Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 233. Belum Halal.


__ADS_3

"Sabar dong Pap ... Kak Davit butuh waktu beberapa hari lagi. Arini juga nggak bisa maksa kak Davit," jawab Arini apa adanya.


"Iya, ini papa ngebet amat, yang mau nikah itu Arini atau papa sih," celetuk Mama.


Arini kembali menikmati sarapan bistik. Setelah selesai makan dia segera pamit pada papa dan mama untuk segera berangkat kuliah.


"Pap Arini berangkat dulu ya?" Arini mengecup tangan Johan dan mencium pipi kanan dan kirinya. Lalu beralih mencium Mama dan kak Arsena.


"Kak, Arini mau donk dikasih hadiah yang bagus seperti hadiah buat mbak Andini. Hadiahnya keren." Goda Arini.


Arsena mengelus rambut adiknya. "Kau akan dapat hadiah dariku usai pernikahan, tapi hadiahnya tentu tidak sama."


" Kak Arsena tapi Arini pengen yang bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, nanti Arini dan kak Davit tinggal berbulan madu setiap hari.


"Dasaaar ..." Arsena mendorong kening Arini dengan telunjuknya.


Andini hanya bisa tersenyum menyaksikan adik kakak yang terus saja bercanda berlebihan.


Sayang pagi ini kau cantik dan wangi sekali, ujar Rena. Yang tak sengaja hidungnya mengendus aroma tubuh Arini saat putri kecilnya menciumnya tadi.


"Mama masih nanya aja, jelas donk mau ketemu sama do'i." Miko mengangkat alisnya menggoda Arini.


"Kalian ini kenapa selalu goda Arini. Seperti nggak pernah muda."


"Ya udah Arini pergi dulu ya. Da semuaaaa! Da omaaa." Arini mencium pipi Oma sambil menyomot satu buah kue keju dan berlari keluar.


Tak lupa meraih tas slempangnya, dia benar-benar pergi meninggalkan keluarga besarnya yang tengah sarapan.


Sampai di halaman, Davit sudah stanby menunggunya di taman dekat air mancur sambil menyandarkan tubuhnya di sisi mobil.


"Pagi sayang !" Sapa Davit pada Arini dengan senyum manisnya.


" Pagi juga Kak Davit!" Ujar Arini manja. Senyumnya mengembang sangat lebar.


Arini menghambur di pelukan pria bertubuh gempal yang sudah rapi dengan baju hitam putih.


"Masuk sayang." Davit membukakan pintu dengan bahagia.


"Makasi Kak," ucap Arini saat Davit membukakan pintu mobil.


****


"Sayang, apa yang terjadi kok manyun begitu?" Davit mengemudi sambil sesekali menoleh ke arah Arini.


Arini hanya diam, Dia memalingkan wajahnya menatap kearah lain. Davit yang melihatnya heran. Tak biasa Arini bersifat demikian dingin.


"Hei cantiknya kakak, kenapa diam?" Kakak kalau ada salah maaf deh?" Davit menyentuh satu telinganya, sebagai ungkapan minta maaf.


Arini tetap diam hanya menarik sedikit saja bibirnya membuat Davit makin heran.


Davit mengelus rambut Arini, Arini diam tanpa reaksi. " Sayang? Cerita donk sama akak. Kenapa?

__ADS_1


Davit segera menepikan mobilnya, dia yakin kalau Arini pasti sedang tak baik baik saja.


Davit memutar tubuh Arini menghadapnya. "Sayang aku tahu, pasti sedang terjadi apa apa."


Arini menunduk, tak berani menatap Davit.


Davit menarik dagu Arini, membuat wajah Gadis itu mendongak ke atas tepat bertemu dengan manik mata sang kekasih.


"Kak, bener sayang sama Arini?" Tanya Arini dengan lugu.


" Kok tiba-tiba ada keraguan begini sih? Apa yang terjadi?" Davit mencoba menenangkan pujaan hati. menatap wajah kekasihnya tanpa berkedip.


"Kak Davit buruan melamar Arini donk?"


Davit tersenyum. " Eneng sudah nggak sabar ya?" Candanya.


Bukan nggak sabar, tapi kakak harus segera melamar Arini. Digantung itu nggak enak kak. Nyesek tau."


Davit tersenyum." Arini sabarlah sebentar, kakak masih butuh waktu. Kasih kakak waktu beberapa hari lagi ya?" Davit mencium kening Arini memohon maaf.


Arini membuka pintu mobil dan berlari keluar, kini dia berdiri di dekat rawa sambil menangis sesenggukan.


" Sayang, kok malah nangis?" Davit memeluk Arini dari belakang. " Kakak udah bikin salah, maafin kakak?"


Arini memeluk Davit dengan erat, " Kakak nggak salah? Tapi kenapa kakak sampai sekarang belum melamar Arini. Apa ada wanita lain yang kakak cintai?


