Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 79. Kado buat Miko.


__ADS_3

Andini dan Arsena sudah siap-siap ingin keluar rumah lagi. Andini memakai baju santai dengan atasan model peplum top dan bawahan celana jeans tiga seperempat. Dipadu dengan highell setinggi dua belas cm. Membuat dia terlihat serasi, jika berjalan di sebelah Arsena.


Andini sudah banyak belajar dalam hal penampilan. Ia mulai tahu model baju yang disukai dan tak disukai oleh suaminya.


Arsena ternyata tipe pria yang menyukai wanita berdandan ketika di kamar dan sederhana ketika di luaran. Pasalnya ia tak ingin pria lain ikut menikmati kecantikan istrinya.


Sedangkan Arsena cukup memakai kaos polo putih beserta celana jeans selutut, Namun aura sultan yang sudah menempel pada dirinya sudah mampu memberi tahu pada dunia, kalau dia memang sudah tampan dari lahir.


"Ndin, kita berangkat sekarang?" Tanya Arsena melihat ke arah istrinya yang sudah wangi dan cantik. " Hanya kita berdua, karena Doni sudah di rumah ibu Ana, dia disana mendapat tugas tambahan dari papa."


Arsena kembali menggandeng Andini turun ke lantai satu, Arsena terlihat suka sekali memamerkan kemesraan didepan mama kandungnya itu, entah sejak kapan hubungan Arsena dan Rena menjadi tak begitu akrab. Bisa saja jarak itu tercipta, ketika Arsena mulai mengakui Andini memang pantas untuk dicintai.


Arsena berjanji dia akan menjadi perisai no satu bagi Andini. Akan selalu melindungi Andini tetap aman dari tangan-tangan orang yang gila cinta dan gila harta.


Menjadi wanita di sebelah pria nyaris sempurna seperti Arsena, memang bukan hal mudah. Banyak konsekuensinya yang mungkin akan hadir sebagai ujian cinta.


Arsena dan Andini segera menuju rumah kado, dia berharap disana akan menemukan hadiah yang cocok buat Dara dan Miko.


Andini turun setelah Arsena membukakan pintu untuknya.


"Nona, kado pernikahan di sebelah mana?" Tanya Arsena pada penjaga wanita.


Tuan, Anda bisa jalan lurus dan nanti belok kiri, anda akan menemukan aneka kado yang anda inginkan.


"Terima kasih." Kata Arsena sambil mengeratkan tangannya di bahu Andini.


"Kembali kasih." Pegawai itu tak henti mengagumi Arsena, matanya terus memandangi punggung lebar itu hingga lupa berkedip, pegawai itu sadar saat bayangan pria itu hilang ketika di belokan.


Beruntung sekali wanita yang ada disampingnya, kulitnya bisa langsung bersentuhan dengan tuan tampan itu. Andaikan aku wanita itu, aku akan kenyang dengan memandangnya saja.


"Ndin, kamu pilih hadiah yang kamu suka. Aku akan menunggumu disini."


Andini menoleh pada suaminya, lalu menganggukkan kepalanya. "Oke Ars." Arsena melepaskan genggaman tangannya.


Arsena memainkan ponselnya di kursi tunggu, Andini sibuk memilih banyak hadiah dan baju untuk Dara dan Miko. Entah sudah berapa banya hadiah yang sudah masuk di daftar pilih Andini.


Arsena dari kejauhan hanya menatap tingkah laku Andini yang sibuk. Arsena ingin tahu hadiah apa yang akan diberikan kepada pria yang paling dicemburui no satu di dunia itu.


"Ars." Andini menunjukkan sebuah kotak musik.


Arsena menggeleng." Jelek."

__ADS_1


Andini menaruh lagi kotak musik itu. Padahal menurut Andini bagus, kenapa Arsena tak suka.


Arsena tak mau Andini memberi hadiah seperti itu pada Miko, saat Miko memutarnya, pasti dia akan teringat masa masa saat berdua dengan Andini. Arsena tak mau hal itu terjadi. Sungguh pria yang aneh masih saja cemburu dengan pria yang jelas sudah lupa dengan masa lalunya.


Andini menunjukkan baju Hem warna biru dengan motif hitam. Arsena menggeleng lagi.


Andini kini dibuat bingung dengan semua pilihan yang di sukai Namun semuanya Arsena tak menyukainya.


Akhirnya Andini memilih hadiah untuk Dara saja, aneka baju tidur dan bermacam makeup. Dan ternyata benar Arsena suka dengan hadiah pilihan terakhir Andini.


Kini Andini bisa menyimpulkan kalau Arsena tak ingin dirinya memberi hadiah untuk Miko. Arsena mulai prosesif pada Andini.


Setelah mendapatkan hadiah yang dicari, Arsena dan Andini kembali masuk ke mobil dan ingin segera pulang. Andini masih harus bekerja keras membungkus kado sesuai keinginannya.


Tring! Suara dering ponsel Arsena. Saat mereka siap meluncur pulang.


"Tuan, apa yang harus kami lakukan pada tahanan wanita ini?"


"Lakukan apapun sesukamu."


"Yang benar Tuan, sesuka kami?" ujar Ken tak percaya.


"Iyah, aku pasrahkan hukuman yang pantas untukmu, kau bisa jatuhkan harga dirinya hingga dia akan berfikir 1000 kali jika ingin mengganggu keluargaku"


------


"Ars, apa yang kamu katakan?" Andini memutar kunci mobil, hingga otomatis mesin mobil itu mati kembali.


