
Seminggu setelah di RS.
"Sayang kita pulang!"
"Ars, aku tak mau tinggal di rumah itu lagi."
"Kenapa?"
"Aku takut, aku takut terjadi apa-apa dengan diriku, sakit ku belakangan ini pasti ada hubungannya dengan orang itu."
"Orang itu?"
"Siapa yang kamu maksud?"
Andini ragu ia takut jika menyebut nama Rena, akan menyakiti hati Arsena. Sebelum berkata yang sebenarnya, Andini menatap Arsena berulang
"Katakan saja Andini, jangan takut aku tak akan marah. Siapa dia?"
"Mama. Ars"
"Apa kamu yakin?"
Andini mengangguk ragu. Melihat ketakutan dimata Andini Arsena segera memeluknya berharap memberi ketenangan pada istrinya,
"Andini jika kamu yakin mama melakukannya. Maka kecurigaan ku terjawab sudah. Mama tak pernah ingin kita bersatu"
"Ars, saat di kamar mandi itu, aku merasa ada seseorang yang mendorongku, dia memiliki cincin yang sama seperti yang dipakai oleh Mama."
"Dan orang itu yakin kalau aku sudah pergi untuk selamanya, setelah berhasil mencelakai ku, dia tertawa bahagia bersama, dan suara itu ... Ada suara Anita juga."
"Baiklah, aku percaya denganmu sayang, aku akan memerintahkan orang untuk menjaga dirimu selama tak ada aku di sisimu, dan kita sementara akan tetap tinggal di rumah itu, itu rumah kita, aku membelinya dari usahaku saat masih menjadi karyawan biasa, kita tak boleh pergi, kita akan menangkap pelakunya langsung di rumah kita sendiri," kata Arsena panjang lebar.
"Ars, bagaimana jika benar Mama?"
"Siapapun dia, orang jahat pantas menerima ganjaran sesuai perbuatannya, sekalipun itu Mama"
Arsena masih setia memeluk Andini dia tak ingin melepasnya sekarang, Andini juga mengeratkan tangannya lebih erat lagi, dia masih khawatir, trauma masih menghantui, ia takut mertuanya akan bertindak lebih di luar dugaan. Banyak bayangan lain yang menghantui pikiran nya kalau dia akan kembali menginjakkan kakinya di rumah mewah .
Jantung Andini berdetak cepat, Arsena mengerti ketakutan Andini." Jangan takut selama ada aku, mungkin selama ini aku lengah, tapi setelah kejadian ini aku akan menjadi orang paling waspada dengan keadaanmu."
"Ars, bagaimana kalau aku tinggal dengan ibu?"
"Maaf Andini, aku tak bisa jauh darimu. Maafkan aku jika cintaku terlalu besar untukmu sekarang. Aku hanya akan tenang jika setiap saat melihat kau aman."
Tok tok ...
"Tuan, Nona. Karena infus yang terakhir sudah habis, anda sudah diizinkan pulang, izinkan saya melepas infus di tangan istri anda, Tuan." Kata seorang perawat pria.
"Silahkan, lakukan hati hati jangan sampai istriku kesakitan"
"Saya akan berusaha maksimal Tuan."
"Bagus, lakukanlah sekarang."
"Ars, ngomong apa'an sih. Jika kamu bicara seperti itu, yang ada dia malah grogi."
"Maaf Non, bisa tahan sebentar," kata perawat mulai menggenggam jemari Andini.
Andini mengangguk tanda setuju, ia berusaha menahan nafas sebentar saat perawat mencabut infusnya.
Setelah berhasil, Andini dan Arsena segera keluar ruangan, masih sama, cinta Arsena tak kurang sedikitpun pada Andini, melewati hari bersama seperti ini, justru cintanya semakin besar setiap harinya.
"Mas, gara-gara aku kita jadi bolak balik rumah sakit kayak gini." Kata Andini yang berjalan tertatih. Lengannya memeluk pinggang Arsena.
Andini dan Arsena segera meninggalkan rumah sakit yang terasa asing itu. Karena waktu itu Arsena amat panik, jadi di membawa Andini ke RS yang paling dekat dengan restaurant saja.
__ADS_1
"Kak, udah pulang! Maaf, Dara terlambat besuk." Gadis remaja dengan penampilan sederhana memakai celana jeans panjang dan kaos longgar nampak menghentikan langkahnya di depan Arsena yang memapah bobot tubuh Andini. Gadis itu membawa bingkisan kecil di tangannya.
"Pengantin baru, nggak apa-apa, kita ngerti kok," celetuk Arsena menggoda adiknya.
Namun, Dara terlihat diam, tak banyak komentar menanggapi godaan kakak iparnya." Kakak ipar apa'an sih."
