
"Arsen, Frey... Semalam kalian kemana tidak pulang?" Tanya Tuan Thomi di pagi hari dan hendak sarapan.
"Aku di perusahaan dan banyak pekerjaan sampai membuatku ketiduran." Jawab Arsen demikian.
"Aku juga sama halnya dengan kakak, Membantu pekerjaannya hingga selesai." Jawab Frey.
"Kalian yakin?! Semalam tidak melakukan sesuatu di luar?"
Arsen dan Frey terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain.
"Arsen, Frey, Kenapa kalian diam? Ayah bertanya pada kalian." Ucap Tuan Thomi menggertak.
Mereka berdua tetap diam, dan mengalihkan pandangan.
"Arsen!! Frey! Ayah bicara dengan kalian!" Bentak Tuan Thomi meninggikan suaranya.
"Frey!! Apa kau sudah menyelesaikan berkas yang ku minta semalam?" Bicara Arsen malah demikian. Mereka mengalihkan pembicaraan.
"Agh, Iya... Sudah ku selesaikan semalam. Kau membutuhkannya sekarang, Kakak?"
"Tidak. Aku hanya menanyakan progresnya sampai mana." Ucap Arsen.
"Kakak tenang saja! Aku tidak akan membiarkan kakak berusaha sendirian. Aku dilahirkan sebagai adikmu untuk membantu kakaknya. Benarkan?"
Arsen hanya mengangguk sebagai jawaban.
Melihat interaksi serius mereka, Tuan Thomi hanya percaya saja tanpa memikirkan hal apapun lagi. Sepertinya Arsen dan Frey memang bekerja lembur kemarin malam.
...***...
Di Mansion Ash...
Mentari pagi menampakkan sinarnya, dan cahayanya masuk melalui celah gorden jendela, membangunkan wanita cantik yang sepanjang malam tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1
Nngg... Ugh!!
Lenguhan Shena saat membuka matanya perlahan. Dari cahaya matahari yang menyilaukan, matanya membidik sebuah bayangan pria yang tengah berdiri di hadapan jendela menatap pemandangan pagi.
Shena tersenyum lebar, Ia menyadari siapa pria yang berdiri itu. Hatinya sangat senang dan kembali hangat. Shena segera beranjak dari ranjangnya dengan tergesa-gesa, berlari menghampiri pria yang sedang berdiri itu.
Ugh!!
Tiba-tiba Shena memeluknya dari belakang, Ketika Ash sedang berkutat dengan menikmati indahnya pagi hari dari atas Mansionnya.
Ash berbalik badan, Mengelus rambut Shena dan menatapnya.
"Kenapa kau terbangun, Hem? Kembalilah tidur untuk beristirahat."
Shena menggeleng kepala, Lalu menenggelamkan kepalanya kembali pada dada bidang sang suami, dan membuat Ash tersenyum.
"Kapan kau pulang?" Tanya Shena dalam pelukannya.
"Semalam..." Jawab Ash singkat dan mengecup pucuk rambut istrinya.
"Kau tidak ingat kejadian semalam??" Tanya Ash berbalik bertanya.
Refleks Shena menyudahi pelukannya. Ia sampai mendongakkan kepala setengah untuk menatap suaminya yang jauh lebih tinggi badan darinya.
"Memangnya apa yang terjadi? Selama kau pergi, Aku hanya langsung tertidur saat malam tiba, bahkan lebih pagi dari biasanya, dan tidak ada yang aku lakukan. Jadi, Kau pulang larut dan aku sudah terlelap." Kata Shena.
"Agh, Begitu. Tidak ada! Saat aku datang, Kau memang sudah tertidur dan aku tidak ingin membangunkan mu. Aku pikir pagi hari akan lebih indah saat kau mengetahui aku pulang. Dan benar saja, Kau memelukku dari belakang." Jawab Ash demikian. Ia tidak ingin menceritakan kronologi yang terjadi pada Shena tadi malam.
Shena tersenyum lebar dan kembali memeluk suaminya. Entah kenapa tubuhnya itu enak di peluk, padahal sebelumnya ia sangat gengsi. Mungkin efek dari sebuah rindu!
