Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 26 - Kebanyakan Tidur


__ADS_3

Ash memutuskan untuk menginap di sebuah hotel, di mana tempat Arthur yang mabuk terdapat di hotel yang sama untuk beristirahat. Sesampainya di kamar, Ash mengganti pakaian Shena yang telah basah. Dayn menunggu di luar kamar. Ash berkali-kali meneguk salivanya setiap kali melepas satu persatu pakaian Shena dan menggantinya dengan baju kemejanya kerena Shena tidak membawa baju ganti siaga di mobil Ash untuk berjaga jika terjadi. Semasa diganti baju, Shena hanya diam menurut, tidak menolak ataupun malu ketika Ash menggantikan bajunya. Shena tidak tahu jika pria di depannya sudah menahan segalanya dan berulang kali meneguk salivanya kasar.


"Tuan, Bagaimana?" Tanya Dayn. Saat mendapati Ash keluar dari kamarnya.


"Baik. Dayn, bisa kau mintakan obat demam untuk Shena?!"


"Akan aku bawakan, Aku pergi dulu."


"Hemm..."


Tak lama, Dayn kembali dengan obat demam dan segelas air. Ash langsung membantu Shena untuk meminumnya. Setelah selesai, Shena tertidur dengan Ash yang masih berjaga.


Pagi Hari...


"Ugh... laparr.." Lenguh Shena saat terbangun. Ia mendapati suasana kamar bukan di kamarnya seperti, matanya mengedar menatap sekeliling dan mengira ia dan Ash berada di hotel.


Shena melihat pria di sampingnya, yang masih tertidur pulas.


"Sebaiknya aku tidak membangunkannya." Ucap Shena.


Shena berjalan sendiri di koridor untuk memasuki lift agar bisa cepat menuju lantai 1 tanpa menuruni anak tangga, di sana ia berpapasan dengan Dayn yang sudah ada di dalam lift hendak keluar saat terbuka.


"Nona, ingin kemana? Bukankah kau harus istirahat saat ini? Apa badanmu masih demam?!" Tanpa ragu Dayn menempelkan punggung tangan ke dahi Shena .


"Tidak perlu khawatir. Aku hanya lapar." Balas Shena memegang perut.


Dayn terkekeh, Lalu menarik pergelangan tangan Shena untuk memasuki lift.


"Ayo kita sarapan. Awalnya aku ingin memanggil mu juga untuk sarapan."


"Kau dari mana? Kenapa bajumu basah begitu?"


"Aku selesai olahraga dengan Arthur."


"Lalu, di mana dia? Apa rasa pengarnya sudah hilang? Bukankah kemarin malam dia mabuk."


"Dia ada di bawah." Jawab Dayn di dalam lift dan sama-sama menunggu pintu terbuka.


"Eemmm... Dayn!! Bolehkah aku memanggil kalian Tuan?! Umur kalian kan di atas ku, Jadi tidak-..."


Dayn memotong ucapan Shena dan mengusap kepalanya gemas.


"Tentu saja boleh, itu akan membuat kita semakin dekat." Kata Dayn sembari tersenyum tidak melarang istri Tuannya untuk memberi kebebasan dalam memanggilnya dengan sebutan apapun.


Shena membalas senyumnya.


"Oh, kalian di sini? Ingin kemana?" Tanya Arthur juga kala bertepatan dengan pintu lift yang terbuka dan menampilkan Dayn dan Shena.


"Apa semua sudah selesai?" Tanya balik Dayn demikian.


"Iya. Sudah ku urus semuanya."


"Kita ingin sarapan. Apa kau ikut?" Ucap Shena menimpali.


"Tentu. Aku juga sangat lapar dan menunggu kalian turun. Ayo!"


"Tapi, Kita akan sarapan di mana? Aku sedang tidak ingin makan makanan di hotel." Tanya Shena.


"Tidak jauh dari sini ada restaurant yang sudah buka. Bagaimana jika kita ke sana saja." Usul Arthur.


"Agh, Baiklah..." Setuju Dayn dan Shena. Mereka bertiga berjalan menuju mobil Dayn yang sudah terparkir di depan hotel. Dan mereka pergi melupakan Ash yang masih tertidur lelap.


"Tunggu! Apa kalian tidak mengganti baju basah karena keringat? Kalian membawa baju ganti, kan?" Tanya Shena karena merasa terganggu dengan bau keringat mereka yang selesai berolahraga.

__ADS_1


"Aku tidak membawanya, karena tidak sempat pulang." Balas Dayn.


