Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 18. Aku mengkhawatirkan dia, tapi aku bukan suaminya.


__ADS_3

"Bener, nggak mau ikut?" Arsena melongokkan kepalanya keluar, sambil mengemudikan mobilnya pelan-pelan. Senyum dengan seringai licik terlihat begitu kentara di wajahnya.


"Eeeeenggak," jawab Andini jutek.


"Emang gue nggak bisa apa ke kampus sendiri."


Arsena berangkat ke kantor tanpa ditemani Andini, gadis itu masih trauma jika suami sombong plus aneh itu akan menurunkan nya lagi di pertigaan seperti kemaren.


Andini berjalan menuju jalan raya, 10 menit telah berlalu, angkot tak kunjung lewat.


Andini sibuk memandangi ke kanan ke kiri, berharap angkot warna kuning yang akan mengantarnya ke kampus segera lewat.


"Angkot pada kemana sih .... !" Gerutu Andini kesal. Berulang kali melihat waktu di gawainya yang terus berjalan.


"Duh, tumben banget, lama, " Andini mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal, gelisah panik, Matahari mulai memancarkan cahaya panasnya dari ufuk timur.


Andini mulai panik ada sedikit penyesalan kenapa tadi nggak bareng suaminya saja, kalau kemaren diturunkan di pertigaan pas lampu merah, mungkin hari ini moodnya lagi bagus, bisa saja hal itu tak terjadi.


Tin ! Tin !


Bunyi klakson dari arah belakang.


Andini kembali dikejutkan oleh kehadiran pria pengendara motor besar, berpakaian rapi ala pegawai kantor, jaket hitam melekat di tubuhnya sudah menjadi ciri khasnya, dan tak pernah melepas helm teropong itu.


"Cepat naik!" perintahnya, seolah Andini memang sengaja menunggunya.


"Nggak mau ... " Andini seperti biasa ia selalu jual mahal.


"Andini ... Ayolah !" Pria itu tiba-tiba berkata dengan suara lirih.


"Mas, Om, Kak, tolong jangan ganggu saya, saya ini sudah punya suami!" Tegas Andini, sambil menyilangkan tangannya di atas perut.


Pria itu kembali tertawa sumbang, suaranya tetap terdengar walaupun wajahnya ia sembunyikan dalam helm teropongnya. " Aku hanya ingin membantumu Girl, bukan menjadikanmu istri."


Mendengar jawaban pria itu Andini kaget, tak menyangka jawabannya ternyata sangat cerdas. Pria itu berhasil membuat Andini terdiam tanpa berkata lagi.


"Gimana Girl, mau ikut nggak?" Tanya pria itu lagi. Ia masih tetap menunggu.


"Baiklah." Andini menurut, ia kembali dibonceng oleh pria yang kemaren telah membantunya.


"Pakai ini!" Pria itu menyodorkan helm. Rupanya ia telah siaga membawakan helm untuk Andini.


Andini sekali lagi menerima tawaran pria itu. Ia mengambil helm dan segera memakainya.


Pria itu kini melajukan motornya dengan kecepatan rendah, seolah pagi ini ia begitu menikmati perjalanan dengan wanita yang ada di boncengannya.


"Andini, aku tau kamu tak bahagia di pernikahanmu." ucapnya sedikit keras. Sengaja agar Andini bisa mendengarnya, walaupun suara dari sekitar sedang bising.


"Sok tau banget sih!" Ketus Andini sambil mendekatkan kepalanya.


"Ya tau lah, mana ada suami yang masih mempertahankan hubungan masalalunya kalau memang pernikahanya itu bahagia."


Andini terdiam, lagi-lagi pria itu benar.


"Kita memang belum saling mengenal saja, aku yakin suatu saat dia akan menyadari semuanya ...." ujar Andini lagi. Hati Andini tiba-tiba saja mulai tak nyaman dengan pria yang tau segalanya itu.


"Andini, kamu belum tau pria seperti apa yang kamu nikahi?"


"Emang seperti apa?"


"Kamu tau batu itu bagaimana?"


"Hmm ... Keras"


"Seperti itulah."


"Kamu kenal akrab ya?"


"Iya, kita satu kantor."


"Kita sampai." Kata Andini.


"Iya, kita akan berjumpa lagi besok." ujar pria itu.


"Sok tau, besok aku libur!" Kata Andini sambil melepas helmnya.

__ADS_1


Pria itu menerima dan menaruh di atas tangki motornya. "Kamu pasti bohong. Andini katakan padaku jika kamu sudah lelah menjadi Istri palsunya, aku akan selalu ada untukmu."


"Kalau aku tak pernah lelah?"


"Aku akan menjadi temanmu selamanya girl. "Pria itu kembali menstrater motornya.


