
"Yakin ingin ke RS hari ini?" Tanya Arsena yang sibuk memakai baju kerjanya.
"Apa yang akan aku lakukan di rumah Ars, kamu tahu kan aku suka sekali dengan pekerjaan." Andini mendekati tubuh suaminya, membantu membenarkan dasi dan Hem yang dipakai.
"Tampan," puji Andini.
Istrinya adalah salah satu dari ratusan wanita yang sangat mengagumi sosok yang sekarang berdiri di depannya. Pria dengan pahatan tubuh sempurna, bak dewa Yunani itu membalas pujian sang istri dengan Mel*mat bibirnya dengan gemas.
"Lama-lama akan habis bibir ini." Andini berkata seraya menyentuh bibirnya dengan punggung tangannya.
"Benarkah? Biar aku periksa." Arsena menyingkirkan tangan Andini. " Bibir kamu makin tebal, merah dan seksi, aku nggak bohong." Kelakar Arsena sambil menahan tawanya.
Merasa dikerjai Andini mendorong dada suaminya. Hingga tubuh Arsena mundur beberapa langkah. " Mesum."
Arsena tak mau kalah dia mengejar Andini, kembali memeluk tubuh dan meng*lum bibir yang ia katakan lebih tebal tadi. " Emmmph."
"Sudah, Ars sampai kapan kita seperti ini." Andini kesal, segera membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.
"Sampai kamu bosan, Sayang." Arsena mengeratkan pelukannya "Sepertinya aku semalam sudah melewatkan banyak waktu berharga, harusnya aku bekerja lebih keras lagi ."
Andini hanya menggelengkan kepala. Bingung dengan jalan pikiran suami.
Kenapa ia akhir-akhir ini seperti memiliki tingkat kemesuman yang semakin tinggi saja.
"Ars aku berangkat naik mobil bersama Zara saja, tak usah menungguku," pinta Andini setelah Arsena sudah siap segalanya, Arsena mengamati dirinya di cermin. Memastikan kalau semuanya sudah perveck sesuai keinginan.
"Tidak sayang, hari ini kau akan bersamaku dan Zara juga ikut satu mobil dengan kita. Kita sementara pulang pergi bersama. Aku tak percaya Zara bisa mengemudi dengan benar."
Sudah bisa diduga oleh Andini, kalau jawaban seperti itulah yang akan ia dapat.
"Zara akan diizinkan mengemudi setelah dia lulus dalam ujian mengemudi yang aku berikan."
"Dia sudah lulus test mengemudi, Ars."
Hari-hari Andini berlalu seperti keinginan Arsena. Andini berusaha mengikuti semua aturan sang suami.
Namun, keinginan Andini yang satu ini tak bisa Arsena hentikan, Andini bersikeras ingin kembali bekerja. Menjadi dokter adalah mimpinya, merasa dibutuhkan mereka yang sakit adalah kebahagiaan tersendiri bagi Andini.
Andini dan Zara turun dari sebuah mobil, Arsena tak segera pergi ia memandangi sang istri yang meninggalkannya.
Andini melangkahkan kaki beriringan dengan Zara menuju ruang pribadi.
Ternyata berita Andini pingsan saat di restaurant sudah didengar oleh banyak petugas medis lainnya dan pasien yang sempat dirawat oleh Andini. Mereka sedih Andini tak masuk beberapa hari.
"Selamat pagi, semua !" Andini menyapa Mira, Vano dan Vanya yang kebetulan baru berangkat. Mereka berjalan menuju ruang masing-masing.
"Andini! Baru aja kita mau besuk, alhamdulilah kalau sudah sehat."
Seperti yang kau lihat aku baik baik saja. Andini dan Vanya berpelukan. Tak lupa berjabat tangan dengan yang lainnya.
"Selamat pagi Dokter Andini !" Sapaan Antusias dari beberapa keluarga pasien. Mereka suka cita menyambut kembalinya Andini, bahkan pagi ini dirinya mendapatkan banyak bucket bunga dan aneka cake dari para keluarga pasien, dan pasien yang sudah membaik.
Andini terkenal lemah lembut dan ramah pada pasien, hingga tak sedikit pasien akan jatuh hati dengan dirinya, bukan hanya pria, pasien wanita pun sangat senang jika Andini dokter yang akan menemani operasinya.
