
Arsena menurunkan celananya dan meminta Andini untuk memainkan miliknya, setelah tak tahan lagi dia mulai mengatur jok mobilnya hingga mirip ranjang, Arsena segera membaringkan tubuh Andini dan mulai mengungkungnya. Bisa dibilang ini bukan permainan mereka yang pertama kali di mobil, Arsena yang sering dipanggil tuan mesum oleh Andini itu, dia sering kali meminta haknya di mobil, di kantor, di hotel, kamar mandi, menurut Arsena bermain di tepat yang berbeda menambah gairahnya semakin meletup dan semata hanya ingin membuat Andini senang dan tak bosan dengan sensasi yang diberikan.
"Makasi sayang."ujarnya dengan nafas terengah-engah.
"Ars, bisa nggak jangan di sembarang tempat seperti ini, malu tau nggak kalau sampai ada orang tahu." Cerocos Andini sambil membenahi kemeja setelah membersihkan sisa sisa cintanya dengan tisu basah. Kadang Andini berfikir Mimpi apa bisa bertemu dengan pria mesum seperti suaminya. Semoga saja dua putranya tak meniru kelakuan Daddynya kelak kalau sudah tumbuh dewasa.
"Habis kamu yang mulai sih, Yang. Siapa suruh bikin aku nafsu dengan menggigit telingaku. Sudah tahu aku nggak bisa menolak sedikitpun jika kamu menggoda."
"Itu bukan menggoda dodol, tapi aku marah, maraaaah!!" Kali ini Andini bukan hanya ingin menggigit bibirnya saja tapi juga ingin menggigit bibirnya sekuatnya hingga suami mesumnya bisa berhenti bicara.
" Sama saja, semarah apapun kalau kamu pelakunya aku anggap kau sedang menggoda." jawab Arsena yang membiarkan dada bidangnya tetap terekpose keringatnya bertebaran dimana mana.
Andini menempelkan kepalanya kembali di jok yang sudah diubah menjadi kursi normal lagi. Sepertinya dia akan dehidrasi jika terus berdebat.
Andini membutuhkan air untuk asupan mineral yang terkuras ditubuhnya. Arsena yang peka dia mengambilkan air mineral di atas dasboard sekalian di bukakan tutup botolnya.
"Minum dulu, keringat sampe belepotan begitu." Usai menyerahkan botol mineral, Arsena membantu membersihkan keringat di kening istrinya.
Andini minum air yang diberikan Arsena, setelah itu Arsena juga minum dengan sedotan yang sama. Mereka berdua kini duduk sama-sama tenang sambil mengatur nafasnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Tiiin! tiiiiiiiin! Bunyi klakson terdengar panjang, sepertinya pemilik mobil sengaja memencet lebih lama untuk mengganggu Andini dan Arsena.
" Siapa sih," Arsena dan anehnya sama-sama menoleh ke belakang sampai kepala mereka hampir berbenturan.
"Vanya!" Pekik Andini.
"Iya Vanya, tau aja dia, mobil gue lagi parkir disini," eluh Arsena.
Vanya rupanya turun dari mobil dan mendekati Andini yang ia yakini pasti ada di dalam mobil.
"Woiii pake mode gelap-gelapan, habis ngapain aja Lu?" Vanya dengan suara soprannya membuat Andini menutup telinga. "Buka dong."
"Ada apa sih, ganggu aja." Arsena pura-pura terganggu. dia membuka kaca mobilnya.
"Kebetulan ketemu lo di sini, gue mau numpang bisa nggak sampai rumah sakit kasihan Rara kalau gue ajak jalan, tinggal Deket doang masa nggak boleh? Ban mobil gue kempes."
"Iya, masuk aja Van, Arsena sudah buka kunci belakangnya kok." ujar Andini yang terlihat grogi, takut aksinya baru saja dilihat oleh Vanya.
Andini bernafas dengan pelan pelan takut Vanya curiga, kalau sampai terjadi, bisa habis dia akan di bulying setiap saat.
Pengasuhnya Rara ikut masuk setelah Vanya lebih dulu. Setelah menempati kursi masing masing Arsena tak langsung menyalakan mesin mobilnya, ada yang ingin disampaikan sedikit pada Vanya.
