
Tak butuh waktu lama untuk Andini ganti baju. Ia keluar lagi dengan penampilan yang berbeda. Andini nampak lebih cantik dan anggun dengan baju yang dikenakan. Ia tak perlu memakai baju yang terbuka untuk tampil menarik, cukup dengan baju sederhana yang simple sudah cukup membuat mata pria terpesona.
"Andini !" Arsena masih berusaha menahan keberangkatan Andini. Menahan pergelangan tangannya. Menatap dengan tatapan memohon.
"Maaf." menoleh sesaat. Melepaskan genggaman tangan Arsena. "Vanya ayo kita berangkat sekarang. Ini hari pertama, jangan sampai bikin catatan buruk dimata Dokter Vano." Kata Andini berjalan keluar pintu.
Arsena ikut keluar bersama Vanya. Andini segera mengunci pintu dan mendekat pada mobil Vanya. Andini masih keras kepala, ia kekeuh tak ingin diantarkan oleh Arsena.
Hati Andini masih sakit. Penghinaan Arsena masih terus terngiang di telinganya. Walaupun Andini tak menunjukkan amarahnya secara langsung. Namun dengan penolakan Andini dan sikap dinginnya, pria itu tau kalau Andini masih marah.
Arsena mengalah, membiarkan Andini berangkat dengan Vanya. Pria itu hanya bisa mengamati Andini yang sudah pergi bersama temannya. Bahkan saat pergi Andini tak pamit pada Arsena atau sekedar menoleh ke arahnya ketika di dalam mobil.
"Aku juga tak mengerti kenapa aku sekarang malah ada disini. Seharusnya aku tak perlu kesini tadi," Sesal Arsena.
Berulang kali memukul kemudi dan menyandarkan kepalanya yang mulai terasa berat.
Arsena segera melajukan mobil berlahan di belakang mobil Vanya, tanpa ada keinginan untuk mendahului. Arsena terus membuntuti hingga mobil Vanya belok di lokasi RS. Setelah Andini dan Vanya benar benar aman, selamat sampai tujuan. Arsena baru melajukan kembali mobilnya menuju kantor.
*****
"Ndin, si tampan Arsena pagi-pagi udah di kontrakan. Kalian ngapain aja?" Tanya Vanya penasaran.
Ya, nggak ngapa-ngapain. Seperti yang kamu lihat tadi. Kita duduk-duduk di sofa.
"Masa cuma duduk-duduk aja. Pasti ada yang lain lah, secara dia kan suami kamu." kata Vanya sambil terus menaik turunkan alisnya berulang kali.
"Vanya jangan mulai deh, seperti yang kamu tau, aku dan Arsena itu menikah karena terpaksa. Dia nggak cinta sama aku."
"Iya-iya, kan cuma pengen tau, siapa tau tadi kalian ngapain kek, sarapan dulu kek"
"kepo Lo."
"Nggak apa, Kan sama sahabat sendiri."
Vanya terus menggoda Andini hingga tak terasa mereka berdua sudah sampai di depan ruangan masing-masing.
Sebuah kebetulan, RS tempat Andini bekerja, letaknya berdampingan dengan kantor Arsena. Bisa dibilang rumah sakit itu adalah miliknya. Dan Arsena hafal betul siapa saja Dokter yang bekerja di tempat itu termasuk Dokter Namira dan Dokter Vano.
Andini dan Vanya segera menemui dokter Vano. Dokter senior yang akan membimbing, memantau, sekaligus akan menjadi partner kerja.
_
_
"Andini, Vanya, mulai sekarang kita adalah satu tim. Mari kita bekerja secara efektif dan efisien. Kata Dokter dengan aura positif di wajahnya. Menyambut kedatangan calon dokter muda berbakat seperti Andini dan Vanya.
-
Ketiga dokter beriringan masuk ke dalam ruang pasien, Vano dan Andini mulai memegang pasien pertamanya untuk ditangani.
Mereka hari ini bekerja penuh dedikasi tinggi. Bekal ilmu yang ia serap selama kuliah akhirnya berguna di hari ini.
Sedangkan Arsena, dengan wajah kusut bak jemuran, bergegas naik lift menuju ruang pribadinya. Hari ini ia merasakan bagaimana sakitnya di acuhkan.
Arsena sedikit kecewa, Namun sudah sepantasnya Andini bersikap seperti itu. Karena ia telah lama membuat wanita itu menderita.
