Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 10. Cinta? Akan datang dengan sendirinya.


__ADS_3

Andini lega, tak menyangka kalau Miko ternyata pria baik, yang terlahir dari Dewi seperti Mama Mitha.


Miko dan Andini tak ada masalah lagi, Miko juga memaafkan kelakuan Andini tempo hari.


"Duduk dulu," ajak Miko pada andini


Andini menurut kini ia duduk di kursi panjang yang ada di butik itu.


"Ndin, gue bersyukur banget, kamu memberontak di malam itu, kalau tidak, aku pasti sudah menyakitimu, dan kau pasti kehilangan milikmu yang berharga .... Aku tau kamu pasti melakukannya karena terpaksa "


"Benar .... Tapi Miko, mereka terus mengejar ku, aku takut?" Jelas Andini.


"Iya, mereka hanya bekerja sesuai yang diminta oleh Mamie jadi aku akan menghubunginya nanti, agar tak mengejar mu lagi," hibur Miko


"Makasi, Mik." Andini tenang sekarang.


"Sama-sama." Senyum terukir di bibir Miko.


"Ndin? Siapa pria beruntung yang akan menikahimu, itu?" Tanya Miko.


"Aku belum tau, Pernikahan ini terjadi karena sebuah projek saling menguntungkan saja, Mik"


"Daripada menjual diriku padamu malam itu, bukankah ini semua akan lebih baik." ujar Andini sambil tersenyum getir.


"Mana ada pernikahan semacam itu?" Miko tak percaya namun berusaha untuk percaya.


"Buktinya ini ada!" Jawab Andini.


"Cinta itu urusan belakangan ... Nanti juga tumbuh dengan sendirinya." Andini tersenyum ringan walaupun hatinya tak berkata demikian.


"Ndin, kamu sebaiknya bisa pikirkan dulu semuanya sebelum terlambat."


"Makasi Mik, sarannya." Andini sekali lagi harus pura-pura tersenyum di depan Miko.


****


"Loh, kalian udah saling kenal rupanya?" Mitha mendekati mereka berdua yang duduk santai.


"Eh, Iya Ma. Andin dan Miko sudah pernah ketemu."


"Bagus Dong. Ndin, Miko ini yang akan menjadi adik kamu."


"Seriusan Ma?" Tanya Miko masih belum mengerti.


Andini dan Miko saling bertatap, kemudian melempar senyum sesaat.


Miko itu usianya jauh lebih tua dari Andini namun sekarang statusnya malah akan menjadi seorang adik.


"Andini calon istri kak Sena?" Tanya Miko lagi.


"Ya udah Miko, Andini, kita makan siang ya! Soalnya perut mama mulai keroncongan nie." Mitha memegangi perutnya yang mulai terasa melilit.


"Ok Ma." Miko juga semangat, soalnya kesini tadi tujuannya juga ingin makan siang bersama mamanya.


Andini kini berjalan ke ruang ganti dibantu Mitha mengangkat ekor gaunnya yang menjuntai.


Setelah selesai ganti baju mereka berdua kembali menghampiri Miko yang sedang duduk sendirian bermain dengan handphonenya.


Mitha ternyata sudah memesan makanan dari luar, tak perlu menunggu waktu lama lagi, seorang delivery datang sudah datang membawa makanan untuk mereka bertiga.


"Makanan sudah datang!, cepet kan?" Mita hendak berdiri dari duduknya.


"Biar Andini yang ambil Ma." Andini menyongsong kedatangan Delivery, setelah menandatangani secarik kertas kemudian menyerahkan kembali, delivery mengangguk ramah pada Andini sebelum pergi dan sebaliknya ia pun bersikap ramah.


Andini segera menaruh piring di depan Miko dan Mitha. Kemudian memindahkan menu ayam Kentucky dari kardus ke piring mereka dengan telaten, lalu menuang minuman pada gelas masing masing.


Miko segera melahap menu kesukaannya itu, hingga saat Andini mulai makan, milik Miko tinggal tersisa separuhnya saja.

__ADS_1


"Mik, kapan kamu bawa calon menantu buat, Mama? Kalau bisa yang seperti Andini ini ya? Mama suka tipe seperti dia, cantik dan kalem."


"Uhuk, uhuk." Miko tersedak. Segera meraih minum di dekatnya.


"Mama Ada aja, Andini cuma satu, kalau mama mau seperti dia, ya mama bilang saja, biar dia nanti malam nikahnya sama Miko aja."


