
Sepanjang jalan qiana tak henti memandangi wajah putera, sambil sesekali mengusapnya "sudah qiana" putera menahan tangan qiana yang terus menyentuh sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan Dion
"pasti sakit ya kak" ucap qiana untuk kesekian kalinya
"kakak itu laki jadi gak seberapa, lagian tadi papa kan sudah ngobatin luka kakak, jadi jangan terus khawatir dengan kakak ya" pinta putera memaksakan senyumnya walaupun terasa sedikit sakit saat tersenyum karena sudut bibir putera yang robek
qiana kembali menatap lurus ke depan "aku benar-benar gak nyangka kalau mas Dion akan mukul kakak tiba-tiba gitu" qiana masih tak menyangka Dion bisa memukul putera begitu saja tanpa ancang-ancang terlebih dahulu
"itu bawaan dia mabuk sweetheart, kalau dalam keadaan sadar gak mungkin dia akan berani mukul kakak di depan orang tua kita yang jelas akan menurunkan niali dia sebagai calon pasangan kamu" balas putera
qiana mencebikkan bibirnya "yang mau jadiin dia pasangan qiana itu siapa" qiana masih kesal dengan Dion yang berani melukai putera terlepas putera bukan kekasihnya, putera kan kakaknya sejak ia kecil tentu qiana tidak terima jika ada yang melukai saudaranya
putera mengusap pipi qiana "kelihatan baget sih kalau kamu sesayang itu sama kakak" ucap putera penuh haru
"apaan sih kak" qiana mencoba mengelak ucapan putera walaupun jelas itu adalah kebenaran "aku gak sesayang itu kok sama kakak" ucap qiana mencoba menahan egonya setinggi mungkin
"iya iya, kamu gak sesayang itu sama kakak" putera menoleh sekilas ke arah qiana " tapi secinta itu sama kakak" kekeh putera
"kakak" rajuk qiana
"iya iya sweetheart, kakak gak akan ledek kamu lagi" putera kembali melajukan mobilnya menuju apartemen mereka agar bisa segera istirahat
beruntung besok adalah akhir pekan, jadi mereka bisa bangun siang esok hari karena sudah jam 2 dini hari saja masih belum sampai di apartemen mereka
***
__ADS_1
"eeeeuuuugghhh" terdengar lenguhan khas bangun tidur seorang pria
"akkahhh" pria itu memukul-mukul kepalanya yang terasa berdenyut
"nih minum" seseorang menyerahkan segelas air pada pria yang tadi memukul kepalanya
"terima kasih" balas pria tersebut
"sudah sadar" pria yang menyodorkan minuman itu melihat sosok sahabatnya yang langsung meminum air lemon hangat dengan sekali teguk
pria itu mendongak "ada apa sih dra, pagi-pgi sudah marah-marah aja" kesal dion
dion meletakan gelas air lemonnya di nakas dan kembali berbaring karena kepalanya yang masih berdenyut
Indera berjalan ke arah ranjang dan langsung memukul Dion dengan bantal dengan keras "kamu sadar gak sih apa yang kamu lakuin semalam" kesal indra dengan sahabatnya yang malah santai saja padaahal dia saja semalam tak bisa tidur akibat ulah sahabatnya yang tidak pakai perhitungan itu
"coba ingat-ingat deh apa yang kamu lakuin semalam" ucap indra
"apa sih" Dion mencoba mengingat kejadian semalam dengan usaha cukup keras, karena memang ia sempat lupa dengan hal yang terjadi semalam
mata dion langsnung membelalak lebar kala mengingat kejadian semalam yang sudah memukul putera di depan anggota keluarga putera yang jelas tentu ada keluarga qiana di sana "SIAL" umpat Dion merutuki kecerobohannya semalam
"kamu emang cari mati tahu gak sih Dion" kesal indra
"ngapa aku mukul saat masih ada orang tua qiana di sana, harusya pas mereka gak ada" sesal Dion
__ADS_1
"gila kamu Dion" indra masih tak percaya sahabtanya tak tahu masalah besar apa yang akan menimpanya
"harusnya kamu tahu kalau perusahaan kamu itu ada kerjasama dengan perusahaan putera, kalau sampai gara-gara ini perusahaan kamu colabs, abis kamu sama abang kamu itu" sentak indra mengingatkan Dion betapa kerasnya sang kakak dalam mendidik Dion dan selalu menekankan Dion untuk mengutamakan keuntungan di atas segalanya
"aku gak peduli, yang aku peduliin sekarang, aku harus cari cara agar bisa dapatin qiana " Dion tentu masih tak terima wanita yang ia usahakan selama bertahun-tahun berakhir menjadi bukan miliknya dan malah akan menjadi milik orang lain
"emang dasar keras kepala kamu" Indra merasa percuma untuk menasehati Dion untuk berhenti, karena ujung-ujungnya ucapannya tidak akan di dengar dan Dion akan melakukan apapun yang dia inginkan tanpa perduli dengan pendapat orang lain
Dion menoleh ke arah Indra "kamu harus bantu aku cari tahu tentang informasi perusahaan keluarga mereka semua" pinta Dion
"gila kamu dion" indra menatap tajam Dion yang ia hafal sekali tabiat gilanya jika sudah menginginkan sesuatu "jangan main-main dengan keluarga wanita itu Dion, kamu gak tahu segelap apa mereka jika menyangkut keluarga mereka" seru indra yng tentu tahu kabar burung tentang keluarga besar Qiana, kennedy, hendrawan, Herlambang dan juga abraham bukanlah keluarga sembarangan terlebih keluarga atharazka yang berada di posisi paling atas apalagi Bachtiar atharazka adalah papa qiana dan sangat menyayangi qiana
"justru karena aku tahu seberapa besar keluarga qiana, aku harus bermain cantik untuk mendapatkan wanita itu" Dion menyunggingkan senyumnya "dia haruslah jadi milikku dan bukan milik anak bau kencur itu" seru Dion penuh dengan tekat
"aku gak mau terlibat dalam masalah percintaanmu Dion, jelas disini aku tidak di untungkan sama sekali dan mungkin hanya akan mendapat kerugian besar dan mungkin malah berakhir dengan nyawa melayang" tolah indra
"jangan khawatir ndra, aku hanya minta informasi tentang mereka saja, selebihnya akan aku urus sendiri dan tal akan melibatkan kamu ke dalamnya" jelas Dion
Indra menghela nafas panjang "baiklah, aku hanya mencari informasi, setelah semua terkumpul jalankan sendiri dan jangan pernah coba libatkan aku dalam masalahmu" tunjuk indera pada Dion dengan nada penuh penekanan
"iya " balas Dion
Dion melirik ke arah jendela kaca besar yang ada di kamarnya "kau yang memintaku mengibarkan bendera perang anak ingusan, aku pasti akan memenangkannya apapun caranya, kau sudah memilih lawan yang salah saat menjerat wanitaku untuk berpihak padamu" batin Dion bermonolog
Dion akan membuat rencana yang matang agar menjadikan qiana miliknya. Melihat sifat qiana pastilah mereka hanya akan pacaran saja sampai setidaknya saat qiana lulus kuliah dan waktu kelulusan qiana masihlah jauh karena qiana baru akan menyelesaikan semester duanya, yang itu aryinya masihlah jauh untuk menyandang gelar sarjana
__ADS_1
jasi Dion yakin wanita pujaannya masihlah aman sampi dia lulus kuliah, yang harus ia fikirkan sekarang bagaimana membuat keluarga besar qiana porak poranda dan tak akan ada yang bisa mencegahnya saat akan menjadikan qiana miliknya seorang