Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 229. Cinta yang lebih baik.


__ADS_3

"Kalian sudah saling kenal?" Andini membulatkan matanya menatap Vanya tak percaya. " Vanya kenapa kau tak bilang kalau kau pernah punya teman bernama Ken?"


" Andini jangan salah sangka dulu Ken ini temanku waktu masih di bangku SMA. Dan aku nggak nyangka dia adalah ayah dari Rara bayi yang aku asuh." Vanya masih dalam mode antara terkejut dan malu


Vanya menggeser tubuhnya yang menghalangi pandangan Ken pada Rara yang sejak tadi di gendongan Bibi. Bibi maju beberapa langkah mendekati Vanya, lalu memindahkan bocah kecil itu ke gendongan ibu asuhnya.


"Vanya nggak nyangka ya kita bisa bertemu lagi. Meskipun pertemuan kita kali ini sangat berbeda dengan masa yang dulu pernah kita lalui bersama." Dua kebahagiaan sekaligus buat Ken untuk satu waktu. Bertemu dengan Rara putrinya dan juga bertemu dengan Vanya yang tak lain adalah wanita masa lalunya.


Moment ini sangat menguntungkan bagi Ken dan Vanya, tapi Andini tak mau jadi pengganggu di pertemuan dua insan yang memiliki masa lalu entah bagaimana cerita mereka dulu pernah bersama.


"Bi, aku lapar, bagaimana kalau cari makan ayam bakar." Andini mengelus perutnya yang sebenarnya tak lapar lapar amat sih. Tapi dia ingin memberi kesempatan pada Vanya untuk berbicara empat mata dengan Ken.


Harapan Andini nie, syukur-syukur kalau ternyata Vanya dan Ken berjodoh. Jadi mereka bisa sama-sama mengasuh Rara. Lili sudah tak ada harapan bisa menjadi Ibu yang baik untuk Rara. Karena Andini tahu sendiri dia kerap kali menyiksa Rara dan membentak seperti orang gila saat marah.


" Andini mau ke mana?" Vanya mengerucutkan bibirnya tahu Andini akan meninggalkannya berdua dengan Ken.


" Aku lapar Vanya. Aku akan cari makan di warteg dekat-dekat sini saja. Kamu pasti nggak lapar kan?" Andini tersenyum menggoda Vanya. Lalu menyeret lengan Bibi keluar.


Tak lama seorang polisi menghampiri Ken. " Saudara Ken anda bisa temui tamu anda diluar sel. Namun anda akan tetap didampingi oleh kami."


Seorang polisi membuka kunci jeruji. Akhirnya ken diberi kesempatan untuk keluar sel, walau sebentar tak mengapa, ini pasti Andini yang meminta tadi.


Ken dan Vanya kini duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan khusus untuk menerima tamu yang berkunjung


" Vanya Enggak nyangka ya kita bertemu lagi."


" Iya," jawab Vanya pendek. Pertemuan dengan Ken hari ini begitu mengejutkan bagi Vanya. Pria yang dulu sangat ia benci karena selalu memperhatikan gerak-geriknya dari jauh itu telah ada didepannya.


Vanya tidak suka sama Ken, dulu karena pria itu terlihat buluk, selain itu Ken suka bolos. Tak menyangka pria sederhana itu kini tumbuh menjadi pria tampan walaupun kulitnya hitam tetapi wajahnya sangat manis, otot kekar menonjol di urat lengan dan lehernya. Menunjukkan kalau dia adalah pria yang tangguh.


"Vanya benarkah kata Andini tadi kamu masih sendiri? Kok aku nggak percaya ya wanita secantik kamu sampai sekarang belum menikah."


Vanya kembali tersenyum " Ya beginilah dua tahun jagain jodoh orang, aku ditikung sama teman seprofesi, dia juga kerja di rumah sakit itu. Tapi aku ikhlas kok."


" Siapa pria itu berani-beraninya dia mempermainkan perasaan wanita?" Ken Sudah mengepalkan tangannya menahan emosi.


" Santai, nggak usah dibuat berat. Kalau belum jodoh mau gimana lagi. Setidaknya kita juga tahu watak aslinya. Justru aku bersyukur banget loh kita putus sebelum menikah. Daripada udah nikah jadi janda." Vanya bercerita dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya berkata kuat tapi hatinya tetap saja rapuh.


Ken tersenyum tipis, saking tipisnya bahkan tidak terlihat oleh Vanya. " Kamu tidak pernah berubah, berlagak sok kuat tapi ternyata dalamnya rapuh seperti rempeyek." Ken menyerahkan sapu tangan berwarna coklat yang selalu ia simpan di saku celananya.


Vanya menerima saputangan yang diberikan oleh Ken. " Udah kamu pakai belum."


" Najis amat sih sama gue, belum. Itu baru selesai aku cuci tadi pagi."


Vanya menggunakan satu tangan kanan untuk mengusap titik air mata yang ada di pipinya." Makasi ya."


" Untuk Apa?"


" Untuk sapu tangannya, aku bawa dulu. Nanti aku akan cuci.


