
Arsen sudah sampai di rumah bersalin, kali ini dia yang panik berlebihan, melebihi yang akan melahirkan.
Di Parkiran dia segera berlari membuka pintu dan menggendong Andini menjemput brankar yang masih di dorong oleh perawat menghampiri keberadaan dirinya.
"Ars, turunkan, kau membuat semua orang melihat kita."
"Diam, kalau kamu berjalan aku khawatir kau akan makin kesakitan."
"Sudahlah Ndin, nggak ada gunanya kamu berpendapat. Nggak akan pernah menang sama dia." Mama mengingatkan Andini.
Andini sebenarnya masih mengkhawatirkan kondisi kaki Arsena yang pernah patah satu tahun yang lalu tapi rupanya ketakutan Andini tak terbukti, Arsena tetap baik-baik saja.
Andini segera memasuki ruang bersalin, disana Papa Johan dan Mama Mita memberi semangat pada Andini sebelum masuk ruang bersalin. Karena yang diizinkan menemani di dalam hanyalah dua orang.
"Mbak aku yang temani di dalam sama Arsen ya?" Mita mencoba bertanya pada Rena, siapa tahu disetujui.
"Nggak bisa ini cucuku yang lahir, harus aku donk yang temani."
"Ya kamu aja Ren yang masuk, Mita dan aku biar nunggu disini, kalau kamu butuh sesuatu atau apa gitu, langsung telepon atau kirim pesan."
"Iya pah, Ars ayo masuk." Rena segera berjalan masuk sebelum pintu terkunci otomatis. Sedangkan Johan sabar menanti di luar menunggu kabar dari dalam.
"Dokter Andini, apa yang anda rasakan sekarang?" Namira memeriksa perut Andini lalu detak jantung dan tensinya.
Setelah selesai pemeriksaan awal, Namira meminta Andini membuka kakinya, pemeriksaan kedua pun dimulai.
"Andini, sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi bayinya pasti akan lahir."
Ucapan Namira bukan menenangkan Arsena. Dia malah gusar, akhirnya dia memilih duduk di dekat Andini yang mulai mengejan dengan pelan saat kontraksi.
Arsena memeluk kepala Andini dan mengecupi keningnya, dia merelakan Andini menggenggam tangannya dengan kuat. Dari ujung jemarinya seolah Arsena menyalurkan energinya.
"Sakit sekali ya, Sayang?"
"Sakit banget dodol, orang melahirkan pasti sakit." Mama Rena yang menjawabnya. Bersamaan dengan ponsel di sakunya bergetar.
"Siapa sih Ma, berisik banget."
"Davit, Ars. Apa dia mau kesini ya? mungkin dia ingin menjenguk Andini. "Mama segera menggeser krusor hijau.
"Ma, Arini sakit perut sepertinya dia akan melahirkan hari ini" Suara Davit terdengar panik.
"Apa?! Arini juga melahirkan!" Rena terkejut.
" Iya Ma, perutnya kesakitan."
"Ya Tuhan, kalian kok bisa melahirkan bersama. Kalian pasti buatnya barengan waktu mama liburan sama papa ini," canda Mama Yang berhasil menarik tatapan anak dan menantunya bersamaan.
" Ars, sakitnya datang lagi"
"Iya Sayang. Aku disini."
"Aaaaa." Andini kembali mengejan. Dia sudah tak bisa lagi menahan dorongan di perutnya.
Arsena mengusap Airmata yang menetes dari sudut netra Andini, karena menahan sakit. Sambil terus berdoa semoga kejadian buruk tak terulang lagi.
__ADS_1
Ini kedua kalinya Arsena menyaksikan istrinya berjuang melawan maut. Arsena berjanji dalam hatinya, dia tak akan merengek pada Andini untuk harus melahirkan banyak anak. Arsena tak bisa membayangkan betapa sakitnya melahirkan.
Mama segera menghubungi Johan yang menunggu diluar supaya menjemput Arini, sedangkan dia tetap menunggu Andini yang sebentar lagi akan melahirkan buah hatinya.
