
Malam semakin larut, Selasar yang tadinya penuh dengan orang orang kini mendadak sepi. Udara dingin mulai berubah menjadi duri duri yang menusuk kulit.
Peran utama dalam drama tadi malam masih menangis sesenggukan di sebuah kursi di dekat podium.
"Sudahlah, aku janji akan menjelaskannya besok."
"Aku mau sekarang."
"Sudah larut malam, aku nggak mau calon istriku sakit."
" Biarkan sakit, lagian kakak juga tak akan peduli, bukankah sakit hati yang kurasakan ini karena ..."
" Cup." Davit melanggar aturan yang dibuat sendiri, tadinya dia tak ingin menyentuh bibir merah itu lagi sebelum janur kuning melengkung. Karena Arini bandel akhirnya Davit mengecup bibir Arini juga.
" Singkirkan bibirmu, aku jijik bersentuhan dengan bibir pembohong," umpat Arini. Mendorong wajah Davit menjauh. Diapun pergi ke kamar meninggalkan Davit seorang diri.
Davit terus saja mengamati punggung wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. "Benar-benar dia akan menjadi istri yang sangat manja, Tuan Arsena nggak pernah bohong."
Davit akhirnya memutuskan untuk pulang, ia bangunkan nenek yang ketiduran di mess.
Davit mencium pipi neneknya. Satu kecupan di bibir Davit yang dingin sudah berhasil membuat netra sang nenek mengerjai pelan.
"Nenek."
"Vit."
"Iya Nek, mau tidur di sini saja atau kembali ke hotel."
" Gimana Arini, apa dia mau jadi istrimu, Nenek sudah terlanjur suka sama dia?" Nenek terlihat sedih air mata mulai menetes di pipinya, ketika melihat wajah david yang kusut.
" Arini ...." Davit menjauh dari sisi nenek, melepas tuxedo yang dipakai. Menatap wajah neneknya sesaat yang mulai bangun dari tidurnya, nenek menggeser tubuhnya hingga kini bersandar di sisi ranjang
"Dia masih marah sama Davit, Nek. Dia mengira David benar-benar selingkuh dengan Zara padahal kejadian itu sudah lama sekali dan David sudah benar-benar ikhlas melepas Zara untuk Mert.
Memang David bersalah, karena dari dulu tak pernah menceritakan masa lalu itu. Yang aku pikir Arini tak akan pernah membahas soal masa lalu David. Tapi kejadian ini tadi membuat semuanya berbeda. Arini harus tahu dihari bahagianya. Disaat Davit juga bahagia melihat senyum indahnya"
" Telepon dia sekarang nenek ingin bicara."
" Sudah malam Nek."
" Nggak apa-apa Arini pasti belum tidur," desak nenek lagi.
Davit ragu jika harus menuruti keinginan nenek. Tapi karena wanita tua itu memaksa pria itu akhirnya menuruti keinginan Sang Nenek.
Tut Tut Tut
Tut Tut Tut
"Ponsel Arini mati nek." Davit menyodorkan ponselnya ke arah Nenek.
" Sini nenek sendiri yang telepon, kamu memang kalau disuruh pasti banyak alasan."
Nenek mencoba memencet tombol hijau hingga bunyi tattittut terdengar berulang kali.
" Vit yang terdengar cuma orang kentut saja sejak tadi. Emang perutnya Arini mules ya?"
"Nek, bukan perut Arini yang mules itu tandanya nggak nyambung. Ponselnya Arini sedang dimatiin."
__ADS_1
"Ya udah Vit, kita kembali ke hotel aja ya, siapa tahu besok telepon Arini cepat nyambung kalau di telepon dari rumah yang sama bagusnya." ujar nenek sambil berdiri ke arah jendela mengintip mansion, berharap Arini akan keluar.
"Terserah nenek," ujar Davit yang sementara harus mendamaikan hati neneknya. Yang tak kalah seperti anak kecil.