Dokter Andini menerima hadiah dari mereka dengan senang hati, mereka memeluk dan mencium kedua pipinya.
Arsena yang melihat semua dari balik pintu, kesal dengan tingkah orang orang yang ada di dekat Andini.
Dia segera menghampiri istrinya dan membubarkan beberapa orang yang masih berkerumun di dekat istrinya. "Apa yang kalian lakukan disini, kalian cepat bubar, Dokter Andini harus bekerja." usir Arsena dengan wajah jengkel.
"Ars, apa yang telah kamu lakukan, kenapa ada disini!" Andini menatap suaminya dengan kesal.
"Apa yang kulakukan? Aku hanya memastikan kalau kamu baik, dan aku tak suka mereka seperti itu tadi." Arsena terlihat serius.
__ADS_1
Arsena menyerahkan sapu tangan pada Andini. "Cepat bersihkan pipimu dari bibir mereka! Aku tak mau berbagi dengan siapapun."
"Ars, dia wanita!" Andini menekankan sedikit ucapannya.
"Ya maksudmu kalau wanita dia bisa seenaknya mencium istriku begitu ...!"
Andini hanya geleng kepala, ia kembali melepaskan jas putih dan hendak ke belakang membersihkan wajahnya di wastafel.
"Sejak kapan mereka memberi hadiah seperti ini, ini semua hanya barang murah. Zara Ambil semua ini untukmu saja." Arsena memasukkan ke dalam keranjang dan memberikan kepada Zara.
"Ars, kamu tak boleh menghina seperti itu, jangan lihat harganya, lihat ketulusan mereka memberi semua ini," ujar Andini, menghentikan langkahnya.
"Zara!"
"Iya tuan."
"Bawa semua hadiah ini pergi, simpan ditempat lain, dan ambil cakenya, makanlah bersama teman-teman."
"Tapi ini semua untuk Nona, Tuan." Zara terlihat tak enak hati karena semua hadiah ini untuk Andini.
"Aku akan memesankan khusus untuk Nona Andini, dia hanya akan memakan cake yang aku belikan." Arsena mengambil posisi duduk di kursi kosong di depan meja Andini sementara Andini masih membersihkan wajahnya.
Tak lama Andini kembali wajahnya nampak lugas, makeup tipis dan lipstik merah muda yang ia pakai saat berangkat tadi sudah hilang.
Arsena melihat istrinya menuruti kata-katanya, ia tersenyum.
Arsena segera menghampiri Andini yang belum sempat duduk.
"Sayang." Arsena menatap kedua bola mata Andini, mendongakkan wajah istrinya dengan menangkupkan kedua telapak tangan besarnya. " Aku nggak suka kau berpelukan dan dicium dengan orang asing, bahkan itu wanita sekalipun. Mengerti."
"Iya mengerti Ars, sekarang mending buruan ke kantor, kamu mengganggu tau ...." Andini mendorong tubuh Arsena keluar ruangannya.
"Oke! oke! Aku akan pergi tapi setelah kau beri aku kecupan." Arsena menyentuh pipinya dengan jari, dia memejamkan mata dengan bibir tersenyum.
"Ayo cepat, Andini. Mumpung Zara sedang tak melihat kita."
"Kasian Zara punya majikan tak tau malu, sepertinya dia harus cepat menikah." Gerutu Andini sambil menempelkan bibirnya di pipi Arsena.
"Cup." sebuah kecupan kilat mendarat di pipi Arsena.
Arsena membuka matanya dan tersenyum. "Terima kasih. Istriku."
Andini mencium tangannya lalu Arsena beranjak pergi. Ternyata Doni sejak tadi sudah menunggu di depan pintu. Doni pasti mendengar semuanya.
Maafkan aku orang orang disekitarku, jika kalian tanpa sengaja melihat adegan mesra kami, semoga cuma aku yang memiliki suami aneh macam dirinya di dunia ini.
Andini membolak balikkan data pasien check up khusus hari ini. Ternyata ada lima pasien yang harus ia periksa, di urutan pertama tertera nama Miko Atmaja.
Setelah beberapa hari mengambil izin libur kerja. Andini juga ingin tahu dengan kondisi Miko.
Andini berharap check up Miko yang terakhir ini, semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Luka Miko benar-benar sembuh dan dia bisa mengingat semuanya.
