tentulah berbeda dan Hans juga lama tinggal di desa
"dia mantan suami kinan kek" balas Hans tanpa rasa canggung sama sekali agar kakek ramon tidak bingung kenapa mereka bisa saling kenal
__ADS_1
Brian tersenyum canggung, tak menyangka Hans dengan mudah mengatakan dirinya sebagai mantan suami kinan padahal bukankah hans begitu dekat dengan kinan dan itu bisa menimbulkan nilai kurang untuk kinan di mata keluarganya jika mereka mengenal siapa mantan suami kinan
"iya saya ayahnya putera kek" sahut Brian yang membuat ayah Bimo menahan sesak di dadanya karena anaknya di aku anak oleh orang lain apalagi orang lain itu adalah anaknya sendiri dan secara tidak langsung anaknya di kenal sebagai cucunya
"oh kamu mantan suami kinan" kakek Ramon mengangguk "mungkin kalian tidak cocok" kakek ramon menepuk pelan bahu brian "walaupun kalian memutuskan berpisah tapi tetap bekerjasamalah dalam membesarkan anak kalian ya" nasehat kakek ramon
"iya kek, itu pasti" brian hanya menjawab dengan tersenyum kaku
Mario terlihat baru masuk rumah kakek ramon, mario datang dengan celingukan mencari keberadaan kakek ramon dan saat melihat kakek ramon sedang bicara dengan brian, mario bergegas menghampiri kakek ramon "selamat ulang tahun kek" mario memeluk kakek ramon
kakek ramon mengurai pelukannya "istrimu gak ikut" tanya kakek ramon yang melihat mario hanya sendiri
"tidak kek, sebenarnya tadi dia minta ikut kek, tapi kondisi kehamilannya di haruskan bedrest dan tidak boleh lelah jadi istri saya tidak bisa datang" balas mario
mario celingukan mencari keberadaan kinan yang sedari tadi tak ia lihat "kakak iparku mana? kok aku gak lihat" tanya mario pada Hans
"kinan di sini" tanya brian tak tahu kalau kinan juga datang ke pesta kakek ramon
"iya, tadi kita sempat mau bareng tapi aku ada urusan sebentar jadi kinan berangkat sama hans ke sini" balas mario
brian dan mario menatap hans menunggu jawaban dimana keberadaan kinan "dia sedang istirahat di kamarku karena tadi putera tidur jadi aku suruh istirahat di kamar saja" balas hans menunjuk lantai dua rumah kakeknya
"oh" balas mario
"kau membawanya ke kamarmu" tanya brian dengan wajah tak suka
Hans tersenyum simpul ke arah brian "jangan berpikiran buruk brian, dia memang di kamarku tapi harusnya kau bisa lihat aku ada di sini. aku bukan kau yang tidak bisa menahan hasrat saat bersama wanita dalam satu ruangan" ucap hans
"kau" brian menatap tak suka pada Hans
hans tersenyum miring pada brian, karena mungkin dirinya lah satu-satunya orang yang mungkin tahu kesalahan besar yang di lakukan Brian
__ADS_1
sedangkan mario hanya menatap heran pada keduanya, mario tentu merasa pasti ada sesuatu di antara mereka terlepas masalah kinan