
"Shenaaaa.." Pekik Anna nama gadis itu yang baru kembali dari Australia. Ia yang merupakan teman baik masa SMP Shena berlari merentangkan kedua tangannya ingin memeluk tubuh Shena.
"Ahh, Anna aku rindu sekali..." Pekik Shena tidak kalah hebohnya.
Mereka berdua berpelukan sangat erat memang sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
"Kau terlihat cantik sekali, Aku sampai pangling melihat mu yang sekarang." Puji Anna.
"Aku masih terlihat sama saja! Bahkan kau lebih cantik. Selamat ya atas gelar sarjana mu." Balas Shena.
"Itu hanya hal biasa. Ayo kita duduk dulu." Tarik Anna membawa Shena untuk menduduki salah satu bangku di taman.
"Anna, Aku sangat senang sekali kau kembali ke Indonesia. Aku tidak akan kesepian lagi karena kita bisa melanjutkan pertemanan kita yang sempat terpisahkan akibat pendidikan." Kata Shena
"Aku bahkan lebih senang. Di Australia, Aku sama sekali tidak menemukan teman yang nyaman untuk ku. Kau kesepian? Bagaimana dengan Soya, Emily dan Belinda?"
"Kau belum mengetahui kebangkrutan Ayah ku, ya. Sekarang aku bukan siapa-siapa lagi. Mereka bertiga tidak ingin berteman lagi denganku karena sekarang aku jatuh miskin." Kata Shena murung.
"Jahat sekali Soya! Ouh iya, tentu saja aku mendengar kabar mengenai Ayahmu. Aku turut ikut sedih mendengarnya. Kabarnya ayahmu pergi melarikan diri, ya, akibat utangnya yang besar. Lalu, Bagaimana dengan kehidupan mu sekarang? Kau baik-baik saja, kan?"
Begitulah kabarnya yang diketahui semua orang mengenai Ayah Shena. Padahal Shena sendiri tahu ayahnya tidak pergi kemana-mana, Ia hanya seolah menyembunyikan diri dari dunia di Mansion suaminya.
"Aku baik. Bahkan semuanya terkendali dengan sangat baik. Aku sudah menikah dan tinggal bersama suami ku."
"Wahh... Selamat, ya. Sayang sekali aku tidak ada di sini, mungkin aku akan melihat teman ku ini menikah dan menjadi bridesmaid nya. Apakah kau menikah dengan Arsen??" Tanya Anna demikian, karena satu hal yang masih ia ketahui mengenai Shena dulu, Shena sedang menjalin hubungan dengan Arsen.
Shena menunduk, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Hubungan kami sudah berakhir sejak 6 tahun lalu. Dia pergi tanpa meninggalkan kabar entah kemana. Dan sebenarnya pernikahan ku ini pun tidak diketahui banyak orang. Kami menikah secara tertutup!" Terang Shena.
"Opps... Sayang sekali. Aku pasti sudah membuatmu sedih karena sudah mengingatkan mu pada masa lalu bersama dengan Arsen. Tidak masalah, yang terpenting kau sudah memiliki masa depan dengan suami mu. Siapa dia? Apakah suami mu tampan?" Goda Anna menyenggol bahu Shena.
"Kau kenal Ash Vinson??"
"Hha... Siapa orang yang tidak kenal dengan dia di dunia ini? Dia adalah pria yang tampan, perkasa, hebat, Perusahaannya pun ternama di nomor satu. Dia sangat dingin dan mempesona. Andaikan saja aku bisa menjadi permaisurinya. Ahh... Betapa akan beruntungnya hidup ku bisa membuat banyak wanita iri, bisa memilikinya." Kata Anna sambil membayangkan wajah tampan Ash dibenaknya.
__ADS_1
"Ehh... Tunggu dulu. Shena, Pukul mulut ku jika salah berucap sudah memuji suami orang?! Kau menikah dengan Tuan Ash? Kau istrinya??" Tanya Anna. Ia merasakan ada keganjalan dan baru menyadarinya sekarang.
Shena mengangguk-angguk pelan.
Plaak!!
Anna menepuk jidatnya.
"Ouh ya ampun... Shena, Kenapa kau tidak mengatakannya padaku. Aku sampai mengangumi dia dihadapan istrinya. Kau tidak cemburu atau marah padaku, kan?"
Shena tertawa kecil.
"Hha... Kenapa aku perlu marah padamu? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa tidak semua orang mengetahui pernikahan ku dengannya. Dan kau adalah salah satu diantara mereka. Aku sama sekali tidak membawanya masuk ke dalam hati."
"Hufftt... Syukurlah. Selamat ya, Sayangku... Aku benar-benar tidak percaya ini, Kau adalah istri dari Ash Vinson?? Aku merasa sedang bermimpi, bahkan menjadi teman istrinya." Peluk Anna erat. Ia sangat bangga dan gembira.
"Jangan berlebihan! Itu biasa saja. Tapi Anna, Memangnya kau masih ingin berteman dengan ku? Secara aku ini bukanlah Shena yang dulu. Aku sudah jatuh miskin. Dan kau bisa tidak ingin berteman lagi dengan ku juga seperti Soya."
"Hey, Apa yang kau katakan? Memangnya dalam berteman harus memandang harta, ya?"
Shena menggelengkan kepala.
"Aku tidak melanjutkan pendidikan sarjana hingga selesai." Balas Shena.