___
Tengah Malam akhirnya Davit pindah ke hotel. Dia berharap kondisi neneknya tak akan terpengaruh oleh kejadian yang baru saja dialami.
Hanya berdua saja membuat kamar juga menjadi tak bernyawa. Nenek murung seharian tak mau makan sebelum mendengar suara Arini.
Nenek membuat Davit makin double bingung saja, Citi sehari hanya ia gunakan untuk mendamaikan hati nenek saja. Begitu cepatnya wanita tua itu jatuh cinta pada gadis pujaan Davit.
"Nek, Davit sudah pesankan makanan enak hari ini, kesukaan nenek, lele bumbu rujak, nggak terlalu pedas. Nenek pasti suka."
"Vit, nenek mendadak nggak suka makanan apapun kecuali Arini mau kesini lagi. Nenek nanti malam juga mau tidur didekat dia seperti kemaren." Pinta nenek dengan diktator.
"Nek, Arini kan belum jadi istri Davit, nenek nggak bisa nyuruh dia tidur disini terus, nggak tau sih betapa tersiksanya Davit kalau didekat dia, biar begini cucu nenek ini normal." Bujuk Davit sambil membuka pepes ikan lele bumbu rujak yang ada di atas meja. Davit lapar, tapi nenek belum juga mau makan.
"Bener nenek nggak mau makan? Pepesnya sedap banget, nasinya anget lagi."
"Bener nenek nggak mau makan, biar makin kurus." Ancam nenek.
"Ya Tuhan Nek, jangan buat Davit kepikiran kenapa sih?"
"Makanya jemput dia."
"Iya, nanti aku jemput, aku juga butuh energi untuk mengemudi, tapi syaratnya nenek harus makan."
Nenek kini malah melengos, Davit hanya melirik sambil menyuapkan beberapa bulir nasi ke mulutnya. Rasanya tak seenak yang ada dalam bayangannya, tapi bagaimana lagi, dia harus tetap terlihat tegar di depan neneknya.
Davit tak menghabiskan makanannya. Pepes ikan kesukaan neneknya ia tinggalkan begitu saja, Davit meraih kunci mobil yang ada di gantungan. Salah satu mobil Arsena itu sudah seperti miliknya, Arsena mengizinkan Davit memakainya kapanpun ia mau.
"Pagi Mas Davit, makin ganteng aja." Sapa Bi Um yang sedang mengelap jendela kaca.
" Pagi Bi. Arini pagi ini sudah berangkat ke kampus belum Bi?"
" Tapi Kan Mas Davit sedang diberi cuti sama tuan Arsena."
"Iya Bi, cuti kerja nggak apa apa, tapi aku nggak mau cuti antar calon istri."
"Ketiwasan Mas, non Arini baru saja berangkat."
"Sama siapa? Salsa?"
"Bukan, dijemput sama Mas Nathan."
'Sial Domba jantan itu lagi, rupanya dia ingin cari masalah denganku.'
Davit berusaha setenang mungkin menahan emosinya saat ini.
"Masuk dulu Mas Davit. Tuan Arsena dan yang lainnya masih ada di rumah, biar Bibi buatkan kopi."
"Boleh Bi." Davit mengangguk setuju, sekalian dia ingin lebih akrab dengan keluarga Arini.
Arsena menyambut Davit dengan senyumnya. sedangkan Amert langsung menggandengnya mengajak duduk. "Kita sarapan bareng yuk! Bro"
" Davit duduklah aku ambilkan sarapan." Andini segera bangkit dari duduknya, Arsena hanya melirik istrinya yang begitu semangat melayani Davit.
__ADS_1
Davit sesungguhnya curiga ada seseorang yang terlibat dalam kekacauan acara tunangan malam itu, tapi siapa orangnya dia masih perlu menyelidiki.
"Davit makanlah, istriku sudah melayaniku dengan baik, daripada kepadaku." Arsena mulai cemburu.
