
"Ars, kau harusnya mengizinkan aku untuk mpersiapkan semuanya, kau sengaja bikin dirimu malu. Kau akan malu karena aku."
"Malu? malu kenapa? Aku bahkan hari ini melihatmu sangat cantik. Aku tak percaya kau sangat cantik memakai baju ini " Arsena memandangi gaun yang baru saja dilihatnya dimanekin, kini sudah berpindah di tubuh istrinya. Gaun panjang hingga menyentuh lantai dan pemiliki belahan bawah hingga paha itu memang sangat anggun ditubuh Andini. Apalagi lengannya diberi kerutan agak mengembung dan di bagian dada terdapat beberapa hiasan mutiara asli yang kilaunya tak henti hentinya menggoda mata, semua wanita pasti bermimpi ingin memakai baju semewah itu. Arsena yang disebelahnya dia juga sangat tampan dengan tukedo warna senada yangelekat ditubuhnya.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi barisan paling depan. Dimana disebelahnya ada para Dirut perusahaan yang menjadi relasinya serta para Dirut bagian di perusahaannya milik sendiri. Mereka berdua kebetulan datang dengan membawa istrinya masing-masing.
"Nona, kau sangat cantik. Pantas saja Persdir kita menyembunyikan anda begitu lama."
"Dia sangat pintar memilih istri. Aku tak percaya kau telah melahirkan seorang putra, kau terlihat seperti seorang gadis," ujar istri Direktur bagian pemasaran. Menimpali ucapan isteri Direktur keuangan.
"Terimakasih, anda berlebihan, sesungguhnya kita semua sangat cantik di depan suami kita masing masing." Senyum terukir di bibir Andini, namun tak berarti dia sangat senang dengan sanjungan yang ia dapat sejak mulai masuk gedung tadi. Dia tak biasa jadi pusat perhatian seperti ini
"Selamat universari Tuan Ars. Dan Nona Andini yang cantik" Vanes rupanya baru datang bersama suaminya dia tidak terlambat. Namun sepertinya dia tamu yang paling terakhir datang. " Tadi terjebak macet," jelas Andrew tak enak hati datang paling terakhir.
"Ya, silahkan duduk, Tuan Andrew dan Nona Vanes. Terima kasih sudah meluangkan waktunya." Arsena berdiri untuk menyambut Andrew. Dia berpelukan sesaat lalu menduduki kursi pilihan masing masing.
Andrew dan Vanes segera mencoba mengakrabkan diri dengan yang lainnya menjadikan momen ini momen terbaik untuk ajang silaturahmi, sambil sesekali menyantap hidangan di depannya.
" Bos, sepertinya anda harus menyuapi istri anda di depan kita semua, tentu anda ingin menjadikan momen ini paling Indah bukan?" Galang menggoda Arsena.
" Iya Tuan, lihatlah aku dan galang setiap hari juga seperti ini. Kita selalu romantis di ranjang dan di meja makan." ujar Giska polos sambil menyuapi Galang dengan suapan satu sendok penuh mampu membuat Galang tersedak.
Kelucuan Giska dan kepolosannya tentu membuat Galang menjadi malu, hampir setiap kepala menoleh kearahnya, apalagi di depan seluruh petinggi perusahaan.
"Kunci rapat tu bibir, jangan bikin malu." Galang berbisik di telinga istrinya.
Giska tak terima di tuduh bikin malu" Aku kan jujur!"
"Jujur boleh tapi kali ini malu maluin, ah. Urusan ranjang dibawa bawa." Galang memelototi istrinya membuat Giska hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Usai menikmati hidangan, Galang segera naik ke panggung. Dia ternyata berperan sebagai pembawa acara di pesta malam ini.
Galang segera menyapa semua yang hadir dengan gaya bicaranya yang sedikit agak lucu namun tetap elegant. Pria beranak satu itu membacakan rangkaian acara malam ini yang akan segera menuju acara inti dan berakhir. Acara setelah makan bersama akan ada pesta dansa ditemani pasangan masing masing.
Keluarga Arsena juga sudah datang, mama Rena sangat senang dengan kejutan Arsena hari ini, apalagi Oma, dibibir tuanya tak henti hentinya terukir senyum tulus. Zara dan Mert segera mendekati Andini, Mert memeluk Arsena dan Zara memeluk Andini. Nona selamat hari anniversary, semoga hubungan kalian akan langgeng dan dikaruniai banyak putra-putri.
"Ya terimakasih Zara, semoga kamu dan Mert juga." Andini menggenggam tangan wanita dengan perut membesar itu, dihati Andini Zara dan Amert sudah seperti layaknya seorang saudara. Tak ada bedanya dengan Dara dan Miko.
__ADS_1
Bedanya Miko sekarang lebih menjaga perasaan Dara, dia tak ingin Dara selalu cemburu pada hubungan masalalu yang rumit itu. Bertegur sapa pun sewajarnya.
"Arini mana?" Arsena mencari si biang rusuh yang belum kelihatan sendiri sejak tadi.
"Arini masih dijemput sama Davit. Dia masih menicure di salon," terang Mama.
"Adek ku rupanya sudah besar. Padahal rasanya baru kemaren aku melihat dia ingusan dan bermain boneka." gumam Arsena sambil terus mengamati pintu masuk.
Andini menarik lengannya agar berbalik. "Arini bersama Davit, dia akan melindungi gadis kecilmu itu. Ars, bagaimana kalau diantara mereka ada sesuatu."
"Sesuatu apa maksudmu Sayang? Ngaco aja. Memang sih, jika bersama Davit aku juga lebih tenang," ujar Arsena mulai menatap ke arah panggung. Disana Galang sudah turun dari panggung, lagu romantis mulai terdengar begitu merdu dinyanyikan oleh penyanyi ternama asal luar negeri.