Arsena sadar dia telah tak adil memperlakukan Andini. Bahkan bisa dibilang sangat keterlaluan. Arsena menyesal, ia ingin memperbaiki semuanya. Ternyata Andini menjadi lebih berharga setelah ia tiada di sisinya.
Arsena masuk ke ruang kerja, menaruh tas di atas meja dan duduk bersandar di kursi kebesaran.
Yeah,, setiap hari ia telah merasakan nikmatnya menjadi direktur utama. Walaupun belum resmi, tapi setidaknya ia sudah menduduki posisi itu. Direktur utama sudah tak pernah masuk kerja lagi semenjak putra pertamanya menjadi seorang suami.
Bosen di ruang kerjanya. Akhirnya Arsena ingin berkeliling sekedar berjalan berputar-putar di wilayah kantor utama saja.
__ADS_1
"Vina?"
"Iya, ada apa, Pak?"
"Apa hari ini Miko tak masuk? Aku lihat ruang kerjanya sejak pagi tertutup."
"Maaf, Pak, Pak Miko hari ini resain, ini berkas pengunduran dirinya, aku belum sempat antar ke ruangan bapak"
"Ouhhh "... Arsena hanya mengangguk.
"Baguslah kalau dia resain. Setiap hari tak perlu lagi lihat Miko mondar-mandir di depan ruang kerjaku lagi," kata Arsena.
Walaupun sesungguhnya di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan kehilangan sosok Miko yang tak pernah ia sukai keberadaannya.
Arsena kemudian menemui sahabatnya, Gilang.
"Sibuk bro ...." Sapanya ketika baru masuk beberapa langkah.
"Banget, lihat kerjaan gue, seabrek gini." Ujar Galang sambil menepuk tumbukan kertas di mejanya. "Lo, sekarang enak jadi bosnya. Oh ya tumben muka Lo kusut kayak belum mandi gitu? Mana Arsena yang keren, pasti berat banget beban Lo Jadi direktur utama ya?"
"Banyak pikiran, tapi ini lain lagi , Bro." Arsena masuk lalu duduk di depan Galang.
"Pak Bos, ternyata punya banyak pikiran juga." Galang terkekeh. Masih sibuk memeriksa dokumen penting dari sekretarisnya. Galang bawahan Arsena dia menjabat sebagai manager di perusahaan PT Wilmar
"Bro, apa yang kamu lakukan Andaikan seorang yang sudah Lo anggap seperti saudara, tapi dia berani mencoba menodai istrimu."
"Istri, Kayak Lo punya Istri saja, gue akan habisin Dia, aku tak akan pernah mengijinkan pria lain menyentuh istriku. Nyawa taruhannya bro."
"Baiklah, jika kau saja bersikap demikian, aku juga akan melindungi Dia."
Arsena menganggukkan kepalanya, ia bertanya demikian untuk mengukuhkan tekadnya dalam memberi hukuman untuk Devan.
" Siapa dia?"
" Arsena keluar ruangan Galang. ia terlihat sedang ingin menghubungi seseorang.
*****
Sedangkan Doni yang diberi tugas menjemput Liliana. Ia telah melakukan tugasnya dengan baik dan benar.
"Sayang, kamu sudah datang." Lili segera memeluk tubuh tegap yang menunggunya. Kebetulan posisi pria itu saat ini sedang membelakanginya. Karena pria itu memutuskan untuk menunggu Lili keluar pintu apartement sambil memandangi pemandangan yang ada disekitar Apartement.
"Makasi ya, pagi-pagi udah jemput." Lili menempelkan kepalanya pada punggung Doni. Sedangkan Doni yang dianggap Arsena oleh Si Lili gara gara penglihatannya rada butek, memilih diam. Gadis itu memakai kacamata kuda. Hingga asal peluk saja ketika pria tampan telah menunggunya.
Doni membiarkan Lili terus memeluknya. Bahkan dia merasa sangat diuntungkan. Sudah lama menjomblo kini ada yang memeluknya pagi-pagi. Lumayan dapat rezeki pagi.
"Sayang kamu nggak mampir ke apartemenku dulu, sekedar minum kopi, ini masih pagi." ujar Lili masih menempelkan kepalanya manja, di punggung Doni. Namun ia kini mulai mencurigai sesuatu. Lili mengendus endus. Kenapa Arsena tak se harum biasanya. Dan ini malah tercium bau ketiak gara-gara tadi lupa pakai deodorant dulu sebelum berangkat.
Lili membuka kacamatanya. Memastikan pria yang dipeluknya itu benar Arsena.
