
Beberapa hari telah berlalu begitu saja tanpa ada yang istimewa, Miko sudah benar-benar sehat. Ia pagi ini sudah mulai kerja di kantor barunya. Kantor CV yang memiliki halaman menyatu dengan kantor tempat kerja Arsena. Hanya gedung saja yang berbeda. Jadi kakak adik itu masih bisa bertemu muka saat mereka sama-sama sedang ada di luar gedung.
"Dara, aku mau dasi hitam dan hem biru untuk hari ini." Kata Miko usai Mandi.
"Baik, Kak."Dengan cekatan Dara segera mengambilkan baju yang diminta untuk Miko.
Miko segera menerima dan memakai bajunya sendiri. Tubuh bak atlet binaraga itu terlihat meliuk indah di depan cermin. jika ada kaum hawa yang melihatnya pasti mereka akan susah move on dari pahatan indah itu. Tapi tidak dengan Dara, gadis polos itu cuek dengan keunggulan sang suami yang bisa ia nikmati dengan melihatnya setiap hari.
Miko kesusahan memakai dasinya, Dara segera mendekat dan membantu.
"Kakak membungkuk sedikit ya, biar Dara bantu memakai dasinya."
"Dasar manusia kerdil, emang dulu pas kecil nggak pernah di kasih makan apa."
"Enak aja kakak ngehina, tubuh kak Miko aja yang tinggi mirip raksasa!" Dara mulai berani membantah. Ukuran tubuh Dara ini sudah sesuai standar nasional."
"Apa kau bilang aku raksasa?" Miko memegang kedua lengan Dara dengan geram.
"Ya, jika kakak bilang aku kerdil, maka aku akan panggil kakak Raksasa. Itu cukup adil kan?" Protes Dara.
Miko nggak terima dibilang raksasa oleh Dara, ia ingin memberi pelajaran dengan menceburkan tubuh Dara ke kolam renang, biar Dara tak seenaknya mengatainya. Tapi Dara sudah buru- buru berlari. Miko mengejarnya layaknya anak kecil.
"Awas kamu Dara, jika aku berhasil mengejarmu, maka aku pastikan kamu akan basah kuyup, di dasar kolam."
"Coba aja kalau kakak bisa."
Dara terus berlari memutar disetiap benda yang bisa dikelilingi termasuk meja dan sofa, membuat Miko susah menangkap tubuh Dara. Miko yang gemas akhirnya bisa menarik lengan Dara dan membuat Dara terpeleset jatuh terlentang.
"Aaaaaaauw" pekik Dara kesakitan.
Miko yang bergerak reflek ingi melindungi bobot Dara justru ikut terjatuh, tubuh pria itu tepat di posisi mengungkung tubuh Dara.
Diposisi seperti itu membuat mereka saling diam. Miko bisa melihat dada Dara naik turun akibat ngos ngosan berlari.
Miko menatap Dara yang sedang memakai kaos t-shirt merah dan celana jeans hitam secara intens, sesaat terpana dengan mata bulat dara serta bulu mata yang begitu panjang dan lentik alami.
Lama-lama selain kau menjengkelkan, kau ternyata cantik juga.
Monolog Miko, sambil mengamati bibir merah istrinya yang bergerak gerak tepat di bawah wajahnya. Miko dengan modus mendekatkan bibirnya ke arah bibir Dara.
Miko pura-pura tak sengaja, padahal otaknya sedang ingin menikmati kelembutan bibir merah itu.
"Tidaaak, jangan lakukan ini Kak, Dara nggak mau hamil!!" Pekik Dara sambil membungkam bibirnya dengan satu telapak tangannya, kepalanya menggeleng kuat. Membuat Miko mengurungkan niatnya.
"Hamil? kenapa bisa hamil, kalau aku nggak melakukan penyatuan seperti ini." Miko menekan miliknya yang mengeras di perut Dara.
"benda apa itu, kenapa bisa keras sekali."
"Bisa kak, setelah kakak menciumku kakak pasti ingin melakukan yang lebih dari ini, dan aku yakin itu. Sedangkan Dara belum mau hamil, aku malu sama teman-teman kalau perutku besar.
"Apa kata mereka? masa anak semester satu sudah hamil, aku akan jadi bahan bulying di kampus. Bahkan mereka ada yang belum punya pacar apalagi menikah," cerocos Dara panjang lebar.
