
"Sudah lanjutkan mandinya, kecoak nya sudah nggak ada." Kata Mert lega. Akhirnya hewan yang ia takuti itu sudah mati lebih dulu.
Usai mandi, Zara segera berkemas, memasukkan dua stel baju miliknya sendiri dan dua stel milik Mert. Lalu menaruhnya di bagasi mobil.
Lalu mereka berdua makan bersama. Zara membuka tudung saji. Selera makan Mert langsung memuncak ketika melihat ada makanan kebab yang biasa ia temukan di negaranya.
Zara mengambilkan piring untuk pria yang sudah tampan dengan rambut tersisir kebelakang, dengan baju warna abu-abu dan setelan celana hitam itu.
"Makasi," ujar Mert menerima piring dari tangan Zara.
"Kok sudah bilang makasi, itu belum ada isinya." Tumben Zara kembali berbicara dengan kalimat lebih panjang.
"Bukannya kita harus selalu berterima kasih, untuk seseorang yang kita sayangi. sekecil apapun apa yang dilakukan itu sangat berarti."
Mert memegang piring dengan dua tangannya sambil mengulurkan kepada Zara. Zara menaruh kebab buatannya dengan ragu, karena bentuknya berantakan, apalagi rasanya. Tapi setidaknya dia sudah berusaha.
"Jika tak enak, buang saja, tuan bisa makan yang lainnya, masih ada ayam goreng dan tahu, tempe," ujar Zara.
"Ini sudah cukup membuat perut kenyang," ujar Davit sambil tangannya sibuk memotong makanan yang menurutnya aneh dilihat itu, bentuknya cenderung lebih mirip seperti risoles daripada kebab itu sendiri.
Mert menggigit, dan mengunyahnya rasanya aneh, tapi lumayan untuk mengganjal perut yang sangat lapar. Lagian cacing di perut Mert sudah demo minta di kasih makan.
"Gimana, Tuan?"
"Em enak, sering bikin ya, aku suka." Mert mengulangi menggigit kebab buatan Zara hingga habis.
"Benarkah?"
Zara penasaran segera mencicipi makanan buatannya dan sesekali lidahnya mencecap, memastikan kalau makanannya apakah layak dimakan.
Zara akhirnya mengerti, Mert menghabiskan satu kebab utuh, hanya demi untuk membuatnya tersanjung.
Sedangkan Zara sendiri, baru makan satu gigitan saja sudah ingin muntah.
Zara dan Mert sudah kembali ke Surabaya, Zara dan Mert memang duduk berdampingan di jok paling depan. Namun, sekalipun pandangan mereka tak pernah bertemu.
Mert mengajaknya bicara, Zara selalu menjawabnya namun tak ada kemesraan yang masing masing ia rasakan, pernikahan terasa hambar. Mereka tetap seperti seorang majikan dan asistennya.
Mereka sudah sampai di mansion Arsena. Kedatangan Zara disambut hangat oleh keluarga terutama Andini dan suaminya.
"Zara, Bi Um sudah memindahkan barang yang ada di kamar belakang ke kamar Mert. Selamat beristirahat dan semoga betah dikamar barumu Zara." goda Andini sambil menggandeng Zara menuju kamar barunya.
__ADS_1
"Nyonya, anda terlalu repot," kata Zara merasa tak enak.
"Hei, panggil aku yang lainnya, kau bukan asisten lagi disini." Andini gemas dengan Zara.
"Mbak."
" Ya, aku lebih suka kau panggil seperti itu, aku senang kau menjadi sepupuku, Zara," kata Andini dengan gayanya yang santai dan dewasa.
Wanita perutnya makin hari makin besar itu kini sangat bahagia, kebahagian yang dirasakan Andini terlalu sempurna. Memiliki mertua yang baik Oma pengertian dan dikelilingi oleh orang orang yang menyayangi dirinya.
*Dua bulan kemudian*
Davit dan Zara memang tak lagi seakrab dulu, bahkan bertegur sapa pun tak pernah. Terlihat jelas Davit sedang menghindari Zara. Sedangkan Zara selalu merasa bersalah.
Hingga suatu hari Mert ingin melihat bagaimanakah hubungan mereka masih berjalan.
"Sayang, aku pulang." Mert baru saja pulang kerja. Ia tak melihat Zara menyambutnya, apalagi tersenyum manis untuk Mert.
Mert mulai lelah mempertahankan Zara yang tak berubah walau dia sudah berusaha menunjukkan cintanya setiap saat. Zara hanya melakukan pekerjaan sebagai asisten Mert, bukan sebagai seorang istri.
Zara mendekat, ia melepaskan dasi Mert lalu melepaskan kemejanya. Setelah itu ia membawanya ke tempat mesin cuci dan menggiling baju kotor Mert.
Hingga hari ini kesabaran Mert telah habis, Mert harus bicara dengan Zara tentang rumah tangganya.
"Aku cukup bahagia seperti ini, Tuan."
" Berhenti memanggilku tuan, aku suamimu!" Mert berkata dengan nada tinggi. Ini pertama kalinya Mert membentak Zara.
