Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 283. Pernikahan Ken Dan Vanya.


__ADS_3

"Andini aku pantas pake baju apa kira kira? Kebaya apa gaun?" Tanya Vanya.


"Em kalau menurutku pake aja dua duanya, kebaya waktu akad, dan Gaun waktu acara foto," kata Andini memberi ide briliant.


Mereka berdua kini tengah berada di kamar Vanya. Gadis itu terlihat sangat bahagia, sampai sampai tak percaya diri dengan penampilannya sendiri, takut kurang menarik saat dilihat Ken nanti. 


"Van, apapun yang kamu pakai selalu terlihat anggun Kok, karena kamu memang sahabatku yang paling cantik." Andini mencubit dagu Vanya. Membuat sang empu meringis bahagia. 


"Emmm, Makaci Nyonya Presdir." Vanya memeluk Andini sangat erat. 


Setelah seorang pria berdehem dari arah pintu, pelukan mereka baru terlepas. 


"Tuan Ars, kau pasti sedang mencari istri anda? Aku pinjam istri anda sehari ini untuk menemaniku boleh ya?" Vanya menggandeng pundak Andini. 


Sorot mata Arsena terlihat cemburu pada Vanya yang mendapat perhatian lebih dari Andini dihari ini. Pria itu akhirnya memaklumi juga setelah sadar ini hari bahagia sahabatnya.


"Sayang ajak Vanya keluar, Ken dan yang lain sudah menunggu." Arsen akhirnya buka suara juga. 


Andini mengangguk sambil tersenyum ke arah Arsena. Arsena menatap Andini tanpa berkedip. Wanita itu semakin cantik setelah mendapat sedikit sentuhan dari make over. Andini tadi menolak di make over artis. Tapi Vanya memaksa. 


"Cantik sekali." Kata itu akhirnya keluar dari bibir pria yang selalu kasmaran dengan istrinya itu. 


"Terima kasih." Vanya menundukkan wajahnya. 


"Bukan kamu, tapi istriku sendiri."


"Ars, sudah tunggu di luar aja, ngapain sih kesini?" Andini yang sempat terkejut karena menyangka Arsen memuji Vanya, kini malah terlihat kesal. 


" Aku kesini karena anak anak mau pulang sekarang, aku sangat rindu mereka, aku ingin jemput dia di halipad jika acara ijab sudah selesai, apa kamu juga mau ikut?" 


"Ikut lah, masa aku harus nunggu Vanya terus, aku juga nggak mau jadi obat nyamuk pengantin baru." Andini berkata sambil menyenggol bahu Vanya. 


"Udah udah kalian bikin aku makin nervous aja."


"Pengantin baru, ngapain nervous. Harusnya kalian bahagia donk. Saat yang dinantikan akan tiba." Andini menimpali. 

__ADS_1


"Andini Vanya, ayo keluar, penghulu sudah datang Nak." Mama Vanya memanggil kedua putrinya keluar. Andini sudah dianggap seperti putrinya sendiri semenjak mereka akrab dengan Vanya. 


Ken yang gagah sudah duduk di depan penghulu. Arsena akhirnya menurunkan egonya dia duduk di sebelah kiri Ken, sedangkan Andini ada dibelakang Vanya bersama Mama. 


Ken mengucap ijab dengan lancar dalam satu tarikan nafas, setelah itu diamini oleh seluruh tamu yang hadir. Tamu undangan memang tak banyak. Vanya dan Ken sengaja melakukan pernikahan sederhana saja. Alasannya karena Vanya yang meminta. Sejauh ini Vanya tak cerita kalau Ken mantan napi, selain itu juga Vanya belum bilang kalau Rara adalah anak Ken dengan wanita lain. Setahu orang tua Vanya, Anak gadisnya telah mengadopsi seorang anak. Vanya akan cerita pelan pelan tentang rumitnya masa lalu Ken. Yang terpenting bagi Vanya, Ken sudah berubah. Vanya juga tak mau Kehilangan Rara yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Vanya tak bisa membayangkan kalau Ken akan pergi bersama anak kecil yang pernah ditolongnya itu. 


Semua orang berdiri setelah ijab selesai dan pernikahan ini sah. Mereka saling berpelukan dan bersalaman. Penghulu segera mohon pamit usai menghalalkan dua pasangan yang sedang dilanda cinta itu. 