"Dasar Bocah, otakmu itu over dosis, aku nggak ngapa ngapain, nyium aja belum, udah mikirin hamil." Miko menyentil jidad Dara membuat ia kesakitan.
Miko berusaha bangkit namun lututnya terasa nyeri karena terbentur lantai.
"Cepetan kak. Berat tau."
"Bentar lagi dong. Ini juga udah usaha."
"Nggak tahan nie, tubuh kakak Gedhe banget."
"Sakit kak," eluh Dara.
Tuk tuk tuk!
Suara bunyi high heels wanita.
__ADS_1
Mita yang baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tengah, karena rindu dengan menantu tercintanya itu, tentu sangat kaget dibuatnya.
Reflek, Mita berteriak melihat tubuh dara dan Miko saling menindih di lantai, di dekat ruang makan. Terlebih lagi obrolan mereka yang terdengar fulgar.
"Kalian berdua!?"
"Mama!!"
Mereka berdua serempak melihat ke arah Mama.
"Kenapa kalian melakukannya dilantai, Astaga! Miko! Dara! Cepat masuk ke kamar. Jangan disini. Nanti kalau David memergoki kamu gimana?"
"Masih pagi juga, apa semalam belum cukup, Dara harus kuliah Miko. Kenapa kamu .... " Mita membalikkan tubuh membelakangi anak anaknya.
Keterlaluan, rupanya sikap papanya sudah diwarisi oleh Miko.
"Mama mikir apa sih."kata Miko yang berusaha bangkit.
Dara juga berusaha bangkit, ia merasakan sakit di pinggangnya, karena benturan tadi lumayan keras membuat ia mendesis kesakitan. "Auww."
Lihat Miko, Dara sudah kesakitan kamu masih mau lagi? Lebih baik kalau mau olahraga lagi, kalian itu di kamar aja, jangan di sembarang tempat seperti ini, pasti badan kalian akan sakit semua."
"Maafkan Miko ya Dara, dia pasti membuat kamu sangat lelah." ucap Mitha sambil memeluk Dara.
Mita mengajak Miko dan Dara duduk di meja makan, ia sudah tak sabar ingin menunjukkan sesuatu pada anak dan menantunya.
Mita membuka paperbag yang baru ia bawa. Dara dan Miko menunggu dengan antusias.
"Sayang kamu nggak usah pakai kontrasepsi ya? Mama takut kandungan kamu akan kering dan susah memiliki anak, kalian mending punya anak dulu biar rumah ini ada tangis bayi. Mama juga akan lega, Mama nggak sabar pengen gendong cucu."
"Iya Ma." Dara mengangguk setuju, sesuai instruksi dari Miko yang sejak tadi mengedipkan mata. Miko tak ingin mendapat ceramah lebih panjang lagi dari Mamanya.
"Kalian pasti rajin melakukannya kan? Ini mama bawakan kurma muda, teman mama ada yang baru pulang dari umrah. Dan dia kasih Mama oleh-oleh ini, katanya bisa bikin wanita cepat hamil."
"Kamu makan kurma ini ya sayang,kamu juga Miko."
"Ingatkan Miko ya Dara! Dia pasti akan lupa kalau soal beginian."
"Ya udah, Mama ke butik dulu, kalau mama terlalu lama disini takut membuat kalian terlambat beraktifitas lagi. kamu jangan ceroboh seperti tadi ya."
"Iya, Ma."
"Pesen Mama buat kamu Miko, jangan terlalu membuat Dara lelah, lihat ulah kamu dia sampai encok."
"Nggak kok Ma, cuma lima kali sehari," kata Miko sambil menahan tawa.
"Kak Miko." Dara melotot.
"Kenapa sih, nggak usah malu. Kita lagi sama Mama sendiri lho ini." Miko kembali berakting.
Mita hanya tersenyum melihat tingkah putra dan menantunya.
Miko dan Dara sudah turun meninggalkan apartement dan menuju basement, David sudah menunggu dengan memakai seragam hitam dan earphone tak pernah lepas dari telinganya.
"Vid, tolong antarkan si kerdil dulu baru ke kantor."
"Baik, Tuan Muda."
"Apa kerdil?" David tertawa namun ditahan. Ia tak mau membuat Dara malu.
