Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 186. Ada Saingan


__ADS_3

"Nona, mengertilah." Davit mendesah berulang kali, memalingkan wajahnya menatap kearah lain. Sebagai pria normal, sungguh dia ingin menuruti keinginan Arini, tapi terus terang belum siap dengan semua konsekuensinya.


"Baiklah aku mengerti, kak Davit pasti sudah memiliki wanita lain," ujar Arini dengan suaranya yang terdengar hambar, aura kecewa begitu kentara di wajah cantiknya.


"Tidak Nona, jangan salah paham, tak ada sosok wanita yang ada di hatiku selain nenek dan ...." Davit meraih lengan Arini ketika gadis itu mulai menjauh.


"Aku butuh waktu Nona, beri kesempatan supaya aku menjelaskan semua pada keluarga besar Anda. Hubungan ini menyangkut hidup dan mati saya Nona." Davit mengelus anak rambut Arini yang sudah rapi. Disentuh oleh tangan Davit demikian lembut sudah membuat wajahnya kian memanas. Arini kembali memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut.


Arini mulai mengerti posisi Davit. setelah pria itu berulang kali memberi pengertian pada gadis yang menjadi bodoh karena cinta itu.


"Baiklah, aku akan menunggu keputusan Kak Davit," Arini mencoba bersabar, menyatukan dua hati memang tak mudah seperti menempel gambar, dikasih sedikit lem sudak lengket. tapi ini mengarah pada hubungan yang serius. Bukan sekedar gurauan semata.


" Sudah malam rupanya, kak Davit aku pulang dulu. Takut ada yang mencari." Arini menatap keluar, hari mulai gelap.


" Hati hati Nona." Davit mengambilkan payung milik Arini lalu membantu membukanya. Tiba tiba cahaya dari langit bagai cambuk, terlihat begitu terang tanpa aba-aba.


"Kaaak." Arini memeluk Davit dengan erat. Gadis itu terlihat ketakutan. Davit membalas memeluk Arini demi memberi rasa nyaman.


Jantung Arini berdegub begitu kencang. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada pria berotot itu. "Aku takut."


"Baiklah tinggallah disini sampai hujan reda," pinta Davit membalas memeluk Arini, pria itu merasakan betapa berharga dan harum tubuh anak gadis majikannya itu.


Arini juga merasakan betapa tenangnya dia dipelukan pria yang dipujanya. Aroma keringat khas laki laki tercium oleh hidungnya yang membuatnya ingin berlama lama. Arini sudah gila. Dia tergila gila pada Davit sang ajudan tampannya.


"Nona sampai kapan kita seperti ini." ucap Davit dengan suaranya yang parau. Bagaimanapun dia seorang pria normal, dia memiliki nafsu yang bergelora di usianya yang sudah matang.


"Nona, jangan membuat saya menderita, lepaskan semua ini." Davit ingin Arini melepaskannya. Namun gadis itu semakin mempererat pelukannya.


"Tunggu hujan reda, dan para petir itu pergi. Aku takut kak Davit." keluh Arini.


Davit akhirnya memutuskan menggendong tubuh Arini, membawanya masuk dan kembali menjatuhkan di sofa berlahan. Dengan amat hati-hati Davit menurunkan Arini. Menjaganya seperti sebuah berlian yang mahal.


"Kak Davit jangan kemana mana tetaplah disini." Arini menahan lengan Davit yang hendak beranjak.


"Nona aku bersihkan dulu piring-piring ini. Aku hanya ingin Nona nyaman disini." Davit membereskan wadah makan yang sudah kosong. Menaruhnya ke dalam wastafel. Sambil berusaha menetralkan nafasnya yang sudah memburu.


Tiba tiba ponsel diatas meja bergetar. Arini segera meraih benda pipih miliknya, mengamati nomor baru yang tertera dilayar ponselnya. " Nomor baru, Siapa? Gumam Arini.


Daripada penasaran dengan siapakah penelepon, Arini segera menggeser kursor hijau di layar ponselnya.


"Hallo, dengan siapa?"


" Masa lupa? Aku Nathan." Suara di seberang amat bahagia.

__ADS_1


Membuat ekspresi Arini berubah seketika, yang tadinya datar saja kini terlihat bahagia.


"Nathan, apa kabar?"


"Baik Arini. Kamu sendiri apa kabar?"


" Aku juga baik, Nathan."


"Arini lama tak pernah jumpa, aku jadi rindu sama kamu."


" Kita sama, Nathan."


Arini mulai besok kita tak perlu rindu lagi, kita akan satu kampus, Papaku akan bekerja lagi di Surabaya. Dan kita akan bertemu setiap hati seperti dulu.


"Iya Nathan, aku bahagia,' ucap Arini terlalu semangat.


Nathan adalah sahabat karib Arini sejak kecil. mereka berpisah karena pekerjaan Papa Nathan tidak tetap. Sekarang Nathan sudah besar, jadi dia bisa memutuskan dimana akan tinggal.


"Arini untuk merayakan pertemuan kita lagi, bagaimana kalau kita ketemuan. Aku tak bisa menunda lagi Arini."


"Nathan masih banyak waktu, lagian sekarang hujan, bukankah katamu kita akan bertemu setiap hari karena satu kampus."


"Mengertilah Arini, aku sangat merindukanmu."


"Ok, Nathan. Kita ketemu di cave X. Satu jam saja." Arini tak ingin lama lama saat keluar rumah, mengingat kondisi Davit baru pulih.


Arini segera menutup ponselnya dan tersenyum. " Nathan akan kembali. Apa dia sudah banyak berubah sekarang "


"Siapa Nathan?" Davit segera keluar dari dalam. Pria itu sengaja mendengarkan percakapan Arini sampai selesai. Davit merasa mereka terlalu akrab Davit khawatir kembalinya pria itu akan membuat Arini berubah.


