
Sampai di depan kamar hotel, Davit segera menghentikan langkahnya" Nona masuklah sendiri, aku akan menunggu di tempat lain saja.
"Kak Davit." Arini merajuk.
" Nona, kakak anda sedang dalam masalah. Aku akan menyampaikan semuanya saat semuanya sudah clear." Davit memberi pengertian. Tersenyum tipis pada kekasihnya.
"Nona, bisa telepon aku saat membutuhkan sesuatu." Davit menggenggam tangan Arini dengan hangat. Sebelum membalikkan tubuhnya hendak menuruni lift. Arini terus menatap punggung David yang bergerak menjauh.
"Tunggu!" Teriakan Arini menghentikan langkah Davit. "Kak Davit, ada yang ketinggalan."
" Ketinggalan? Davit tak mengerti, dia memeriksa ponsel disaku dan handset yang selalu menempel di telinganya.
"Nona, kau pasti bercanda." Davit merasa tak ada yang kurang satupun, semua benda yang selalu menemaninya saat bekerja sudah berada bersamanya.
Arini segera berlari, dia berhenti tepat di depan Davit. " Kau melupakan sesuatu, Kak." Arini menjinjitkan tubuhnya, berusaha menjangkau wajah Davit, Arini mengecup pipi Davit.
"Terimakasih Nona, akan ku jadikan kecupan ini untuk penyemangat hidupku."
Davit pun mencium bibir Arini di tempat sepi itu, Arini membalasnya dengan hangat. Davit pun ikut gila, entah sejak kapan bibir Arini itu menjadi candu untuknya.
Tanpa disadari ada sepasang bola mata yang menyaksikan aktifitas mereka berdua. Wanita itu malu jika dua sejoli itu melihat kehadirannya. Akhirnya diapun memilih pergi.
*****
Arsena menggeliat malas, ketika merasakan pipinya basah oleh sebuah sentuhan hangat. rupanya sang istri lebih dulu bangun. Dia yang mengecupi pipinya berulang kali tadi, hingga terasa basah .
"Ars, bangun. Sudah sore, buruan mandi. Kita video call anak-anak lagi yuk?"
"Emmm." Menggeliat lagi.
"Kok cuma emm doank sih, cepat bangun, buka matanya." Andini menahan kelopak mata Arsena agar tak terpejam lagi.
"Aku capek, habis kudanya liar banget." Arsena mempertahankan tubuh Andini tetap di dekatnya, melingkarkan lengan di pinggang Andini yang posisinya menghadapnya. Wajah mereka kembali berdekatan, Arsena hendak mencium bibir Andini. telapak Andini menghalanginya." Jangan Ars, kau belum gosok gigi, masih bau jigong males ah, "
"Oke oke, aku akan bangun, mandi, gosok gigi, tapi janji ya setelah ini berikan aku sarapan bibirmu yang selalu bikin lapar itu."
Arsena dengan muka malas, akhirnya turun juga. Meraih handuk yang terlipat rapi setelah disiapkan Andini. lalu berjalan ke kamar mandi.
Saat Arsena menyelesaikan mandi, Andini segera menuju pintu masuk, dia tadi sudah melihat Arini ada disana bersama Davit saat hendak menutup tirai jendela.
__ADS_1
"Arini ! " Andini segera menarik lengan adiknya dengan tak sabar lalu menutup pintu lagi dengan tergesa gesa.
"Davit mana?"
"Kak Davit menunggu di koridor."
"Kenapa nggak diajak masuk sekalian?" tanya Andini. Mencoba ingin melihat reaksi Arini.
"Emm dia nggak mau, Emang nggak apa apa, Kak Davit ikut masuk bersama kita disini?"
" Kenapa nggak? dia juga butuh istirahat."
" Tidak usah, kak Davit akan nyaman diluar saja."
"Arini, apa kamu dan Davit ada hubungan special? kakak baru saja lihat kalian tadi ber ... Andini memotong ucapannya, takut adik kecilnya malu. "Ada apa antara kamu dan Davit?"
" Lihat apa kak?"
" Lihat kalian saat baru keluar dari lift tadi."
"Mbak Andini, bikin Arini jadi malu, Nggak ada apa kak, kami cuma berteman?"
"Nggak ada apa apa kamu bilang? tapi kamu mencium dia? Bagaimana kalau kak Arsena tau?" Andini terlihat kecewa dia berdiri hendak meninggalkan Arini yang baru beberapa menit duduk di sofa.
