
Arsena yang sudah di kuasai amarah saat ini ia berdiam diri di kamarnya hingga beberapa jam. Bisa bisanya ia kecolongan informasi kalau Miko pria yang menyukai Andini. Kalau orang lain mungkin ia tak masalah tapi dengan Miko ia tak akan menyerahkan apa yang sudah jadi miliknya. Entah itu dia sukai atau tidak.
Arsena beberapa hari tak melihat Asisten Doni bekerja menemani papa, jadi ia memutuskan untuk menghubungi Galang. Provesi Galang adalah teman kuliah, sahabat serta rekan kerjanya di kantor.
Galang yang masih cuti menikah, terpaksa harus menerima kerja tambahan dari calon Direktur utama di perusahaannya. Kalau tidak, kedepannya Arsena pasti akan mempersulit hidupnya. Walaupun selama ini ancaman Arsena cuma gertakan dan belum pernah benar-benar ia lakukan.
"Tolong kamu cari informasi sedetail mungkin tentang gadis di foto ini. Apa saja yang telah dilakukan malam kemaren hingga pagi. Korek semua cctv yang ia lewati dan informasi paling akurat di apartement si bedebah"
" Siap, Informasi akan segera diterima secepatnya." Kata Galang. Dan panggilan pun segera berakhir.
Galang hanya bisa mengiyakan permintaan Arsena. Mengenai penyelidikan wanita yang pergi bersama Miko semalam.
****
Di kamar Andini
"Nona Andini, bangun non!" Bi Um mengetuk pintu berulang kali. Namun tak ada sahutan dari dalam.
"Nona, sudah malam, sudah seharian nona tak makan ...! Panggil bibi lagi. Kali ini ketukannya lebih keras. Kemudian Bi Um menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Kok sepi ?"
Bi Um mulai resah, tadi pagi kalau saja bibi tak mendengar ada pertengkaran, pasti ia juga tak sekhawatir ini.
Bi Um kemudian meninggalkan kamar. Menuju kamar Arsena. Dia berharap pria itu mau membantunya.
Kebetulan kamar Arsena tidak tertutup rupanya dia sedang sibuk di depan laptop sejak tadi. "Berani kau tidur dengan pria itu, Ndin. Aku akan membuat perhitungan denganmu kalau semua itu ternyata benar.
"Den, bibi boleh masuk?" Kata bibi di depan pintu.
"Oh Bibi? Masuk aja, ada apa?"
"Sebelumnya bibi minta maaf. Kenapa bibi kok jadi khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Nona Andini ya, Den."
"Emang dia kenapa?" Tanya Arsena. Masih tetap sibuk dengan pekerjaannya.
"Anu Den, seharian ini kamarnya sepi, dan waktu saya panggil nggak ada jawaban, ndak biasanya dia seperti itu den."
"Apa urusannya sama saya?" Kata Arsena menghentikan aktifitasnya sebentar lalu melanjutkan lagi. Arsena memilih abai dengan kekhawatiran Bibi Uma.
"Den, maaf kalau bibi lancang. Bibi takut dia bunuh diri."
"Bunuh diri !!" Arsena menoleh mendengar kata bunuh diri ia langsung berlari meninggalkan kamarnya menuju kamar Andini. Arsena juga khawatir kalau Andini nekat, pria itu tau kata-katanya tadi pagi terlalu menyakitkan untuk wanita polos seperti Andini.
"Bibi yakin dia di kamar?"
"Yakin Den, bibi nggak lihat Nona keluar kamar sejak pagi."
Bibi dan Arsena mendatangi kamar Andini dengan langkah tergesa. Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu.
"Minggir Bi!" Arsena mengambil ancang-ancang akan mendobrak pintunya.
Beberapa tendangan kaki berkekuatan power telah Arsena luncurkan, pintu kamar itu akhirnya rusak juga.
Arsena mengamati sekeliling namun tak ada Andini seperti yang ia harapkan.
"Kosong Den," ujar Bi Um yang juga ikut masuk.
"Tunggu! Check kamar mandi, Bi" Suara gemericik air membuat pria itu yakin Andini pasti sedang ada di kamar mandi.