"Kak Davit, antarkan aku menemui Nathan sekarang. Aku tak sabar bertemu sahabat kecilku itu."


"Baiklah Nona." Davit sedikit kecewa pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban. Mereka akhirnya memakai payung menuju garasi yang tak jauh dari mess Davit.


' Nathan, nona terlihat begitu bahagia dengan nama itu. Apa hubungan masalalu mereka sangat dekat.'


Davit membukakan pintu mobil untuk Arini. Arini segera duduk di kursi penumpang. Tak lupa Davit membantu Arini memakaikan sabuk pengaman.


Sepanjang perjalanan Davit hanya diam, pikirannya mulai gundah gulana, ada rasa takut jika Arini akan berpaling darinya dan mencintai pria bernama Nathan itu. Sedangkan Arini sibuk dengan ponselnya. Dia terlihat tersenyum setiap ada suara notifikasi pesan yang terdengar.


"Nona kita sudah sampai, apakah ini Cave X yang anda maksud."


"Benar, sepertinya Nathan sudah ada di dalam. Kita langsung masuk saja," ajak Arini.

__ADS_1


"Nona sebaiknya saya akan menunggu disini," ujar Davit.


"Ayolah kak Davit, kita temui Nathan sahabatku. Kalian juga belum kenal kan?"


"Baiklah." Davit akhirnya setuju. Dia berjalan dibelakang Arini dengan jarak kurang dari satu meter.


"Nathan!!" Panggil Arini.


"Hai Rabbit. Kau ....!" Nathan sesaat hanya diam mulutnya menganga, terkesima dengan sahabatnya masa kecilnya yang sekarang menjelma menjadi tuan putri yang begitu cantik.


"Nathan !" Arini juga berekspresi tak jauh berbeda dengan Nathan. "Wooow .... Kaulah Nathan yang suka menyontek, yang suka membelikan bakso jika aku bersedia memberi contekan? aku tak percaya kau akan setampan ini sekarang," puji Arini.


"Arini kau sudah banyak berubah, kau dewasa dan cantik." Puas menelisik Arini dari ujung kaki hingga ujung rambut. Nathan segera mendekat. Ingin sekali melepas kerinduannya dengan memeluk Arini.


"Kenalkan saya Davit, saya sopir sekaligus bodyguard yang akan melindungi Nona Arini dari kemungkinan buruk sekecil apapun." tubuh Davit maju dua langkah menghalangi Nathan.


Davit menjabat tangan Nathan. Membuat pria itu urung memeluk Arini. " Oh, saya Nathan." Nathan membalas uluran tangan Davit. Davit dan Nathan saling meremas jemari dengan kuat-kuat.


"Arini, bisakah dia menunggu di luar saja, aku kurang nyaman jika dia mendengar pembicaraan kita berdua." ujar Nathan mulai terganggu


"Nathan, biarkan Kak Davit bersama kita, aku yang mengajaknya kesini." Arini memeluk satu lengan Davit dan tersenyum manja.


Nathan curiga dengan Arini yang begitu akrab dengan sopir pribadinya itu. Selain dia terlalu tampan, visual Davit juga tak mencerminkan seorang sopir. Davit sangat menjaga penampilannya saat tak berseragam, membuat dia lebih mirip seorang pengusaha muda saja.


Nathan akhirnya setuju. Nathan duduk berhadapan dengan Arini. Dan Davit tahu diri, dia memilih duduk di kursi dengan nomor meja yang berbeda.


Makan malam berjalan dengan lancar. Pertemuan Arini dan Nathan akan kembali berakhir. Arini khawatir Davit akan sakit jika terlalu lama terkena udara dingin. Apalagi air hujan tak berhenti mengguyur kota Surabaya hingga malam.


"Arini sampai ketemu di kampus besok. Oh iya, aku ada hadiah untukmu." Nathan mengambil kotak lumayan besar dari mobilnya dan memberikan langsung kepada Arini.


"Terima kasih Nat." Arini menerima dengan senang hati lalu memberikan pada Davit. Davit segera menaruh di bagasi mobil. Hadiahnya lumayan berat, Davit tak bisa memprediksi apa isinya.


Arini dan Nathan benar benar berpisah di jam delapan malam. Nathan lebih dulu pergi meninggalkan parkir. Dia terlihat kecewa dengan Davit yang terlalu mendapat pembelaan dari Arini.


Di perjalanan pulang Arini meminta duduk di depan, di sebelah Davit. Arini menceritakan kisah masalalunya dengan Nathan yang memang akrab sejak kecil. Davit mendengarkan dengan serius meski sedang mengemudi. Sesekali dia menoleh ke arah Arini, melihat bibir mungil yang tak mau berhenti bicara.


Tiga puluh menit mereka sudah sampai di Mansion. Davit hendak turun lebih dulu tapi Arini kembali menahan lengannya.


"Kak Davit, apakah kau tak ingin mendoakan aku supaya mimpi indah?"


Jantung Davit kembali terpacu bagai genderang. melihat gadis yang biasa ketus itu kini mirip kelinci imut yang menuntut belaian sayang.


"Nona, semoga mimpi indah." Davit tersenyum. lalu menyelipkan rambut Arini di belakang telinga.

__ADS_1


"Kak Davit juga. Semoga nanti malam memimpikan Arini." Arini membalas senyum dia ingin sekali mengecup pipi Davit lebih dulu. Namun, entah kenapa niat itu ia urungkan. Arini segera membuka pintu mobil sendiri dan turun.


*happy reading.


__ADS_2