
Andini semalam melihat Miko menggerakkan jari- jari tangannya dan bibirnya bergetar memanggil namanya. Ternyata itu semua hanya ilusi. Mungkin Andini terlalu mengharapkan semua itu terjadi, hingga dalam tidurpun seakan Miko hadir di dalam mimpinya.
Malam sunyi berganti dengan pagi, senja sudah berlalu. Andini segera menuju ruang pribadinya untuk mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, memohon pada Tuhan akan kesembuhan Miko.
Setelah selesai mandi dan sembahyang, Andini mencari Arsena. Ia ingin menyuruhnya mandi juga, kebetulan di ruang pribadinya ada kamar mandi khusus. Namun, pria itu sudah tak ada dimanapun, bahkan ia tak melihatnya sama sekali sejak membuka matanya tadi.
"Arsena apa kamu marah, aku tak mau pulang bersama."
Andini melihat ada handpone masih terbungkus rapi. Handpone berwarna gold itu nampak elegan bertengger di atas meja kerjanya.
Andini mendekat, sebelum menyentuh benda pintar itu, ia lebih dulu melihat selembar kartu ucapan di sebelahnya.
"Selamat pagi, Sayang. Ketika kau membuka mata mungkin aku sudah tak ada di sampingmu lagi. Maafkan aku. Aku akan sering pulang telat. Akhir ini aku sibuk, handpone ini untuk menghubungiku di dalamnya sudah ada foto dan nomorku.
Suamimu: Arsena.
Andini tersenyum melihat suaminya akhir-akhir ini ia bersikap sangat manis. Bahkan Arsena respect membelikan handpone baru untuknya ketika tau benda pipih miliknya hilang.
Andini menyentuh ponsel cantik itu. Benar, Arsena sudah memasang foto dirinya, bahkan dijadikan sebagai wallpaper.
Arsena terlihat tampan dengan fotonya saat berenang, ia mengambil setengah dari tubuhnya. Rambut basah dengan memamerkan dada sixpacxnya.
"Ars, setelah mengenalmu lebih jauh lagi, ternyata kau tipe pria yang penuh kejutan." Andini bergumam sendiri. Mengamati foto suaminya yang telah memikat hatinya sejak awal bertemu.
"Selamat pagi Dokter Andini." Senyum mengembang di bibir suster Zara
"Pagi, Sus"
"Dokter, pagi ini dokter Vano memberikan catatan tentang pasien yang bernama Miko Atmaja." Suster Zara menyerahkan beberapa lembar kertas pada Andini.
"Oh iya, saya yang memintanya. Terima kasih, Sus" Andini menerima berkas dari tangan suster Zara.
Setelah Suster Zara pamit dari ruangan Andini. Andini segera duduk di kursi pribadinya. Membaca semua hasil pemeriksaan laboratorium, foto CT scan serta MRI yang telah dijalani Miko saat baru datang kemaren.
"Miko !" Andini kembali dibuat khawatir oleh semua data yang berhasil ia baca. Semua data menunjukkan kalau kemungkinan sangat kecil Miko bisa terselamatkan, kalaupun bisa? Kemungkinan Miko akan mengalami gangguan organ vital lainnya.
Andini menjatuhkan map ditangannya. Airmata tak bisa ditahan lagi agar tak jatuh.
Andini segera menyiapkan diri untuk segera memeriksa Miko ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh, seharusnya belum waktunya dokter keliling di ruang pasien. Namun, kali ini Andini masuk sebagai kakak dari Miko. Kakak yang mungkin akan selalu di hati adiknya.
Andini masuk ke ruangan Miko, Miko nampak berbaring sendirian di ranjang pasien. Mita sejak sore tubuhnya lemas, akibat shock, ia harus dirawat di ruang lain.
Andini mendekati Miko dengan langkah pelan. memeriksa denyut nadi Miko yang bergetar lemah. Andini menggenggam telapak tangan Miko yang terasa hangat.
__ADS_1
" Miko, aku mohon ini yang terakhir kalinya kau mengorbankan nyawamu untukku, kenapa tidak kau biarkan saja aku yang merasakan semua ini. Aku tak mau kamu pergi Mik. jika itu terjadi, aku tak akan bisa memaafkan diriku selamanya."
Andini menatap wajah Miko yang tetap tampan dengan mata terpejam. Hatinya semakin teriris ketika teringat semua perhatian Miko. Bibir casual Miko selalu mengembang senyum lebar untuknya, celoteh kekanakan, panggilan unik yang hanya untuknya.
"Bangun sekarang, Miko !! Jika kau tak bangun aku akan pergi dari kota ini selamanya, hingga kau tak akan pernah menemukan aku lagi! Karena aku tak bisa melihat kau terus seperti ini.
