Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 19. Derajatku sekelas ART di rumahmu.


__ADS_3

Taksi yang dinaiki Andini sedang melintas di depan toko souvernir dan perhiasan.


Kebetulan Andini sedang menoleh ke arah toko tersebut, tak sengaja netra dengan warna iris hitam itu sedang menangkap bayangan suami dengan wanita cantik masuk kedalam, wanita itu terus saja bergelayut manja di lengannya. Mereka terlihat sangat bahagia layaknya seorang pasangan suami istri.


"Pak, bisa nggak, kita berhenti sebentar?" Tanya Andini.


"Oh bisa, Non." kata pak sopir semangat sambil menepikan taksinya tepat di depan pintu masuk toko perhiasan itu.


"Makasi Pak," Andini membuka pengait pintu, namun menutupnya kembali.


Andini melihat sekilas, segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Andini sangat sedih melihat semua itu. Namun ia kembali sadar diri, Arsena tak pernah menganggapnya istri, selama ini ia hanya wanita murahan didepannya, istri bayaran, pembantu, jala**. Entah apalagi ia menyebutnya.


"Kenapa Non? Kok nggak jadi? Kalau nona mau beli souvernir atau perhiasan biar saya tunggu disini."


"Nggak jadi Pak, kita jalan lagi aja."


"Lhah ... Non, tadi minta berhenti, nggak apa apa bener kok, Mas Miko juga udah kasih saya bayaran dua kali lipat tadi," kata sopir taksi dengan jujur.


"Ya udah kalau gitu, Non." Sopir taksi kembali menyalakan mesin mobilnya, dan memutar kemudi menyusuri jalanan sore yang mulai padat kendaraan pribadi dan motor.


Andini menyandarkan kepalanya, ia memikirkan rumah tangga seperti apa yang sedang ia jalani saat ini.


Andini, kamu jangan jatuh cinta dengan pria itu, kamu hanya akan mendapat luka saja. Dia jelas-jelas tak pernah melihatmu sebagai manusia. Kamu lihat sendiri kan bagaimana serasinya mereka. Bahkan karyawan toko tadi mereka begitu memujanya, mengambil gambar mereka untuk diabadikan.


"Non, apa rumahnya masih jauh?" Tanya sopir taksi lagi.


"Oh iya ada apa, Pak?" Tanya Andini tergagap.


"Rumah Non, masih jauh ?" Sopir taksi mengulangi kata-katanya lagi.


"Stop! Stop ! Stop! Rumah yang saya tinggali sudah lewat, kita balik lagi, Pak, ya Tuhan mikir apa sih aku," kata Andini sambil menggoyang sandaran kursi yang diduduki oleh pak sopir.


Pak sopir menepuk jidatnya. "Non lagi sakit ya? Sampai di rumah langsung istirahat aja, Non." Nasehat pak sopir yang lebih pantas disebut sebuah keluhan itu.


"Iya Pak, maaf ya sudah buat bapak repot," ucap Andini menyesali kebodohannya. Setelah minta berhenti tanpa sebab, sekarang malah kebablasan.


"Pak kita berhenti di rumah pagar kuning itu ya!"


Andini menunjuk rumah megah bak istana. Hanya rumah Arsena yang paling terlihat menonjol di gang itu.


"Oh itu rumahnya ya Non. Bagus banget." Pak sopir memandang sekeliling halaman dengan takjub.


"Bukan ... Rumah suami saya, Pak."


"Oh Non, sama aja kali."


Setelah berbincang bincang sedikit, Andini memohon pamit untuk masuk dan sopir taksi juga segera meneruskan perjalanan.


Sampai di rumah Andini tak langsung ganti baju, ia merebahkan tubuhnya di kasur usang nya.


Ia kembali teringat suaminya yang sedang bersama dengan gadis lain. Bayangan tadi terus saja terlintas di otaknya. Dia terus saja memikirkan Arsena.


