Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 204. Aku belum kalah.


__ADS_3

Andini segera menuju lokasi renang khusus wanita, yang hanya diperuntukkan untuk tamu VVIP, selain kolam pribadi tiap nomor kamar, Hotel Rosella juga menyuguhkan kolam bersama. Kolam yang indah udara yang sejuk dan fasilitas yang lengkap.


Andini rupanya datang paling awal, sampai disana dia tak bertemu seorangpun. Andini akhirnya memilih menunggu di gazebo, sambil mengamati foto yang ada di galeri ponselnya. Foto Excel dan Cello, foto anniversary mereka. Semua membuat Andini semakin bersemangat untuk mengungkap semuanya.


"Hai." Suara seseorang mengagetkan Andini dari belakang.


" Hai ..." Andini membalasnya, tak lupa tersenyum kearah Vanes yang sudah rapi dengan baju renang super seksi nya.


Andini segera memasukkan ponselnya kembali ke handbag. Serta mengeluarkan baju renang dari dalamnya.


"Aku ganti baju dulu ya?" Andini beranjak dari gazebo menuju ruang ganti yang berjarak hanya sekitar sepuluh meter dari tempat duduk Andini tadi.


Setelah sama sama memakai baju renang, Andini dan Arini melakukan tos dulu sebelum masuk ke dalam kolam bersih nan indah dengan warna kebiruan itu.


"Senang sekali bisa bertemu lagi Nona, kapan rencana anda cek out dari sini?" Tanya Vanes pada Andini yang menyembul tenggelam di dalam air menikmati segarnya air kolam di pagi hari.


"Entahlah, aku ingin besok kembali pulang, aku sudah merindukan anak anak, tapi Arsena masih ingin terus disini, menghabiskan cuti honeymoon kita. Dia sangat manis sekali kan?"


" Pasti sangat menyenangkan! Berdua saja dengan orang yang kita sayangi. Kita serasa pengantin baru terus." Vanes menjawab dengan hati yang terluka. Luka yang amat dalam, namun untuk kesempurnaan aktingnya sakit tak berdarah itu, ia tutupi dengan sebuah senyum kepalsuan.


"Tentu, itu sebuah kebahagiaan yang besar buatku, dia pria pertama kali yang mengenalkan aku akan suka duka cinta, dan betapa indahnya menikah." Andini bercerita panjang lebar, sambil mengepakkan tangannya di air dan tubuhnya tetap tenggelam di dalamnya, hingga kakinya menyentuh dasar kolam.


"Apa Nona yakin kalau telah menjadi satu satunya? Kau tahu sendiri kan pria beruang yang menjadi idola banyak wanita, itu tak mungkin jadi kelinci yang imut yang takluk pada satu wanita. Aku dengar dari teman teman, dia dulu pernah sangat mencintai kekasihnya, bagaimana kalau dia ternyata diam diam masih menyimpan sebuah rasa padanya?" Vanes mulai tersulut cemburu. Dia memancing Andini dengan masalalu Arsena.


Andini tertawa," Aku tahu siapa suamiku, dia tak pernah menyentuh kekasihnya lebih dari berciuman, dan aku memaklumi dia. Toh yang dapat semua tubuhnya dan merasakan akhirnya aku. Aku juga nggak nyangka Arsena ternyata bisa aku dapatkan dengan mudah, tau sendiri kan siapa sainganku waktu itu, dia Liliana, model hebat. Kasian sekali nasibnya, sudah berjuang mati matian ternyata hanya jagain jodoh orang." Andini tersenyum simpul melihat wajah Vanes yang mulai berubah. Andini juga sempat melihat tangan Vanes mengepal.


Reaksi Vanes yang berlebihan terlihat sekali kalau dia tak bisa terima dengan kata kata pancingan dari Andini baru saja.


"Dimana sekarang wanita itu Nona? Apa anda tidak takut kalau di akan kembali dan merebut suami anda?"


" Mengambil Arsena dariku? Aku rasa dia tak akan berani melakukannya. Kalaupun dia berani menunjukkan wajahnya sekarang juga, dia harus siap mendekam di jeruji besi yang mengerikan seumur hidupnya." Andini terus saja berbicara panjang lebar, Reaksi Vanes sungguh membuatnya senang. Kini Andini naik diatas pelampung yang mirip ranjang itu. Pelayan menyerahkan minuman segar saat Andini memberi kode.


.


Vanes terlihat melamun memikirkan kata kata Andini barusan.


