
Davit lega telah mengutarakan isi hatinya pada Zara. Setidaknya gadis itu mengerti kalau dirinya memiliki rasa cinta pada wanita yang menjadi kepercayaan Nona mudanya.
"Zara terima aku yeah, walaupun aku hanya seorang sopir, aku janji akan mencintaimu dirimu sepenuh hati, aku akan berusaha membahagiakan dirimu," gumam Davit dalam hati.
"Darimana Vit? Kita cari'in dari tadi." Tanya Arsena. Tak lama pandangan Arsena tertuju pada gadis muda yang berjalan dari arah yang sama dengan Davit menuju ruang Mama dirawat.
"Mm ... aku tahu sepertinya ada sesuatu diantara kalian berdua."
"Do'akan sukses, Tuan. Sedang berjuang." ujar Davit.
" Perjuangkan, aku akan mendukungmu." Arsena menepuk pundak Davit. Lalu mengayunkan tangannya kearah makanan. mempersilahkan Davit mencicipi menu buatan istrinya.
Mereka akhirnya sarapan bersama disebuah ruangan besar, ruangan yang dijadikan tempat kunjungan Arsena pada rumah sakit ini
Dua hari kemudian
Keadaan Mama semakin membaik Dokter Vano sudah mengizinkan pulang, walaupun di rumah Nanti Mama masih membutuhkan perawatan ekstra. Akan ada dokter yang setiap hari datang untuk memeriksa kondisinya secara intensif.
"Pagi, Mama!" Sapa Andini menghampiri mama yang sedang menjemput sinar matahari pagi dan sejuknya udara pagi di koridor.
Andini membawa nampan berisi teh manis hangat dan sandwich.
"Pagiiii, Bu mil udah cantik aja," Rena melihat Andini menghampiri dirinya dengan rambutnya yang masih basah. Rena tersenyum senang membalas sapaan Andini.
"Repot banget sih, menantu Mama."
" Nggak Ma, ini cuma teh aja." Andini duduk di sebuah kursi kecil membuat duduknya bersebelahan dengan mama.
"Sayang, bagaimana kehamilannya? Apa sudah pernah ngidam yang aneh aneh?"
"Andini belum pernah ngidam, entahlah mungkin dia nggak mau bikin repot papanya mungkin, Ma ." Kata Andini menundukkan kepala. Menyapa bayinya yang bergelung nyaman di perutnya dengan mengelus perut Andini dengan lembut.
Ada kebahagiaan tersendiri buat Andini saat melihat perutnya makin hari makin terlihat membuncit.
"Andini, sebaiknya segera USG saja, biar kalian tau jenis kelamin anak kalian. Mama sudah nggak sabar pengen belikan baju sama buat dekorasi kamarnya."
" Mama, seharusnya itu semua bisa dilakukan dalam waktu dekat, kan. Tapi Andini dan Ars sudah sepakat kita tak akan menanyakan jenis kelaminnya nanti, biar jadi kejutan kalau sudah lahir."
"Ouuuuh,boleh juga ide bagus, ya udah deh jika itu mau calon orang tua si mungil, Oma bisa apa." Rena tersenyum sambil menyeruput teh di depannya.
Walau sedikit kurang gula. Namun Rena tetap menghabiskan teh hangat buatan menantunya. jika dia mengatakan pada Andini pasti alasannya karena sayang mama, hingga dia tak memberinya banyak gula.
"Andini !"
"Iya Mam?"
Rena menatap Andini dengan tatapan sendu. Rena meraih jemari Andini dan meminta maaf. "Andini mama minta maaf selama ini ...."
__ADS_1
"Sttt, Sudah Mama, jangan diulangi lagi, Andini sudah memaafkan Mama. Jika Mama benar-benar menerima Andini, Andini hanya meminta jika kelak cucu cucu Mama lahir mama terima dia apa adanya." Andini memeluk Mama dengan erat dan hangat.
"Tentu sayang, tentu, mama janji."
"Terima kasih Mama."
"Mama sarapan dulu, karena jam delapan nanti, Dokter Vano akan berkunjung ke mari." Andini mengingatkan.
"Ya, Dr.Andini. Mama akan menjadi pasien yang penurut di rumah ini." ujar Rena sambil membuka rem kursi rodanya. Andini berdiri lalu mendorong pelan-pelan menuju ruang makan."
"Bi, tolong ambilkan makanan khusus untuk mama."
"Iya Nona."
Bi Um membawakan sepiring nasi yang hampir mirip bubur dengan semangkuk sayur bening berisi bayam dan jagung muda lengkap dengan ikan tuna goreng.
"Mama sementara makan dengan kolesterol rendah dulu. Ini semua Andini yang masak."
"Sayang, jam berapa kamu bangun, pasti capek, kasian cucu Mama diajak capek capek bangun pagi buta dan memasak." Mama dengan semangat mencium aroma masakan Andini.
"Ya Tuhan, mama sesungguhnya baik banget, apa mama sudah benar-benar sadar? Tuhan tolong maafkan aku yang masih meragukan mama," batin Andini masih bergelayut penuh keraguan, dengan susah payah Andini berusaha menepis semua dari hatinya.