Andai dirinya yang ada disampingnya pasti ia akan jadi manusia paling bahagia di dunia ini. Pernikahan yang dilakukan beberapa hari itu benar-benar membuatnya telah bodoh. Ia telah mencintai suaminya, suami yang selalu berkata kasar dan memaki. Justru membuat Andini menjatuhkan hati dan cinta untuknya.


Hati yang lelah mengundang kantuk, Lelah berfikir ia akhirnya telah tertidur tanpa menyelesaikan satupun pekerjaan rumah.

__ADS_1


***


"Ndin, apa kamu ada di dalam!?" Arsena memanggil dari luar kamarnya. Sambil mengetuk pintu berulang kali.


"Oh, sudah pulang," Andini mengucek kedua matanya. Tidur yang terganggu membuat kepalanya berdenyut nyeri.


"Iya ada apa!?" Jawab Andini dari dalam.


"Buka aja aku ada perlu," pinta Arsena mulai tak sabar.


Andini segera membuka pintu dan di depannya sudah berdiri pangeran tampan tak berkuda itu dengan senyum simpulnya. Andini merasa aneh saja, tumben Dia tersenyum.


"Ars, ada apa memanggilku ?"


"Kamu setrika baju ini, yang rapi. Aku mau pake ke acara pernikahan teman nanti malam, jangan lupa gaun ini juga. Awas kalau tidak rapi."


"I iya ... Ars kamu datang dengan siapa" pertanyaan yang paling bodoh bukan? Andini jelas melihat Arsena dan kekasihnya telah bersama. Tapi ia masih bertanya hal demikian.


"Bukan urusan kamu. ART itu tak perlu tau urusan majikan ..." Kata Arsena sambil pergi setelah melempar baju ke pundak Andini.


" He ... he ...aku pelayan ya !" Andini hanya bisa menarik nafas, bibirnya tersenyum miring. sungguh bukan ini pernikahan yang pernah ia impikan.


"Bodoh sekali kamu Andini. Apa yang kamu harapkan." Andini tersenyum kelu sambil memandang punggung lebar itu meninggalkannya.


Andini sering kali mengkhayal, kalau suatu hari akan menikah dengan seorang pria yang tampan dan sangat menyayanginya. Dan setelah menikah akan berbulan madu di sebuah tempat yang indah dekat dengan pantai, misalnya seperti pulau Dewata. Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi mimpi itu hanya menjadi mimpi, mungkin untuk selamanya.


Jangankan ke pulau Dewata, berjalan ke wisata bahari dekat rumah saja tak pernah terwujud.


"Cepat!! Apalagi yang kamu tunggu, ART?" bentak Arsena setelah menoleh ke belakang namun ia masih melihat Andini mematung di tempat yang sama.


"Ars, apakah kau tak bisa menganggapku lebih baik dari seorang ART?"


Andini memeluk Hem dan celana yang menguarkan Aroma harumnya. Parfum yang pernah ia suka, namun ternyata si pemakai bukanlah pangeran impian seperti khayalannya. Melainkan Si Pria jutek dan selalu berwajah masam.


Andini menyetrika baju yang akan di pakai Arsena. Kebetulan meja setrika terletak dekat dengan kamarnya.


Terdengar suara sayup-sayup wanita dan pria sedang bercengkrama. Mereka terdengar begitu bahagia.


Apa yang dilakukan di kamar itu? apa Arsena dan Liliana sering kali melakukan? Ah tak mungkin. Arsena sangat menjaga wanita yang dicintainya.


Andini berusaha menepis prasangka buruk itu, kalaupun iya apa yang bisa dilakukan. Bukankah dirinya hadir hanya sebagai penghalang hubungan mereka saja.


Andini mempercepat menyetrika baju milik mereka, Suara tawa yang menggema itu semakin nyaring, membuat indera pendengaran sakit.


Andini kehilangan konsentrasi, tak sengaja setrika yang telah panas itu tengkurap diatas gaun mewah warna merah milik Lili, saat ia memutar musik pop di handponenya. Alhasil di gaun tersebut tercetak sebuah setrika dengan warna coklat.


Andini panik, khawatir Lili akan memarahinya, apalagi gaun itu masih baru dan akan di pakai malam ini.


