Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 65. bertahanlah.


__ADS_3

Melihat mertuanya bersedih Arsena memerintahkan Doni untuk membelikan tisu, sekaligus air minum.


"Em, Den biar Neng Ana pakai ini aja, sapu tangan saya baru saya cuci belum dipakai sama sekali."


Arsena heran. "Pak Doni tumben anda malas keluar, biasanya anda paling alergi dengan aroma rumah sakit," protes Arsena.


Saya, lagi pengen di dalam, Den, nunggu Den Miko siuman." Kata Doni sambil mengulurkan sapu tangan putih bersih pada Ana. "Neng mau kan? Pake sapu tangan saya."


"Maaf, saya jadi merepotkan Anda." Ana menerima sapu tangan Doni. Ia mulai membersihkan lelehan air mata di pipinya.


"Aa, sapu tangannya biar saya bawa pulang, akan saya cuci dulu. Besok biar putriku Dara mengantarnya.


"Tidak usah, diambil juga boleh. sekalian buat kenang kenangan dari saya" Kata Doni sedikit menghibur ana.


"Pak Doni!"


"Eh, iya, Den. Maaf"


 


Melihat Asistennya bertingkah kikuk di depan mertuanya membuat Arsena bisa membaca gelagat Doni. Namun hati Arsena kini sedang bersusah ia kini hanya fokus berdo'a dalam hati untuk kesembuhan Andini dan Miko saja.


*****


Ruang rawat Andini terbuka, Namira keluar memakai seragam lengkap sambil melepas stetoscope di telinga dan mengaitkan ke lehernya.


"Ars, Andini sudah boleh di tengok, tapi sebaiknya sebentar saja, karena ia juga harus banyak istirahat. Dan ini resep obat yang harus segera di ambil di Depo farmasi.


"Terima kasih Namira," ujar Arsena di balas anggukan kepala dan senyuman oleh Namira.


"Ars, aku minta maaf, jika aku kemaren sudah berburuk sangka."


Arsena hanya mengangguk, ia sudah memaafkan Namira. " Dia bukan ART, Dia kesayanganku, dia istriku, jadi jangan sekali kali kau merendahkan dia, apalagi berburuk sangka seperti itu"


"Aku sengaja tak mengenalkan dia pada dunia, karena jika itu terjadi, Aku khawatir akan banyak rekan bisnisku yang memanfaatkan hubungan kami. Contohnya seperti yang terjadi dengan dia sekarang.


"Sudah kuduga, kau akan jatuh cinta dengan wanita berwajah manis itu," ujar Namira sedikit kecewa. Ia yang mengira Arsena masih sendiri. Ternyata kenyataan berbicara lain.


Baiklah aku selamanya akan menjadi pemuja rahasiamu saja.


Namira mengukir senyum, sebelum pergi keruangan pasien. " Baiklah, aku ingin menjenguk kondisi istriku.


Arsena melewati Namira yang berdiri mematung. ia sudah tak sabar menemui Andini.


"Em, biar Dara saja Kak, yang ambil obatnya. Kak Arsena temui dulu Kak Andininya." Dara meminta resep yang ada di tangan Arsena. Ketika ia teringat harus ada obat yang harus segera diambil.


"Baiklah tapi kamu harus bawa ini," Arsena meminjamkan blackcardnya pada Dara. dara segera beranjak dan Arsena segera masuk de ruang rawat Andini.


"Ndin? Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Kata Arsena sambil duduk di kursi kecil di samping Andini.

__ADS_1


Arsena mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Andini. Membelai rambutnya dengan lembut. " Aku tadi juga menelepon ibu."


Ana, segera mendekat dan memeluk putrinya. "syukur kamu segera pulih, Nak."


Nak, Arsena. Tolong lindungi Andini. Dia tak akan seperti ini kalau dia tak menikah dengan, Anda. Andini garus menerima akibat dari hubungan kalian masalalu. Untung saja kalian bisa menyelamatkan tepat waktu. Kalau tidak mungkin anakku sudah dinodai dengan pria itu.