"Hai, jangan dipikirkan, dia itu bukan kamu, Lili mungkin sudah bahagia dengan anak dan suami barunya sekarang," ujar Andini sambil memberikan satu gelas juice jeruk sama seperti miliknya.


Vanes akhirnya menerima juice itu dan membawanya menepi, saat berjalan melewati Andini, Andini melihat Vanes memiliki tato dengan gambar dua kupu kupu di punggungnya yang kebetulan terekpose karena baju renangnya tak menutupi bagian itu.


Andini memberi isyarat pada pelayan untuk mengambil handbag yang berisi ponselnya, lalu segera mengarahkan kameranya untuk mengambil foto kupu-kupu yang ada di punggung Vanes, tentu hal itu tanpa diketahui oleh Lili.


Cekret!


Andini mengambil foto kupu kupu itu.

__ADS_1


Setelah berhasil, dengan buru buru Andini menyerahkan ponselnya kembali pada pelayan, pelayan dengan sabar menerima perintah dari Andini, mengembalikan ponselnya ke tempat semula.


*****


Tidak!


"Tidak!"


"Aaaaa!"


Vanes mematut dirinya di cermin yang ada di wastafel kamar mandi.


"Gue nggak boleh kalah!"


"Siapapun nggak boleh menghalangi rencana gue, siapapun, aku sudah berjalan sejauh ini, aku nggak boleh kalah."


" Andini nggak boleh bahagia, dan aku harus menderita sendirian seperti ini." Vanes mengepalkan tangannya kuat kuat, hendak mengepalkan tinjunya pada cermin. Namun urung, kepalan Vanes cukup menggantung di udara.


Andini yang membuntuti lili dia segera menjauh saat Lili sudah puas memaki-maki dieinya di depan cermin. Terjawab sudah keraguan yang Andini rasakan kalau Vanes adalah Lili.


Andini segera pura pura duduk di bibir kolam. Vanes segera keluar dari kamar mandi dengan mata sedikit memerah.


Vanes berusaha tersenyum lalu duduk di dekat Andini.


"Udaranya sejuk! Aku masih betah sebenarnya disini." ujar Vanes berusaha selembut dan bersikap senormal mungkin.


"Nona, aku tak bisa lama lama disini, mungkin lain kali kita akan bisa lebih lama bersama, sesungguhnya masih banyak sekali yang belum kita bicarakan hari ini, tapi aku mendadak ada urusan." Vanes meraih tas ransel kecil yang diperkirakan isinya adalah baju ganti. " Maaf nona aku akan pergi dulu."


"Iya silahkan." Andini mengijinkan Lili pergi, senyum Andini terus saja mengembang di bibirnya, sebagai ramah tamah.


Andini belum puas berenang, tanpa lili pun tak masalah, dia akan berenang sendirian hari ini.


Byuuurr!


Andini yang sudah hoby berenang sejak kecil, dengan lincah dia memainkan tangan dan kakinya demi mempertahankan diri supaya tetap mengapung di air. Keahlian Andini berenang dan Arsena hampir setara, sayang Andini tak pernah ikut dalam lomba. Dia hanya ahli menjadi perenang sejati di sungai yang ada di kampungnya dulu bersama teman-teman.


Setelah lelah berenang sendirian, Andini kembali naik di bibir kolam, kama lama terasa tak asyik juga berenang sendirian. Andini pun ingin segera ganti baju dan kembali sebelum Arsena juga berangkat menuju penyelidikan pada Ken selanjutnya.


"Aaaaa ... kenapa aku ini?!" Andini merasa tenggorokannya amat sakit.


" Aaaaa sakit sekali. Pelayan tolooooong!" Andini segera menyadari kalau dia sedang keracunan sesuatu.


"Nona anda kenapa?"


" Apa yang anda masukkan ke dalam minuman tadi?" Tuduh Andini dengan mata berair, dan mencengkeram tenggorokannya yang sakit luar biasa.

__ADS_1


Pelayan itu sangat ketakutan. " Tentu hanya sari jeruk dan gula Nona, saya tak memasukkan apa apa di dalamnya."


"Jangan bohong. Ini sakit sekali tolong." Suara Andini mulai serak, sakit di tenggorokan ya tak berkurang sedikitpun. Kini Andini menggulingkan tubuhnya ke lantai dia seperti kucing yang kesakitan habis memakan umpan tikus beracun.


"Bi, tolong beri aku air kelapa muda."


"Nona minta kelapa muda?" Tanya bibi yang panik.


"I- iya cepaaaat, Bi!" Andini mengangguk.


