
Kini rumah Sheryl sudah di hias dengan cukup mewah karena hari ini adalah hari lamaran kayla
“senyum kayla” pinta kinan saat sedang merias wajah kayla untuk acara prosesi lamaranya
Kayla memaksakan senyumnya “sudah non” balas kayla
“jangan panggil nona lagi kayla, kamu kan bukan pengasuh putera lagi dan juga kamu akan menikah dengan sepupuku yang artinya kak kinan juga akan jadi iparmu sama sepertiku” sahut Sheryl yang masih sibuk memeluk baby qiana sambil melihat kayla di dandani
"iya mba sheryl dan mba kinan" kayla mulai mempraktikan panggilan barunya pada dua orang yang dulunya sempat jadi majikannya
"bagus" balas sheryl
“sudah” kinan sudah selesai merias kayla dan duduk di dekat Sheryl agar bisa melihat dengan baik hasil riasannya
“aneh gak sih hidup kita” Tanya kinan pada Sheryl
“aneh gimana” Tanya Sheryl
“dulu aku ngerebut brian dari kamu karena takut ngerusak hidupmu, tapi ternyata dia adalah sepupumu” kekeh kinan mengingat kebodohannya dulu yang sangat memperdulikan sheryl
“hidupku bukan aneh kak, tapi lucu, sangat lucu” Sheryl tersenyum kaku mengingat kisah hidupnya
“pelarianku akan kekecewaanku dulu membawaku bertemu dengan pria asing dan menikah dengannya tapi pria asing itu tetaplah pria asing hingga membuatku sangat terluka karena kami tetap tidak bisa saling mengenal dengan baik” ungkap Sheryl akan masalah hidupnya
Kinan memeluk Sheryl “jangan seperti ini Sheryl” kinan benar-benar tak ingin Sheryl masih saja bersedih
“tapi nyatanya begitu kak” balas Sheryl
Kinan jadi bingung sendiri harus apa karena apapun yang di ucapkan kinan seakan tak berpengaruh untuk Sheryl
“tok tok” terdengar suara pintu di ketuk “sudah selesai belum, brian sudah datang tuh” seru Hans memberitahukan bahwa brian dan keluarganya sudah datang
“iya mas, kita keluar sekarang” kinan membantu kayla berjalan dan Sheryl mengekor di belakang sambil menggendong baby qiana
__ADS_1
Sudah banyak kursi tertata di sana, acara lamaran kayla di hadiri oleh kerabat dekat saja karena kayla ingin pernikahannya di gelar dengan tertutup
Kayla duduk di samping ayahnya dengan di damping kinan dan juga Sheryl sedangkan brian duduk di hadapan kayla dengan di apit oleh ayah bimo dan juga om arkana selaku ayah kandungnya
“selamat malam om, kayla” sapa brian [ada om bachtiar dan kayla
“malam” balas om bachtiar dengan datar
“malam ini saya ingin melamar kayla untuk jadi istri saya” brian menghela nafas dan menatap manik mata kayla “saya tahu kalau kita menikah mungkin karena insiden yang terjadi saat itu tapi saya yakinkan untuk bertanggung jawab padamu dan anak kita” brian jelas melihat keraguan di mata kayla
“saya tidak bisa bilang mencintaimu karena memang rasa itu belum ada, tapi saya berjanji akan menjaga pernikahan kita dan mencoba mencintaimu dan juga memberikan keluarga yang utuh dan bahagia untuk anak kita nanti ” mata brian mulai mengembun “mungkin kita sama-sama tahu bahwa mempunyai orang tua tunggal ataupun pernikahan yang tidak harmonis sangat menyakiti kita” brian mengingat masalalunya yang selalu tak puas karena orang tuanya selalu berdebat
“dan benar saja karena orang tuaku selalu bertengkar membawaku ke kenyataan bahwa aku bukan anak kandung ayah yang selama ini aku tahu sebagai ayahku” brian menoleh ke arah om arkana “tapi kali ini aku tidak ingin menyalahkan siapapun karena itu sangat melelahkan” ungkap brian yang sudah tidak ingin menyalahkan apa yang menimpanya dan mencoba berdamai dengan keadaan
Brian kembali menatap manik mata kayla “mari bangun perniakhan bahagia dan mari saling mencintai untuk anak-anak kita nanti” ajak brian dengan tulus
