
Putera berdiri di atas podium dan memegang Mic di tangannya. ia bisa melihat jelas wajah orang-orang yang tengah berbisik tentang asal-usulnya yang yang dulunya seorang cucu tapi kini berubah jadi seorang anak
putera melirik ke arah kekasihnya yang memasang senyum termanis untuk memberikan dukungan pada sang kekasih "saya tatu mungkin kalian mempertanyakan status saya" putera mengedikkan bahunya "tapi kalau di tanya ke saya ya saya hanya bisa jawab entahlah" putera melirik ke arah ayah kandungnya "kalau mau lebih jelas lebih baik tanyakan langsung pada ayah saya" tunjuk putra pada kakek Bimo
"karena sungguh jadi anak kandungnya bukanlah pilihan saya, tapi kenyataan yang harus saya terima, kalau di tanya apa saya senang, coba kalian pikir sendiri apa saya akan senang, saya bebaskan kalian berpikir apapun" putera menunduk sesaat dan mendongak dengan wajah yang begitu serius
"yang sekarang coba saya jalani adalah meneruskan usaha yang di bangun kakek saya, dan ada hak banyak orang di sana. saya akan berusaha semampu saya menjaga dan membesarkan perusahaan keluarga Hendrawan" ucap putera mengakhiri acara pidatonya dan kembali menyerahkan Mic pada pembawa acara
acara di lanjutkan dengan menikmati sajian makan dan juga pesta Dansa
qiana menghampiri putera yang juga ikut berjalan ke arahnya "ayo dansa denganku" qiana menengadahkan tangannya ke arah putera untuk mengajak putera berdansa
putera tersenyum simpul ke arah qiana "dengan senang hati" putera menyambut tangan qiana dan mengajak qiana ke lantai dansa
putera dan qiana berdansa paling awal dan di ikuti oleh yang lain
"sial" Dion yang juga ada di sana karena memiliki kerjasama dengan perusahaan Hendrawan itu begitu marah dengan qiana yang sedang berdansa dengan putera
"aku kecolongan rupanya" Dion tersenyum smirk dan langsung menenggak minuman beralkohol yang ada di hadapannya
Indra, sahabat Dion yang juga ikut menghadiri pesta menepuk pelan pundak Dion "kayanya kamu sudah keduluan deh" Indra melirik ke arah qiana dan putera yang begitu dekat dan saling melempar senyum saat berdansa
"mereka bukan saudara sedarah, di tambah keluarga mereka yang cukup dekat pasti kamu akan kesulitan mendekati qiana jadi lebih baik menyerah saja" ucap Indra
Dion menatap tajam sahabatnya itu "tidak akan!" Dion menoleh kembali ke arah qiana dan putera "aku gak akan biarin anak ingusan itu menang, qiana itu hanya milikku, cuma milikku" ucap Dion dengan yakinnya
"jangan gila deh, keluarganya bukan keluarga main-main loh Dion" sahut Indera tak suka cara berpikir Dion yang jelas akan merugikannya nanti
"aku gak peduli, aku pasti akan cari cari buat dapatin apa yang harusnya jadi milikku" balas Dion dengan yakin
"terserah kamu deh, aku angkat tangan sekarang" indra menyerah akan kerasnya Dion yang tak bisa ia nasehati
__ADS_1
Qiana dan putera begitu menikmati dansa mereka, serasa dunia milik berdua saja, tapi memang itu yang sedang qiana dan putera rasakan saat ini "kamu cantik banget" ucap putera
"sudah berapa kali kakak ngomong itu ke qiana" kekeh qiana
"rasanya dengan ucapan saja gak cukup mengutarakan bahwa kekasihku yang paling cantik hari ini" ucap putera
qiana tersenyum simpul ke arah putera "itu karena qiana pacar kakak" qiana menoleh ke arah tiara shabatnya yang sedang berdansa dengan roland "bagi roland tiara jauh lebih cantik, aku mah gak sebanding" balas qiana
"iya sih" putera membenarkan ucapan qiana
