Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 138. Exciting sunday


__ADS_3

Usai sarapan pagi, Andini bergegas menuju halaman belakang, ia suka sekali duduk di ayunan sambil menikmati pemandangan pantai yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumahnya.


Andini duduk di ayunan sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan pelan. Sontak ayunan tersebut mengayunkan tubuhnya berlahan


Ayunan tiba-tiba berhenti. Ada lengan kekar sedang menahannya.


Calon ibu dua anak itu sontak menoleh ke belakang. Sosok suami sudah berdiri dengan menatapnya penuh cinta.


"Sayang aku ingin mengajak jalan-jalan, kali ini kita akan pergi sendiri, cuma ada kita berdua."


Arsena membungkukkan badannya, merengkuh pinggang yang dulu begitu ramping kini sedikit mengembung. Sambil sesekali mengecup tengkuk Andini. Membuat sebuah gelenyar aneh menjalar di sekujur tubuh Andini.


Merasa tak tahan dengan godaan suami, Andini bangkit dari ayunan. Berjalan menepi menuju pagar besi. Terpaan angin kencang membuat rambutnya terurai indah.


"Ars, udaranya sejuk ya." Andini merentangkan kedua tangannya.


"Iya, sejuk dan tentunya sangat cocok untuk kita menikmati hari libur ini."


"Apa? jangan mesum dech ... !" Melotot ke arah suaminya yang bergerak semakin mendekat.


Arsena tak mengindahkan penolakan Andini, ia memaksa merengkuh tubuh yang terlihat selalu mungil saat di dekatnya.


Arsena mengecup bibir merah yang selalu membangkitkan gairah bercintanya, tak perduli siang ataupun malam itu. Jika sudah berdua seperti ini, mereka berdua tak ada yang mampu untuk menghindar.


Arsena dan Andini sama-sama memejamkan mata, dia ingin merasakan betapa manisnya menikmati yang sudah halal.


" Kita lanjutkan dikamar yuk, takut ada yang lihat."


"Emang di kamar mau ngapain? aku nyaman disini, udaranya lagi sejuk." Andini pura-pura polos, tak mengerti maksud suaminya.


Arsena mendekatkan tubuhnya, sengaja menempelkan torpedo yang siap meluncurkan peluru nuklirnya.


Arsena menatap Andini dengan tatapan sayu, dia terus saja menggoda Andini dengan pesonanya.


"Ini masih pagi, aku nggak mau menuruti keinginanmu yang tak pernah ada habisnya itu, aku mau kita minggu ini melakukan kegiatan lain, selain yang kamu inginkan itu."


"Ini weekend, masa di rumah aja, Kita jalan-jalan ...." Bisiknya dengan suara lembut.


"Kemana?"


"Terserah yang kamu inginkan?" Jawab Arsena mengendikkan bahunya.


"Ke pantai, ke kebun teh atau di tempat keramaian, Mall juga boleh."


" Nggak mau, ah. Aku pengen di rumah aja. Lagian aku pengen jaga Mama."


"Ya udah kalau gitu, aku ada ide, bagaimana kalau aku membuat lukisan wajah cantik ini? Arsena meraba pipi, lalu menjalar ke dagu Andini


"Emang bisa?" Andini mengerutkan keningnya tak percaya.


"Bisa sayang, biar tampan begini, aku juga dulu pernah juara lomba melukis internasional waktu masih sekolah dasar." ujar Arsena membusungkan dada.


Andini tertawa geli mendengar penuturan Arsena yang kedengarannya lebih mirip seseorang yang sedang membual." Boleh, awas kalau hasilnya jelek."


"Kalau bagus, wajib kasih hadiah!"


"Kok bisa begitu? Harusnya aku yang dapat hadiah karena sudah merelakan tubuhku di lukis oleh pelukis amatiran seperti dirimu."


"Cupp ...." Arsena mengecup bibir Andini, membuat Andini mengatupkan bibirnya rapat.

__ADS_1


"Jangan bilang aku amatir. Aku akan membuktikan kehebatanku di depan istriku sekarang juga."


Arsena kini membopong tubuh istrinya dan menurunkan di sebuah sofa panjang di ruang kerjanya. Sofa dengan bentuk unik itu sepertinya ia gunakan khusus untuk melukis seseorang atau bermanja.


"Aku akan mulai melukis, berposelah yang menurutmu paling nyaman dan aku ingin lukisanku kali ini akan menjadi lukisan terindah yang pernah aku buat, dan akan kusimpan di ruang pribadiku." Sebelum meninggalkan Andini, Arsena kembali mengecup bibir istrinya dan membelai rambutnya .


Arsena mulai menata semua bahan yang diperlukan termasuk papan untuk melukis, dan cat air, selain itu dia juga memberikan gaun seksi berbahan sifon dengan belahan dada lumayan rendah.


Andini sudah tau rencana nakal suaminya. Ia ingin melukis dirinya ala di film kapal tenggelam itu.


"Ars, ini ide gila tau," celetuk Andini kesal


"Bukan gila, ini romantis." Arsena mulai mendudukkan Andini yang mulai enggan dengan ide konyol suaminya.