Kayla mengangguk “baiklah” balas kayla yang sedikit terenyuh dengan ucapan lamaran brian
Jemina membantu memasangkan cincin di tangan kayla sebagai tanda mereka berdua sudah terikat
"minggu depan, semuanya sudah saya urus mulai dari gaun dan segala pernak-perniknya "balas ayah bimo
"baiklah kalau gitu" om bachtiar sudah cukup puas dengan pengaturan ayah bimo
setidaknya kayla tidak akan menjalani kehamilannya seorang diri, dan dia juga bisa memastikan anaknya akan terjamin karena mertua anaknya adalah sahabat dan salah satu kolega bisnisnya
setelah acara selesai mereka menghabiskan waktu untuk berbincang
para anggota keluarga menatap miris sheryl yang sedang duduk masih sambil menggendong baby qiana yang tertidur di pojok ruangan "dulu aku paling kesal saat dia sedang marah-marah dan emosinya yang suka meledak-ledak tapi kenapa sekarang aku begitu sedih melihat anakku begitu pendiam" ucap ayah burhan
"apa belum ada perkembangan dari sheryl tentang konselingnya" tanya ayah bimo
ayah burhan menggeleng "belum ada" balas ayah burhan
__ADS_1
"apa tidak di bawa ke psikiater saja" usul jemina
"aku sudah memikirkannya, tapi kita belum menemukan siapa yang akan menemaninya, sebenernya aku ingin menemani dia berobat tapi perusahaan tak mungkin di tinggal lama" balas ayah burhan
"maaf ayah kalau aku gak bisa nemenin sheryl" ungkap kinan merasa bersalah
"kamu gak salah kinan, putera kan masih kecil mana mungkin kamu bisa urus sheryl dan baby qiana sekaligus" balas ayah burhan
"bagaimana kalau saya saja yang menemani non sheryl ke Inggris" usul romi
semua mata tertuju pada romi "emangnya kamu mau jagain sheryl" tanya ayah burhan dengan nada penuh harap
om bachtiar mengepalkan tangannya erat mendengar romi yang akan menemaninya "iya om, saya gak masalah menemani non sheryl berobat" balas romi
om arkana tersenyum miring melihat reaksi sahabatnya yang sedang menahan kesal "sepertinya gak bisa deh rom kalau kamu yang jaga sheryl, di sana kan gak tahu sampai kapan sedangkan bulan depan kamu harus ambil alih usaha daddy"sahut om arkana
"emangnya gak bisa di tunda ya, sheryl ini loh yang mau di awasin" ucap brian menatap tak suka akan daddy nya yang melarang romi untuk menemani berobat
"daddy juga sayang sama sheryl, tapi romi punya tanggung jawab yang gak bisa di tinggalkan" balas om arkana
"terus siapa yang bisa nemenin sheryl berobat, andai dia gak pilih-pilih orang yang dekat dengannya gak akan serumit ini, sebenarnya aku mau saja menemani sheryl ke Inggris tapi dia gak mau nyerahin baby qiana kalau sama aku" ungkap jemina merasa tak tega dengan sheryl
ayah burhan menatap takjub akan jemina yang begitu memikirkan sheryl, makin bertambah rasa sayang ayah burhan untuk pujaan hatinya itu
"gimana kalau saya saja yang menemani sheryl, kebetulan pekerjaan saya gak menuntut saya untuk hadir secara penuh dan sheryl mau menyerahkan qiana untuk saya pegang" ucap om bachtiar
"sepertinya itu ide bagus, sheryl kan akrab banget sama bachtiar jadi gak akan masalah kalau dia yang menemani" sahut om arkana
om bachtiar menoleh ke arah om arkana dengan senyum tipis begitupun sebaliknya om arkana menatap sahabatnya itu dengan senyum tipis "kamu harus berterima kasih banyak sama aku" batin om arkana yang dapat di tangkap oleh om bachtiar
"apa tidak merepotkan" tanya ayah burhan
"tidak, malah sekalian saya lihat usaha saya yang ada di sana" balas om arkana
__ADS_1
"oke kalau gitu, setelah acara pernikahan brian dan kayla mohon bantuannya untuk menjaga sheryl" ucapayah burhan