"Emm Van, gue pengen ajak Andini jalan jalan, tolong Lo handle semua pekerjaan istri gua dulu ya, aku ada keperluan sedikit sama dia." ujar Arsena
"Iya nggak papa, kalau boleh tau mau kemana sih?"
"Ada, mau tau aja sih elo."
"Oke oke, apa sih yang nggak kalau buat istri big boss kayak Andini. Secara dia juga pemilik RS itu."
"Emang mau kemana lagi sih Ars?" Andini yang tak tahu rencana Arsena, dia juga bertanya, bingung.
"Nanti tau sendiri, Sayang."
"Iya Ndin nurut aja sama suami."
Arsena mulai menyalakan mesin mobilnya, walau terbiasa menggunakan jasa sopir, Namun Arsena juga tak lupa caranya mengemudi.
"Em, Van gue lihat Lo pantes banget punya debay."
" Apa? Ngeledek gue ya."
" Nggak juga sih, tapi dah pantes aja."
__ADS_1
"Ndin suami kamu itu, emang gitu ya, ngehina aja bisanya."
Andini hanya tersenyum, sambil mencubit bibir Arsena. Dan hanya dibalas oleh senyuman suaminya. " Lo sabar aja Van kalau dekat dia, soalnya kalau nggak sabar-sabar gue nie pasti udah kabur sejak lama.
"Oh, jadi punya rencana kabur."
"Arsena mengangguk anggukkan kepalanya. Sambil melipat bibirnya kedalam."
Vanya dibelakang ikut bicara. "Gue nggak tau apa apa ya. Em sepertinya gue turun disini aja." Vanya minta turun di depan gerbang.
"Okey," Arsena menghentikan mobilnya di depan gapura Rumah Sakit.
"Em, bener nie nggak mau diantar sampe dalam, lumayan jauh Lo masuknya sampai parkiran. Bawa Rara juga."
"Nggak perlu Andini, makasi ya sudah di kasih tumpangan. Ars makasi ya." Vanya berterimakasih sambil membungkukkan badannya, mengintip dekat pintu depan, dimana Andini duduk.
"Andini melambaikan badannya. Hati hati Vanya."
" Hati hati juga Ndin, Met bersenang senang ya kalian berdua. Anak sudah sama mertua kan bisa honeymoon terus, ya nggak Ars."
"Siip, Arsena memamerkan jari jempolnya."
Andini dan Arsena segera meluncur di sebuah tempat, selama dalam perjalanan, Arsena mulai tak banyak bicara, hanya sesekali saja ketika Andini bertanya.
"Ars, kemana sih, kok main rahasia segala. Kamu nggak ke kantor."
" Nanti akan tahu, sabar ya."
"Okey."
Satu jam kemudian Andini sudah sampai di sebuah RS terbesar di Surabaya khusus untuk wanita yang terkena gangguan mental.
Andini mengerti kalau Arsena ingin mengunjungi Lili, itu karena pasti telepon tadi pagi, hingga membuat dia tak masuk ke kantor lagi.
Arsena membukakan pintu untuk Andini, begitu Andini turun Arsena segera menggandengnya.
Seorang suster muda berseragam pada umumnya seorang suster datang mendekat. "Tuan, Nona Lili mencari anda terus menerus, walaupun daya ingatnya sudah lumayan membaik, tapi sakit yang satunya semakin memburuk. Sepertinya anda satu satunya orang yang dia inginkan ada disisinya.
"Sayang, bisa tunggu diluar sebentar? Jika kondisinya lebih baik, aku akan lihat kondisinya dulu."
"Tapi Ars, kenapa aku nggak boleh ikut masuk?" Andini terlihat kecewa. Sudah jauh jauh ikut datang malah cuma disuruh menunggu di luar.
"Baiklah!" Tak ada pilihan lain untuk Andini selain setuju.
Arsena masuk menemui Lili, Andini mencoba mengikuti Arsena dari kejauhan, dia ingat-ingat nomor kamar yang Arsena buat masuk tadi, kamar bugenvil nomor lima.