Setelah ditunggu beberapa saat, tak ada bunyi dari dalam selain air gemericik. akhirnya Arsena terpaksa merusak pintu kamar mandi.
Belum satu jam, Arsena sudah merusak dua pintu yang ada di rumahnya.
"Nona!" Bibi terkejut melihat Andini duduk bersandar pada dinding kamar mandi dengan mata terpejam.
"Den." Tubuh bibi mulai panik.
Arsena juga panik melihat Andini terkulai lemah dengan mata terpejam dengan seutas baju mini yang melingkar di tubuhnya.
"Bi, cepat matikan shower nya dan ambil handuk."
"I-iya Den" Bibi berlari mengambil handuk namun tak kunjung kembali. Bibi masih mencari cari di lemari.
Sena tak sabar ia mengangkat tubuh basah Andini dari kamar mandi ala bridal style, dan merebahkan di kasur dalam keadaan basah. Hem dan celana Arsena juga ikut basah.
Ini pertama kalinya Sena melihat tubuh istrinya yang hanya memakai baju dalam. Namun Arsena kini sedang panik ia tak memperdulikan tubuh mulus penggoda sang iman itu. Ia fokus dengan kondisi Andini yang sedang pingsan.
"Ndin, bangun! Ndin apa kamu baik baik saja?" Sena menepuk nepuk pipi Andini bergantian." Ndin, apa kamu baik baik saja?"
Ternyata si pria dingin itu memiliki rasa khawatir juga. Arsena kini semakin panik karena Andini tak kunjung membuka mata.
"Ini handukny Den,"
"Makasi Bi." Menoleh sesaat hanya untuk mengambil handuk yang di ulurkan Bi Um.
__ADS_1
"Bi, kita bawa ke rumah sakit saja. Mungkin dia lagi depresi." Kata Sena sambil mengelap wajah pucat Andini yang masih tetap memejamkan mata.
Kemudian tangannya merogoh saku mengambil handpone dan menghubungi Dokter kepercayaan keluarganya.
Arsena: ("Dokter Namira, tolong kosongkan satu ruang khusus untuk ... ART dirumahku")
Namira:("untuk siapa .... Baiklah ?"
"Pembantu, Den Arsena keterlaluan." Gumam bibi.
Bibi yang mendengarkan percakapan tadi terkejut, hatinya ikut merasakan sakit. Bisa bisa nya Arsena berbohong pada sahabatnya.
" Ganti pakaiannya Bi. Kita harus segera membawa Andini ke rumah sakit." Arsena berdiri menjauh dari tubuh Andini. " Aku tunggu diluar, setelah selesai mengganti bajunya panggil aku lagi."
Arsena menunggu di luar pintu, sementara Bi Uma dengan cekatan menggantikan pakaian untuk Andini. Bi Uma memilih memakaikan daster dengan motif bunga yang penting bahannya adem, nyaman untuk Nona mudanya.
"Sudah, Den!" Teriak bibi dari dalam.
Arsena segera masuk."Oke, bibi siapkan yang perlu dibawa," perintahnya lagi.
Sedangkan Arsena mulai mendekap tubuh Andini dan menggendongnya keluar kamar.
Bibi dan Arsena segera menuju pintu lift, karena jika lewat tangga akan sangat bahaya tergelincir. Sedangkan lewat lift perjalanan mereka langsung menuju garasi mobil.
"Den, apa tuan dan nyonya tidak di kasih tau, kalau iya, biar saja yang telepon?"
Papa dan Mama pasti sudah tidur, bibi ikut saja. Kita berdua yang akan menjaga Andini."
"Baik Den." Bibi mengekor di belakang Arsena sambil membawa tas berisi barang yang mungkin dibutuhkan ketika di rumah sakit nanti.
Malam semakin larut, tak ada asistent yang standby dirumahnya, Jadi Arsena mengemudi sendiri, sedangkan bibi duduk dibelakang memeluk tubuh Andini di pangkuannya.
**Rumah Sakit City Central **
"Cepat ada pasien darurat ... !"
Beberapa perawat segera menghampiri dengan membawa brankar pasien. Mereka mengeluarkan Andini dan memindahkan ke brankar. Sedangkan Arsena mencari lokasi parkir yang tepat dan segera menyusul Andini di UGD.