Banguuun ... Mikoooo!! Jangan biarkan aku selalu merasa bersalah, aku akan dihantui rasa bersalah ini seumur hidupku, jika kau tak bangun juga ... hiks."
Andini terus menatap Miko dengan tatapan yang dalam, penuh harap. Berharap setelah mendengar ucapannya, hati Miko akan tersentak untuk bangun dari tidur panjangnya.
Andini sesekali menatap ke layar EKG berharap ada perubahan yang signifikan pada detak jantung dan kerja organ lainnya, setelah Andini mengatakan kata-kata yang terdengar mengancam.
"Miko ternyata kamu keras kepala juga, Baiklah aku akan pergi detik ini juga aku akan pergi. Selamat tinggal Miko."
Andini melepaskan stetoscope nya di saku Jas. Ia membalikkan tubuhnya, pura pura beranjak dari sisi Miko.
Andini memejamkan mata sambil terus ber do'a. Berharap usahanya kali ini mendapatkan hasil. Sebagai dokter bedah Andini sudah banyak mempelajari cara-cara khusus untuk menghadapi pasien yang sedang koma.
Andini menoleh sekilas, mata Miko masih terpejam, Namun ia melihat ada getaran kecil di bibir dan tangannya.
Andini memastikan, ia menoleh lebih lama lagi.
Nebulizer di hidung dan mulut Miko ikut bergerak pelan.
"An ...."
Andini memastikan sekali lagi kalau ia tak salah mendengar.
"An-di-ni."
"Miko!" Andini berlari menghampiri Miko.
"Miko ... Iya ini aku Andini, panggil namaku lagi Miko."
"An-di-ni."
Suara Miko terdengar terbata dan sangat pelan. Terlihat sekali Miko bekerja keras untuk bisa menggerakkan pita suaranya.
"Aku disini Miko, aku ada disini, ayo berusaha Miko, berusaha lebih keras lagi, bicara lagi Miko!"
"Jang-an per-gi, Girl." Jari Miko bergerak pelan, seakan mengharap Andini menyambutnya.
__ADS_1
Miko, kamu sudah siuman, titik air mata haru menetes di pelipis Andini. Bibirnya tersenyum ketika Miko berhasil menggenggam jemari Andini.
Berlahan netra Miko terbuka, pandangan masih kabur dan ber kunang-kunang. Miko masih berusaha memusatkan pandangannya.
"Aku dimana?"
"Aku ada dimana, Girl. Arghhh ...."
Miko mengerang ketika tangannya tak sengaja menyentuh kepalanya.
"Kamu ada di rumah sakit Miko, kamu sakit."
Dengan cekatan Andini memeriksa bola mata Miko. Andini sedikit lega. Peluru itu tak mengenai otak bagian saraf Mata. hingga Miko tak mengalami kebutaan.
"Aku, sakit? Girl, apakah aku sedang bermimpi, aku bermimpi kamu akan pergi. oleh sebab itu aku segera bangun. Aku minta tetaplah di sisiku."
"Iya Miko aku tak akan pergi, aku akan menjagamu. Aku akan menjagamu sampai kau pulih dan sehat kembali."
"Terima kasih Girl, terima kasih kau mau mendampingiku." Bibir Miko mengukir sebuah senyum. Andini melepas nebulizer yang menutupi bibirnya.
****
Andini kini segera menghubungi Mama Mita, Arsena, dan siapapun yang mengharapkan kesembuhan Miko.
Mita yang siuman dari pingsannya, ia sedang dirawat di ruangan lain ditemani oleh Johan. Segera bangkit dari tidurnya, melepas selang infus yang menancap di tangannya tanpa restu dokter.
Tubuh yang tadinya berat kini serasa ringan bagai kapas, Mita kembali menemukan hidupnya, Miko sudah kembali.
"Miko, putraku!! Kau sudah sadar Nak?"
"Miko ku sudah kembali. Mas!"
"Putra kita sudah kembali."
Mita berlari, ia tak perduli sesekali tubuhnya menyenggol lengan orang yang sedang lalu lalang di lorong rumah sakit.
Ma, hati-hati, pelan-pelan Ma. Nanti jatuh."
Peringatan Johan tak lagi di indahkan oleh Mita hatinya terlampau bahagia.
Braaak!
Mita membuka pintu dengan kasar. Berlari dan memeluk tubuh lemah Miko.
__ADS_1
"Miko telah kembali, putraku telah kembali disisiku. Kau tak akan meninggalkan Mama lagi, Nak." Mita menangis terharu, sesekali ia meraih tisu dan menyusut ingusnya yang terus mengalir.
*Happy reading.