Rasa cemburu kembali terbersit di lubuk hati Andini paling dalam. Apakah berdua seperti ini dengan Lili sudah setiap hari dia lakukan, perawat tadi bilang Lili sudah lebih baik, apa Arsena ikut Andil dalam merawat lili selama ini.
Andini mengintip dari kaca, yang kebetulan ada di sisi dekat pintu. Andini melihat suaminya dengan telaten menyuapi Lili. Tanpa terasa airmata menetes dari sudut netra Andini.
Cemburu? Pasti. Wanita mana yang tak cemburu kalau suaminya memperhatikan wanita lain yang notabene mantan pacarnya.
Arsena biasnya tak akan turun tangan sendiri dalam hal apapun, kecuali jika berurusan dengan dirinya. Tapi kali ini Andini melihat Lili begitu spesial di mata Arsena dia mengurus Lili sendiri bahkan menyuapi dengan tangannya sendiri.
Bibirnya sesekali tersenyum dan Lili juga membalas senyumnya. Lelucon macam apa ini, hati Andini Semakin perih melihatnya. Apa yang dibicarakan di dalam sana. Membuat Andini memaksa otaknya untuk menerka, namun Andini tak mau berprasangka buruk.
Dua pasang bola mata yang ada di dalam, secara bersamaan menoleh ke arah kaca, dimana Andini sedang menyaksikan kebersamaan mereka berdua.
Andini segera membalikkan tubuhnya, hingga punggung dan kerudung Andini saja yang terlihat.
Arsena tahu, istrinya sedang cemburu, Tapi menurut Arsena ini bukan saatnya untuk cemburu. Lili sedang sakit dan dia butuh orang-orang yang dekat dengannya untuk menguatkan hatinya. Dev belum ditemukan keberadaannya entah pria itu masih hidup atau sudah mati, tapi yang jelas dia mengalami kecelakaan tinggal menabrak jembatan dan hanyut di sungai saat Gondrong dan Botak mengejarnya.
Arsena merasa tergerak hatinya saat tau lili mengidap penyakit yang berbahaya dan mematikan, Arsena dengan telaten mengunjungi dan memberi sedikit perhatian. berharap, jika dia sembuh nanti akan berhenti mengganggu ketenangan rumah tangganya bersama Andini.
__ADS_1
Andini pergi dari jendela pengintai, dia akan menunggu di mobil saja.
"Sayang, kemana?"
"Em ... Selesaikan urusan kamu dulu dengan Lily biar aku tunggu di mobil saja."
"Em kok menangis? Kenapa?"
'Kenapa? Melihat kamu berduaan saja dengan wanita itu di dalam kamar, Kamu pikir aku nggak sakit hati, aku nggak sekuat itu untuk melihat kamu bermesraan dengan pacar pertama kamu.'
" Em, nggak apa apa kok, aku sedang ingin cari udara segar di parkiran," Andini mengibaskan tangannya pura pura kepanasan.
"Sayang aku boleh tahu nggak?" Yang panas itu sebenarnya nya tubuh kamu atau hati kamu sih?"
" Pikir aja sendiri, sudah gede, bukan balita lagi." Kata Andini singkat lalu pergi."
"Eh tunggu, Sayang." Arsena mwngejarnya.
"Apalagi sih? urus sana mantan pacar kamu." Andini kembali berderai air mata.
"Ndin, Ndin, Sayang. Tunggu! aku bisa jelasin. Biar nggak ada salah paham."
"Salah paham? Salah paham dimana ya? Aku yang salah maksudnya? Kamu biasa suruh orang ini itu, selesaikan pekerjaan ini itu, tapi kenapa harus menjaga Lili sendiri? Ada perawat hebat, ada dokter hebat yang mampu dibayar untuk jaga dia, kenapa harus kamu sendiri? Masih cinta? Jawab Ars?"
Andini terlihat berapi api, nafsunya untuk memiliki kasih sayang pria itu seorang diri telah menutup mata hati Andini.
Arsena menarik Andini kedalam dekapannya. Dia tak bisa membiarkan wanitanya teluka, mau tidak mau Arsena harus membawa Andini ke depan Lili,
Semoga saja Lili tak histeris saat tau ada Andini mengunjunginya. Dia belum benar benar sembuh dari gangguan kejiwaan, Dia ingat dengan beberapa orang yang special dihatinya saja. Terkadang dia menangis dan tertawa sendiri, terkadang dia terlihat normal dan biasa saja. Tetapi penyakit satunya lagi sedang berusaha mematahkan harapannya untuk sembuh.