" Sayang, kamu yakin itu cinta, atau sebatas kagum saja, jangan-jangan kamu suka karena Davit telah menyelamatkan kamu waktu itu? Mbak cuma bisa kasih saran. Serius belajar Kak Arsen ingin melihat kamu menjadi wanita yang berhasil dan bisa memimpin perusahaan seperti yang lainnya."
" Tapi Arini ... Arini bisa menikah sambil kuliah, Arini akan membagi waktu dengan baik."
Andini menarik nafasnya panjang, adik kecil, manisnya. Ternyata sudah ingin menikah. Mereka berdua akhirnya saling diam dan melamun.
Akhirnya Arini membuka suara lebih dulu. "Mbak, bisakah menolongku menyampaikan semua kepada Kak Arsena."
Andini mengangguk. " Akan aku bantu. Jika Davit memang sudah menjadi pilihan dihatimu," ujar Andini bijaksana.
****
Arsena sudah selesai mandi, dia terkejut ada Arini sudah ngobrol dengan istrinya. Arini datang bukan malah senang, Arsena memarahi Arini dan mengatai adik semata wayangnya itu gadis yang hobinya keluyuran.
"Ars, Arini mengkhawatirkan kita, kenapa kamunya harus marah?"
__ADS_1
"Iya, Arini khawatir dengan kondisi Mbak Andini. Kenapa kalian berdua tak pulang saja." Arini berdiri lalu mendekati Arsena yang duduk di sebelah Andini, dan mencium tangannya.
"Kakak akan pergi setelah semua selesai. Sebaiknya kamu pulanglah, urus Excel dan Cello dengan baik. Jangan biarkan dia berdua saja denga dua ular yang ada dirumah, setelah masalah ini beres, aku akan segera membersihkan dia dari rumah kita."
" Kenapa nggak di pecat saja, kalau memang mereka membahayakan?" Tanya Arini.
"Dipecat? Bodoh sekali," Arsena mengacak rambut Arini gemas. "Menangkap musuh yang bersembunyi di selimut kita akan lebih mudah daripada harus menangkapnya diluaran sana. Ngerti!!"
"Arini mengangguk, ya aku mengerti," ujar Arini memeluk kakaknya yang masih wangi sabun.
Melihat Arini dan Arsena yang sedang asyik menikmati cake cheese buatannya, Andini pamit sebentar dengan beralasan yang diizinkan Arsena. Membiarkan mereka berdua saja. Semenjak menikah, Arsena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Ars, aku ingin cari angin di koridor, tolong temani Arini sebentar ya?"
"Jangan lama-lama, Sayang." Arsena mengecup pipi Andini yang sengaja didekatkan.
"Jangan lupa bawa ponsel." Arsena mengingatkan
"Oke sayang." Jawab Andini yang sudah siap di pintu keluar.
Rupanya hari ini Andini memiliki misi tersendiri, Setelah sampai di nomor kamar 101, Andini segera mengetuk pintu pelan-pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Ceklek!"
Vanes terlihat terkejut Andini datang ke kamarnya. "Nona Arsena?!"
"Iya, ini aku. Aku tadi lagi boring banget di kamar terus aku memutuskan untuk keliling hotel sebentar, eh ternyata tak terasa sudah sampai di kamar milik kamu, kita masih satu lantai dan cuma dipisahkan dengan dua kamar saja. Semua seperti kebetulan ya, kita berada ditempat yang selalu sama," jelas Andini panjang lebar.
Vanes hanya tersenyum simpul.
"Oh, iya, aku ingin melihat bayimu, apa dia sedang tidur?" tanya Andini lagi.
"Bayi? Oh iya. Dia sedang bermain main di bok miliknya. Dia sangat aktif, Ngomong ngomong apa bayimu juga baik baik saja?" Tanya Vanes sambil berjalan masuk, diikuti Andini di belakangnya.
"Iya, dia baik saja, bayiku sedang jalan jalan ke luar negeri bersama keluarga besar Arsena," kata Andini dusta.
"Senang ya, keluarga Arsena begitu baik denganmu, dia juga dulu sangat baik denganku ...."
__ADS_1
"Tentu, mereka sangat baik, tapi kenapa dia bisa mengenalmu?"
"Maaf, maksutku keluarga Andrew juga bisa menerimaku dengan baik "