Ken memeluk Arsena lebih dahulu, pria itu memeluknya sangat erat, Ken dan Arsena sama sama terlihat gagah dan tampan, mereka mirip kakak dan Adik. Bedanya kulit Arsen lebih cerah dan tak memiliki tato di tubuhnya. Hanya ada tahi lalat di punggung dan itu hanya Andini yang tahu. 


"Selamat Ken!" Sepatah kata yang keluar dari bibir Arsena. Dan kata itu terdengar begitu menyejukkan, tubuh Ken seketika bagaikan tersiram air es.


"Tuan, anda berbicara padaku." Bodohnya Ken malah bertanya tak percaya dengan indera pendengarannya. 


"Selamat Ken, Aku ikut senang kau menikah dengan wanita yang tepat." 


"Terima kasih Tuan." Mereka berpelukan lagi, sedangkan Vanya memeluk Andini lali kedua orang tuanya. Dua orang tua Vanya mengapit tubuh anaknya dengan isak haru. Akhirnya pernikahan sederhana namun sakral berjalan dengan baik sesuai keinginan putrinya. 


"Van, Ken, aku hampir lupa kalau aku harus menjemput anak anak dulu, putraku baru pulang liburan. Aku sudah sangat merindukan dia." Andini berpamitan setelah acara selesai.


"Tuan, hubungi aku jika membutuhkan bantuan."


"Bersenang senanglah, pengantin baru." Arsena menepuk pundak Ken lalu pergi sambil menggamit lengan istrinya.


Setelah kepergian dua orang penting dalam hidup Ken dan Vanya. Dua mempelai itu terlihat malu malu. Mereka seperti anak ABG yang baru kenal ketika didepan orang tua Vanya. 


"Ma. Sepertinya kita harus kembali lebih cepat, rupanya kehadiran kita disini mengganggu pengantin baru," goda papa Vanya. 


"Pa, Ma jangan balik dulu, aku masih kangen," rengek Vanya.


"Tapi Sayang, sekarang sudah ada Ken. Lupakanlah kami sesaat dan nikmati hari kalian yang sudah menikah." Mama dan Papa Vanya berusaha pengertian, memberi waktu untuk putrinya berbulan madu. 


Vanya dan Ken sudah sama sama berada di kamar besar. Setelah menikah justru mereka terlihat canggung. Ken bingung harus mulai dari mana, dalam situasi seperti ini tubuh besarnya sama sekali tak berguna.


Vanya terlihat sibuk membuka riasan dikepalanya, sedangkan Ken mengamati istrinya dari belakang sambil melipat tangannya di dada. 

__ADS_1


Ken melihat Vanya kesulitan membuka salah satu aksesories. Ken segera membantunya.


"Ken aku bisa sendiri." Jemari Vanya dan Ken saling bersentuhan.


"Aku akan membantumu, Sayang" jawab Ken dengan suaranya yang terdengar bergetar.


"Ken aku akan mandi," ucap Vanya kemudian


"Aku juga akan mandi." Ken ikut ikutan.


"Kalau begitu kamu duluan, aku wanita pasti sangat lama." Perintah Vanya. 


"Kamu duluan aja. Aku akan menunggu."


"Ken …." 


"Vanya … kita kok malah seperti ABG begini sih." Mereka sama-sama tersenyum salah tingkah. 


"Aku punya ide, bagaimana kalau kita berdua mandi bersama."


"Jangan Ken, aku belum siap." Vanya keberatan.


"Oke, aku nggak memaksa. Mandilah dulu. Aku akan menunggu diluar." Ken berjalan keluar Vanya segera masuk ke kamar mandi.


Mereka sempat sama sama menoleh saat Vanya berada di depan pintu kamar mandi dan Ken di depan pintu keluar. "Aku akan lihat Rara sebentar di kamarnya. Aku akan kembali setengah jam lagi," ujar Ken.


"Siapkan dirimu." Ken tersenyum nakal membuat bulu roma Vanya meremang.


Vanya menyandarkan tubuhnya di belakang pintu kamar mandi. Jantungnya berdegup sangat kencang, rasa bahagia dan tak percaya bercampur menjadi satu. 


"Aku sudah menjadi istri, Ken." Lirihnya dalam kesendirian. Bibirnya tak berhenti mengukir senyum. lama sekali Vanya terpaku dalam lamunan sambil memeluk bathrobe.


****


 

__ADS_1


__ADS_2