Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 247. Jangan sampai lepas kendali.


__ADS_3

'Rin tolongin gue.' bunyi sebuah pesan WhatsApp dari Salsa.


'Tolongin Elo? Malas gue. Ganggu aja.'


'Please Rin.'


Setelah tak mendapat balasan dari Arini, Salsa segera meneleponnya.


" Rin Elo harus tolongin gue, gue sedang datang masalah besar." Suara salsa terdengar mengiba. Arini yang tadinya malas banget meladeni, hati kecilnya kini tergugah.


" Masalah apa Sal, bukannya tadi kamu pergi sama Nathan."Arini bertanya dengan serius. Dengan cepat dia melupakan permusuhan yang dimulai tadi pagi.


"Gue ternoda Rin, Nathan menodai gue, dia juga meninggalkan gue di jalan yang sepi." Setelah Salsa menceritakan kronologi yang sebenarnya Davit dan Arini segera mencari keberadaan Salsa.


"Apa? Yang bener bukannya elo suka sama Nathan? Pasti kamu yang sengaja menggoda Nathan untuk melakukannya."


'Walau sayang Nathan, Lagian gue nggak semurah itu Rin,' terdengar Isak tangis dari seberang.


"Kak, kita cari Salsa, Nathan telah menodai salsa," adu Arini pada Davit.


Usai mendapat izin dari perusahaan Davit segera keluar kantor bersama Arini. Kali ini Davit keluar hanya berdua saja tanpa ditemani oleh sopir kantor.


"Sayang, tau sendiri gimana dia jahat pada Salsa, bagaimana jika Nathan melakukannya pada kamu," ujar Davit saat sedang berada di perjalanan. merasa bersyukur Nathan tak bertindak jahat pada kekasihnya.


"Kak, tolong maafin Arini, Arini nggak sanggup berpisah dari Kakak." Arini merangkul lengan Davit dan menyandarkan kepalanya di pundak.


Davit mengusap rambutnya. Pria itu makin tak sabar ingin segera menghalalkan gadisnya. Davit kini menemukan jawaban dari bimbang yang sempat bergelayut di hatinya. Arini tetap kembali padanya cintanya ternyata bukan cinta main-main saja.


Davit dan Arini sudah menemukan Salsa, sahabatnya itu. Dia segera mengantarnya pulang ke kos. Davit dan Arini juga berjanji akan menyerahkan Nathan pada Salsa, dia berhak menghukum Nathan, antara menikahinya atau menjebloskan ke sel tahanan.


Usai mengantarkan Salsa, tak terasa hari telah sore. Davit harus mengantarkan terlebih dahulu, Arini dan Davit senang sekali dengan kebersamaan hari ini. Semakin hari kecocokan diantara berdua semakin terasa.


"Yang." Panggil Davit ketika dalam keheningan. Mobil mengarah pulang ke rumah Arini. "Tadi bilang minta nikah cepet," imbuh Davit.


"Hu'um." ujar Arini.


"Minggu depan kita akan resmi suami istri. dan papa sudah bilang setuju."


" Serius, Kak." Arini terlonjak kaget. Matanya berbinar mendengar ucapan kekasih.


" Kapan Kakak berbohong?"


" Nggak pernah sih." Arini tersenyum malu malu. Davit mencubit pipinya. Rona merah seketika langsung terpancar diwajahnya.


Arini kembali terdiam, banyak sekali kata sayang yang ingin diucapkan kepada Davit. Tapi nyatanya tak satupun yang keluar dari bibirnya.


"Sayang, Mau aku nyanyiin lagu, ini pas banget sepertinya buat kita saat ini."


"Mau Kak, tapi jangan fals ya," Arini menatap Davit dengan manja.


"Dengerin ya." Davit mulai mengemudi dengan santai, dia mengambil jalur paling kiri.

__ADS_1


" Oke kak, buruan ya, Arini makin mempererat pelukannya." Wajahnya mendongak, menatap alis tebal dan mata indah sang kekasih.


" Sabar Say, ini lagunya Almarhum Ustad Uje yang judulnya Bidadari Surga."


" Emang Arini bidadari surganya Kak Davit ya."


" Masih calon sih." Davit tersenyum menoleh sekilas mengecup puncak kepala Arini. " Suka nggak?"


" Suka Kak."


" Dengar ya, maklumin kalau ada fals fals dikit, tapi aku suka banget dengan lagu ini."


" Setiap manusia punya rasa cinta


Yang mesti dijaga kesuciannya.


Namun ada kala insan tak berdaya


Saat dusta mampir bertahta.


Kuinginkan dia yang punya setia


Dan mampu menjaga kemurniannya.


Saat ku tak ada ku jauh darinya


Amanah pun jadi penjaganya.


Dari kejahatan shahwatku.


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku.


Tiada yang memahami s'gala kekuranganku


Kecuali kamu, didadariku


Maafkan aku dengan kebodohanmu


Yang tak mampu membimbingmu."


Senyum tiada henti dari bibir Arini, merasakan Davit makin hari makin romantis saja.


" Udah segitu aja ya."