"Huss... Mana bisa begitu? Dia calon kakak kamu."


****


Arsena menggeliat malas di ranjang besar di kamarnya, kepalanya masih pening. Ia mengamati jam di dinding. Ternyata sudah pukul dua sore. Artinya sembilan jam lebih ia tidur.


"Arghhh ... " Arsena merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Arsena membenci kenyataan kalau ia nanti malam akan menikah.


"Den, sudah bangun rupanya." Sapa Bi Um pada Arsena. Sambil membawa nampan berisi makanan, buah dan teh hangat.


"Iya." Jawab Sena masih memijit mijit pelipisnya. "Papa mana?" Tanya Sena lagi.


"Dibawah Den, lagi menemui tamu."


"Masih pusing, Den? Tadi Pak Johan meminta saya membawakan air kelapa, katanya supaya racun ditubuh tuan biar segera keluar."


"Hah .... Kalau bisa aku malah berharap racun ini nggak usah keluar, biar acara nanti malam nggak usah terjadi," kata Arsena.


Bibi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Taruh di meja. Nanti biar aku minum," ucapnya jutek sambil menyibak selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Bibi menuruti ucapan Sena menaruh semua makanan dan minuman yang dibawa lalu pergi lagi.


Sena kini membasahi tubuhnya di bawah guyuran Air shower setelah mandi tubuhnya rasanya lebih baikan. Kini ia memakai kaos polo putih dan boxer pendek diatas lutut.


Selesai mandi Sena duduk di sofa, tangannya meraih foto diatas meja. mengamatinya lekat.


"Lili, besok aku akan menikah. Maafkan aku merahasiakan semua darimu, Baby. Aku nggak mau kamu sedih." Kata Sena dalam hati. Sambil mencium foto itu sebelum meletakkannya kembali.


Sena mendekati makanan yang dibawakan bibi tadi. Sepertinya yang disediakan hari ini makanan kesukaannya. Sena segera mengambil secentong nasi pulen, plus gurame yang dimasak dengan rasa asam, pedas,manis.


"Akhirnya kenyang deh gue." ucapnya setelah perutnya membuncit. Kini Sena mulai meneguk kembali air kelapa dan mengelap bibirnya.


Tring ... Triiing ....


Handphonenya berdering. Sena segera menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.


"Hay sayang, kangen banget nie ...." Ucapan manja dari orang di seberang sana. Gadis yang selalu terlihat seksi dengan baju bajunya yang hampir semuanya mirip bikini.


"Sayang, kamu tega banget tadi malam tinggalin aku sendiri?" Rengeknya manja. Sambil memanyunkan bibirnya.


"Maaf Honey aku tadi malam nggak ingat apa-apa?"


"Masa-maaf doang ..."


"Lalu mau apa nie ....! Chayangku biar ngambeknya hilang?"


" Apa ya? MMM ... Tadi di kantor, bawahan aku ada yang punya mobil sama persis. Sayang, aku nggak suka samaan sama mereka."


"Aku mau mobilnya kembaran sama kamu saja, biar kita kelihatan sehati."


"Oke tunggu ya ... Biar nanti aku tranfer uangnya."


"Makasi, I love you sayang." Liliana girang bukan kepalang, ternyata Sena masih tetap sama menuruti semua permintaannya.


"Yesss, yesss, yesss."


Liliana segera menghentikan panggilan dari ponselnya sebentar, memberi waktu Sena untuk mentransfer lewat Aplikasi yang ada dihpnya.


Setelah notif pesan dari Banking masuk ke hp miliknya, Liliana segera menelepon kekasihnya lagi. Entah kata cinta dan rayuan maut ia ucapkan betapa puluh kali.

__ADS_1


Hampir dua jam mereka bertelepon ria. Telepon itu terputus ketika sang Papa memanggilnya dari tangga, kebetulan kamar Arsena berada di lantai paling atas.


Arsena segera keluar kamar menuju keberadaan orang tuanya di ruang tamu.


"Hello my beloved son!" Sang papa terlihat sangat bahagia.


"Kamu akan makin tampan dengan tuxedo ini? Lihatlah pilih aja yang kamu suka?" Papa sekali lagi tersenyum bahagia, menunjukkan tuxedo warna hitam dan silver di tangannya.


"Terserah papa." Arsena menghempaskan bobotnya disebelah Mama. Dan menyandarkan tubuhnya di pundak wanita yang selalu mendukungnya itu.