Dokter Namira sudah menunggunya di UGD dengan seragam serta peralatan lengkap dan ditemani empat perawat di sekelilingnya.
"Mira, tolong selamatkan dia." Kata Arsena pada sahabatnya. Arsena berusaha bersikap tenang, namun tidak bisa dengan hatinya. Ia merasa bersalah telah menyudutkan Andini sedangkan dirinya juga telah bersalah datang ke pesta tak mengajaknya.
Tiba tiba ponsel disaku terus bergetar. Arsena segera merogoh sakunya dan melihat siapa pengirim pesan di layar ponselnya. "Galang."
Arsena: "Lang, bagaimana hasilnya?"
Galang: "Semalam tak terjadi apa-apa, semua aman terkendali"
Arsena: "Ok, kerja selesai. Kamu boleh menghabiskan malammu dengan istrimu."
Galang: "Siiip, Bisa."
Setelah selesai berbicara dengan Galang, Arsena lega, kini ia segera mengejar Andini yang di bawa masuk oleh beberapa perawat tadi.
Andini segera dibawa ke ruang UGD untuk segera di tangani. Arsena dan Bi Uma menunggunya di luar.
Tak lama Dokter Namira menghampiri Arsena. "Tenang saja asistenku sudah mulai melakukan pemeriksaan, tapi aku tak yakin kalau dia itu pembantu kamu, jangan-jangan ...." Kata Namira menggoda, sambil melepaskan stetoscope dari lehernya.
Arsena tak menjawab pertanyaan tak penting dari sahabatnya. Hanya desahan kecil yang terdengar olehnya.
"Apa dia baik? Dan aku mau dia baik saja."
"Dia pingsan. Dia depresi." Namira menjelaskan kondisi Andini.
"Usahakan dia segera pulih." Kata Arsena lagi.
"Baik ... Ars akan aku usahakan yang terbaik untuknya.
Arsena dan Namira sama sama berjalan ke luar sambil mencari angin segar dan sekalian bernostalgia mengenang masa kuliahnya dulu.
"Kamu tetap sama Ars. Tetap tampan dan Dingin. Tapi sifat panik berlebihan pada dirimu tak pernah hilang" Puji Namira.
Pujian itu seperti angin lalu buatnya. Arsena pria yang kebal oleh kata manis serta pujian dan sejenisnnya. Dia hanya percaya pada kata hatinya, meski terkadang itu salah.
Arsena kini menyandarkan tubuhnya pada pagar besi teralis, begitu juga Nirmala gadis itu berdiri di dekatnya, angin luar dapat menyentuh kulit Ari mereka berdua. Ada kenangan manis diantara mereka saat kuliah dulu. Persahabatan buat Arsena namun lebih bagi Namira.
Dokter cantik itu sudah lama menaruh hati padanya, Namun Arsena tak pernah tertarik wanita yang kini ber profesi menjadi dokter umum itu.
"Namira gimana kondisi dia sekarang, mari kita lihat mungkin sudah ada perkembangan?"
" Hey kulkas, benar dia pembantu kamu? Khawatir segitunya ya sama pembantu?" Namira tersenyum simpul penuh ketidak percayaan.
"Dia kerja di rumah ku, aku nggak mau terjadi sesuatu aja sama dia." Kata Arsena masih sama suaranya pun dingin dan pelan.
"Sebentar lagi pasti siuman, dia pingsan karena kedinginan dan lapar."
__ADS_1
"Kamu nggak kasih makan dia ya?" Namira menggoda.
Arsena tak menjawab kini ia meraih ponsel disakunya melihat jam sudah penunjukkan pukul sepuluh malam, ia bisa menghitung jika Andini sudah tak makan selama hampir sehari penuh.
"Apa aku boleh menjenguk dia sekarang."
"Oh, silahkan. Mari ..." Ajak namira.
Arsena dan Namira masuk ke ruang UGD. Melihat kondisi Andini yang baru saja siuman.
Arsena menyentuh pergelangan tangan Andini.
"Panas? Kenapa suhu tubuhnya panas?" Kata Arsena.
"Iya Ars, karena dia telat makan jadi gejala thypusnya kambuh," jelas Namira.
"Sakit seperti ini apakah lama?"