"Aku hanya ingin para pria itu membuat Lili jera, agar tak berani lagi menyentuhmu." Ucap Arsena emosi, sambil memukul kemudinya. Arsena masih menyimpan dendam dengan Lili dan Dev.


"Tapi Ars, hukuman itu sangat kejam. Aku tak setuju." Andini menatap tajam manik mata biru milik Arsena.


"Kejam? Itu tidak kejam, Itu akan seimbang dengan penderitaan yang sudah kamu alami, Ndin. Kamu lupa dia menyuntikkan racun tulang ke tubuhmu, dan waktu itu Devan sudah siap untuk menodai dirimu dengan sorot kamera di setiap sudut. Kamu lupa hah?"


"Ars, dia memang keji, tapi hal itu belum terjadi, Dev belum menodai ku, jika kau membiarkan para pria itu menodai Lili, artinya kau juga sangat kejam. Kau juga sama binatangnya dengan mereka." ucap Andini dengan tegas.


"Tapi Andini, dia sudah membuat wanita yang kucintai menderita, aku tak bisa membayangkan bagaimana kau ketakutan pada hari itu. Bagaimana kalau aku terlambat datang?" Arsena memeluk Andini penuh cinta, rupanya pria itu sudah benar-benar berubah. "Aku tak akan memaafkan diriku sendiri."


"Ars, beri hukuman yang lainnya, serahkan saja dia pada polisi, kamu tak berhak menghakimi dia seperti itu."


"Tidak Andini, hukuman polisi tidak akan membuat dia jera. Dia pasti akan keluar sel dengan mudah, dan aku tak akan membiarkan kau terancam." Khawatir Arsena sambil mengelus rambut Andini dan mengecup puncak kepala berulang kali

__ADS_1


 


Di penjara bawah tanah.


"Jangan sentuh aku, jauhkan tangan menjijikan itu, jangan sampai menyentuh kulitku." Lili sangat marah Ken berani menyentuh dagunya dan mendongakkan wajah hingga tatapan mereka bertemu.


"Nona, kau ternyata sangat cantik, tapi sayang mulutmu begitu berbisa."


Ken mulai membuka bajunya sendiri yang telah berlumur peluh, karena selama di perjalanan menuju bawah tanah, Lili selalu meronta dan kabur laburan. Ken sangat senang bermain petak umpet dengan Lili


"Kau tau bahkan tuanku telah mengizinkan aku menikmati tubuh mulus ini." Ken meyentuh bibir Lili yang terlihat bergetar dan mengelus pipi dan lehernya dengan jari telunjuk.


"Lepaskan aku, aku tak Sudi di sentuh pria kumuh, jelek sepertimu."


"Hp ho ho ... Apa kamu pikir ada pilihan untukmu, Nona."


"Gondrong ikat dia di ranjang, bukankah wanita ini sering sekali memakiku. Kira kira balasan apa yang tepat untuk makiannya?"


"Lepas dasar kalian semua gila, berani sentuh aku sedikit saja, sudah ku pastikan kau akan mati di tangan kakakku." Teriak Lili yang kaki dan tangannya sudah terikat dengan setiap sudut ranjang. Membuat ia hanya bisa menggeleng ke kanan dan ke kiri.


"Hei, diam Nona. Atau kau hanya akan kelelahan, simpan saja tenagamu untuk melayani kami." Seloroh gondrong tidak sopan.


"Sudahlah Nona Lila, kau pasti membutuhkan kehangatan, karena Tuan Muda menolakmu kan? Ha ha ha." Seringai licik keluar dari bibir Ken. Pria tinggi besar hitam itu sudah tak sabar ingin menuntaskan hasratnya pada wanita cantik didepannya.


"Siapa suruh kau menyakiti wanita baik seperti Nona Andini."


"Lepaskan aku, aku melakukan semua karena ada alasannya, aku hamil dan pria itu harus tanggung jawab. Apa kau tak kasihan pada wanita hamil sepertiku. Bujuk Lili.


"Hah, hamil?" Gondrong terjengkit kaget. Sepertinya ia sudah percaya dengan kata kata Lili.


"Dia pasti bohong, dia itu ular, jangan terpengaruh dengan kata-katanya." Ken tak mau kepalang tanggung. Dia sudah membayangkan bagaimana manisnya bercinta dengan wanita kelas atas seperti Lili.


Sedangkan di dalam mobil, Andini masih sibuk merayu Arsena agar merubah kata katanya tadi.


"aku akan membatalkan Ken, melakukan hal keji itu. Tapi ini terakhir kalinya kau memberi keringanan hukuman untuk Lili."


"Ars, suamiku tak mungkin setega itu, dia pasti pria yang bijaksana."


Andini memberanikan diri mengecup bibir Arsena lebih dulu. Arsena bahagia. Andini berani menunjukkan cintanya secara terang terangan. Andini menggosok bekas kecupannya dengan ibu jarinya.


"Kemana lagi kita?" Tanya Arsena setengah bercanda.

__ADS_1


"Apa kita ke hotel saja ya? Selesaikan yang sudah tanggung ini." Arsena mengerlingkan mata kirinya.


"Arsss ...." Andini mencubit pinggang Arsena dengan cubitan kecil, membuat Arsena memekik kesakitan, karena cubitan kecil dipercaya sakitnya lebih terasa. "Mesum."


__ADS_2