" Udah sini nggak apa apa. Nggak perlu dicuci. Buat kenang-kenangan." Ken merebut sapu tangan dari tangan Vanya. Senyumnya makin lebar.


"Gaje banget sih." Vanya mencebikkan bibirnya.


Mereka berdua akhirnya bisa tertawa lepas bersama.


"Oeek oeek" si kecil dalam gendongan Vanya menggeliat


" Rara sudah bangun ya sayang?" Ken hendak mengambil Rara dalam gedongan Vanya.


"Rara ikut ayah dulu ya. Ayah kangen udah seminggu gak ketemu." Vanya benar-benar melepaskan Rara. Tubuh mungilnya kini sudah berpindah di dekapan lengan kekar Ken.


Setiap kali bertemu Rara Ken tak lupa selalu mengecup keningnya hingga berkali-kali. " Ken bagaimana kamu bisa ada di sini? Siapa bunda Rara?


" Ceritanya panjang, nggak akan habis kalau aku ceritakan hanya dalam waktu tiga pulih menit ini. Aku telah melakukan kesalahan terbesar Vanya. Mungkin tak akan bisa dimaafkan lagi."


" Rara sesungguhnya adalah bukti kesalahanku yang nyata. Aku telah melakukan kekhilafan yang mungkin tak dimaafkan oleh tuhan dan juga Tuan Arsena.

__ADS_1


" Sabar Ken, Tidak ada kesalahn yang tidak akan dimaafkan kalau kita ingin berubah."


" Kamu memang benar Vanya. Tapi aku tak ingin mengingat semuanya. Aku anggap semua itu angin berlalu. Salah aku juga sebenarnya yang mudah tergoda oleh sebuah tampilan luar saja.


"Siapa wanita itu? Apakah dia begitu istimewa sampai meruntuhkan pertahanan Ken."


" Dia mantan wanitanya tuan Arsena. Liliana."


" Liliana? jadi Rara anak kamu dengan Liliana?" Tanya Vanya.


Vanya tidak terkejut kalau Ken tertarik dengan Liliana. Tapi yang Vanya heran Kenapa Lili bisa melakukan hal seperti itu dengan Ken.


"Apa kamu dan Lili saling mencintai?" Vanya menatap Ken tanpa berkedip. Menuntut sebuah jawaban kejujuran dari pria itu.


" Aku mencintai dia tapi tidak dengan dia. Dia hanya memanfaatkan cintaku yang tadinya tulus. Ah aku malas bahas dia. Mending bahas kita saja."


"Kita? Apa yang mau kita bahas. Bertemu saja baru beberapa menit."


" Kita bahas masa yang akan datang. Siapa tahu ternyata kita jodoh di masa yang akan datang" Goda Ken.


Hanya menundukkan kepalanya tersenyum malu, jujur Vanya dulu juga sempat menyukai Ken. Tapi sayangnya dia terlalu gengsi untuk mengakui. Vanya baru sadar kalau dia kehilangan Ken disaat pria hitam manis itu pindah sekolah.


"Rara, kamu mau nggak punya bunda beneran seperti Bu Dokter di depan kita ini?"


" Mau yah." Ken menjawab sendiri pertanyaannya. Sedangkan Vanya hanya bisa tersipu malu, pipinya memerah seperti kepiting rebus.


" Ken apa yang kamu katakan. Anak kecil nggak akan mengerti."


Tapi Rara mengerti kalau kamu sangat menyayanginya. Vanya, buktinya dia tersenyum"


" Rara kita pulang ya, kapan kapan kita temui Ayah Lagi."


" Iya sebentar lagi malam akan tiba, mending kalian pulang sebelum makin larut. Vanya makasi ya udah mengasuh Rara. Tunggu Papa pulang ya Bunda." Vanya berdiri disusul oleh Ken mereka merapatkan tubuhnya sesaat memindahkan Rara yang terlihat kembali mengantuk dari gendongan Ken beralih ke gendongan Vanya.


"Saudara Ken dimohon untuk kembali ke sel. Waktu anda telah habis." Salah satu polisi mengingatkan Ken.


" Ken membiarkan lengannya diborgol lagi. Tadi ia meminta petugas untuk membukanya sebentar. Karena Ken ingin menggendong Rara. Dalam pengawasan yang ketat akhirnya diizinkan untuk menggendong Rara sebentar.


Vanya akhirnya berjalan keluar dengan membawa Rara. Ken terus saja menatap punggung hanya yang berjalan menjauhinya.


Dalam hati Ken berdoa. Meminta pada Tuhan intuk sebuah pertanda. ' Jika kamu menoleh maka kita adalah jodoh dan jika kamu berlalu maka kita juga jodoh.'


'Vanya aku hitung sampai tiga maka kau akan menoleh.'


Satu


Dua


Tiga


"Ken aku pulang dulu ya" Vanya tersenyum sambil melambaikan satu tangannya ke arah Ken.


Iya hati hati." Ken membalas lambaian tangan Vanya. Seketika itu jantung Ken dag dig dug tak karuan. Mendadak wajah Ken berbinar-binar dan senyumnya mengembang sangat lebar.