"Kak, sekali lagi bilang kerdil, aku akan telepon Mama, aku akan bikin cerita kalau kak Miko sudah menghina Dara, ngerendahin harkat dan martabat Dara di depan umum. Kakak mau."
"Silahkan ! Siapa takut paling Mama akan bilang. Miko, istrimu memang kerdil kamu harus terima apa adanya. ha ... ha ... Bener nggak Vid."
"Em ... i-i-ya." David menjawab dengan ragu, ia kasian melihat Dara yang ekpresinya menanggapi ejekan Miko dengan serius.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks."
"Hei, kok malah nangis"
Miko berhenti tertawa. Wajahnya seketika berubah menjadi panik. " Dara, gue bercanda kenapa jadi serius?"
"Bercanda nggak apa-apa kak, tapi jangan ngehina fisik, Dara nggak suka. Itu sama saja Kakak sudah ngehina ibu yang sudah ngelahirin Dara."
"Vid, gimana nie?"
"Ya itu masalah Tuan Muda. Lagian istri sudah cantik, bodi bak gitar spanyol gitu, di bilang kerdil."
"Elo, ini gimana sih Vid. Nggak bantuin malah mojokin gue. Tunggu-tunggu, elo tadi bilang body Dara bak gitar spanyol, jadi selama ini elo suka perhatiin bodi istri gue, gitu."
"Iya, eh e- e-enggak juga sih, Tuan." David menjadi gugup. "Itu tadi perkiraan aja tuan."
"Awas ya Vid. Kalau sampe berani, akan ku pastikan kamu akan pulang ke kampung tanpa bisa lihat jalan lagi."
ciiit!
Mobil berhenti di depan kampus. Teman-teman sekampus Dara yang suka bikin gosip murahan, sudah menunggu di gerbang siapa tau ada pemandangan menarik yang bisa jadi bahan gosip saat di kelas nanti.
Mereka juga sangat penasaran dengan suami Dara, yang rumornya pria dari kalangan sultan.
David segera membukakan pintu untuk Dara.
Teman Dara banyak juga yang berdecak kagum pada visual David yang keren dan Maco.
"Gila, itu sopir Dara keren banget, belum lagi majikannya," ujar mereka berbicara satu sama lain.
Dara segera turun dan masuk melewati mereka, Dara malas berurusan dengan Si biang rusuh.
"Wah, Elo diam-diam matre juga, Ra. Selera elo tinggi. Si Adit mati-matian suka sama elo, tapi nggak pernah Lo anggep." Kata mereka terang terangan saat berjalan di belakang Dara.
"Eh taunya sudah jadian sama Si Om tajir itu. Iya kan? Pasti sudah di apa-apain duluan sama dia."
"Kalian ngomong apa sih, nggak tau nggak usah gosip deh!" Dara terlihat emosi
"Tunggu, tunggu aku dengar dia itu hilang ingatan, dan parahnya dia itu suka sama kakaknya," kata cewek yang lain menimpali.
"Betul begitu? Wah parah Lo, Ra. Lo mau aja sama cowok yang jelas suka kakak Lo."
"Kalian bisa diam nggak?"
"Kalau enggak emang mau apa? udah kenyataan aja nyolot."
" Berani ya sama gue." Dara sudah memasang kuda-kuda untuk menggertak teman-temannya.
------
"Vid, Vid, tolong berhenti sebentar, aku ngerasa tadi temen-temen Dara itu bukan teman yang baik-baik deh." Miko menoleh ke arah belakang, dia melihat Dara seperti sedang marah, membuat Miko ingin mengetahui penyebabnya.
"Em bisa kita balik sebentar, aku ingin lihat kondisi dia," pinta Miko.
"Tuan sepertinya sudah ada rasa sama dia," kata David sambil menepikan mobilnya.
Ngawur kamu, Vid. Gue seperti ini karena dia sudah aku anggap adik, aku harus melindungi dia."
"Tuan, Tuan, bilang kalau mulai suka aja susah banget."
David segera mengambil arah putar balik menuju kampus Dara. hanya beberapa menit mereka berdua telah sampai.
"Lihatlah itu Tuan, Nona sedang menakuti teman-temannya." Kata David.
" Berani juga dia, kukira akan menangis seperti tadi," gumam Miko sambil tersenyum memandang Dara.
*Happy reading.
__ADS_1
*Sahabat semua jangan lupa like, komen, Vote.
"