"Tidak, karena masih gejala dia akan cepat sembuh."
Sedangkan Andini yang tangannya baru saja di sentuh ia merasakan ada yang aneh pada dirinya. Jantungnya terasa berdenyut lebih cepat daripada biasanya. Andini sudah siuman, hanya saja ia pura-pura tidur saat Arsena dan Namira menghampirinya.
Ars, sesungguhnya perhatianmu yang aku butuhkan. Karena itu bisa menjadi obat paling mujarab untuk sakitku.
"Den kalau Aden mau pulang, pulang saja sekarang, biar Bibi yang jaga."
"Enggak, Aku tetap disini sampai dia bangun." Kata Arsena pada Bibi. Sambil memandang Andini dari kejauhan. Kemudian duduk di kursi kecil, menyandarkan kepalanya pada dinding. Dan mulai memejamkan mata.
setelah Arsena memejamkan mata, kini giliran Andini yang memandangi wajah suaminya, wajahnya begitu polos dan menggemaskan saat tertidur. Tapi kenapa saat bangun selalu saja ingin menyakitinya.
Andini tersenyum sendiri ada rasa yang berbeda mulai merasukinya , memiliki suami pria seperti Arsena. Meskipun tak dianggap sekalipun ia tetap bahagia.
Lelah memandangi tubuh rupawan itu akhirnya netra Andini mulai ngantuk, ia akhirnya tertidur pulas. Setelah bibi selesai menyuapinya bubur.
****
Arsena menggeliat malas, semalaman ia tidur di kursi kecil. Paginya badannya terasa pegal, setelah meregangkan otot-ototnya Ia melihat ke arah Andini sejenak.
Gadis itu terlihat lebih baik daripada semalam. Dan kini ia sedang tertidur dengan pulas karena efek obat yang diminum.
"Apa dia sudah makan, Bi?" Tanya Sena saat menghampiri Andini. Tangannya mengusap keningnya.
"Sudah Den, sedikit."
"Bagus, jaga dia. Aku harus pulang sekarang." Kata Arsena sambil meraih jaket yang ada di sandaran kursi.
Dini hari, Arsena sudah pulang, ia ada janji meeting dengan clien. Arsena pamit pada Bi Uma untuk pulang lebih dahulu.
"Bi, jangan lupa, terus beri makan dia yang banyak, Aku nggak mau lama-lama pulang pergi ke rumah sakit seperti sekarang ini." Kata Sena sebelum pergi. Pria itu lalu meninggalkan ruang rawat Andini. Ia kini berjalan sudah sampai di koridor rumah sakit. Namun sepertinya ada yang terlupakan. Arsena masuk pada ruang Dokter, menghampiri Dokter Namira yang sedang membaca daftar pasien yang harus ditangani.
"Namira, tolong kamu berikan obat dengan kualitas paling bagus yang ada di rumah sakit ini."
"Tentu jangan Khawatir, Ars." Kata Namira sambil tersenyum dan menatap kepergian pria itu, selesai mengucapkan sepatah kata tadi.
Bibi mengamati kepergian Arsena. Batinnya berbicara sendiri. "Den Sena, sekerasnya kerasnya batu bisa luluh oleh tetesnya air hujan, aku yakin sikap dingin Aden pasti suatu saat akan menghangat seiring berjalannya waktu.
"Uhuk, uhuk ..." Andini batuk, ia sudah bangun dari tidurnya.
"Bi ... " Panggil Andini pada bibi yang sedang berdiri mematung di pinggir jendela kaca.
"Eh, Non. Udah bangun."
"Bi, saya mau pulang."
"Tapi Non? Apa nggak sebaiknya besok aja, Non baru saja sembuh!"
"Sekarang aja Bi, aku sudah nggak apa-apa." mohon Andini. Sambil beringsut dari duduknya.
"Baiklah Non, kita tunggu keputusan Dokter saja."
#Hello ketemu lagi dengan saya ya gaees!"
# aku mau minta sama kalian semua. mau kan cerita ini berlanjut?
# Dukung terus dengan kasih
-Like
-Komen
-Vote
- jangan lupa favoritkan biar saat update episode terbaru, ada pemberitahuan dari Noveltoon.
#thanks gaes ...!
__ADS_1