"Baik, Nona." Pelayan dengan panik segera mencari kelapa muda yang dipercaya bisa menawar racun yang sudah masuk ke tubuh. Andini berharap racun itu belum merasuki ke dalam organ inti lainnya.


Andini dengan susah payah menghubungi Arini, namun sepertinya gadis itu belum selesai memasak, saat berangkat tadi Andini melihat ponselnya sedang menancap dengan charger di ruang tamu.


Andini mencoba menghubungi lewat panggilan cepat ke nomor Arsena, sudah lama berdering tapi tak mendapat tanggapan. Akhirnya Andini mengetik sebuah pesan sambil menahan sakit di kerongkongannya.


'Ars, tolong aku, temui aku di kolam.'


Tentu kolam yang dimaksud Andini sangat banyak, kalaupun Arsena menemukan dia pasti kebingungan terlebih dahulu setelah memeriksa beberapa kolam umum yang ada di lantai VVIP ini.


Andini semakin kesakitan, tubuhnya mulai terasa panas dingin, dia tak menyangka, Lili atau Vanes akan bertindak senekat ini. Semakin membuat Andini yakin kalau dia adalah Lili.


"Nona ini air kelapa hijau yang anda minta." Pelayan itu dengan panik segera menyerahkan kelapa hijau berukuran besar yang hanya dibuka bagian atasnya saja kepada Andini. Membantu Andini bangun dan membimbingnya mengarahkan sedotan ke mulut. Andini segera meminumnya dengan rakus.


"Nona percayalah, minuman tadi murni tanpa racun, jika ada yang melakukannya pasti sahabat anda tadi." Terang pelayan itu. "Saya yakin selesai dari kamar mandi dia menukar gelas anda tadi." Imbuh pelayan itu lagi yang sempat menangkap gerak gerik mencurigakan.


Andini dengan nafas tersengal meraih kembali ponselnya, jika dia sudah berhasil mendapatkan penawar pertama, dia harus mendapat perawatan, Andini segera menghubungi sahabatnya Vanya.


"Bi tolong sharelok tempat ini pada teman saya," Andini yang merasakan perutnya mual ingin muntah meminta tolong bibi untuk menyampaikan pesan untuk Vanya agar datang secepatnya lalu mengirim keberadaannya sekarang.


Vanes dari balik dinding tersenyum puas telah berhasil membuat Andini sengsara.


Pertunjukan pagi yang sangat menyenangkan baginya. Setelah memastikan Andini benar benar meminum racun itu Vanes segera pergi, dia sebenarnya pagi ini sama sekali tak ingin berenang dengan Andini. Tapi sebuah misi yang baru saja berhasil membuatnya sangat bahagia dan tak ingin menyiakan kesempatan ini. Vanes pun pergi meninggalkan Andini dan buru buru kerumah sakit untuk memberi tahu kabar bahagia ini pada Andrew.


Pesan singkat segera meluncur ke ponsel Vanya, Gadis yang masih setia menjomblo itu segera membacanya, dengan tergesa gesa dia segera meninggalkan tumpukan berkas yang ada di atas meja kerjanya. Sedangkan pasien yang dia tangani akan dihandle oleh Vano untuk sementara waktu.


"Andini, apa lagi yang terjadi padamu, ternyata menjadi orang kaya tak seindah seperti cerita orang-orang, " ujar Vanya sambil berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju lift, yang bisa mengantarkannya dengan cepat menuju parkir.


Andini merasakan perutnya begitu bergejolak, dia seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya. Tak lama Andini pun mengeluarkan cairan berwarna kuning dari perutnya.


"Hoeeek hoeeek." Andini tak mampu berdiri, dia memuntahkan cairan itu di bibir pantai, pelayan yang panik tak punya rasa jijik sedikitpun. Dia membantu memijit tengkuk Andini pelan pelan.


Andini ingin memuntahkan cairan ditubuhnya lebih banyak lagi." Hoek Hoek."


"Bagus Nona, kata orang-orang, jika bisa muntah maka racun di tubuh anda akan ikut keluar," ujar pelayan dengan wajah sedikit lega.

__ADS_1


Andini mengangguk, dia merasakan kepala berputar putar dan matanya ber kunang-kunang, kemudian Andini tak ingat apa apa lagi seperti orang tidur. Namun, masih bisa merasakan lengan kokoh besar mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari kolam.


*Teman-teman bagi vote dan like nya dong. biar lebih rajin updatenya.


__ADS_2