"Sayang kita berdansa!" Ajak Sena.
" Tapi aku nggak bisa, aku malu dengan mereka yang sudah mahir." Andini menoleh ke sekitar, disana terlihat para suami istri meninggalkan kursi kursi mereka. Berjalan maju ke depan bergandengan dengan suami pasangan masing masing. Hanya kebahagiaan saja yang terlihat dari wajah mereka semua.
Papa dan Mama juga tak kalah bahagia. Dia menggendong cucunya sambil berbicara dengan rekan kerjanya yang seumuran tatapi masih aktif di perusahaan, memperkenalkan si kembar pada dunia bisnisnya.
Andini tiba tiba memiliki ide "Ars, bagaimana kalau kita yang akan membawa Excel dan Cello. Kita izinkan mama dan papa berdansa."
"Tidak, Papa punya dua istri, papa harus adil, daripada tak bisa adil untuk keduanya, lebih baik tidak usah."
"Aku belum mencobanya," canda Arsena.
Andini mencubit pinggangnya dengan gemas.
"Auhhhh sakit, pinggangku pasti lecet," Arsena meringis membuat semua orang di dekatnya langsung menoleh.
" Nona, suami anda baik-baik saja?"
"Tidak ada apa-apa, kami baik baik saja, suami saya encoknya kadang kambuh mendadak. Maklum dia sudah lumayan tua." Andini memperlihatkan senyum manisnya. Membuat wanita yang bertanya tadi percaya.
"Sayang lihatlah, Tuan Andrew dan Vanes dia sangat menikmati malam ini. Kita bisa berdansa di sebelahnya dan kau lihat gerakan Nona Vanes, nanti kau bisa langsung mempraktikkan denganku."
"Baiklah." Andini setuju. Dia mulai berdansa, membaur dengan para tamu, pesta berjalan dengan elegant dan rapi. Tanpa melibatkan minuman beralkohol sama sekali.
Arsena dan Andini mulai berdansa, Arsena harus sabar melatih Andini karena ini baru dansa yang kali keduanya, setelah dansa pertama kalinya satu tahun yang lalu, itupun dengan Miko. Andini merasa lama lama Miko dan Arsena terlihat sangat mirip, dari perilaku dan wajahnya, dua duanya pria yang hangat dan menyenangkan.
__ADS_1
Andini menatap suaminya dengan senyum senyum, tangan Arsena menempel ketat di pinggang Andini, Arsena pun membalas dengan menatapnya lekat pula. "Kenapa lihat aku seperti itu? Makin sayang ya? Karena aku makin tampan."
Andini mengangguk." Hu'um. Makin tampan dan tentunya makin_"
"Menggairahkan ... kan aku sekarang hot daddy," ujar Arsena berbisik di telinganya. Jika tak teliti melihat, pasti seseorang akan mengira sedang berciuman.
"Aku akan memakan dirimu nanti malam sampai ...."
" Sampai apa?" Tantang Andini, yang semakin menempelkan tubuhnya. Kepala mendongak ke atas, menatap wajah suaminya dengan jarak amat dekat. Membuat Arsena menatapnya penuh gairah.
" Sampai nggak bisa jalan," bisiknya, lalu mengecup bibirnya sekilas. Andini tentu saja makin malu diperlakukan sedemikian mesra, tanpa sengaja Vanes ternyata sejak tadi memperhatikannya dengan intens.
"Ars, aku haus." Andini berusaha menghindari suaminya ketika mulai tak tahu malu.
"Aku minum sebentar ya?"
Arsena melepaskan Andini, dadanya sudah sangat bergejolak, sebenarnya dia sudah tak sabar menahan hasratnya. Mungkin efek jamu yang diminumnya tadi sudah bereaksi. Tapi tak mungkin dia membawa Andini pergi padahal pesta belum selesai.
Andini mengambil minuman yang tertata rapi di salah satu meja, dia memilih air putih saja. Tiba tiba Vanes datang ingin mengambil minum juga. "Hai Nona Andini"
"Hai. Apa kita sudah bertemu sebelumnya? Rasanya aku familiar dengan suara anda." Tanya Andini mencoba ramah tamah.
" Tentu tidak, aku sudah lama mengenyam pendidikan di negara asing, Karena Andrew aku sekarang ada di kota ini."
" Oh ... Ya. Cinta memang kadang membuat kita rela melupakan impian, seperti aku. Lihatlah aku hanya jadi ibu rumah tangga dengan merawat dua bayiku."
"Wooow hebat. Tiga, Nona. Kau lupa? Ayah sang bayi juga mirip bayi raksasa yang selalu minta dimanjakan bukan?"
"Anda bisa saja, Nona Vanes. Anda rupanya senang bercanda juga."
"Iya, aku sangat suka berteman, semoga setelah ini kita bisa semakin akrab."
Saat sedang asyik ngobrol, tanpa sengaja Vanes menginjak gaun Andini dengan highells berujung runcing yang sedang dia pakai.
"Kreeeeek." Gaun panjang warna putih tulang yang dikenakan Andini robek dibagian sambungan tepat diatas lutut., Andini yang hendak melangkahkan kakinya pun limbung di lantai.
"Nona, maaf. Aku benar benar tak sengaja melakukannya. " Vanes buru-buru mengulurkan tangan, membantu Andini berdiri. Andini meraih tangan Vanes. Namun, genggaman Vanes terlalu lemah membuat Andini terjatuh dua kali.
__ADS_1
*Happy reading.