Disaat yang hampir bersamaan. tiba-tiba seorang gadis turun dari mobil, ternyata Vanya hari ini diantar sama sopirnya.


"Andini, ini pria yang kemaren antar kamu, ya? Kok aku nggak dikenalin ?"


"Hei kamu! Teman aku pengen kenalan." Andini memanggil kembali ketika pria itu sudah beranjak pergi. Sontak ia langsung menghentikan aktifitasnya.


"Andini, apa'an sih? Malu tau." Protes Vanya yang hendak membekap mulut Andini.


"Maaf, lain kali aja aku sedang buru-buru," ujar pria itu menangkupkan kedua tangannya lalu pergi.


"Aku bilang apa? Dia itu aneh, nyebelin." jelas Andini pada Vanya.


"Tapi aku penasaran Ndin, gimana sih rupa pria itu, kamu juga nie, masa dianter cowok nggak kenalan dulu kek."


"Nggak penting Vanya bukan aku yang minta, lagian aku itu punya suami."


"Suami kamu Si Arsena? Masih mimpi aja kamu Ndin." Vanya mengibaskan tangannya berulang kali di depan muka Andini.


"He ... he ... he ... Ngaak percaya ya udah." Andini malah tertawa ringan


"Habis, bercanda kamu kelewatan sih." Vanya terus saja menganggap Andini sedang bercanda.


Akhirnya mereka berdua berjalan menuju bangku kantin, seperti biasa menu nasi pecel masih jadi vavorit Andini, dan Vanya memilih menu soto untuk sarapannya pagi ini.


Saat asyik menikmati nasi pecelnya tiba tiba ponsel Andini berdering. Ternyata si pria misterius itu sedang meneleponnya.


X : "Hai Girl, nanti malam ada acara nggak?"


Andini: "Emang ada apa?"


X: "Temanin aku ke acara nikahan teman, bisa?"


Andini: "Enggak bisa."


Andini: " kamu harusnya tau donk, aku nggak bisa sembarang keluar dengan pria, aku punya suami."


X: "oh karena itu? Ya sudah, kabari aku jika kamu berubah pikiran."


Andini. " Jangan terlalu berharap."


Andini menutup panggilannya. Ia menggenggam ponselnya di dadanya. Sesungguhnya Andini kini sedang berfikir keras, kenapa pria itu seperti sengaja mendekatinya. Sedangkan ia juga tahu kalau dirinya sudah tak sendiri.


Andini begitu menghargai pernikahannya, walaupun diantara berdua belum ada cinta. Entah darimana Andini memiliki keyakinan, jika suatu saat Arsena pasti akan melihat keberadaannya disampingnya.


****


Jam kuliah sudah usai, para mahasiswa berhamburan keluar, Ada yang membawa motor ada yang naik mobil pribadi, ada juga yang di jemput oleh sopirnya.


"Andini, kamu bareng aku aja ya?" Pinta Vanya yang tengah di jemput sopir pribadinya.


"Oh, terima kasih Vanya, aku sedang ada urusan lain, jadi aku masih harus mampir ke banyak tempat nanti," tolak Andini mencari cari alasan.


Apalagi letak rumah mereka yang berbeda arah, tentu akan sangat merepotkan. Jika Andini ikut, sudah pasti Vanya meminta sopirnya untuk mengantar terlebih dahulu.


Andini beruntung memiliki kawan seperti Vanya yang mau berteman serta menerima keadaannya, jadi Andini tak ingin merepotkan Vanya lebih banyak lagi.


"Aku duluan ya." Vanya melambaikan tangannya setelah roda mobilnya mulai bergerak.


Andini membalas lambaian tangan Vanya. " Sampai ketemu besok."


Setelah mobil Vanya tak terlihat, Andini segera naik angkot yang telah menunggunya.


Namun Andini segera menurunkan kakinya kembali setelah lengan kekar menahannya. Lagi lagi si pengendara motor itu yang datang.


"Andini, aku ingin berbicara."


"Berbicara apa lagi? Tolong jauhi aku please jangan ganggu." Andini menangkupkan kedua tangannya.


Namun saat pria itu meraih pergelangan tangannya Andini mendesis menahan sakit di lengannya.

__ADS_1


"Kamu kesakitan Andini? Sini biar aku lihat yang terjadi." Pria itu membuka lengan Andini. Ia sangat penasaran karena Andini hari ini memakai hodie saat ke kampus.


"Memar? Kasar sekali dia?" Pria itu kini tengah khawatir.


"Ahw ... I-ini tidak apa-apa?" Andini segera menarik lengannya dan meyembunyikan di balik tubuhnya.


"Seperti ini kamu bilang tidak apa-apa? Coba aku lihat lagi Andini."


