
Ketiga wanita itu saling tertawa saat melihat bayi berjenis kelamin itu begitu bersemangat mencium pipi bayi mungil yang awalnya diam saja kini mulai risih akan ulah bayi laki-laki tersebut
"jangan sampai kita jadi besanan seperti mamanya kak putera dan juga qiana " kekeh Tiara merasa lucu dengan tingkah Delano yang begitu senang mencium pipi Scarlett
"mungkin saja, dulu kak putera tuh seneng banget cium aku tahu" sahut Qiana teringat masa kecilnya bersama putera
"kalau aku sih gak masalah selagi memang mereka serius" kekeh Cindy
Qiana menoleh Ke arah Cindy "aku denger dari tante katanya kamu lagi program hamil" tanya Qiana
Cindy memicingkan matanya ke arah Qiana "dari mana kamu tahu kalau aku sedang program hamil" tanya Cindy yang merasa tidak memberitahu rencananya pada kedua sahabatnya
"tahu lah, orang mami kamu yang minta aku dan Tiara bujukin kamu untuk nunda kamu program soalnya Delano kan baru 10 bulan" balas Qiana yang di angguki tiara
Cindy hanya bisa menghela nafas panjang "aku hanya merasa bersalah sama mas Dion yang harus mengurus anak pria lain" sesal Cindy merasa sesak saat melihat suaminya yang begitu fokus mengurus Delano dan tidak membedakannya sama sekali
Tiara mengerutkan keningnya "kalau pak Dion bisa bersikap baik sama Delano itu bagus dong" celetuk Tiara
"bagus sih, tapi aku ingin kasih dia anak kandung sendiri" jelas Cindy
"terus Pak Dion minta kamu buat cepat hamil enggak" tanya Qiana
Cindy menggelengkan kepalanya "tentu tidak, bahkan Dion selalu mengeluarkan di luar takut aku hamil lagi dan repot mengurus Delano" balas Cindy
"ya sudah sih Cind, jangan terlalu overtingking sama suami. Delano masih kecil masih butuh perhatian besar dari kamu jadi sekasihnya aja kalau emang Pak Dion mau punya anak ya nanti juga di kasih sama tuhan" timpal Tiara ingin Cindy lebih berpikiran luas
"iya sih" Cindy mulai merasa apa yang di ucapkan adalah suatu kebenaran
"oh ya Qiana" tiara menoleh ke arah Qiana "aku kemaren sempat ada rencana sama Cindy buat healing saat anak-anak kita sudah lahir dan sudah gak ASI eksklusif lagi" ucap Tiara
"rencana apa? anak aku lahir saja belum " heran Qiana
__ADS_1
"mau me time kita bertiga, dan anak-anak kita biar di urus bapaknya" balas Tiara menyampaikan rencana yang pernah terlontar bersama Cindy
"iya Qi, aku sama Tiara pernah ada rencana kaya gitu" sahut Cindy dengan semangat
"pasti gak di izinin lah, tahu sendiri kak putera gak bisa jauh dari aku" Qiana sudah yakin bahwa rencananya pasti gagal sebab tidak mungkin akan di izinkan oleh putera
"ya kita bikin rencana makanya, sesekali kita mesti memberi ruang untuk diri kita sendiri. Lagian kalau anak kamu sudah lahir kamu pasti setuju sama usul aku soalnya pasti ada rasa lelah kita mengurus dan anak dan ini bukan bermaksud lari dalam mengurus anak yang jelas sudah jadi tanggung jawab kita tapi sebagai mood buster saja" jelas Tiara
Qiana nampak ragu akan usul Tiara "nanti deh aku pikirin lagi" tukas Qiana tak ingin buru-bur dalam mengambil keputusan
saking asiknya berbincang-bincang tak terasa bahwa mereka sudah berkumpul seharian di rumah Qiana dan jika bukan karena suami Cindy dan Tiara yang datang menjemput mungkin mereka lupa bahwa mereka sudah berbincang seharian ini
"sweetheart" Putera memeluk Qiana yang sedang duduk di sofa ruang keluarga
"kakak" Qiana memejamkan matanya saat Putera mengecup keningnya
Putera mengusap perut Qiana "bikin mama susah hari ini enggak" Putera mendekatkan wajahnya ke arah perut sang istri untuk mengajak anak mereka berbicara