"Mama, makan yang banyak ya, kalau suka masakan Andini, nanti aku masakin lagi"
"Kalau cuma Masak buat Mama, nggak mungkin Andini capek, Ma. Kalau nggak ngapa ngapain Andini malah ngantuk aja. Pengen kerja juga nggak mungkin dapat izin kan."
"Saran Mama nggak usah kerja, nurut aja sama Arsena, kalau ada apa apa dengan kandungan kamu, Arsena akan menjadi orang paling sedih nanti. Mama nggak mau itu terjadi."
"Lagi ngomongin aku ni?" Sosok Arsena nongol dari balik pintu. Karena mendengar namanya berulang kali disebut membuat ia tertarik ikut nimbrung. Rambutnya acak- acakan dan ia hanya memakai celana kolor tanpa baju. Ia memeluk Andini dari belakang.
"Yang dibicarakan panjang umur rupanya. Andini lihatlah suamimu." Mama geleng kepala lihat tangan Arsena terulur hendak mengambil pisang goreng hangat.
"Ars ... mandi dulu sana, kamu pasti belum mandi, Kalau kamu masih jelek gini yang lain pasti nggak doyan makan nanti." Andini mendorong Arsena supaya kembali ke kamar dan lekas.
" Sayang, tapi aku sudah gosok gigi, nafasku juga sudah segar.
"Ehm, mandi sana, masih belum junub juga," celetuk Mert yang baru keluar kamar dengan tampilan sudah rapi, ia berbicara sambil menarik satu kursi dan menghempaskan pantatnya.
"Sok tau lo."
"Ya taulah, Mbak Andini aja pagi-pagi udah basah-basah. Ngapain coba? Dingin gini keramas pagi-pagi."
"Mert!!" Andini mencebikkan bibirnya
" Maaf," Mert menyentuh kedua telinganya. tanda mohon ampun pada Andini.
__ADS_1
" Mert, buruan nikah sana, biar nggak jahil sama kakak kamu." Mama Rena ikut menimpali.
"Nikah sih mau, tapi calonnya yang belum ada."
"Masa sih Mert, cowok setampan kamu sudah sebulan disini, tapi belum ada satu cewek pun yang nyangkut sama kamu." ujar Andini lagi.
"Kamu terlalu mentarget kriteria kamu mungkin?" Mama Rena menimpali.
" Nggak Mbak, Dia nya nggak peka."
" Ouh." Andini mengangguk. "Siapa? Zara?"
Zara yang sedang sibuk di dapur yang hanya dipisahkan dinding kaca tebal. tertutup kaca, sontak menghentikan aktifitasnya.
"Yang gentle dong Mert, kalau didiemin aja, dia mana tahu. ujar oma. yang ikut sarapan pagi. Oma baru kembali dari joging dan menyeruput segelas teh yang tersaji di meja.
Sedangkan Mita dan Johan sudah rapi, hari ini rencananya mereka akan menjemput Miko dan Dara di bandara Juanda.
"Ma, cepat sembuh ya, aku akan jemput Miko dan istrinya dulu." ujar Johan sambil membungkukkan badannya memeluk Renaa dari belakang. Terlihat ia mencium pipinya juga.
"Hati hati ya, Pa."
"Iya, Ma. Kalau mama butuh sesuatu telepon aja, biar papa belikan."
" Ok, pa."
"Mbak, aku berangkat dulu ya." Pamit Mita
"Iya. Apa nggak sebaiknya sarapan dulu."
"Nanti aja Mbak, takut mereka keburu sampai di bandara, kasian kalau nunggu."
Mita dan Johan terlihat begitu serasi, mereka bagai pasangan seorang dewa dan Dewi yunani. Mita memakai gaun selutut warna silver, dan high hell yang senada, Johan juga memakai baju warna yang sama.
Melihat mereka begitu bahagia, membuat Rena sedikit melengkungkan bibirnya. Baru kali ini dia begitu ikhlas melihat suami dan madunya pergi berdua.
"Mama, ayo dimakan, habis sarapan nanti Andini pijitin." Andini berusaha mengalihkan pandangan Mama agar tidak fokus pada mereka berdua.
"Kamu baik banget sih, Ndin. Mama sekarang cuma mau kamu duduk di sebelah Mama dan temenin sarapan, titik."
Andini menurut kata-kata Mama. Ini pertama kalinya mereka makan di meja bersama.
Diam-diam Arsena yang sudah selesai mandi mengintai kerukunan mereka berdua dari kejauhan.
Arsena bahagia, ia terharu mama dan istrinya kini sudah menjadi akur.pria itu menitikkan airmata bahagia. Arsena ingin berterima kasih dengan hal besar di pagi ini pada Andini. Andini pantas mendapat kebahagiaan ini.
Arsena bergabung disebelah Mert. Pria yang sejak tadi fokus melirik kearah Zara di dapur itu seketika mengalihkan pandangannya karena malu. membuat Arsena mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Arsena hanya diam, tak ingin ikut campur urusan cinta segitiga mereka, rupanya cinta Mert dan Davit telah tertuju untuk wanita yang sama.