" Lagi Kak, Arini suka suara Kakak." Arini merengek manja.


Hum, Kakak malu Arin. Besok kalau kakak jadi seorang suami, Kakak akan sering sering bernyanyi buat Arin, sampai bosen dengernya.

__ADS_1


" Janji ya."


" Akan diusahakan."


Melewati malam jauh dari pria pujaannya, dia begitu sukar tidur. Kini ketika sudah berada di dekat sang kekasih rasa tenang dan nyaman datang menentramkan.


Tak terasa dinginnya AC dan tentramnya raga, membuat Arini lebih cepat tertidur, tangannya tak pernah lepasl memeluk lengan sang kekasih, hingga sampai tiba di mansion.


Mang Karman membukakan pintu mengetahui yang datang sosok Davit. "Mang maaf ya, jadi ngerepotin buka pintu segala."


" Ah kamu nggak perlu sungkan Vit. Bentar lagi kamu juga akan jadi majikan juga, yang harus saya layani dengan baik."


" Makasi ya," ujar Davit sambil berusaha memeluk tubuh Arini yang masih pulas.


" Nona dua hari nggak tidur, katanya kamu nggak bisa di hubungi. Kasian wanita secantik dia udah cinta mati begitu, halalin buruan. Kuat banget sih nahan shahwat," ujar Mang Karman yang bantu memegangi pintu mobil. Takut kepala Arini akan kebentuk


Davit mengangguk. " Secepatnya Mang, sebenarnya Davit juga pengen buru-buru kawin, tapi kemaren kan masih cari modal.


Iya, Vit. Walaupun nikah sama orang kaya, kamu pihak laki laki jangan sampai nggak modal," timpal Mang Karman lagi sambil menutup pintu.


Davit dengan tubuh kekarnya nampak santai menggendong Arini masuk ke dalam mansion. Di ruang tamu terlihat Rena sedang bermain seru seruan dengan Excel dan Cello.


"Arini tidur lagi Vit? Makin manja aja dia sama kamu." celetuk Mama saat Davit melewati calon mertuanya.


" Nggak masalah Nyonya, manja sama calon suami sendiri." jawab Davit.


" Kamu yakin dia nggak sedang pura pura tidur."


"Pura pura juga nggak apa apa, Davit ikhlas gendongnya Nyonya," jawab Davit lagi. Ketahuan sedang bohong wajah Davit tiba tiba berubah seperti menahan senyum.


"Ini Mas Davit, kamarnya Nona Arini." Bi Um membukakan kamar paling dekat dengan ruang tamu. Dilihat dari luar tak ada yang istimewa. Namun saat masuk Davit dibuat terkejut dengan keahlian Arini mendesain kamar miliknya.


Usai merebahkan tubuh Arini di ranjang, Davit ingin berdiri, tetapi Arini seperti sengaja menahan lengannya tetap melingkar di tengkuk Davit.


"Kak." Nafas Arini terdengar sedang memburu. Dadanya naik turun menahan gelora rindu. Arini berulang kali mengerjabkan matanya. Mata indah itu menggoda Davit.


"Kak Davit tinggallah sebentar." Arini berkata dengan lirih.


"Arini, kakak harus pulang dulu, nenek pasti menunggu." Davit berusaha berpaling dari tubuh seputih susu itu dengan menatap ke arah lain.


Arini melepas tangannya dari tengkuk Davit, menahan wajah Davit agar terus menatapnya. " Kak Davit kenapa melihat ke arah lain? Apa Arini tidak menarik untuk dilihat?"


Davit mengecup kening Arini, " Kakak harus belajar bersabar. Kakak akan goyah jika Arini terus menggoda seperti ini."


" Lepaskan Kakak Rin." Suara Davit seakan tercekat di tenggorokan.


" Tinggallah sebentar lagi. Arini masih rindu dengan Kak Davit." Arini bangkit dari tidurnya dan mendorong tubuh Davit yang tiba tiba menjadi lemah. Sedangkan detak jantung dan hembusan nafasnya sudah seperti orang yang kehabisan oksigen.


Arini terlihat tak lugu lagi, beberapa hari yang lalu teman kampusnya mengajak Arini kumpul-kumpul di kos milik Salsa. Tadinya mereka nonton drama Korea yang lagi booming minggu ini. Arini melihat adegan ciuman dari sepasang pemain protagonis, membuatnya ingin merasakan ciuman senikmat yang di rasakan pemeran film tersebut. Sedangkan Davit terus saja menghindari dirinya demi menahan hasrat yang sudah membuncah.


Davit memejamkan matanya, membiarkan Arini mengecup keningnya. Ciuman Arini turun hingga pipi dan bibir Davit. Kedua bibir mereka bersatu, berlahan lidah Davit membuka bibir Arini yang terasa hangat dan lembut. Lidah davit berlahan menerobos ruang hangat milik Arini dan membelit satu sama lain, lama sekali mereka berpagutan bertukar salivanya, Api gairah mulai berkuasa dan membakar mereka berdua.

__ADS_1


* happy reading.


__ADS_2