"Apa yang kamu katakan hubby, Davit calon anggota baru disini, kita harus menyambutnya dengan penuh cinta."
"Duduklah, kau hanya boleh melayaniku. Bukan melayani Dia." Arsena menarik Andini. Hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
Astaga, Tuan Arsena. Kau keterlaluan. Anda sedang bermanja disaat kami sarapan.
"Diamlah kau ! Lebih baik periksakan kandunganmu, biar kau tak sakit lagi seperti tadi malam."
"Oh iya apa kata dokter Mert?" Oma bertanya.
Perkiraan semakin dekat Oma, kalau nggak hari ini ya besok. Anakku sudah sangat melelahkan ibunya. Dia sangat lincah di dalam perut Zara.
"Ya jaga istrimu, tak usah kau ke kantor dulu."
"Iya Oma."
"Miko Istrimu kapan melahirkan?"
"Perkiraan seminggu lagi Oma." ujar Miko sambil menghentikan makannya lalu minum segelas air yang tersaji di depannya.
"Akhirnya rumah ini akan ramai dengan banyak bayi, Oma senang sekali kalian sebentar lagi akan menjadi ayah buat anak kalian masing masing."
"Iya Oma." Amert dan Miko mengangguk serempak.
Davit mulai makan, sambil diam diam melirik pada orang yang ada di depannya satu per satu. Tak ada yang ia curigai untuk saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Arsena ke kantor dan mampir ke kampus Arini sebentar.
Davit yakin Arini pasti belum makan apapun, dia berniat mengajaknya sarapan pagi ini.
Davit memarkir mobilnya di depan sebuah restoran di dekat kampus. Dia menghubungi nomor Salsa untuk memberitahukan pada Arini kalau dia sedang menunggu di depan.
Salsa mengatakan kalau Arini belum sampai di kampus. David akhirnya memutuskan untuk menunggu saja.
Setelah memilih salah satu tempat duduk di restoran itu, David memandang ke arah luar resto. Berharap dia melihat Arini calon istrinya.
Rupanya David kurang jeli, sejak tadi mobil Nathan sudah bertengger di parkiran itu.
David kembali berdiri dia ingin menghampiri mobil Nathan yang masih tertutup rapat.
Baru beberapa langkah Davit mengurungkan niatnya. Dia melihat pintu mobil Nathan terbuka, pria itu keluar dan segera berlari membuka pintu yang satunya. Rupanya Nathan sedang berusaha membukakan pintu untuk Arini.
Davit melihat wanitanya begitu kusut, senyum pagi yang selalu menyambutnya bagaikan mawar merah yang sedang mekar itu tak terlihat lagi.
Tadinya Davit ingin menghampiri Arini dan memeluknya, tapi begitu melihat Nathan dan Arini masuk ke resto juga. Apalagi posisi lengan Nathan merengkuh pinggang Arini membuat Davit ingin terus memata-matainya.
" Arini duduklah, menangis juga butuh energi. Kamu harus tetap sarapan" ujar Nathan sambil menarik satu kursi untuk Arini.
"Makasi, Nat." Arini duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Nathan. Nathan duduk di depannya.
" Arini sudah kubilang sejak awal, Davit itu playboy, dia memanfaatkan kamu."
" Tapi Nathan, gue sayang sama dia, Gue berharap kak Davit akan memberi penjelasan tentang foto foto itu. Kenapa Kak Davit rela menghancurkan acaranya sendiri jika dia benar benar sayang Arini." Arini berkata sambil terisak.
Nathan berlagak sok pahlawan, dia memberikan sapu tangan yang ia ambil dari sakunya kepada Arini.
__ADS_1
" Kamu harusnya bisa berpikir secara logika Rin, kalau David cinta sama kamu, pasti udah dia buang jauh-jauh foto-foto itu. Dan siapa lagi yang tahu tentang foto itu selain Dia sendiri dan Zara." ujar Nathan sambil berusaha menggapai jemari Andini.