Andini kembali mengenakan jas putihnya, Zara sudah menyiapkan semua alat yang dibutuhkan Andini.
"Nona, pasien Miko sudah menunggu di ruang praktek," ujar Dara usai memeriksa data hadir pasien di laptop.
"Baiklah kita akan segera menuju ruang praktek." Andini dan Zara melangkahkan kaki lebih cepat dari biasanya. Mereka tak ingin membuat pasien terlalu lama menunggu.
Andini membuka pelan ruang prakteknya, sosok pria dengan punggung lebar mirip dengan suaminya sedang berdiri di dekat meja. Pria itu terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Miko memandangi foto Andini yang sengaja di pajang di salah satu meja.
Miko mengambilnya, tiba tiba mimik mukanya terlihat sendu.
__ADS_1
"Andini, maafkan aku belum bisa melupakanmu, maafkan aku terus mencintaimu, biarlah cinta ini ku simpan sendiri sampai mati. Aku tau ini tak adil bagi Dara, tapi bagaimana lagi, urusan hati ini tak bisa dipaksa," Kata Miko lirih.
"Miko!"
" Andini .... " Miko menoleh ke arah pintu, dengan gugup ia menaruh foto berbingkai kembali ke tempatnya, alhasil Miko tak berhasil menaruh dengan benar. ia menaruh foto Andini dalam keadaan terbalik.
" Maaf menunggu lama."
" Aku sengaja datang pagi, karena sopir sekalian mengantar Dara ke kampus." Kata Miko gugup.
Andini berusaha membuat keadaan menjadi tak canggung, ia berusaha bersikap seprovesional mungkin.
"Apakah keluhan yang masih kau rasakan saat ini Miko?"
"Keluhan? Aku susah melupakan wanita yang kucintai, Andini."
Deg! Andini tak berbicara lagi, bahkan dia mengatupkan bibirnya rapat
Namun, ucapan Miko, justru di tertawakan oleh Zara. Zara mengira Miko sedang bercanda.
Gadis yang berdiri di belakang Andini itu akhirnya ikut berbicara. "Anda rupanya senang bercanda, Tuan Miko."
Miko juga tertawa." Yah Anda pasti mengira aku sedang bercanda, Nona, tapi itulah kenyataan. hidupku sangat mengenaskan bukan"
"Tidak Tuan, pria setampan dirimu pasti akan mendapat keberuntungan."
" Terima kasih, Nona."
"Em, Miko baiknya berbaringlah, kita akan mulai dari memeriksa tekanan darah dan frekuensi detak jantung."
Miko menurut, ia mulai mendekati ranjang dan berbaring, Andini melingkarkan alat pendeteksi tekanan darah di lengan atas Miko. Andini sedikit grogi dengan tatapan Miko yang sengaja ia tujukan untuknya.
Andini berusaha sebisa mungkin menjaga pandangannya, tak membiarkan tatapan mata itu bertemu.
"Andini, aku sudah ingat semua." ujar Miko lirih.
Andini yang sedang membaca tensi darah segera menghentikan aktifitasnya. "Itu sangat bagus, Miko."
"Miko tolong terima Dara, dia mencintaimu," ujar Andini memikirkan nasib adiknya.
"Menerima itu mudah, tapi memaksa hati untuk mencintai yang lain itu sulit, Andini."
"Aku tau Miko, tapi jika itu sudah takdir, kita manusia bisa apa?"
Andini segera menjauh dari pria itu. Ia tau kearah mana bicara Miko.
Miko yang sudah meyelesaikan pemeriksaan awal ia segera turun dari ranjang dan akan melanjutkan pemeriksaan berikutnya.
Andini gelisah, ia tak bisa konsentrasi. Memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Akankah Miko menyakiti Dara? Bagaimana jika Dara menjadi pelampiasan akibat ketidakadilan dari hubungan masalalunya.
"Andini, aku tetap mendo'akan yang terbaik untukmu." Miko mendekat, ia menggenggam jemari Andini dengan lembut.
Andini segera menarik tangannya dari genggaman pria itu. "Terima kasih, Miko sebaiknya tunggu disini, ada dokter lain yang akan melakukan pemeriksaan selanjutnya."
"Andini, kau menghindariku!"
*Happy Reading
* jangan lupa, Like, vote, favoritkan, komen yang panjang yah! 🙏🙏
__ADS_1