"Tidak- tidak perlu, ini hanya terkilir waktu aku sedang mengangkat cucian"


"Kamu pasti bohong Ndin."Pria itu tak percaya. Ia menatap mata Andini yang memelas minta untuk dilepaskan.


"Ikut denganku, aku akan mengobati lukamu."pria itu membawa Andini dengan paksa.


"Kau akan mengajakku kemana?" Tanya Andini.


"Sudahlah ikut aku, bukannya kamu penasaran siapa diriku." Jawab pria itu terus membawa Andini ke motornya yang sedang diparkir di pinggiran jalan.


Andini menurut saja cekalan tangan pria itu sangat kuat, bahkan penolakan Andini hanya dianggap sebagai anak kecil yang sedang meronta saja. Tangan Andini tak lepas dari cekalannya sedikitpun.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka berdua sudah sampai di apartement. Miko memarkir motornya di parkiran khusus motor.


Andini menunggu di ruang tamu sambil mengamati sekeliling, apartement itu terkesan membosankan, tak ada hiasan atau foto di sekeliling ruangan tamu. Andini memaklumi semua itu karena pemiliknya seorang pria.


Miko yang sejak tadi di dalam kini keluar dengan membawa ember berisi air hangat.


"Miko, aku sudah menduga pria itu kamu!" Andini tak terkejut, sejak awal ia menduga pria itu adalah Miko. Adik iparnya.


Miko mengabaikan keterkejutan Andini ia malah duduk disebelah gadis yang terbengong mengamati dirinya "Mana tanganmu! Cepat tunjukkan padaku.


"Emm ... Miko aku bisa sendiri." Andin menolak Miko menyentuhnya.


"Andin, ayolah aku akan membantumu." Miko membimbing tangan Andini mencelup ke dalam wadah yang berisi air hangat. Lalu memijitnya pelan.


"Kalau dibiarkan memar ini akan menghitam, kamu mau," bujuk Miko.


Andini menggeleng pelan ia masih memandangi Miko yang sedang memijit pelan tangannya, sambil merendam, mengangkat, dan merendam lagi. Sungguh telaten.


Andini tidak mau berlama di apartement seorang pria, apalagi hanya berdua saja. Ia takut ada pihak ketiga yang tak kasat mata akan menggodanya.


"Miko apa yang kamu lakukan?" Andini mulai resah. Khawatir Arsena sampai rumah lebih dulu.


"Ini akan membuat memar di lenganmu ini akan cepat hilang"


"Miko aku nggak kenapa-kenapa? Percaya deh!"


"Udah diem! Bisa diem nggak?" Miko kini mengolesi lengan Andini dengan salep. Ini baru selesai.


"Miko, aku akan pulang, aku tak mau Arsena nanti menungguku terlalu lama." Andini meraih tas slempangnya yang berisi buku - buku mata kuliah. Dan segera berdiri dari duduknya.


Andini pamit, kini ia sudah berjalan menuju pintu keluar.


"Dia tak akan pernah menunggumu, bahkan kau tak pulang saja dia juga tak akan mencarimu, percayalah." Kata Miko sambil ikut berdiri menyaksikan kepergian Andini.


Andini menghentikan langkahnya sejenak."Mungkin semuanya benar. Aku tak pernah diinginkan suamiku juga benar, tapi bagaimanapun hubungan kami telah diikat oleh sebuah janji, aku tak mau menjadi istri yang tak bisa memegang sebuah amanah."


"Pulanglah Andini, sopir taksi sudah menunggumu di depan." Miko terlihat kecewa. Andini bisa merasakan dari nada bicaranya.


"Terima kasih Miko." Andini membuka handle pintu apartement. Ia benar benar pergi.


Andini sudah tiba di halaman apartement. Benar yang dikatakan Miko, sopir taksi sudah menunggunya disana. Ia terus saja tersenyum memandangi Andini yang melangkahkan kaki mendekatinya.


"Nona Andini." Sapanya sopan.


"Benar, Pak."


Oh kalau begitu masuklah Nona, saya akan antar anda pulang.


"Terimakasih pak." Andini membuka pintu belakang dan segera masuk.


"Jalan Pak." Perintahnya kemudian.


"Baik, Non!" Taksi mulai pergi dari halaman apartement, Miko memandangi Andini dari jendela kaca. Entah kenapa ia begitu kasian dengan gadis muda istri kakak tirinya itu. Entah kasian atau ada yang lainnya Miko sendiri juga belum tau perasaan seperti apa yang kini hinggap di otaknya.


Andini, setiap kali bersamamu entah kenapa aku merasa terhibur." Gumam Miko sambil terus memandangi taksi yang meninggalkan halaman apartement.

__ADS_1


***


__ADS_2