"Kok terserah Papa, kamu pilih donk, yang paling cocok yang mana?"


"Hitam aja Pa." Kata Sena malas.


"Sabar sayang." Mama mencium kening putranya. "Ambil mana yang kamu suka."


"Oke, Pa. yang hitam aja." Sena menerima Tuxedo dan paper bag lain berisi celana dan Hem dari tangan papa.


Sena kembali ke kamar untuk siap siap. Ia sudah tak bisa lagi menolak keinginan Papa, menolak atau tidak, akan sama saja. Ujung-ujungnya pasti ia yang akan mengalah.


"Kakak," Arini menyusul kakaknya dan memeluk dari belakang.


"Hey, bikin kaget dasar ... " Sena mengacak rambut Arini gemas.


"Selamat kak ... Ini hadiah dari Arini buat kakak, kakak Ars setelah ini pasti akan sibuk dengan kakak ipar. Arini kasih hadiah ini biar kakak selalu ingat Arini walau sudah punya istri."gadis SMA kelas tiga itu rupanya amat senang kakaknya akan menikah hari ini. Namun ia juga takut akan berpisah dengannya. Karena kata papa setelah menikah kalanya akan menempati mansion barunya.


"Siapa yang bakalan lupain kamu sih, Arini?" Arsena kembali memeluk Arini sebelum mengusirnya pergi.


"Pernikahan ini nggak lama Arin, kakak nggak nggak cinta sama calon istri kakak."


"Kakak mau permainkan pernikahan?" Protes Arini. Gadis itu tak setuju kalau kakaknya cuma permainkan pernikahan.


"Tapi kak, kakak sama saja sedang mempermainkan janji kakak pada Allah?"Arini kecewa kakaknya ternyata lebih banyak berubah setelah mengenal Liliana, ia sudah tak sebaik dan tulus seperti dulu.


"Keluar sana, kakak mau ganti baju dulu."


"Iya, iya, tapi kakak janji nggak akan permainkan kakak ipar ya? ... Arini pengen punya kakak ipar!" Katanya manja.


****


Pengantin wanita sudah selesai di make' up oleh Mitha. Selain desainer baju, Mitha juga pandai merias pengantin, namun bakat yang satunya itu tak ia kembangkan. Pasalnya ia sudah cukup lelah merancang pola baju, sebagai desainer.


Andini nampak cantik dengan baju yang tadi dicobanya, apalagi kini diwajahnya sudah dilengkapi dengan make'up sedikit lebih tebal dan lipstik warna merah menyala.


Kerudung panjang dari kain terawang menjuntai kebelakang, ditambah hiasan mahkota di kepalanya menampah keanggunan yang dimiliki seorang Andini."


Andini melihat bayangannya sendiri di pantulan cermin, melihat dirinya yang kini tengah berbeda. Jangankan memakai lipstik dihari harinya bedak pun tak pernah ia poleskan.


"Ayo Sayang, jangan sampai suamimu datang lebih dulu," ujar Mitha.


Mitha membawa Andini menuju mobil yang terparkir di halaman. Mencari cari keberadaan Doni supaya secepatnya berangkat ke gedung yang sudah di siapkan oleh Johan. Doni ternyata menunggu hingga tertidur di depan kemudi.


"Pak, ayo kita berangkat, jangan sampai keduluan dengan mempelai pria." Perintah Mitha pada Doni.


"Iya Nyonya, maaf, semalaman nggak tidur. Habisnya mencari Den Arsena."


"Emang kemana dia, Don?"


"Maaf Nyonya, nggak enak kalau saya bicara sekarang?" melirik kearah spion memandangi wajah Andini. Takut nanti Andini sedih sebelum pernikahannya berlangsung.


"Oh ya udah, kalau nggak mau cerita lagian sekarang semua sudah baik saja kan?"


"Iya Nyonya. Pak Johan juga sudah meminta kita untuk segera kesana, katanya Den Arsena juga sudah siap siap."


"Miko dimana dia? Masa dia nggak datang di acara pernikahan kakaknya?"


"Oh iya Den Miko tadi bawa motornya ke arah laut wajahnya muram." Jelas Doni.

__ADS_1


"Miko memang berubah semenjak mengetahui kenyataan pahit itu, aku kasihan sama putraku, semoga saja dia cepet dapat penggantinya." Desah Mitha lirih.


__ADS_2