"sudah makan belum " tanya Putera
"sudah kok tadi, tapi kayanya nanti laper lagi" kekeh Qiana
Qiana memang sering lapar di tengah malam dan bisa makan beberapa kali walaupun sudah makan malam dan Putera akan tetap menuruti keinginan Qiana karena tak ingin istrinya merasa kelaparan saat malam hari
Putera mengusap kepala Qiana "[tadi ngobrol apa saja" tanya Putera ingin tahu apa yang di obrolkan Qiana bersama kedua sahabatnya
"obrolan biasa saja kok kak, gak jauh-jauh dari anak dan Tiara tadi sempat ngajakin healing kalau anak kita sudah lahir dan gak ASI eksklusif lagi" balas Qiana menceritakan apa saja yang ia obrolkan bersama Tiara dan CIndy
"healing" Putera mengerutkan keningnya saat Qiana mengucapkan kata Healing
"iya kak, kata Tiara saat kita punya anak ada rasa lelah saat memiliki seorang anak dan seorang ibu juga butuh waktu me time untuk menjaga mood nya jadi Tiara ngajakin aku dan CIndy untuk liburan bertiga tanpa anak dan nyuruh bapaknya anak-anak yang ngurus keperluan bayi kita nanti" jelas Qiana
__ADS_1
"terus kamu mau gak" tanya Putera ingin tahu apa yang di pikirkan Qiana
"sebenernya pengen sih tapi Qiana bilang mikirin dulu soalnya kakak kan gak bisa di tinggal Qiana kelamaan nanti yang ada gak beres urus anak kita" Qiana sudah meragukan suaminya saja padahal belum juga melihat Putera mengurus anak mereka
Putera terkekeh "kamu jangan nyepelein kakak Qiana, kakak kan punya dua adik dan kakak bener-bener bantu nenek urus kedua adik kakak karena mama kan harus urus perusahaan" tukas Putera membanggakan dirinya yang sudah biasa mengurus anak-anak sejak dulu karena dirinya terlibat banyak saat mengurus kedua adik dari mama dan papanya
Wajah Qiana langsung sumringah "jadi kakak izinin aku buat healing sama Tiara dan Cindy" tanya Qiana penuh harap
Putera mengusap kepala Qiana dengan lembut "gimana tega mau nolak kalau kamu sampai sesenang ini jika di izinin kakak buat pergi" balas Putera
Qiana menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami "ya kan pengen juga tahu rasanya bisa liburan sama teman walaupun sudah menikah dan punya anak" cicit Qiana yang sebenarnya penasaran apakah setelah emnikah masih bisa bertemu dan bermain dengan sahabat seperti dulu
"boleh saja pergi tanpa kakak dan anak kita tapi saat pergi kamu harus tetap bawa pengawal yang nanti kakak siapin, kakak gak mau ya ada apa-apa dengan kamu jika kamu lepas pengawasan dari kakak" ucap Putera yng tida ingin di bantah sama sekali
"iya sih kak" Qiana menciumi pipi putera saking gemas pada putera yang selalu menuruti apapun yang di inginkannya
Putera melirik ke arah lantai "kamu ngompol apa Qiana? perasaan tadi waktu datang lantainya masih kering" tanya Putera langsung pada intinya saat melihat lantai di bawah Qiana basah sebab Qiana memang sudah berkali-kali mengompol sejak kehamilannya
"PLAK" Qiana langsung menghadiahi pukulan di dada Bidang Putera "enak saja ya bilang Qiana Ngompol" protes Qiana tak terima di katakan mengompol
"terus itu air apa" tunjuk Putera
Qiana melirik ke bawah "ia air apa ya" gumam Qiana memikirkan itu air apa sebab ia tak membawa air minum
Putera nampak berpikir "coba berdiri Qiana" pinta Putera
dan saat melihat bagian pantat Qiana yang basah, putera langsung saja panik "ke rumah sakit saja yuk" ajak Putera
Qiana mengerutkan keningnya "lah ngapa ke rumah sakit" bingung Qiana
"sudah ah ayok" Putera langsung saja menggendong Qiana ala bridal Style membuat Qiana heran tapi ia pasrah saja mengikuti langkah suaminya
__ADS_1