Arsena mengangguk " Maafkan kelalaian saya Bu, kejadian seperti ini akan saya pastikan tak akan terulang." Arsena memandangi wajah dan tubuh Andini yang penuh luka. Arsena merasa kasian. Ingin segera merangkul dan menciumi tubuh istrinya. Namun Arsena sungkan melakukan di depan mertuanya.


Andini sudah bisa duduk dengan benar, Ana segera menyuapi Andini dengan bubur, hingga beberapa suap. " Sudah Bu, Andini sudah kenyang."


"Habiskan, Ndin biar cepat sembuh." Kata Ana lagi.


"Kalau terlalu banyak, Andini khawatir bubur yang masuk jadi ikut keluar semua." Rengek Andini manja.


Ana akhirnya menyudahi menyuapi Andini. Ia kembali menaruh piring bubur di atas nakas. Sedangkan tangan Arsena sudah membuka segel botol dan memberikan minum untuk Andini.


Andini merasa senang, orang yang paling disayangi kini semua ada di dekatnya. Andini memeluk ibu sekali lagi. kangen pada ibu belum juga hilang.


Andini melepaskan pelukannya dengan ibu, ia teringat dengan kondisi Miko yang terluka parah. Andini meminta Arsena membantu turun dan mengantar ke ruangan Miko.


"Ars, aku ingin menemui Miko, aku khawatir dengan keadaanya."


"Ndin ...." Arsena menggeleng kepala, keberatan. Namun, Andini terus mendesak. Arsena akhirnya luluh juga.


"Baiklah. Akan aku antarkan." Arsena mengait tangan Andini, membimbingnya pelan pelan. dan Ana membawa tongkat yang terdapat botol infus . Sesungguhnya reaksi racun tulang yang diberikan ke tubuh Andini sudah habis. Hanya saja luka kakinya yang masih amat sakit saat menginjak lantai.


"Ars, apakah Miko sangat parah? Apakah peluru itu masuk ke dalam otaknya? Ars, apakah Miko akan baik saja?" Cecar Andini pada Arsena. Sebagai dokter bedah, Andini tau kalau sebuah luka di kepala bisa berakibat sangat fatal.


Arsena memeluk Andini dengan erat, ia tak ingin menjawab semua pertanyaan Andini yang hanya akan membuat dirinya semakin bersalah.


Saat Arsena berusaha meredam tangis Andini, Mita datang tergopoh gopoh.


"Ars, Dimana putraku? Ars, aku senang beberapa hari dia diam dirumah, dia tak lagi melakukan tindakan bodoh lagi, tapi kenapa justru sekarang aku mendengar kabar dia tertembak."


"Maafkan saya, Tante. Miko ikut dengan saya ke pulau, mencari Andini." Arsena menjelaskan dengan pelan, khawatir Mita akanembenci Andini.


"Jadi kamu yang mengajak Miko menjemput bahaya itu! Ars kalau sampai terjadi apa-apa dengan Miko saya tak akan pernah memaafkan kamu." ucap Mita dengan kerapi-api.


"Mama, Miko seperti ini karena menyelamatkan Andini." ujar Andini dengan linangan airmata di pipi Andini. Kesedihan Andini semakin mendalam setelah melihat Mita sangat terpukul.


"Jadi, jadi Miko sekali lagi menyelamatkan hidupmu Andini, oh tuhan Miko, Anakku. Kenapa kau harus selalu korbankan dirimu untuk istri orang." Mita menangis semakin histeris, menangisi putranya yang malang.


"Mama jadi yang salah disini adalah Andini." Andini bersimpuh di kaki Mita. Memeluk lututnya.


"Ndin, apa yang kamu lakukan?" Berdiri jangan rendahkan dirimu seperti ini." Arsena merangkul tubuh Andini dan menariknya berdiri.


"Tidak Ars, Aku yang membuat Miko jadi seperti ini, dia ikut denganmu kepulau itu untuk menyelamatkanku."


