
Antoni dan Andini saling berpandangan, ada keraguan di hati Andini. Sebenarnya dia kasihan. Namun, sifat Ratna yang selalu iri padanya semenjak dulu membuatnya Andini harus berfikir.
"Ratna ! Ini tidak kita rencanakan sebelumnya. Bukankah kita hanya ingin menjenguk keponakanmu."
"Papa! Kau tak ingin aku sedikit saja bahagia rupanya? Aku hanya ingin bekerja dirumah ini saja, kau sudah tua bangka, kau tak bisa memberiku kebahagiaan sedikitpun. Yang ada aku semakin malu tinggal di pinggir jalan jualan makanan tak berharga itu."
"Ratna!! Kau sangat memalukan. Kau tak tau diri!" Antoni menyeret lengan Ratna, dan mengajaknya pulang setelah berpamitan dengan Andini dan Rena.
"Andini, tolong terima adik kamu bekerja disini ya? Masa kamu nggak kasian sama dia, walaupun kalian nggak sekandung, tapi darah ayah kalian sama sama mengalir di tubuh kalian, Ndin."
"Akan aku bicarakan sama suamiku, Ma," ucap Andini sambil memandangi Ratna yang lengannya terus ditarik oleh Antoni. Gadis berambut diwarna pirang dan penggemar baju pres body itu berjalan keluar dengan terpaksa. Bibirnya terus saja berbicara tak sopan kepada papanya.
Andini hanya bisa menggelengkan kepala. Adik yang mendapat kasih sayang penuh dari Papanya justru dia manja dan tak punya sopan santun.
Ratih yang keluar mansion paling belakang segera menyusul suaminya. Sepertinya ada perang adu mulut yang hebat saat dia menunggu angkot lewat lagi.
"Ndin, kamu jangan terpengaruh dengan mereka, dia tak pernah sayang sama kamu." Rena berkata sambil menimang cucunya yang terlihat makin hari makin menggemaskan. Menciumi pipi gembilnya dengan
"Iya, Ma." Andini berkata iya, namun dia tetap saja menatap kepergian mereka dengan berat hati.
"Sudah biarkan mereka pergi, lebih baik fokus saja memikirkan kesehatan cucu Mama yang tampan ini. Kalau kamu kepikiran, itu sangat berpengaruh dengan produksi Asi kamu, Ndin."
"Iya Ma, Andini tau." Andini dan Mama masuk ke dalam menuju meja makan untuk menikmati sarapan bersama para jomblo sesaat, karena suami mereka sedang berangkat kerja.
"Andini, biar Oma yang gendong baby Excel. Cepat sarapan biar ASI-nya makin lancar." Oma masih sangat sehat dan kuat jika hanya menggendong bayi mungil saja.
"Maaf Oma, jadi merepotkan."
"Jangan bilang merepotkan, ini cicit Oma," protes Oma cicitnya dibilang merepotkan.
Saat sedang menyuapkan makanan ke mulutnya, ponsel Andini berdering. Andini melihat yang menelepon adalah suaminya.
"Pagi sayang ...!" Arsena terlihat senang Andini cepat mengangkat panggilannya.
"Pagi Ars?"
"Tumben pagi sekali telepon?"
" Iya, udah kangen."
'Kangen anak anak? Dia sedang sama Oma dan Mama. Mereka sangat menyayangi Excel dan Cello."
"Kangen semuanya, kangen ana-anak dan juga mamanya, tapi sayang, masih puasa dulu kalau pengen nyayang mamanya."
"Kamu sudah ingin? Kan waktunya masih lama."
"Aku akan bersabar, aku kasian jika ingat pas kamu melahirkan dua putra kita."
"Terima kasih suamiku, kau sudah sangat pengertian."
"Sayangku, terimakasih sudah mencintaiku. Aku akan pulang, aku nggak bisa konsentrasi di kantor." Arsena mengakhiri panggilannya setelah berbicara panjang lebar dengan Andini.
Dia bergegas menelepon Davit agar mempersiapkan diri dan mobilnya untuk pulang kembali.
Arsena hanya ingin menghabiskan hari harinya dengan si gembul yang kembar namun tidak identik itu.
Sampai di gang masuk mansion Arsena meminta Davit untuk menghentikan mobil. Melihat Antoni sedang di serbu oleh dua wanita sekaligus, membuat Arsena tertarik untuk mendengar yang bicarakan, apakah gerangan yang terjadi?