Sekarang mulailah berpose. Aku akan mulai dari sekarang.


"Ars, menurutmu, bagaimana pose terbaikku?" Tanya Andini yang mulai mencoba berbagai gaya, dari duduk biasa, memegang dagu, sampai dengan gaya duduk sambil memiringkan tubuhnya dengan posisi kaki diatas sofa.


"Good Baby, aku suka gayamu yang terakhir." Puji Arsena saat istrinya berpose sedikit menggoda.


"Menghadap kesini, dan tersenyum." perintahnya lagi


"Ars, sudah berapa wanita yang pernah kau lukis?"


"Berapa ya? Entahlah aku lupa."


"Apa semuanya dulunya adalah kekasihmu."


"Bisa jadi."


"Apa dia juga memakai baju seksi ala lingeri seperti ini."


Kalau begitu, berhenti aku tidak mau dilukis pria mesum macam kamu.


"Andini, ayolah diam jangan bergerak kenapa kau bergerak lukisanmu nanti jelek."


"Tidak ada melukis, aku nggak mau, titik."


"Kenapa kau marah."


"Aku tadi jawab asal saja, aku sedang konsentrasi melukis, kenapa kamu bertanya macam-macam."


sekarang duduklah dengan tenang, aku akan


"Aku bertanya apa semua kekasihmu dulu kau lukis seperti aku saat ini?" Andini mengulangi kata katanya dengan kesal.


Tentu tidak, aku sudah melupakan bakatku ini dan kamu wanita pertama kalinya yang akan aku lukis.


"Tadi kenapa jawabannya iya semua."


Ingin tau reaksimu saja, apa kau cemburu jika aku pernah melukis wanita lain dan jawabannya adalah kau cemburu, istriku pencemburu, dan dia sangat menyayangi suaminya, istriku sudah tergila gila dengan suaminya"


"Arsena Atmaja, aku sedang tidak ingin bermain lelucon !"


"Iya, Sayang tentu ini bukan lelucon. Ini nyata."


"Auh ... Sakit"


"Kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Perutku sakit sekali. Suamiku."


"Baiklah, tenang, tenang aku akan mengambilkan minum." Arsena panik karena Andini panik, ia membuang semua alat melukis yang ada di tangannya.


Ia berlari menuju nakas, dengan cekatan meraih teko, lalu menuang airnya ke dalam gelas.


Arsena berharap setelah minum air sakit Andini bisa sedikit berkurang. " Minumlah ..."


Melihat suaminya panik justru Andini tertawa cekikikan karena berhasil mengerjai suaminya.


"Sayang! Apa kau sedang bercanda?"


"Yeah ... aku hanya ingin tau seberapa besar cintamu padaku, dan lihatlah suamiku wajahmu sangat panik," Andini bisa tertawa lepas melihat tingkah lucu Arsena. "Skor kita sekarang sudah satu sama."


"Andini dengarlah degup jantungku! Jangan bercanda seperti tadi, aku tak sanggup, Sayang."


Arsena mengungkung tubuh Andini, meraih tangan Andini, menempelkan ke dada bidangnya. "Kau ingin aku mati muda karena serangan jantung ya ? Oke aku mengakui aku lebih mencintaimu."


Arsena membanjiri wajah Andini dengan kecupan, Membuat Andini memejamkan mata menerima setiap sentuhan lembut suaminya.


"Sayang!"


"Hm apa aku boleh meminta lagi?"


"Semua milikmu."


"Berarti boleh."


" Andini mengangguk."


Merasa mendapat lampu hijau Arsena segera menurunkan gaun yang dikenakan Andini, gaun yang terlepas hanya dengan menarik satu tali di bahunya saja.


Arsena dan Andini kembali meneguk manisnya cinta dan kenikmatan surgawi. Ketika yang lainnya sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Miko.


Setelah mengunjungi kecebong hasil kerja kerasnya selama ini Arsena langsung tumbang di sebelah Andini. senyum kepuasan tersungging dari bibirnya.


Melihat suaminya senyam senyum Andini memusingkan wajah ke arah lain.


"Hey, kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Kamu nggak suka ya?"


"Bukannya nggak suka. Tapi aku lelah dan lapar aku ingin makan satai yang masih anget-anget."


"Apa? Satai."


"Biasanya kan kamu nggak suka satai, Aku juga nggak suka. Yang suka itu Miko."


"Ini bukan aku yang ingin tapi anak kita."


Arsena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu bangkit dari ranjang hendak membersihkan diri. "Dr Andini, beri aku alasan kenapa anak kita pengen makan satai, itu makanan faforit Miko, dan kamu juga nggak suka."


"Bisa saja, Miko kan masih Om nya. Dan apa salahnya kalau kesukaannya sama dengan Miko, pokoknya belikan sekarang satai yang ada di pojok gang itu, Ars."


"Iya-iya ini juga masih mau telepon Davit."


" Buruan, mau anakmu nantinya suka ngiler?"


" Ya enggak. Melukisnya gimana."


"Melukis nanti aja, aku mau mandi dan makan satai dulu. setelah itu baru meneruskan melukisnya.

__ADS_1


*happy reading.


__ADS_2