
Andini mulai membuka mata usai tidur panjangnya. Netranya menelisik setiap sudut ruangan, ternyata dia tak ada di kolam lagi, baju yang ia kenakan juga bukan lagi baju renang.
"Akhhh, Aku ada dimana?" Mencoba memaksa kelopak mata yang masih terasa berat agar terbuka lebih lebar lagi.
Andini bertanya pada sosok tinggi besar yang berdiri membelakanginya. Sosok itu terlihat sedang tak baik saja, dia sama sekali tak menjawab apalagi menoleh.
"Hei, manusia apa bukan? Aku bertanya padamu, Tuan Arogant." Andini mulai kesal, baru siuman sudah di cuekin aja.
"Katakan saja jika mau marah? Tapi jangan hukum aku seperti ini," ujar Andini memelankan suaranya lagi. Mungkin dengan berteriak adalah keputusan yang belum benar.
Pria itu malah pergi, tanpa menoleh tanpa menyapanya. Entah kesalahan apa yang membuatnya begitu marah. Andaikan Andini tau kesalahannya mungkin dia akan segera minta maaf dan mencium kakinya.
"Tunggu! Akhh!" Andini berusaha menggerakan tubuhnya tiba-tiba kepalanya kembali terasa pusing.
Vanya yang sejak tadi mendengarkan ketegangan antara suami istri itu akhirnya memilih masuk, setelah Arsena keluar kamar istirahat.
"Sudah Ndin, istirahat dulu. Jika kamu terlalu banyak gerak bisa jatuh, dan nggak sembuh sembuh. Jadwal honeymoon keburu habis nanti." Vanya sedikit bercanda namun memang benar kenyataannya memang Andini cenderung terlihat ceroboh
"Vanya, sebenarnya racun itu berbahaya nggak sih? Soalnya tubuhku kok terasa berat banget," tanya Andini.
" Kamu pikir itu racun main main? Bukan hanya berbahaya, tapi juga mematikan, untung kamu segera menemukan air kelapa sebagai penawarnya, dan bisa segera muntah, kalau nggak mungkin sekarang kamu sudah dikenang sebagai almarhumah.
"Ih, kamu bikin aku makin takut. Aku belum mau mati Van, aku masih pengen hidup lebih panjang lagi. Aku nggak mau pisah sama anak anak dan suamiku sekarang," Andini membenarkan posisi kepalanya biar lebih nyaman saat rebahan.
"Lain kali makanya jangan sembrono. Apa-apa itu di rembukin sama suami. Sudah tau kamu itu bodoh plus ceroboh, apa-apa masih aja mau sendiri. Nggak kapok apa celaka." Nasehat Vanya membuat Andini terdiam.
"Van, tapi aku tak mungkin melibatkan Arsena untuk menyelidiki wanita, aku nggak rela Van membiarkan suamiku dekat dengan dia."
"Woow Andini, kamu sayang suami, tapi kamu juga siap kehilangan suami. Paling nggak ya minta saran atau kerja sama. Lha ini? Kamu malah pergi nggak pamit. Terus dengar dengar kamu sudah sekarat."
"Jadi suamiku marah karena aku nggak ngomong ngomong dulu?"
" Pikir aja sendiri," ujar Vanya ketus. Vanya ikut ikutan merajuk pada Andini, gadis itu sudah paham betul dengan sahabatnya itu, Andini sejak dulu selalu berfikir bisa mengatasi masalah sendiri, dia tak mau jika orang akan repot memikirkan dirinya.
"Vanya, kalau begitu biarkan aku bangun aku harus menemui Arsena, aku tak mau dia salah paham denganku, aku juga ingin menanyakan sesuatu padanya." Andini memberontak, namun Vanya masih menahannya.
"Tunggu sebentar, Ndin. Adik kamu masih merebus daun herbal untuk membersihkan sisa-sisa racunnya, biar nggak ada yang tertinggal ditubuh.
"Arini merebus obat herbal sendirian?" Andini tercengang kaget.
"Apa kamu yakin dia bisa?" Andini tak percaya.
__ADS_1
"Bisa kok, buktinya aku lihat tadi bisa, beruntung kamu punya adik macam dia, cantik dan nggak jutek. Dia tadi histeris lihat kamu sekarat, dia sayang banget sama kamu."
"Arini dia memang kesayanganku. Aku tak percaya adik kecilku sudah benar benar tumbuh menjadi gadis dewasa."
"Lagi ngomongin aku ya." Arini muncul dari balik pintu.
"Mbak, dimakan dulu bubur sum sum nya, itu pertama kali Arini bikin, semoga Mbak Andini segera pulih. Kata Mama, si kecil di rumah juga rewel saat Mbak lagi sakit begini."
"Kaya ada ikatan batin gitu ya" Vanya menimpali.
"Mungkin, soalnya dia kan juga minum ASI dari Mbak Andini, jadi ikatannya kuat banget," terka Arini.
"Ya Allah, kenapa jadi begini sih, si kecil rewel, Arsena marah." Andini makin pusing mendengar dua orang kesayangannya menderita.
Akhirnya dia memilih melahap bubur sum sum satu mangkuk penuh hingga tandas diperutnya, lalu meneguk segelas air putih, berharap supaya cepat kembali pulih dan bisa menjelaskan semua pada Arsena.
Andini kini merasa perutnya sudah kenyang. Dan sudah mampu untuk berjalan pelan, sedikit pusing yang masih hinggap dikepala untuk sementara ia abaikan.
"Ndin mau kemana? Kamu belum minum obat herbal, lho." Vanya heran melihat Andini yang tiba tiba berjalan keluar.