"Arini ingin tahu jawabannya? Jawabannya enggak ada wanita lain. Cuma Arini seorang," Davit menekankan kata-katanya.


"Oke, oke, mau Arini gimana sekarang? Mau kakak khitbah sekarang? Oke akan Kakak buktikan," tantang Davit.


Arini masih menangis sesenggukan. Davit menghembuskan nafasnya kasar. Kembali memeluk Arini yang tubuhnya hanya setinggi dada bidangnya


"Udah jangan nangis lagi, nanti sampai kampus dikira teman teman, habis saya apa apain lagi."


"Emang habis diapa apain sama Kak Davit?"ujar Arini manja sambil mengerucutkan bibirnya.


" Bibirnya kalau terus seperti itu nanti aku cium lho." Davit menggoda.


Arini tersenyum tipis. " Cium aja kalau bisa."


"Nantangin kakak Nie?" Davit bersemangat.


"Nggak takut?" Arini berlari sambil tertawa riang.


"Arini kakak akan mengejarmu sampai bisa." Davit mngejar Arini yang berlari menuju mobil.


Langkah Arini terhenti ketika telah sampai di salah satu sisi mobil, Davit masih terus mengejarnya dan berhenti tepat di depan Arini.


Degup jantung kedua insan saling mencintai itu berdentum kencang. Dada Arini naik turun begitu juga Davit.


Arini tak berani menatap Davit, ia palingan manik mata indah yang telah mencuri hati pria yang tengah berdiri di depannya.

__ADS_1


Nona yakin akan mencintai pria miskin yang notabene hanya pria berkasta rendah ini? Davit melontarkan sebuah pertanyaan yang entah berapa kali sudah keluar dari bibirnya.


"Jawabanku sama Kak, hanya kakak pria yang aku inginkan tuk mendampingiku. Jika kakak tak percaya aku setia kakak bisa lihat mataku. Apa ada kebohongan didalamnya." Arini mulai memberanikan diri menatap netra hitam dan teduh milik Davit.


"Oke, Kakak percaya kok." David tersenyum. Pria itu membelai anak rambut Arini yang diterpa angin sepoi sepoi. Sentuhan tangan Davit begitu memabukkan.


Arini memejamkan mata begitu merasakan nafas Davit menerpa wajah ayunya. Semilirnya menghangatkan pipi halus yang telah dipoles dengan sedikit perona.


"Sayang, kita berangkat nanti telat." Bisik Davit di dekat telinganya." Senyum manis kembali tersungging dari bibir casual sopir tampan itu. Arini segera membuka matanya, sungguh harapannya tak sesuai ekpetasi


'Duh kak Davit aku pikir kakak akan mengecup bibir ini, bisa-bisanya aku berharap hal yang memalukan. Harusnya aku bisa mengendalikan perasaan ini.'


" Ingin dicium ya? Entar aja kalau dah nikah, Maafkan aku kemaren kemaren telah melakukan padamu, Sayang, mulai sekarang aku akan menjaga bidadari di hati ini hingga malam akad pernikahan kita berlangsung nanti. Di malam itu tiba aku pasti tak akan melepaskanmu lagi, Nona."


Davit membukakan pintu yang ada di dekat Arini, Arini sungguh malu dengan pikiran kotornya baru saja. Beruntung sekali dia dikenalkan oleh pria seperti Davit yang mampu menjaganya hingga saat ini.


Andaikan bisa, Arini sungguh ingin berubah menjadi liliput saja. Dan bersembunyi di balik rerupumputan, sungguh malunya masih terasa hingga pipinya memanas.


" Mau terlambat?"


" Jangan Kak, pagi ini di jam pertama ada dosen Xiller yang akan mengajarnya.


"Untung tadi kakak ingatkan, Kalau nggak pasti akan makin berabe urusannya." ujar Davit gugup, sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Arini hanya setuju sambil menatap lurus ke depan. Masih belum berani menatap Davit lagi.


" Sayang kok jadi pendiam."


'Aku itu malu Kak,'


" Oh, iya Arini takut terlambat Kak, Arini harus lebih cepat sampai.


" Pulang jam berapa?"


" Belum tahu, kakak nanti nggak usah jemput aja ya, aku akan bersama teman."


" Cewek apa cowok? Selidik Davit.


" Entahlah, aku usahakan bareng temen cewek aja.


" Aku nggak kasih izin, sudah kewajiban suami jemput istrinya pulang kerja."


" Tapi aku yang minta Kak. Lagian kan masih calon, belum suami."


"Tapi sebentar lagi udah mau jadi suami, jadi aku belajar menjadi suami yang baik."


" Gombal ..."


" Serius, Sayang" ujar Davit manja.


" Sun dulu dong?" Davit menggoda.

__ADS_1


" Nggak mau, belum muhrim." Arini membalas menghindari sentuhan Davit, Davit tertawa menghadapi kekasih kecilnya yang lugu dan polos.


__ADS_2