Andini bingung apa yang harus dilakukan dengan gaun itu. Saat dalam mode bingung, Lili keluar kamar meminta gaunnya.


"Gimana Andini, apa kau sudah selesai menyetrika bajuku dan Arsena?" ujar Lili tak sabar.


Andini menyerahkan gaun itu pada Lili. tangannya bergetar. Ekspresi wajahnya saat ini sungguh patut di pertanyakan.


"Lili, bajumu ... "

__ADS_1


"Kenapa bajuku? Bagus kan? Ini Arsena lho yang belikan. Aku kasian sama kamu Ndin. Cantik tapi cuma babu, lagian wanita kampungan seperti kamu nggak pantas pake baju mahal ini" Lili berbicara dengan jahatnya. Matanya yang besar seakan ikut memperolok Andini.


"Bukaaaan tapi ... "


"Ah ... Males banget gue bicara sama kamu." Lili mengibaskan tangannya agar Andini minggir dari hadapannya, lalu pergi dengan langkah Arogantnya menuju kamar Arsena.


Andini tak mau ambil pusing memikirkan baju yang bolong kena setrika itu. hitung hitung buat beli pelajaran wanita sombong seperti Lili.


Setelah Lili pergi Andini juga meninggalkan ruang setrika. Ia berinisiatif untuk duduk di taman belakang. Mungkin di taman sepi itu, dia akan menemukan ketenangan.


Andini ingin melihat senja yang sebentar lagi akan terlihat. Senja terlihat begitu indah jika dilihat dari lantai dua rumah itu.


Andini menyandarkan tubuhnya pada teralis besi, sambil mendengarkan musik dari handphonenya. Tiba-tiba lagu yang ia dengar berubah menjadi sebuah nada dering panggilan.


Andini: "Hallo ..."


Johan: "Andini ini papa"


Andini: "Papa," tersenyum bahagia.


Andini ingin mengadukan semua pada Papa mertuanya. Namun benarkah jika ia bersikap demikian? bukankah Johan sudah menyerahkan tanggung jawab ini seutuhnya pada dirinya.


Papa: "Andini kuharap papa akan segera mendengar kabar baik darimu, apakah kamu sudah berhasil menaklukkan si pria Arogant itu?"


Andini: "Belum pa, bahkan Andini sekarang mulai menyukai ...."


Johan: "Kamu mencintai dia?"


Andini: "I .... Iya" Andini mengangguk. walau Johan tak tau aktifitasnya.


Suara tawa bahagia terdengar di seberang sana.


Johan: "Papa senang sekali dengarnya, Arsena sebentar lagi pasti akan mengerti ketulusan mu Andini, bersabarlah"


Andini: "Papa yakin ...?"


Johan: "Tentu, jika kau ingin mengerti bagaimana perasaannya terhadapmu buat dia cemburu"


Justru aku Pa, yang selalu cemburu dengan kebersamaan mereka. Aku cemburu bagaimana serasinya mereka berdua.


Andini: "Pa, terima kasih sebelumnya telah membiayai pengobatan ibu."


Johan : "sama-sama, menurut Asisten Doni Minggu depan Ana sudah boleh pulang."


Andini: "benarkah? Terima kasih, Papa."


Johan: "berterima kasih pada Tuhan Nak."


Andini :"Terima kasih Tuhan."


Panggilan Andini dan Johan sudah berakhir. Mendengar kesembuhan Ibu, Andini begitu bahagia. Tak ada kebahagiaan lebih besar selain berita yang baru saja didengar.


Andaikan Papa Johan ada didekatnya sekarang, tak segan ia memeluk tubuh mertuanya dan bersimpuh di depannya. Sungguh rencana Tuhan memang sulit di tebak. Ibu sudah sembuh giliran Andini yang menerima sisa pahitnya.


"Aaaaaandin ....!!"

__ADS_1


"Apa yang telah kau lakukan dengan bajuku?!"


Suara menggelegar bak petir di siang bolong itu menghampirinya.


__ADS_2