Zara hanya menunduk, bahkan ia menitikkan air matanya. Melihat istrinya demikian membuat Mert menurunkan lagi intonasi suaranya.
"Zara nanti malam aku ada acara penting, pakai gamis yang aku belikan tempo hari." Setelah berujar demikian Mert keluar kamar, Zara mengira Mert akan makan atau berkumpul bersama yang lainnya, tapi ternyata tidak.
"Baik, aku akan memakainya." Lirih Zara dalam hatinya
Zara pun menuruti keinginan Mert. Ia malam ini berdandan sangat cantik,memakai riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya. Zara berfikir mungkin Mert akan mengajaknya makan malam romantis, atau dinner bersama kawan kawannya.
"Sayang acara tiba tiba berubah, apakah kau bersedia menggantikan aku yang tak bisa datang?"
Tentu saja Zara tak menolak, Mert terlihat lebih dulu pergi.
Mert tak mengantar Zara karena ia beralasan ada acara yang lebih penting dan buru buru, ia hanya mengirimkan alamat yang harus didatangi oleh istrinya malam ini lewat ponselnya.
Zara awalnya ragu, tapi Mert mendesaknya, dia janji akan menyusul jika acara dengan kawannya selesai.
__ADS_1
Zara datang ke sebuah restauran sesuai dengan alamat yang telah diberikan oleh Mert.
Zara menatap sekilas, dia sangat kagum dengan tatanan restauran yang ia datangi. Restauran berkelas itu sangat mewah. Para Pengunjung bisa menguasai satu ruangan untuk menghabiskan sepiring makanan yang ia pesan. Tak heran yang datang kesini adalah para pengusaha yang ingin membicarakan bisnis penting, atau sepasang kekasih yang ingin dinner romantis.
Zara segera masuk ke nomor ruangan yang sesuai dengan nomor undangan di handponenya, yaitu ruang nomor lima. Ternyata benar, ruangan cantik dan unik itu masih kosong.
Zara duduk-duduk di ruangan kosong itu sendirian, sambil membaca sebuah majalah yang tergeletak di atas meja.
Tak lama seorang waiters datang dia mengantarkan makanan dan minuman serba mahal kepada Zara.
Saat waiters hendak menurunkan semuanya, Zara segera mencegahnya. " Anda salah kirim Mbak. Karena saya belum memesan apapun."
"Tapi Nona, saya tak mungkin salah. Lagi pula semua makanan ini sudah ada yang membayarnya."
Zara makin bingung, ia berinisiatif menghubungi Mert, suaminya. Namun, handphone Mert ternyata tak bisa dihubungi, tidak aktif.
Zara maklum Mert mungkin tak mau di ganggu. Bukan kah dia bilang tadi dia sedang ada meetiing dengan clien di jam yang sama.
Akhirnya Zara memutuskan untuk menunggu lagi. Ia sama sekali tak menyentuh makanan itu.
"Zara !" Pria yang tak asing terkejut melihat Zara lebih dulu sampai.
"Davit !"
"Apa kau yang mengundang aku kesini, Zara?"
"Tidak, aku kesini juga atas undangan seseorang." Zara duduk kembali dan mempersilahkan Davit untuk menempati kursi yang ia sukai.
Lama sekali mereka berdua duduk berhadapan. Sepanjang menunggu Zara sama sekali tak berbicara. Davit memperhatikan Zara yang sudah banyak berubah. Ya, Zara berubah menjadi canggung dan tak seperti dulu saat sedang bersamanya berdua seperti ini.
"Zara apa kau bahagia dengan rumah tangga yang sedang kau jalani saat ini?" Akhirnya Davit membuka percakapan untuk mengisi keheningan.
Zara diam, dia tak ingin menjawab, Zara merasa Davit tak pantas mengetahui apa yang terjadi dengan rumah tangganya.
"Zara! Jika kau tak bahagia dengan rumah tangga yang kau jalani. Kau bisa berterus terang," ujar Davit lagi, saat melihat Zara diam. Semakin membuat dirinya yakin dengan monolog di hatinya sendiri.
"Jangan pernah menilai rumah tangga yang sudah kubina, apa yang orang lain pikirkan tentu tak sesuai kenyataan. Mereka hanya melihat dari luar saja. Tapi di dalam hati kami saling mencintai."
"Zara aku tau Tuan Mert tak pernah menyentuhmu, aku mendengar desas desus itu. Dia cemburu padaku," kata Davit lagi.
"Davit! Apa hakmu ikut campur urusan rumah tanggaku?" Zara tak suka Davit membuka aibnya baru saja.
"Zara, aku hanya ingin katakan padamu, aku ada untukmu, aku bisa membuatmu bahagia, jika kau tak bahagia, kita pergi saja dari rumah itu, sampai kapan kau membohongi perasaan sendiri seperti ini? Sampai kapan?" Davit memprovokasi Zara.
__ADS_1
"Tidak, kau telah salah Davit. Aku bahagia dengan Tuan Mert," kata Zara dengan bibirnya mulai bergetar.