"Dara tolong kabar ini jangan sampai ke ibu, aku nggak mau ibu sedih," pinta Andini. Sementara meminta berhenti dan duduk di kursi panjang yang ada di taman.
"Masih di rumah, Kalian belum gunakan tiket bulan madu itu?" Tanya Arsena.
Dibalas gelengan kepala Dara. " Kak Miko belum ingin bulan madu. Dia tak mau melakukan apapun sebelum dia kembali ingat semuanya."
"Apa dia bersikap baik padamu?" Tanya Arsena lagi. Pria itu lebih tepatnya ingin menyelidiki hubungan pengantin baru itu
"Sikapnya baik, dia bilang aku seperti adik baginya," jawab Dara dengan polos.
Andini mengernyitkan dahinya, sedangkan Arsena tersenyum.
"Tidak terlalu buruk, Miko pasti akan menerima kehadiran Dara secepatnya." Kata Arsena.
"Dara, setidaknya Miko tidak memaki dan meneriaki dirimu. Apa kalian tidur terpisah atau di tempat yang sama?" Tanya Andini, ia khawatir jika hal buruk akibat perjodohan itu terjadi juga pada adiknya.
Em, tidak boleh jujur, aku malu, jika bilang kak Miko ingin aku tidur di bawah kakinya. Dengan sebuah alas kasur busa tipis.
"Tentu kita tidur sekamar kakak, bukannya aku sementara ini harus merawat suami dengan baik. Dia sangat membutuhkan perhatianku. Aku harus mengingatkan dia saat minum obat."
"Oh bagus kalau begitu, setidaknya Miko tidak sekejam tuan muda seperti di komik yang sering aku baca." Andini melirik kearah Arsena yang sejak tadi sudah merasa tersindir oleh istrinya.
"Sayang, Tuan muda di komik itu, bukannya sudah sangat mencintai istrinya, sekarang dia sudah bisa melakukan apapun untuknya. Dia juga sangat setia."
"Wah kalian berdua, rupanya penggemar komik. Aku juga." Dara bahagia, kakaknya belum meninggalkan hobi nya baca komik.
Arsena, Andini ingin tertawa dengan ketidaktahuan Dara. Benar-benar gadis polos.
"Kak ini aku bawakan makanan kesukaanmu, dan aku harus segera kembali, Aku khawatir kak Miko akan mencari, dia juga harus makan siang dan minum obat"
Dara segera melihat ponselnya yang bergetar, ternyata dari Mita yang mengkhawatirkan keadaannya. "Mama ingin tau keberadaanku, dia amat sayang padaku."
"Pulanglah, kakak sudah baik- baik saja. Harusnya kamu cukup telepon kakak saja."
Dara pamit dengan tergesa-gesa menuju sopir yang menunggunya di halaman, gadis itu terlihat baik baik saja setelah menikah.
"Ars, aku ingin segera istirahat di rumah."
"Baiklah Sayang." Arsena kembali memapah tubuh Andini, karena tak sabar dia akhirnya kembali membopong menuju mobil.
Arsena meminta Doni memeriksa tempat duduk Andini sebelum istrinya benar-benar duduk di bangku mobilnya.
Berita kepulangan Andini sudah diketahui oleh penghuni rumah. Bi Um, menyiapkan menu-menu yang baik untuk kesehatan Nona nya.
Sedangkan dua wanita lainya semakin gusar, ia berdiskusi di kamar memikirkan nasibnya yang sudah ceroboh, meninggalkan Andini dalam kondisi hanya pingsan.
Firasatnya kali ini Arsena pasti tak akan tinggal diam. Ia juga sadar kalau perbuatannya di luar batas manusiawi. Belum lagi kalau Arsena menemui Dokter spesialis kandungan dan tau kalau penyebab Andini belum hamil adalah obat yang rajin ia bubuhkan ke dalam makanan kesukaan Andini.
"Anita kamu cari cara donk?" Mita mondar mandir di dalam kamarnya, sepertinya ia sudah tau Arsena sudah mencium perbuatannya. Karena diluar sudah datang seorang utusan yang akan bekerja hanya untuk mengawasi Andini.
"Tante, Anita tak tau apa-apa ini semua rencana, Tante. Kalau Arsena bertanya, aku tinggal bilang aku hanya dijadikan alat oleh Tante." Kata Nita penuh percaya diri. Dia menyilangkan tangannya di bawah perut.
"Bener-bener kamu tak bisa di ajak kerja sama. Aku melakukan ini semua supaya kamu bisa menikah dengan putraku, tau akhirnya keadaan ini hanya mempersulit diriku sendiri sudah mending aku terima Andini saja, dia juga tak terlalu buruk untukk Arsena."