"Ayo, kita sama sama masuk, biar tau apa yang terjadi sebenarnya." Arsena menggenggam kuat lengan Andini memasuki kamar Lili.
"Nggak perlu, aku tunggu di luar saja."
"Nggak, kamu harus ikut masuk, sudah saatnya kamu tahu semuanya, memang aku yang salah sudah tak jujur tentang kunjunganku pada Lili, tapi perbuatanku itu, semata untuk membuat kamu tak berfikir macam macam. Aku-cuma-sayang-sama-Andini. Ngerti?"
Mendengar ucapan Arsena hati Andini kembali luluh. Dia ikut masuk menjenguk Lili, wanita yang bukan hanya satu dua kali ingin melenyapkan nyawanya. Justru kini tubuhnya sendiri yang tergolek lemah di atas brankar.
Arsena terkejut tubuh Lili begitu kurus, kecantikan yang dulu pernah dia banggakan tak nampak lagi, Andini yang ada disamping Arsena segera merangkul lengan suaminya. Menatap suaminya seakan minta sebuah penjelasan.
Lili rupanya mengantuk setelah minum obat, dia tertidur saat Andini datang, ada baiknya dia tak perlu histeris melihat Andini ada di dekatnya.
"Ars, sakit apa dia? Kenapa tubuhnya berubah drastis seperti ini? Apa yang membuatnya berubah demikian?"
"Lili terkena penyakit mematikan HIV Aids, dia diduga tertular dari pria yang pernah tidur dengannya. Kemungkinan Lili sudah sering berhubungan dengan Jack, karena sesuai hasil otopsi pria itu juga mengidap HIV Aids.
Andini menutup bibirnya yang spontan membentuk huruf O besar. Tak percaya lili pernah tidur dengan Jack. Pria yang siap meluncurkan peluru inyuk dirinya saat di pulau Weh. Untung waktu itu ada Davit yang mengetahui semuanya.
"Selain HIV, kejiwaannya juga memprihatinkan, dia hanya ingat diriku, kadang juga lupa, tapi dokter menyarankan aku yang dia ingat, dia akan sedikit lebih baik." Terang Arsena lagi.
Sepertinya Ken harus mendapat pemeriksaan juga, aku khawatir Lili sudah mengidap lebih dulu sebelum dia berhubungan dengan Jack. Bagaimana kalau Lili yang menularkan penyakit itu pada Jack?" Andini berargumen sendiri.
" Kamu benar juga sayang, bagaimana kalau Lili ternyata yang mengidap lebih dulu." Arsena memasukkan lengannya di dalam saku. Andini berulang kali menarik nafas dan menghembuskannya pelan, Iba dengan kondisi miris Lili.
" Sayang, sudah tau sekarang apa alasannya?" Tanya Arsena pada Andini.
Andini mengangguk. "Aku mengerti, tetapi demi konsentrasi suamiku dengan perusahaan, biarkan aku yang menjaga dia disini."
"Tidak Sayang. benar yang kau ucapkan tadi, biarlah perawat yang berpengalaman yang akan menjaganya. Setiap aku mengunjungi Lili, aku akan mengajak dirimu juga. Aku tak berfikir sama sekali kalau istriku akan cemburu melihat kami berdua seperti ini."
Arsena mengecup puncak kepala istrinya. mereka berdua sama sama menatap ke arah Lili yang dulu begitu cantik jelita.
"Maafkan aku yang selalu pencemburu ini. bodoh sekali aku, bisa bisanya cemburu dengan wanita yang sudah pesakitan.
__ADS_1
"Bukankah cemburu tanda dari sayang? aku justru suka jika istriku masih punya cemburu, setidaknya aku mengerti kalau dia juga punya rasa cinta pada diriku ini."
Arsena mengamati Arloji mahal yang melingkar di lengannya. Sudah menunjukkan angka sembilan, sepertinya dia harus kembali ke perusahaan untuk bekerja.