"Udah biarin Mbak Andini pergi, pasti mau menemui Kak Arsena, lagipula kalau nanti jatuh kan ada yang gendong lagi," celetuk Arini yang mengamati kepergian Andini.
"Jadinya kan romantis, betul juga kamu Arin." Vanya menimpali.
Andini berjalan pelan menuju koridor, dimana ada Arsena yang tengah berdiri sambil memegang pagar besi teralis, memandang pemandangan agung alam sekitar, entah kenapa keindahan itu tak mampu merayu hatinya untuk merasa terhibur.
Davit ternyata juga ada disana, Arsena pasti sudah cerita perihal Andini, dari raut wajah ajudan tampan itu bisa terlihat kalau dia sedang tau sesuatu. Tetapi tak ingin ikut campur. Davit memilih berdiri di tempat yang agak jauh
"Ars, kau marah padaku?" Tanya Andini yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Arsena hanya diam, namun justru diamnya itu membuat Andini semakin merasa bersalah.
"Ars, bicaralah, tolong jangan marah seperti ini, aku tak mau kau diam seperti ini. Ini menyakitkan untukku, jika kau marah maki saja aku, atau kalau perlu pukul aku. Aku rela Ars, asal kau tak diam lagi seperti ini." Andini memeluk Arsena dari belakang. Mengabaikan Davit yang juga ada di tempat yang sama.
"Marah? Dalam hal apa aku harus marah? Padamu" ujar Arsena, melepas lengan Andini yang memeluknya. Panggilan sayang itu tak lagi Andini dengar.
"Ars, aku hanya ingin kau percaya kalau Vanes itu Lili."
" Dengan membuat dirimu celaka seperti tadi, hah?! Jawab Andini!? Apa dengan kebodohanmu tadi?"
"Maaf." Andini menangkupkan tangannya. "Aku memang bodoh, tapi aku setidaknya punya cinta yang tulus, untuk menjaga dari wanita yang ingin merebut suamiku, aku harus berbuat sesuatu, tak mungkin aku akan diam, Ars. Apa aku salah jika aku mencintaimu, aku hanya ingin menjaga dirimu dari wanita jahat itu?" ujar Andini dengan wajah berapi api.
__ADS_1
Arsena memejamkan matanya, menggelengkan kepala keras. " Bodoh tetap saja bodoh. Kau tau Lili itu sangat licik, kamu tidak memiliki sifat itu, jika ingin melawan dia, kita harus cari dulu kelemahannya, bukan seperti yang baru kau lakukan, itu sama saja cari mati," terang Arsena yang mulai melunak, mendengar pernyataan cinta Andini. Baru kali ini dia mendengar Andini langsung mengutarakan secara lisan. Walaupun selama ini dia juga merasakan Andini begitu menyayanginya dengan perlakuan.
"Hiks, hiks, kenapa masih dimarahi, padahal aku melakukannya juga untuk kita semua, karena aku memang benar benar tak ingin kamu terluka, Ars"
Arsena mendengar Andini menangis, dia masih berusaha mengabaikannya. Arsena tahu ini hukuman buat Andini agar tak melakukannya lagi.
Davit melirik tontonan melankolis antara istri dan suami yang meharukan itu, di dalam hatinya berjanji jika menikah nanti dia tak akan membuat istrinya sedih hingga menangis.
"Ars!" Andini mendekat lagi, mengulang memeluk Arsena dari belakang. Setelah yang pertama tadi mengalami penolakan.
"Cukup Ndin, pergilah, istirahat sana! Aku masih ingin sendiri." Titah arsena.
" Tidak mau." Andini menggelengkan kepala. Arsena membalikkan tubuhnya. Mengusap air mata Andini dengan ibu jarinya.
" Dasar bandel, kelinci nakal,"
" Kau juga, Koala."
" Ars, apa artinya aku sudah dimaafkan."
" Belum aku belum memaafkan."
"Tapi Ars?"
"Jangan memaksa, Kesalahanmu terlalu besar. Aku tak bisa memaafkan dengan mudah." Tegas Arsena. " Kamu tak pernah mengerti bagaimana aku ketakutan, melihatmu seperti tadi hati dan jantungku serasa tak ditempatnya lagi. Was was, aku takut kamu pergi selamanya. Kau Egois Andini, dengan melihatmu seperti tadi, kau telah membunuhku.
"Maafkan aku Ars. Aku benar-benar minta maaf." Andini memeluk Arsena dari arah depan, sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. Andini melihat betapa Arsena mengkhawatirkan dirinya.
"Anak-anak membutuhkanmu, aku juga, harusnya katakan padaku sebelum bertindak, kau tak perlu turun tangan seperti itu." Arsena mendekap Andini lebih hangat lagi.
'Sit, ini pemandangan yang sangat aneh, setelah marah, sekarang berpelukan, apa pria yang sudah menikah itu memang menjadi gila seperti Tuan Muda.'
Davit mencuri pandang pada majikannya yang berpelukan. Arsena yang mengetahui kegelisahan Davit segera menggunakan isyarat mata agar meninggalkan mereka berdua.
"Ars!"
"Hmmm,"
" Kok hmm sih, nggak romantis" Andini memukul dada Arsena.
"Iya Sayang." Arsena mengulangi kata katanya lagi. Menyingkap rambut Andini yang tergerai.
__ADS_1
" Aku yakin Vanes adalah Lili. Dan aku semakin yakin kalau Andre adalah Dev, Ars." ujar Andini dengan suara lemah.
"Iya aku percaya. Serahkan semuanya tugas ini pasa suamimu. Ujar Arsena sambil memandang sendu wajah istrinya.