"Vit, kita berhenti!"
__ADS_1
"Kita dengarkan obrolan mereka. Bukankah mereka baru saja keluar dari rumahku."
Davit menutup kaca mobil hingga separuh lebih. Kepalanya tak terlihat dari luar. Namun, suara dua wanita itu masih terdengar jelas.
"Tuan anda sudah tau, kenapa dia memarahi suaminya sedemikian rupa?"
"Ya, aku dengar, mereka sungguh wanita licik."
"Panggil gadis itu, ajak masuk ke mobil."
Davit menuruti keinginan Arsena, walau wajahnya terlihat bingung. Namun tak berani berucap apapun selain menjalankan titah. "baik, Tuan."
"Nona, benarkah anda ingin bekerja di rumah Tuan Arsena."
"Benar sekali, anda ternyata asisten menantu saya. Tolong tanyakan padanya. Apa dia akan menerima anakku bekerja disana? Syukur syukur kalau saya sekalian? Tolonglah bicara dengannya katakan kami sangat ingin bisa mengabdikan hidup kami pada menantu terhormat kami." Ratih berkata panjang lebar membuat Davit geli sendiri, apa tujuan Tuan mudanya menerima ular berbisa beserta anaknya bekerja di tempatnya.
"Anda boleh bekerja disana, tapi tentu anda harus tahu diri, bekerja dengan tuan kami harus mematuhi aturan yang ada. Tuan kami tidak akan memandang anda sebagai Ibu Nona Andini, karena anda memang bukan ibunya.
"Kenapa seperti itu? Saya ibunya juga. Saya selalu mengeluarkan banyak uang untuk hidupnya sebelum menikah. Kalau tidak? Mana bisa dia menjadi sehebat ini. Bahkan perjodohan itu terjadi karena jasa saya juga. Karena saya yang membuat mereka bertemu dan menikah," ujar Rena tak tahu malu.
'Sungguh dia lebih berbisa dari pada ular. Bukankah dia yang menjual Nona Andini pada mucikari itu.' Davit menggelengkan kepala.
Davit kembali ke mobil Arsena. Pria berkacamata yang sedang duduk di dalam mobil itu segera membuka kaca mobil hingga terbuka penuh. " Bagaimana?"
"Tuan ibu tiri anda juga ingin bekerja di rumah anda," lapor Davit.
"Baiklah, kabulkan saja," ucap Arsena. sambil memiringkan bibirnya.
Tentu ibu tiri dan anak itu sangat senang, keinginannya mendapat persetujuan dari sang tuan rumah. Mereka segera menghambur ke mobil Arsena dan memilih tempat duduk yang paling nyaman. Ratna memilih duduk disebelah Davit dan Ratih duduk di belakang Arsena.
Antoni hanya bisa melihat kepergian kedua orang yang disayanginya dengan wajah keheranan.
Dua hari kemudian.
Arsena sedang sibuk di ruang kerjanya. Mendadak Vina mengirim sebuah email penting. Arsena segera memeriksa dengan teliti.
Tiba-tiba sosok gadis bertubuh semampai dengan memakai tangtop dan rok lipit diatas lutut datang menghampiri.
"Kakak ipar, ini kopi untuk kakak ipar. Mbak Andini sedang sibuk dia meminta aku untuk membuatkan kopi untuk tuan."
"Sibuk, Benarkah? Tumben sekali. Memang kau lihat tadi dia sedang apa?" Tanya Arsena pura pura kesal.
Dia sedang telepon dengan seseorang, aku tadi juga mendengar Excel menangis tapi mbak Andini tetap sibuk dengan ponselnya.
"Benarkah?"
"Tentu, aku tak berbohong, jika tak percaya kakak ipar bisa lihat sendiri. Dia memintaku membuatkan kopi untuk Kakak ipar." Ratna berkata dengan wajah berapi api. Seakan Andini sengaja melakukan semua karena ingin lepas tanggung jawab.
Arsena hanya menghela nafas panjang. Tanpa menyentuh kopi pemberian Ratna, ia segera menghampiri istrinya.
'Yes, sekarang kau pasti akan kena marah Mbak ... Mbak.' Ratna tersenyum jahat.
Arsena masuk ke kamar baby twins lalu menutup lagi. "Sayang, sedang apa?" sapanya.