"Tentu saja aku membawanya. Tunggu sebentar..." Balas Arthur. Mengambil baju di bagasi mobil belakang untuk Dayn dan juga dirinya.


"Ini pakailah! Hanya ada ini, Aku tidak membawa baju lain." Kata Arthur sambil menyodorkan baju miliknya pada Dayn.


"Tidak masalah yang terpenting bisa menggantinya. Dan Nyonya kita tidak terganggu dengan penampilan kita." Kata Dayn menerima baju itu.


Lalu, Tidak melihat kondisi dan ada siapa selain dua orang pria di sana, Arthur melepas baju basahnya dan di ikuti Dayn. Mereka mengganti baju di dalam mobil.


"YAK!!! Kenapa kalian membuka baju di sini?! Bukankah ada toilet. Pergilah kesana sebentar." Pekik Shena sontak menutup mata dengan kedua tangan.


Arthur yang baru sadar jika ada Shena di kursi belakang, hanya tersenyum menampilkan gigi putihnya dan malu.


"Terlalu lama jika perlu jalan ke toilet dulu. Toh sudah telanjur telanjang." Ucap Arthur demikian.


"Ck... Jika kalian mengatakan ingin mengganti di sini, Aku bisa keluar sebentar." Kesal Shena. Pipinya memanas.


"Sudaah... Diam dan duduk manis saja di situ. Kami tidak akan melakukan apapun padamu. Mengerti?!" Lontar Dayn.


Hanya di jawab deheman oleh Shena.


Dayn yang mendengar cuitannya, Dari tadi tertawa kecil.


"Kita hanya berganti tidak sampai 2 menit, Shena. Untuk apa jauh-jauh ke toilet." Lontar Arthur berikutnya.


"Sama saja, telanjang di depan seorang gadis bisa merusak pandangan gadis itu. Cepat jalan!! Aku sudah lapar. Jika aku ceritakan pada Paman Ash, Kalian bisa habis dipukuli." Ucap Shena memberi peringatan.


Kedua pria hanya tertawa gemas dengan reaksi Shena.


"Baik Tuan Putri..." Jawab keduanya serempak. Dan Arthur mulai melajukan mobilnya.


Restaurant Berada



"Aku pesan samakan denganmu saja." Jawabnya demikian.


"Dan kau Nona?" Tanya Dayn beralih.


"Samakan juga dengan kalian, Tuan." Ucap Shena.


Lalu, Dayn mengatakannya pada Pramusaji. Dan ia menulis pesanan mereka bertiga.


"Baik Tuan, Makanannya akan segera datang. Mohon menunggu!" Ucap Pramusaji itu ramah dan ia pergi untuk menyiapkan pesanannya.


"Tadi, Kau memanggil Dayn apa? Tuan?!" Tanya Arthur pada Shena. Mereka berbincang sambil menunggu pesanannya datang.


"Iy-iya..." Jawab Shena menunduk menahan malu.


"Sejak kapan?"


"Baru saja waktu turun ke lobby. Usia dia 4 tahun di bawah kita, Jadi dia mengatakan akan memanggil kita Tuan. Tidak masalah kan? Apa kau ingin dipanggil Paman seperti dia memanggil Ash?" Tanya Dayn setelahnya terkekeh.


"Aish... Tentu saja tidak masalah. Begitu saja jauh lebih baik, Gadis kecil. Daripada aku harus seperti Ash yang dipanggil Paman karena dia sudah tua." Ucap Arthur mengacak rambut Shena.


"Ck... Kau sama saja seperti Paman Ash. Jangan panggil aku gadis kecil." Masam Shena kesal.


Dayn dan Arthur tertawa mendengar komplainnya Shena yang tidak terima. Hingga tawa mereka terhenti, karena makanan mereka telah datang dan mulai menyantap sarapan mereka itu.


Waktu 15 menit pun sudah dihabiskan mereka di restaurant sana.


"Tuan... Boleh aku pesan satu porsi lagi?!" Ucap Shena yang telah selesai makannya.

__ADS_1


"Oh, Kau ingin menambah lagi? Boleh, boleh.. Tentu saja boleh, Haha... Ternyata badanmu saja kecil tapi sarapanmu banyak juga." Kata Arthur.


"Ck... Bukan untuk ku, Tapi untuk Paman Ash. Aku ingin memesan dan dibawa pulang untuk dia."


"Haha.. Baiklah, baiklah.. Aku akan memesankan untuknya."


Sembari menungu Arthur memesan, Shena mengedarkan pandangan sekeliling ke restaurant. Sedangkan Dayn, fokus ke ponselnya. Sepersekian detik pandangan Shena berhenti di meja restaurant yang sama di paling pojok. Sudut bibir Shena menyeringai melihat sepasang sejoli yang sedang bermesraan.


