Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 203. Membuat janji.


__ADS_3

Andini segera menggendong bayi mungil yang bermain sendiri dengan dunianya di dalam box bayi. Sungguh bayi itu sangat cantik dan menggemaskan.


"Jangan sentuh dia! biarkan saja dia, mending kita duduk duduk sambil minum susu kambing segar," ujar Vanes. Wanita itu terlihat tak suka putri kecilnya mendapat perhatian lebih dari orang lain.


Sampai disini Andini menangkap sebuah kejanggalan, Vanes terlihat tak begitu menyayangi putrinya. Dia terlihat mengabaikan saja saat bayi mungil itu menangis.


"Bi, bawa dia pergi, jangan biarkan dia terus menangis, suaranya sangat menggangguku," kesal Vanes.


"Nona, dia putri kandungmu kan?"Andini bertanya dengan aura wajah keheranan. Dengan berat hati dia memberikan kan Rara pada pengasuhnya. Lalu Andini duduk pada sofa yang ada di kamar hotel ditemani oleh Vanes.


"Iya, dia putri kandungku, tapi dia terlalu rewel, aku ibunya tak mampu membuatnya diam, untung Bibi pengasih itu sangat jago manjaganya,"ujar Vanes sambil memberikan satu kaleng susu kambing murni yang sudah dikemas oleh sebuah perusahaan ternama tepat di meja depan Andini..


"Ya, mungkin ini yang pertama untukmu, jadi kau masih belum terbiasa." ujar Andini yang terlihat biasa.


"Mungkin seperti itu." Vanes sudah mulai bersikap lembut kembali saat bibi sudah membawa Rara keluar.


'Kasian sekali bayi mungil itu. Dia seharusnya jangan dilahirkan dari wanita kejam seperti Lili, Arsena juga ingin bayi perempuan bagaimana kalau aku memilikinya pasti akan sangat menyenangkan.' batin Andini.


Terlihat Vanes meneguk susu kambing dalam kaleng dengan sangat menikmati." Aku membawa minuman ini dari negara asal Andrew. Rasanya sangat nikmat di sini masih jarang. Minumlah Nona."


"Ya terima kasih, pasti akan aku minum, tapi sayang saat ini aku belum haus." Netra Andini menelisik setiap ruangan yang ada di kamar hotel Vanes, berharap dia menemukan sebuah foto atau sebuah bukti yang bisa menguatkan dugaan Andini, Namun semua Nihil tak ada foto Andrew atau Vanes.


"Oh iya dimana Andrew, kenapa aku tak melihat dia? Apa malam seperti ini dia masih di kantor?"


"Andrew, dia ... dia ada meeting, iya meeting dengan clien." ujar Vanes terlihat gugup, " ada meeting dadakan."


"Em, sibuk sekali, padahal ini hari Minggu."


"Ya Dia sangat senang bekerja. Aku rasa Suami Anda juga."


"Ya, Arsena memang berbeda, dia sering ambil cuti dan bolos kerja, padahal hanya untuk bisa menemaniku jalan jalan di taman atau reuni sama teman kuliahku di kampung. Tetapi nasibnya sangat baik, terlahir dari keluarga yang sudah kaya, dan pewaris tunggal utama perusahaan besar, jadi walaupun dia sedikit pemalas, sama sekali tak berpengaruh dengan hidupnya," ujar Andini sambil meraih minuman susu kambing yang masih bersegel. Andini meneguk susu murni itu dan rasanya memang nikmat. Hari ini dia akan terus bercerita panjang lebar demi bisa membuka identitas Vanes yang sebenarnya. Kalau perlu membuatnya cemburu.


"Oh ya Vanes, berapa lama kalian menikah?"


" Menikah?! Em sekitar dua tahun, ya saat itu Andrew diangkat menjadi CEO di perusahaan milik kakek," dusta Vanes.

__ADS_1


"Bi, apa Rara sudah tidur?" Tanya Vanes pada bibi yang masih menggendong Rara dari arah luar.


"Sudah, Nona. Dia tidur sangat nyenyak, aku akan membawa ke kamar terlebih dahulu."


" Silahkan, jaga dengan benar, Aku tak ingin mendengar dia menangis lagi."Bibi hanya mengangguk patuh, wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar berukuran kecil di sebelah kamar mandi. Andini menduga kamar itu adalah kamar bibi dan Rara.


Andini makin curiga, kalau wanita itu Lili, hanya Lili satu satunya wanita sadis yang tega memperlakukan anak kecil seperti itu.


Ah andaikan putri lucu itu putrinya, pasti anak itu akan mendapat kasih sayang yang besar, seperti Excel dan Cello. Namun untuk sementara dia menahan kerinduan pada putra-putranya demi sebuah misi yang besar. Andini berharap dia akan segera bisa menguak penyamaran Lili dan memberi hukuman atas perbuatannya di masa lampau.