Ars, aku sedang bingung, Cello sejak tadi dia hanya menangis terus. Mungkin dia digigit semut atau kenapa? Aku cari tapi tak ada apapun di tubuhnya.
"Mungkin dia mengantuk, coba kamu kasih ASI dulu."
Arsena membantu Andini menggendong Cello. Sedangkan Excel bermain dengan yang lainnya di taman belakang, sambil menikmati rujak buah buatan para wanita muda seperti Zara dan Dara.
__ADS_1
Arsena melihat Cello melahap benda kesayangannya itu dengan rakus. Arsena berulang kali meneguk salivanya dengan susah payah.
"Itu milik Papa, Sayang. Sekarang sudah jadi milik kamu dan Excel, papa nggak punya lagi." ujar Arsena sambil mengelus kepala gundul putranya, dengan wajah memelas.
"Sabar ya, Pa. Kalau kontraknya habis, akan jadi milik Papa lagi, kok," kata Andini menirukan suara anak kecil.
" iya, iya. Papa akan sabar menanti."
Arsena tertawa. Andini juga ikut tertawa. Arsena segera merengkuh pundak istrinya dan mengecup keningnya.
"Sayang, aku sudah rindu, sampai kapan aku menunggu bisa berkunjung lagi?" Arsena menempelkan kepalanya di pundak Andini. Andini mencubit hidung suaminya dengan gemas.
"Jangan nempel melulu. Puasanya masih lama tiga puluh hari lagi."
"Lama ya." Arsena mengangkat kepalanya.
" harus selesai masa nifas."
" Kuat nggak ya?" Arsena mencengkeram miliknya yang mengeras. Entah kenapa setiap mendekati Andini. Pusaka tongkat sakti peninggalan leluhur itu ikut bangkit.
"lh, mesum deh. daripada siang-siang sudah mesum mending nie, gendong Cello. aku mau mandi."
"Mama Andini, ini gimana?" Arsena memasang wajah memelas. sambil menerima Cello dipangkuannya.
Andini hanya mengangkat tangan tanda tak tau. sambil berjalan memunggungi Arsena menuju kamar mandi.
" Sayang aku ada ide, kita lewat gang aja ya?"
"Gang? emang bisa?" Andini menghentikan langkahnya.
" Bisa, nanti aku ajarin" Arsena tersenyum senang berhasil menggoda istrinya. Arsena senang tinggal tiga puluh hari lagi sudah bisa mendaki gunung dan turun lembah lagi layaknya pria lain yang sudah beristri.
"Cello mama itu cantik nggak sih?" tanya Arsena pada putranya yang ada di pangkuan, Cello mulai menyusu dengan jari jempolnya.
" jelek? Pa." Arsena mewakili ucapan putranya.
"Cello benar, Mama sangat jelek. apalagi saat ngambek. dia akan bertambah jelek. Tapi kenapa ya? papa sayang sekali."
" Cello nggak tau, Pa. mungkin Mama pakai guna-guna?"
"Cello, mungkin kamu benar, Mama sudah main guna-guna sama Papa."
" Apa? aku pake guna guna? yang ada kamu yang sudah kasih aku ramuan pelet cinta. buktinya aku dulu tinggal di kontrakan kamu pake ngintilin segala." ujar Andini yang baru selesai mandi.
"pura-pura kepanasan. ujung ujungnya cuma modus doang."
"Aku nggak pura pura sayang. aku kepanasan beneran."
"Mereka kenapa bisa bahagia sekali sih, harusnya setelah yang aku katakan tadi, dia bisa saling ngambek kek, atau marahan kek." Ratna terlihat kesal melihat Arsena tak memarahi Andini.
" Diam diam Ratna tadi menguping pembicaraan Andini dengan Arsena dengan pura pura mengelap miniatur yang ada di lemari, tepat di depan kamar Andini.
"Ratna!! Kamar mandi milik Oma belum dibersihkan." ujar Dara yang suka sekali mengerjai adik tirinya. keberadaan Ratna di rumah ini sedikit menguntungkan bagi Dara. dia bisa memberi sedikit pelajaran untuk adik tirinya yang suka tak punya malu.
Ratna segera berlari menjauh, setelah sampai ruang tengah, dia baru saja menjawab panggilan Dara.
__ADS_1