"Nak bangun, Nak."Ana tak tega melihat Andini bersujud di kaki Mita.

__ADS_1


Arsena memeluk Andini erat, menenggelamkan kepala Andini di dada bidangnya. Mita memilih duduk di kursi panjang yang ada di belakangnya. Sedangkan Ana dan Dara hanya bisa menyimak apa yang terjadi di depannya.


-


Ruang operasi Miko belum juga terbuka, kekhawatiran Andini semakin besar, ia berdoa agar dokter bisa bekerja dengan baik. Sedangkan dirinya yang harus menangani operasi bedah seperti ini masih lemah.


*****


Saat semua orang larut dalam kesedihannya Johan datang sendiri, tanpa ditemani oleh Rena. Istri pertamanya tak ikut karena ia tak mau bertemu Mita, Rena tau, Mita pasti ada di RS. Lagian siapa yang ia besuk? Andini menantu yang tak pernah ia inginkan kehadirannya? Miko, anak dari madunya? Hanya Rena seorang yang merasa mendapat keuntungan dalam situasi ini.


" Mas!" Mita segera menghambur pada Johan yang baru saja tiba. Ia kembali menangis tersedu.


"Tenanglah, anak kita akan baik-baik saja." Johan menepuk punggung istrinya pelan. membelai rambutnya yang sedikit curli.


"Dia anakku satu-satunya, Mas. Dia harapanku satu-satunya. Miko tertembak di kepalanya. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dia?"


Andini semakin teriris mendengar eluhan Mita pada suaminya. Andaikan posisi Miko bisa digantikan maka lebih baik dia saja yang diposisi Miko sekarang.


Miko sangat berarti buat mamanya. Miko sumber kebahagiaan Mita.


-


-


Ceklek !


Handle pintu ruang operasi terbuka. Semua orang yang menunggu Miko semuanya menoleh ke arah datang suara.


Perawat membukakan pintu untuk Dokter Vano dan dokter-dokter lainnya yang membantu proses operasi Miko.


Wajah kusut para dokter yang keluar ruang operasi menandakan operasi mereka tak berjalan dengan mulus.


Arsena segera menahan lengan Dokter Vano. "Vano, segera beritahu bagaimana kondisi Miko! Apa kau melakukan tugasmu dengan baik? Beritahu aku sekarang! Atau kamu tau apa yang akan terjadi dengan posisimu."


"Ars, aku sudah berusaha semaksimal mungkin." Dokter Vano berusaha bersikap tenang. Tugas terberat untuk dokter yang kedua adalah menginformasikan kondisi buruk pasien pada keluarganya.


"Miko dalam masa kritis semoga dia bisa kuat melewatinya, banyak ber do'a saja semoga ada keajaiban dari Tuhan."


"Tidaaak ! Dokter sembuhkan putraku, hanya dia harapan hidupku, sembuhkan dia Dokter, aku memohon. Jika putraku mati, aku tak akan mau hidup lagi, aku tak berguna untuk hidup lagi." Mita berteriak histeris.


"Ma, kita ber do'a. Bersama-sama ya! Semoga Miko putra kita akan segera kembali di tengah tengah kita." Hibur Johan yang di pelupuk matanya juga menggenang air mata.


"Mas, dia belum pernah bahagia sekalipun dalam hidupnya, dia selalu menjadi nomor dua, sejak lahir dia sudah menjadi nomor dua, bahkan dia juga menjadi nomor dua oleh wanita yang dicintai. Berjanjilah Mas, jika dia kembali aku ingin kau juga menyayangi dia seperti anakmu yang pertama. Aku ingin kau menunjukkan sayangmu untuknya.


"Ma, aku menyayangi Miko sama seperti Arsena, aku tak pernah membedakan putraku."


Johan menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak seolah membuatnya semakin sulit bernafas, Andaikan dia tahu, Miko mencintai Andini. Johan tentu tak akan memaksakan cinta Arsena pada Andini.


*Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2