karena kadang cantik itu relatif, di setiap mata orang kadar level kecantikan seseorang itu berbeda-beda jadi anggapan cantik pastilah tidak sama bagi setiap orang
"kak" qiana nampak ragu akan apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya
"kenapa sweetheart" tanya putera
qiana menghela nafas "kakak lihat mas Dion kan" tanya qiana
putera memutar tubuh qiana dan kembali merapatkan tubuh qiana di tubuhnya "biarkan saja, toh kita gak selingkuh di belakangnya" balas putera dengan santai
"tapi dia ngejar qiana dari lama kak, pasti dia lagi kesal-kesalnya sama kita, karena lihat kita begitu dekat" qiana jadi kurang nyaman karena sempat melihat tatapan Dion padanya tadi
"biarin saja qiana, emang kalau ngejar seseorang itu harus dapat, kan gak gitu teorinya sweetheart" balas putera
"tapi feeling qian gak baik kak" ungkap qiana menyampaikan kekhawatirannya
putera mengusap kepala qiana "biarin saja dia mau apapun, kakak juga sudah ada persiapan kali, lagian biarin saja dia lihat kalau kamu itu sudah jadi milik kakak, jadi dia gak akan macam-macam lagi sama kamu sweetheart" balas puteraa
"terserah kakak saja deh" qiana pasrah saja dengan ucapan putera
toh keluarganya pasti akan melindunginya sekuat tenaga, jika Dion berani mengganggunya lagi
__ADS_1
Saat acara sudah selesai, semua undangan juga mulai pulang ke rumah mereka masing-masing " sapa mama kamu dulu sana, kakak mau ambil mobil di basement dulu" ucap putera
"ya sudah, qiana samperin mama sheryl sama bunda laras dulu ya" qiana berlari ke arah orang tuanya sekedar mengobrol dan berjalan bersama karena para pria sedang mengambil mobil di parkiran
"tit tit tit" putera menekan kunci mobilnya, dan saat mobilnya sudah menyala ia segera ke sana
"bugh" tiba-tiba ada yang menarik tubuh putera dan memukulnya secara tiba-tiba
kejadian itu di lihat oleh anggota keluarganya yang kebetulan juga sedang mengambil mobil di tempat parkir tak jauh dari tempat putera memarkirkan mobilnya. buru-buru putera mengangkat satu tangannya agar para orang tua di keluarganya tak ikut campur
"apa-apaan ini" tanya putera mengusap sudut bibirnya yang berdarah
"itu balasan karena kamu merebut wanitaku" sentak Dion dengan saura lantang
putera mengendus bau tubuh Dion "mabuk rupanya" putera kini tahu kenapa Dion sampai seberani ini padahal jelas Dion tahu kalau keluarga besarnya dan qiana ikut hadir di pesta perusahaan ayahnya
"apa kamu gak bisa cari wanita lain hah!, kenapa harus wanitaku" tanya Dion dengan ketus
putera menatap datar Dion "dia bukan wanitamu, jadi aku tak pernah merebutnya dari siapapun. kalau misal qiana tidak tertarik denganmu, itu salah kamu bukan salahku" balas putera
"alah" Dion mengibaskan tangannya "kamu pasti manfaatin keadaan sebagai kakaknya untuk mendekatinya makanya dia lebih dekat denganmu" dion menunjuk ke arah putera "aku yakin kamu yang pengaruhin dia untuk jaga jarak dariku dulu" tebak Dion
"jangan salahkan orang lain untuk ketidakmampuanmu merebut hati seroang wanita" balas putera
"aku gak akan melepas qiana, kau camkan itu" ucap Dion dengan tajam
"terserah apa yang akan kamu lakukan, qiana hanya akan jadi istriku dan tidak akan memilihmu jadi pendamping hidup" jelas putera dengan yakinnya
"alah" Dion ingin menghajar putera kembali tapi dengan mudahnya di hindari putera karena memang dion yang ingin menghajar putera dalam keadaan mabuk
Indra sahabat dion yang melihat dion berulah bergegas menarik Dion dan meminta maaf pada putera atas kelakuan Dion yang sedang mabuk
__ADS_1