"Pak Doni !! Bapak kurang ajar sekali berani sentuh saya, masih bau lagi." Lili yang tadinya bahagia kini menjadi kesal.
Aroma Doni tadi membuat perutnya bergejolak, setelah tau ternyata bukan Arsena kekasihnya. " Nona aja yang asal peluk, mentang- mentang saya lagi pakai baju Den Sena."
Doni tersenyum, namun Lili menatapnya sebal.
"Kenapa bapak yang jemput saya? Dimana Arsena!!" Tanya Lili ketus.
"Maaf Non hari ini Aden lagi ada urusan lain. Sekarang Nona lili tinggal memutuskan, mau diantar oleh saya, atau berangkat sendiri."
"Sama situ?! Ogah." Lili hengkang dari pandangan Doni dengan wajah kesal. Ia memilih mengeluarkan mobilnya sendiri dari parkiran Apartement. Dengan kencang ia mengendarai mobilnya keluar basement.
Doni melihat kepergian Lili dengan lega. "Biar aku perjaka tua, aku juga ogah anterin situ yang cantik tapi culas."
"Kakak." Sapa Lili pada Devan dengan manja.
__ADS_1
"Hey! kenapa pagi-pagi sudah cemberut saja." kata Devan yang segera menghentikan aktifitasnya ketika sang adik kesayangan datang.
"Lili lagi kesal kak. Masa Arsena nyuruh asistennya untuk jemput Lili."
"Sibuk kali, Dia." kata Devan yang berpindah memeriksa dokumen lembar per lembar. Dokumen berisi surat perjanjian kerjasama bilateralnya dengan perusahaan milik Arsena.
"Kak aku ingin segera nikah sama dia, tolong kak, aku nggak mau ditunda terus seperti ini."
"Ya, kan kamu bisa ngomong sama dia."
"Kalau aku yang ngomong jawabannya pasti ntar, besok, ntar besok. Aku perempuan kak, aku sudah 28 tahun aku bisa disebut perawan tua kalo seperti ini terus."
"Entar kakak bilang ke Arsena. Supaya dia tak menunda lagi." Kata Devan setuju.
"Makasi kakak." Lili segera bergelayut manja di pundak Devan.
Devan mengacak acak rambut Lili dengan gemas.
"Aku akan melakukan, apapun yang kau inginkan Adikku. Arsena akan segera menikahimu." janji Devan dalam hati.
Lili kini kembali memeluk kakaknya dengan rona wajah bahagia. Kakaknya tak pernah ingkar janji. Dia bisa mengabulkan keinginannya setiap saat.
Devan yang ambisius dan lili yang manja. Mereka adalah kakak beradik yang sepaket.
*****
Tuan Devan, ada yang ingin bertemu dengan Anda.
"Siapa? ...."
"Utusan Tuan Arsena."
"Utusan, sejak kapan dia ingin bertemu denganku menggunakan utusan."
"Suruh masuk."
"Baik Tuan." Sekretaris Devan segera mempersilahkan utusan Arsena masuk.
Pria bertubuh garang dan bengis itu sudah masuk ke dalam ruangan. segera memaksa Devan untuk ikut dengannya. Dia mengancam dengan menodongkan pistol di kepalanya.
Sedikit saja melawan, peluru di dalam pistol itu itu tak segan-segan melesat di kepalanya
"Apa apa'an ini?"
"Ikut kami!"
" Hai jangan sentuh kakakku, berani sekali kamu memperlakukannya seperti itu. Jika Arsena tau kakak iparnya kau perlakukan seperti itu. Maka kematianmu yang akan menjemputmu.
"Diam kau Nona!"
"Atau kamu akan aku seret juga seperti kakak anda."
"Kakak! Kenapa Arsena melakukan semuanya pada kakak? Apa kakak telah berbuat salah? Salah kakak apa?"
"Lili, kakak tidak melakukan kesalahan apa-apa, kamu tenang, ini pasti salah paham."
"Jangan sakiti kakakku, atau kalian akan menanggung semua akibatnya .... " Ancam lili pada Bodiguard.
"Kata kata itu harusnya pantas Anda tujukan untuk kakak Anda Nona, Kakak anda telah berani melecehkan Nona kami, istri bos kami."
"Istri ... ? Bos Anda? Arsena?" Lili masih mencoba mencari sebuah kebenaran dari kata kata Bodiguard berwajah sangar itu.
*Happy reading sahabat semua.
*Semoga sehat selalu
__ADS_1