Dokter memberi instruksi supaya Andini miring sebentar, Lalu terlentang. Dan benar sekali intruksi yang diberikan oleh Namira membuat Andini lebih cepat pembukaan dan melahirkan dengan mudah.
"Sayang kuatkan dirimu aku ada disini bersamamu." Pelukan Arsena ikut mengerat saat Andini mencengkeram tengkuknya.
"Huh huh huh, aaaaaa" Andini mengejan lagi. punggungnya sudah basah dengan air ketuban yang pecah.
"Bagus Nona, bagus bayinya sudah kelihatan. Dorong lagi Nona." Dokter yang satunya memberi intruksi pada Andini dengan semangat. "Ambil nafas, dorong. Ambil nafas lagi dorong lagi."
"Aaaaaaaa."
"Oeeeee oeeee."
Tangis panjang menggema dari sang bayi, bersamaan dengan cengkeraman Andini yang mengendur. Arsena memejamkan mata dihatinya terucap kata-kata penuh rasa syukur. Lalu mengecup kening Andini sangat lama tanpa mengeluarkan suara.
Andini lemas, dia kehilangan banyak tenaga, dadanya kembang kempis berusaha menetralkan nafas.
"Sayang, terimakasih. Wanitaku sangat hebat." Arsena akhirnya mengeluarkan kata-kata setelah melihat Andini membuka matanya.
"Ars, tolong jangan biarkan Andini tidur, ajak dia bicara. Sambil nunggu bayi kalian dibersihkan dan kamu bisa segera mengadzani." Namira berkata dengan bibir tersenyum. Senang sahabatnya bahagia, tapi entah kapan dirinya menyusul ke pelaminan. Vano masih mengulur waktu untuk melamarnya. Padahal wanita yang diinginkan Vano juga sudah bersuami. Bahkan dihari ini, dia melahirkan putra pertamanya.
Bayi merah,mungil nan cantik sudah bersih, bibirnya sesekali bergerak seperti kehausan. Arsena segera adzan di telinga kanan putrinya dan iqomah di telinga kiri.
Andini melihat kebahagiaan Arsena begitu besar seperti waktu kelahiran Exel dan Cello dulu. Dan kesedihan terbesarnya saat dia kehilangan bayinya yang baru berusia hitungan Minggu.
"Ars, bayimu sangat cantik. Dia mirip sekali dengan Omanya."
Rena semakin bahagia ketika Namira menyebut cucunya yang cantik itu mirip dirinya.
"Ndin, kamu kasih ASI dulu ya!"
"Iya, Ma." Andini mengangguk, lalu menggeser tubuhnya hingga bersandar dengan beberapa bantal yang sudah ditata bertumpuk oleh Arsena. Pria itu ikut menempel-nempel tak mau jauh jauh, sambil sesekali menggoda putrinya yang belajar meneguk asi.
"Ndin mama sepertinya harus jemput adikmu di parkiran, Arini juga mau lahiran hari ini, kata Davit perutnya mules. Kamu tau sendiri kan gimana Arini, pasti dia sudah bikin heboh."
"Iya Ma." Andini mengangguk.
"Bie, kamu lihat Arini sana gih," pinta Andini.
"Bentar lagi, aku masih pengen bersama kalian berdua, Arini sudah ada Davit di dekatnya."
"Bie jangan cuek gitu, yang mau lahiran Arini lho."
"Iya tau, nggak mungkin Davit kan."
Andini mengerucutkan bibirnya, kalau nggak ada baby Arsha di dekapan Andini pasti dia sudah menggigit hidung Arsena yang mancungnya kebangetan.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk dua bocah kecil berteriak bahagia.
"Daddy! Mommy! Om Miko bilang Adek bayi sudah lahil."
"Iya Sayang."
__ADS_1
"Mommy Adeknya boleh Cello gendong." Cello segera ikut naik ke brankar Andini.
"Exel juga mau gendong, boleh ya Mommy."
"Boleh ya Mommy?" Cello memasang wajah memelas.