____


Ternyata Andini sudah menunggu diluar dengan bibi dan perutnya tentu sudah kenyang karena telah menghabiskan masing masing satu porsi itik goreng masak sambal hijau.


"Sudah ketemuannya? Sama mantan? Kelakar Andini.


" Mantan? Mantan darimana? Nggak Andini kita itu cuma teman biasa."


" Teman apa demen?" Andini masih terus menggoda.


" Teman Andini. Udah ah kita pulang. Kasian Rara kedinginan." Vanya menyerahkan Rara yang kembali lelap dalam gendongan Bibi. Setelah itu ia berpelukan sebentar dengan Andini.


Vanya sejak tadi ingin mengatakan kalau Andini terlihat lebih cantik saat memakai hijab. Namun Vanya lupa karena sejak datang tadi sudah fokus dengan Ken.

__ADS_1


" Pantes Nggak ?" Tanya Andini.


" Sipp pantes banget," puji Vanya. kedua sahabat itu pun kembali tersenyum. Sudah saatnya mereka pulang ke rumahnya masing masing.


*****


Vanya mengemudikan mobilnya ke arah perumahan. tiba-tiba dia ingat kalau persediaan susu Rara habis diapers juga mau habis.


Bi, aku beli popok dulu sepertinya persediaan sudah mau habis.


"iya Non."


Vanya segera turun dari mobil dia memborong banyak sekali keperluan untuk bayi. entah apa penyebabnya setelah mengetahui kalau Rara adalah putri Ken Vanya makin sayang dengannya. Vanya tak mempersalahkan siapapun ibunya yang ia tahu anak itu sedang butuh sosok yang menyayanginya dengan setulus hati.


Vanya penuh kasih ninabobokkan Rara saat dia terbangun di tengah malam. Dia juga rajin memeriksa diapers nya saat mulai tak nyaman.


******


Andini dan Davit masih dalam perjalanan pulang.


"Nona, Tuan Arsena terlihat sangat marah." ujar Davit saat ia memeriksa ponselnya yang terdapat beberapa pesan suara singkat.


" Marah kenapa? apa kamu bikin salah?"


" Tidak Nona sepertinya anda yang melakukan kesalahan. coba cek ponsel Anda."


" Ponsel?" Andini menatap David sebentar. lalu segera membuka handphonenya.


Benar sekali kata Davit. "Ya Tuhan, Davit aku pasti akan habis oleh tuan Arsena. ponselku mati." Andini menunjukkan ponselnya yang tak bernyawa lagi pada Davit.


"Davit apa yang ia katakan? apa dia akan membuat aku menjadi perkedel atau mencincang tubuhku dan mencampur ke dalam sup?"


" Tidak mungkin Nona, Tuan Arsena mungkin hanya akan menghukum anda dengan mengurungnya di dalam kamar atau dia akan meminta Anda memijit tubuhnya semalaman," ujar David sambil tertawa.


Andini juga ikut tertawa." Kau bahkan hafal dengan kelakuannya yang menyebalkan itu."


" Saya tahu Nona, tapi sesungguhnya dia sangat sayang pada Nons. Apakah Anda tahu saat anda melahirkan Baby Twins dia seharian tak makan atau minum.


"Apa kamu yakin Davit?" Andini tak percaya.


" Iya Nona aku melihat sendiri bahkan waktu itu aku iku menahan Lapar. karena melihat Tuan yang seharian tak makan."


Ya Tuhan." Andini menutup bibirnya dengan telapak tangannya, tak percaya.


"Davit pernikahan mu sebentar lagi sudah tak terelakkan lagi. Arini akan menjadi milikmu seutuhnya, kamu juga harus menyayangi Arini seperti keluarganya sangat menyayanginya nantinya, aku lihat dia sudah mantap dengan dirimu.


" Aku akan berusaha Nona. aku akan menjaga Nona Arini seperti keluarga Atmaja telah menyerahkan kepercayaan padaku."


Tak terasa setelah obrolan ringan yang Davit dan Andini lalui mereka sudah berada di depan mansion. Arsena sudah menunggu dengan aura menakutkan di wajahnya.


Arsena terlihat marah, urat urat dilehernya tampak menonjol dengan keras.


Andini turun dari mobil dengan wajah menunduk tanpa berani menatapnya mungkin ini akan menjadi kesalahan terbesar dan pertama kali yang ia lakukan.


"Ars aku tidak tahu kalau ponselku mati. ini buktinya?" Andini memperlihatkan ponselnya yang telah padam.


Tanpa sepatah kata Arsena mengambil ponsel dari tangan Andini dengan kasar. " Arsena mencoba menyalakan berulang kali. untung ponselnya tidak bisa di nyalakan. Andini bisa bernafas sedikit lega.kali ini dia selamat.


"Kenapa baru pulang? siapa yang mengijinkan kamu jalan jalan.


" Aku hanya menemui Rara"


" Jangan bohong Andini!" Suara Arsena sudah meninggi.


" Aku mengantarkan Rara menemui ayah nya"


Arsena menarik nafasnya dalam dan menghembuskan dengan kasar. kamu tahu kan Andini aku tak suka di bohongi.

__ADS_1


" Iya Ars, aku minta maaf."


__ADS_2