"Shena tidak mengingat apa-apa. Sepertinya obat bius itu bereaksi bukan hanya membuatnya kehilangan kesadaran, Tapi juga membuat kehilangan ingatan sebagian. Itu artinya mereka sudah merencanakan ini matang-matang." Batin Ash bergulat dengan pikirannya.
"Itu karena aku sangat merindukan mu. Aku sangat merindukan teman bertengkar ku ini. Selama tidak ada kau, Aku merasa hidup ku ini terlalu serius dan tidak ada yang menghibur." Kata Shena.
__ADS_1
Ash kembali tersenyum dan mengecup kepala istrinya. Ia juga sangat senang bisa segera pulang dan tidak sabar untuk bertengkar dengan istrinya.
"Kau ingin makan?" Tanya Ash.
Shena mengangguk lucu dengan kepalanya yang mendongak kembali untuk melihat suaminya.
"Ayo! Mungkin sarapan kita sudah siap dan semua orang menunggu kita turun."
Ash dan Shena berjalan beriringan dengan tangan Shena yang merengkuh pinggang Ash. Mereka saling merangkul untuk turun ke bawah
Di Pantry dengan Shena menunggu Ash berserta makanan yang sedang disajikan. Meskipun Shena heran mengapa Ash mengerahkan semua bawahannya dengan berbicara jauh darinya menggunakan nada suara pelan, Shena tidak memikirkan pusing, Ia anggap Ash sedang membreafing para bawahannya. Tapi mengapa ada Ayahnya juga di sana? Ah entahlah, biarkan saja. Dia tidak peduli!
"Tolong jangan ada satupun diantara kalian yang menceritakan kejadian semalam, ataupun membahasnya di depan Shena. Karena Shena kehilangan ingatannya sebagian atas kejadian tadi malam. Dia tidak mengingat apapun." Bicara Ash pelan, menegaskan mereka yang terlibat.
"Baik Tuan..." Jawab Dayn dan Para Maid dan juga penjaga.
"Baik Ash..." Jawab Tuan Theo dan Arthur.
Ash tersenyum puas karena semua menyetujui keputusan ini, Untuk mewanti Shena agar ia tidak terlarut dalam ketakutan.
"Agh, Yaa... Begitu saja yang aku inginkan. Aku ingin kalian nanti bisa meminta istriku untuk mengajari kalian memasak. Jujur, Masakan kalian kalah dengan masakan istriku." Kata Ash yang kali ini suaranya di keraskan, Ia membuat manipulasi agar Shena tidak curiga.
Shena pun memandang ke arah mereka dengan terkejut saat sumber suara itu dikeraskan dari keheningan. Dahinya sampai mengernyit. Saat bicara, Ash pun diam-diam mencuri pandang menatap Shena sekilas, memastikan bahwa wanitanya percaya.
"Benar yang dikatakan menantu ku. Shena ini memiliki cita rasa yang khas di masakannya sendiri. Aku Ayahnya sudah hidup 20 tahun dengan Shena, Aku baru mengetahui putri ku pintar memasak sejak usia 16 tahun. Dan sepertinya bakat ibunya menurun pada putriku." Ikut Tuan Theo, menimpali manipulasi Ash.
"Wah.. Mendengar kalian memuji masakan Nona Shena, Aku jadi ingin tahu bagaimana rasa masakannya. Lain kali seharusnya Nyonya Mansion ini yang memasak." Kata Dayn juga.
"Sekarang tidak masalah. Apa makanannya sudah matang?" Tanya Ash.
"Sudah Tuan, Masih ada beberapa lauk lagi yang belum disajikan. Kami akan segera membawanya ke meja makan." Kata Ketua Maid, Ikut menjalankan manipulasi Ash juga.
Semua orang kembali duduk mengambil kursi meja makan masing-masing dengan riangnya. Ketika tatapan Ash dan Shena bertemu, mereka hanya saling tersenyum saja.
__ADS_1
Mereka semua mulai sarapan, dengan Ash dan Shena yang duduk bersampingan, Karena kursi utama di depan, yang mengisi adalah Tuan Theo. Bukan Ash! Ia sangat menghargai kekuasaan ayahnya. Diibaratkannya Ash adalah pangeran mahkota, Tuan Theo adalah Raja, Ketika Ash naik tahta, ia tidak menduduki singgasananya, melainkan posisi itu masih diberikan Ayahnya yang seorang Raja. Tugasnya, Hanya menjalani saja!