"Yasudah lah, yang penting sekarang kau sudah menikah dengan mendapatkan suami konglomerat, Hhe... Dan kita bisa berkumpul bersama lagi." Kata Anna kembali memeluk temannya.
Anna mengajak Shena dari taman. Shena sekilas melihat Soya di taman yang sama dari kejauhan dengan wajah yang memerah menahan emosi. Shena teringat terakhir kali wanita itu membuatnya malu dan berakhir di rumah sakit.
"Ada apa Shena? Kenapa berhenti?" Tanya Anna yang berjalan tepat di samping gadis itu.
"Kau sakit?" Tanya Anna imbuhnya lagi.
"Tidak! Aku hanya sedang malas melihat wajah monster betina itu." Tunjuk Shena ke arah Soya berada. Ingin rasanya ia merekat mulut kurang ajar Soya.
"Sebaiknya kita langsung saja pergi. Tidak ada gunanya juga melihat iblis yang sudah seperti ada di mana-mana. Toh, Aku juga sudah mendengar berita menggemparkan kemarin, bahwa dia seorang pekerja **** komersial!!" Hardik Anna juga. Ia tidak mempedulikan tatapan Soya seperti sedang mengejeknya.
__ADS_1
...***...
Shena dan Anna pergi ke tempat favorit mereka dulu yang hingga saat ini masih beroperasi dan bahkan fasilitas tempatnya menjadi lebih modern dan canggih dibandingkan dengan dulu. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama karena rindu sudah hampir 7 tahun tidak bertemu saat Anna mulai bersekolah di luar negeri sejak masuk SMA. Hingga hampir malam Shena masih bersama temannya, Ia lupa saat ini sudah memiliki suami.
"Aku pulang ya! Aku takut ayah dan ibuku mencari ku. Apalagi hari ini ada acara keluarga untuk menyambut kepulangan ku." Ujar Anna melihat jam dipergelangan tangannya.
"Baiklah, Lagipula sudah hampir malam." Kata Shena.
"Aku juga takut suamimu mencari mu juga Shena. Dia pasti sangat khawatir kenapa kau belum pulang juga. Sepertinya setelah ini, Tuan Ash akan melarang ku untuk mengajak mu bertemu." Ucap Anna yang lupa waktu mengajak teman berjalan-jalan yang bersuamikan orang terpandang itu.
Shena melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah hampir menunjukkan pukul enam lewat.
"Untung saja sekarang aku sudah menikah, Jadi ayah tidak perlu repot-repot menelepon ku lagi. Iya pasti berpikir, aku pergi dengan Paman Ash." Batin Shena merasa sedikit lega. Ia teringat akan ayahnya yang selalu mencari kabar setiap waktu saat Shena pergi keluar. Setidaknya ia bisa keluar sepuasnya dengan Anna.
"Tidak apa Anna. Tadi aku sudah menelepon ayah, Ma-maksud ku suamiku, Jadi aku aman."
Setelah beberapa saat, mereka berpisah disalah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Kini hanya tinggal Shena seorang yang masih di sana.
Tak lama kemudian, Sosok pria tinggi dari kejauhan menghampiri Shena. Ia pikir itu adalah Ash, Namun rupanya itu adalah pria yang sangat dihindari tapi dirindukan Shena.
Arsen. Pria itu menghampiri Shena dengan gagahnya dan senyuman mengembang tidak lepas sembari menatap Shena.
Arsen menawarkan diri untuk mengantarkan Shena, Namun Shena menolak. Ini adalah pertemuan ketiga dari kedua belah pihak mantan kekasih yang satu masih mengejar kembali, dan yang lain sedang berusaha melupakan!
"Kau sendirian? Apa suamimu itu tidak becus membiarkan istrinya di sini seorang diri?" Ucap Arsen dengan nada yang sedikit diseksi kan.
"Maaf, Saya tidak mengenali anda, Tuan. Jangan mengganggu seorang wanita yang tengah sendirian." Jawab Ketus Shena dingin.
"Itulah mengapa aku menghampiri mu, bukan untuk mengganggu, melainkan untuk menemani mu agar tidak berada dalam bahaya." Kata Arsen masih memandangi wajah Shena yang memalingkannya ke arah depan.
"Kamu yakin tidak ingin diantarkan oleh ku, Sepupuku? Ini sudah hampir malam, sebaiknya aku antar saja." Ucap Arsen lagi menawarkan. la khawatir dengan mantan kekasihnya itu. Namun, lagi-lagi Shena kembali menolak.
"Tidak perlu, Tuan. Saya masih memiliki keperluan lain. Jadi, Sebaiknya anda pergi!" Bentak Shena mengusir.
Arsen tidak tinggal diam. Ia malah mencekal tangan Shena dan menariknya untuk pergi dengannya. Shena meronta dan berteriak meminta tolong, namun mulutnya dibekap oleh tangan Arsen hingga tidak bisa menimbulkan suara. Namun naasnya, dari ujung jalan sana terdapat seseorang yang memandang mereka berdua dengan sorot mata tajamnya. Pria itu mengepalkan tangannya menahan emosi yang membuncah di dadanya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Berani sekali gadis kecil itu rupanya pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuan ku." Geram Ash keluar berjalan menghampiri Shena. Padahal pria itu sudah hampir gila mencari Shena kesana kemari akibat ponselnya yang sulit dihubungi.
Sepertinya di sini telah terjadi kesalahpahaman. Karena Arsen membelakangi Ash, pandangannya tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi pada Shena dengan Arsen di sana berduaan.