" Belum boleh, Sayang. Adeknya masih kecil, tulangnya belum kuat, Exel dan Cello cuma boleh lihat dan cium aja untuk sementara waktu." Andini memberi pengertian pada kedua anaknya yang kini sudah ada diatas brankar bersamanya.
"Exel, Cello. Ayo turun gendong Daddy ya sambil lihat adek kecil agak jauh sedikit." Arsena membujuk kedua putranya. Sedangkan Miko pamit keluar, membiarkan Arsena dan keluarga kecilnya yang sedang bahagia berkumpul.
Miko memeriksakan kehamilan Dara, tadi dia bertemu dengan Exel dan Cello di parkiran bersama Arini dan Davit yang menuju ruang bersalin. Takut dua boah kecil itu mengganggu aktifitas Davit dan Zara Miko mengajaknya menemui Andini.
Di ruang VVIP tepat bersebelahan dengan ruang Andini, Arini sedang berjuang untuk melahirkan putri pertamanya. Davit sangat gugup, apalagi ini pertama kalinya. Arini yang tak tahan dengan rasa sakit dia berteriak teriak memaki Davit dan sesekali menjambak rambut Davit. "Sakit Kak, gara gara kamu, aaaa .. sakit sekali." Arini terus menyiksa davit.
Sedangkan Arsena yang tengah menggendong Arsha dia ikut mengintip dari jendela pengintai. Arsena rasanya ingin tertawa melihat wajah tampan Davit disiksa istrinya hingga demikian rupa. kusut dan rambutnya berantakan.
"Kak, selamat ya?" Miko tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Iya, makasi ya. Kamu ngapain kesini? Jangan bilang karena khawatir dengan kondisi Andini?"
"Kau masih saja cemburu, Kak. Anakku sudah mau dua. Aku memeriksakan Dara, dia juga hamil."
"Oh, baguslah." Arsena mengangguk angguk.
"Putrimu sangat cantik." puji Miko.
"Mida, putrimu juga cantik"
"Aku boleh menggendongnya?" Miko takjub dengan kecantikan Arsha, kalau dilihat dia sangat mirip keluarga Atmaja, tentu mirip Arsena dan juga dirinya.
"Silahkan." Arsena melepaskan ikatan di pundaknya dan memberikan Arsha kepada Miko.
Keluarga segera berdatangan mengerubuti Arsha. Mereka tak lupa memberi ucapan selamat pada Arsena.
Bayi Ken juga sudah lahir, Vanya melahirkan bayi laki-laki yang sangat mirip dengan Ken.
Dalam sehari ini, keluarga dan kerabat Atmaja kehadiran tiga jagoan kecil, mereka semua lahir secara normal dengan kondisi yang sempurna.
Lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga Atmaja. Mereka sudah disatukan dengan jodoh yang sudah tertulis di lauful Mahfudz. Andini hanya ditakdirkan untuk Arsena.
Keinginan Dara untuk menggapai cinta Miko akhirnya terwujud, Cinta Miko untuk Andini berlahan memudar, berubah menjadi ikatan saudara. Dan hanya Dara seorang yang singgah di hatinya.
Amert di negara Turki sudah berbahagia dengan Zara, mereka selalu bertanya kabar tentang saudara di Indonesia, Amert berencana akan mendirikan perusahaan di Indonesia atas permintaan Zara.
Putri Davit lahir di sore hari, Davit menamai putrinya dengan nama Anisa Salsabila Atmaja kalau disandingkan Arsha Atmaja mereka sudah seperti saudara kembar saja.
Selesai
******
Terima kasih buat teman teman. Telah mengikuti cerita Menikahi gadis pilihan Papa hingga tamat. Rasa syukur emak tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Pokoknya I Love you semuanya, emak cinta kalian. Emak sayang kalian, kalian telah suport, dengan tulus, dengan ikhlas memberi Like, Komen, dan Vote.
Buat yang memberi emak Vote dan hadiah tertinggi kalian akan mendapat hadiah, dan akan emak umumkan di karya terbaru.
*Takdir Cinta Gadis Cupu*
__ADS_1