"Yah, terserah Tante, yang penting jika Arsena menyalahkan Tante, aku aman." ujar Anita.
Tok tok!
__ADS_1
suara ketukan pintu dari luar, semakin membuat jantung dua orang di dalam kamar dekat ruang tamu itu semakin ingin copot.
"Nita itu pasti Arsena, dia sudah pulang." Rena semakin panik, sedangkan Nita menyandarkan tubuhnya di daun pintu yang terkunci rapat.
"Selamat siang tuan." Zara menyambut Arsena.
"Siang, Zara, rupanya kau sudah datang lebih dulu dari kamu."
"Sudah Tuan, aku hanya ingin lebih dulu tiba, sebelum Nona Andini."
"Ars, kenapa Zara ada disini, bukannya dia harusnya di rumah sakit."
"Zara sekarang dia akan tinggal disini, dia akan menjadi teman kamu."
"Ars, aku tak mengerti Zara harus bekerja."
"Zara jangan segan-segan laporkan padaku jika Nona Andini keras kepala." Kata Arsena lagi.
"Wow, Ars, apa ini penjara untukku?"Protes Andini, melotot ke arah Arsena yang terlihat tenang. " Zara mungkin Arsena sedang kurang minum, jadi dia bertindak berlebihan."
"Sayang, ini bukan penjara, ini cinta, aku mencintaimu melindungiku, membahagiakanmu."
"Sweet." Zara tepuk tangan, Andini yang duduk di sofa ia hanya bengong.
"Den, sweet banget. Den Sena sekarang sudah tau mana giok dan mana batu kali" kata Bi Um yang sejak tadi mendengar obrolan dari ruang tengah. Dia menyuguhkan juice tomat untuk Andini dan teh untuk Zara.
"Iya Bi, yang di gombalin Non Andini, yang meleleh hatiku." Puji Zara. Ucapan Zara baru saja membuat semua orang tersenyum.
"Zara antarkan Andini ke kamar dan temani dia istirahat di kamarnya. Ambilkan makanan yang tersaji di meja makan, dan ingat sebelumnya kamu harus mencobanya dulu, pastikan makanan itu tidak mengandung obat apapun yang membahayakan jiwa istriku."
Andini geleng kepala tak percaya, suami cuek dingin sudah menjadi pria cerewet.
"Baik Tuan," Zara mengerti. Ia melaksanakan perintah Arsena tanpa ada yang ia lupakan.
"Zara, Dia berubah, dulu dia tak cerewet seperti itu." Kata Andini saat dia berjalan menuju kamar.
"Semua bisa berubah karena cinta Nona."
"Iyah aku percaya, dia dulu bahkan tak mau disentuh olehku." Curhat Andini.
"Tapi sekarang, Tuan bahkan tak mau jauh dari Nona. Itulah kekuatan cinta Nona, Cinta bisa menyerang siapapun yang lengah bagaikan sihir."
Andini dan Zara sudah berada di kamar. Melihat Andini Hanya duduk melamun, Zara mengambilkan Andini beberapa Novel dan komik, menaruh didekatnya, berharap ada salah satu buku yang ingin dia baca.
Arsena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Mama!
Arsena memanggil Rena dengan teriakan kencang.
"Mama! Anita ! Aku tau kau sedang ada di kamar."
"Keluarlah hukuman apa yang ingin kau pilih?"
Pintu kamar Rena terbuka, Wajak wanita itu sudah tak berbentuk, kusut bak jemuran basah.
"Oh bagus, Akhirnya kalian berani keluar juga, aku kira sedang bersembunyi di bawah kolong ranjang."
'Ars, Mama minta maaf!" Wajah Rena penuh penyesalan. Sedangkan Anita di belakangnya dia juga tak berani menatap Arsena walau hanya sedetik.
Tangan Anita tak lepas dari lengan Rena. Wanita itu takut Arsena akan membencinya seumur hidup.
"Oh Minta maaf? Enak sekali ya?" Arsena tersenyum sinis.
__ADS_1
"Ars, mama hanya memberi Andini ujian saja, dan ternyata dia bisa melewati semua tantangan yang mama berikan. Andini melewati dengan sangat sempurna." Rena mendekat pada Arsena. Dia tersenyum dan berkata sesukanya, seakan yang dilakukan selama ini adalah sebuah kontes calon menantu idaman.
"Wah Mama hebat." Arsena tepuk tangan. Ia berjalan mengelilingi Mama dan Anita yang sudah gemetar, jika Arsena tak segera membebaskan mereka berdua bisa-bisa dia mati berdiri karena ketakutan.