"Ck... Bicth!!!" Umpat Shena dengan kesalnya.


"Tuan, Kita cepat pergi sekarang." Shena melenggang pergi meninggalkan Dayn yang masih fokus ke ponselnya.


"Ehp..." Dayn mencari kebingungan kemana Shena pergi tiba-tiba dan pandangannya melihat bahwa ia sedang berjalan ke arah mobil, Lalu Dayn menyusul.


Shena sudah kembali ke kamar hotel dan menghangatkan sarapan di microwave karena makanan yang di pesankan Arthur tadi untuk Ash keburu dingin selama perjalanan. Shena pergi ke kamar utama. Dan melihat suaminya masih tertidur pulas. Padahal Shena sudah pergi cukup lama, tapi masih saja pria itu belum terbangun.


"Luar biasa tidurnya pulas sekali. Jika ada gempa sekalipun dia pasti tidak akan bangun." Ketus Shena tidak habis pikir dengan tidur suaminya yang tidak biasanya.


"Paman, Bangun!! Kau harus sarapan, Paman.." Ucap Shena membangunkan sembari menggoyangkan tubuh suaminya.


Terus saja Shena bangunkan dengan cara seperti itu, tapi sama sekali tidak berpengaruh karena Ash masih setia menutup matanya.


Shena pun kebingungan dan menatap Ash was-was dan cemas.


"Bagaimana ini!! Jika aku membangunkannya, hidupku akan segera berakhir, tapi sarapannya sudah ku hangatkan..."


"Paman ayolah, Kau harus bangun!! Ini sudah pukul setengah sembilan dan kau belum bangun juga. Tidak biasanya kau seperti ini." Ucap Shena terus menggoyangkan tubuh Ash, tetap saja tidak ada respon.


"Astaga.. Dia membuatku kesal! Apa kau sekarang mendadak menjadi kerbau, ya, yang banyak tidur? Bahkan lebih kebanyakan tidur dariku." Ketus Shena nada kesal.


Sudut bibir Shena tertarik, dia tersenyum. Sepertinya ini saatnya membalas perbuatan Paman yang pernah membangunkan tidurnya dengan menceburkan dia saat itu ke kolam. Ide dan kejahilannya itu tidak pernah habis!


Shena pergi keluar kamar, Lalu kembali lagi dan membawa sesuatu ditangannya.


Shena berjalan mengendap dan merangkak perlahan di ranjang, Lalu mengayunkan bakat menggambar tangannya pada tubuh pria yang terbaring pulas di bawahnya.


"Hihi... Rasakan itu! Yang benar saja, sudah aku bangunkan, tapi kau menguras kesabaran ku." Ucap Shena terkikik setelah rencananya jahilnya berjalan dengan lancar.


"Apa yang kau lakukan?" Suara menggema seorang pria yang akhirnya terbangun dan langsung disuguhkan dengan wajah Shena yang dekat sekali dengannya.


"Mati saja kau Shena." Batin Shena terkejut tiba-tiba Ash bangun begitu saja saat ia sibuk menertawakan karyanya.


"Paman.. Ak-aku... Aku hanya ingin membangunkan mu."


Shena bangkit dan memalingkan wajah menahan tawanya.


"Kenapa??" Tanya Ash mengernyit keningnya sangat dalam karena sepertinya tidak ada yang beres sesuatu terjadi padanya.


"Tidak. Cepat bangun, Paman! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Kata Shena masih menahan tawa dan menstabilkan dirinya.


"Apa yang kau bawa?" Mata Ash menatap tajam ke arah belakang karena merasa ada yang disembunyikan Shena di belakang badannya.


"Apaa? Ti-tidak ada." Shena yang seolah tahu jalan pikir suaminya, mengerti bahwa Ash pasti sedang curiga pada barang yang ia sembunyikan di belakang badannya.


"Apa yang kau bawa di belakang badanmu?!" Tanya Ash kini mendekat dengan tatapannya yang ingin memangsa.


"Aku tidak membawa apa-apa, Paman. Sungguh!!" Ucap Shena memundurkan dirinya gugup.


Ash hendak memajukan badannya pada Shena. Tapi sebelum itu, kaca besar di samping ranjang, bahkan sebesar dinding kamar mengalihkan perhatian Ash.


"APA-APAAN INII??" Pekik Ash terkejut.


Shena tidak bisa menahan tawanya lagi dan ketika Ash baru menyadari, Dia langsung tertawa lepas dan lari begitu saja keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2