Menurut Andini, informasi ini belum cukup meyakinkan. Saat dia menyampaikan pada Arsena pasti pria itu tak akan percaya dan menyetujui ucapannya begitu saja.


Andini mencoba mencari bukti lain yang lebih akurat, supaya Arsena bisa mempercayainya. Andini mencoba mencari tai lalat yang mungkin dapat ia lihat dari tubuh yang putih bersinar itu. Arsenal pasti tahu jika Lili memiliki tahi lalat, karena Lili dulu sangat suka memakai mini dress untuk merayu Arsena.


Tak ada tahi lalat dimanapun, sungguh sempurna sekali penampilan Lili. Tapi aku yakin aku pasti akan menemukan bukti yang membuat Arsena percaya dengan ucapan ku.


Andini mencoba menanyakan salah satu nama kedai yang menjadi favoritnya, berharap menyebut nama yang sering ia gunakan untuk pertemuan dengan Arsena dulu. Namun Lili hanya menggelengkan kepala, bahkan Andini mencoba menanyakan makanan favoritnya. Sekali lagi makanan yang disukai Vanes berbeda dengan Lili. Jika Lili dulu sangat suka dengan udang bakar bumbu saos plus belimbing, gurame bakar, tapi Vanes justru sangat suka dengan makanan berasal dari Jepang seperti sukiyaki dan yakitori.


"Andini, sepertinya anda sangat tertarik dengan makanan kesukaanku?"


'"ya, benar, Nona Andini. Terimakasih sudah bersedia berteman denganku."


"Nona Vanes, aku harus pulang. Aku sudah terlalu lama disini, maaf telah mengganggu jam istirahat Anda." Pamit Andini sambil berdiri beranjak meninggalkan sofa yang sudah hangat.


Tentu tidak Nona, aku sangat senang anda kesini, bagaimana kalau besok kita bertemu lagi?" Aku ingin kita berenang sambil menikmati indahnya pemandangan sekitar Hotel Rosella ini.


"Setuju," jawab Andini dengan mantap.


"Sip. Pukul delapan," Vanes mengatur waktu pertemuan. Yang disetujui Andini tanpa sebuah syarat.


Andini melangkahkan kaki pelan pelan menuju pintu utama, lalu membuka dengan hati hati. Saat membuka, betapa terkejut Arsena sudah berada di depan pintu dengan tatapan tajam.


"Bagus, tadinya bilang ingin mencari udara segar di koridor, tapi ternyata tak tau entah kemana? Suka banget bikin suami panik."


"Ars ... Aku tadi bosan di koridor sendirian, tahu sendiri kan, aku kalau bosan itu gimana?"

__ADS_1


"Sayang, setidaknya bilang, biar aku temenin. Lihat bagaimana aku mengkhawatirkan mu. Aku sudah panik banget."


Andini lalu mendekati Arsena, menjewer kedua telinganya sendiri. Wajahnya memelas, dan berkata. "Maaf."


"Aku minta maaf, suamiku." Andini mengulangi ucapannya lagi.


" Ya kali ini dimaafkan. Tapi kalau lain kali buat kesalahan lagi yang serupa, hukumannya akan lebih berat."


Arsena menarik lengan istrinya dan memeluknya dengan hangat. Mengecup keningnya. Arsena lalu membimbingnya masuk.


Arini yang duduk di sofa sambil membaca buku langganan bulanan itu seketika menatap dua orang di depannya." Cie cie kaya anten baru. Modus kak Arsen itu."


"Hust, anak kecil tau apa urusan orang dewasa, buruan tidur sana." Sentak Arsena.


Arini yang sudah mendapatkan perintah pun segera menuju kamarnya, kamar VVIP memang di dalamnya dipecah menjadi banyak kamar lagi. Bisa dibilang mirip sebuah apartemen.


*****


Pagi telah tiba, Andini dan Arini di dapur sibuk membuat sarapan. Kali ini dia ingin memasak sendiri dengan menu yang paling digemari Arsena. Sedangkan pria itu kembali lelap dari tidurnya setelah bangun sholat subuh dan meminta jatahnya pagi tadi.


"Arini tolong selesaikan masak, kali ini terserah mau dibikin apa, aku ada janji sama teman sebentar." Pinta Andini yang rambutnya terlihat basah lagi. Andini terus saja dibuat lelah oleh kakak Arini yang tak punya lelah itu.


Oke, tapi kalau kak Arsena bangun dan tak menemukan Mbak Andini tau sendiri kan? Dia pasti akan jadi monster yang mengerikan.


"Bilang saja kakak sedang ikut olahraga, dia pasti ngerti kok."


" Okeh, okeh kalau begitu." Arini setuju, menganggukkan kepalanya dengan mantap.


" Makasi yah sayangku." Andini merangkul adiknya yang sibuk membuat susi.


" Selamat memasak, yang rajin biar do'i makin sayang."


" Bantuin, Kak." Arini menagih janji.


" Iya, janji. Pasti akan kakak bantu bicara nanti."

__ADS_1


__ADS_2