
"Andini, Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Dan anak-anak kita, apakah keinginanku itu terlalu besar Andini."
"Tidak Ars, itu normal, semua pria pasti akan mendambakan rumah tangga yang seperti keinginanmu." Seperti biasa Andini pasti akan menjadi tempat untuk menenangkan diri Arsena yang paling nyaman.
Lama sekali Arsena berada dalam pangkuan Andini, suaminya itu telah tidur. Pelan-pelan Andini menggeser kepala Arsena, mengganti bantal menjadi tumpuan kepalanya.
"Jangan pergi, Andini tetaplah disini." Arsena belum benar-benar tidur, dia hanya memejamkan mata, rasanya tenang bisa merasakan ada denyut lembut di perut Andini. Sedih yang tadi mampir karena bertemu mamanya, kini sirna. Arsena sengaja menempelkan pipi dan bibirnya di perut Andini.
" Ya tidurlah aku nggak akan pergi, sebenarnya aku hanya ingin membuatkan minuman segar saja.
"Tidak usah, aku ingin kamu disini saja." Arsena seperti anak sekolah paud yang takut ditinggal emaknya pulang.
Andini hanya menggelengkan kepala, menyerah. " Iya aku disini." Andini membelai lembut rambut suaminya. Rambutnya sedikit panjang, dan tak lagi Serapi saat masih kerja di kantor.
"Mama besok datang lagi, sebaiknya disuruh masuk dan bicaralah dari hati ke hati. Mama sepertinya sudah benar-benar menyesal. Ars."
"Aku belum bisa memaafkan Mama Andini, Kenapa kamu mudah sekali ke bujuk wajah melas mama. Bagaimana kalau dia yang ternyata hanya Akting saja."
"Sekali-kali coba berprasangka baik. Kamu sudah tahu kan alasan mama melakukan semua itu, karena dia ingin balas budi, itu artinya mama sebenarnya orang baik. Atau mama akan menjadi baik jika berteman dengan orang baik pula.
Arsena bangkit dari tidurnya. "Maksudnya Mama salah memilih teman."
"Iya, bisa jadi."
"Karena Tante Susan itu selalu berfikir licik jadi mama terpengaruh."
Kamu mungkin benar, Sayang. Tapi untuk saat ini aku masih ingin membuat mama sadar, merasakan jauh dengan orang yang kita cintai itu memang berat, tapi ini demi kebaikan Mama juga"
Arsena merebahkan kembali kepalanya, dia masih ingin lama lama bermanja seperti saat ini, sebelum tidur. Andini akhirnya mengganti topik pembicaraan yang lainnya.
"Ars, semalam ponsel kamu ketinggalan." Andini mulai bercerita.
'Iya aku sudah tahu."
" Ada yang menelepon berkali kali."
"Siapa?"
"Aku lihat namanya Vina."
Dia sepertinya menghawatirkan keadaan dirimu yang beberapa hari ini tak lagi kekantor. Dia terlihat sangat peduli dengan kamu dan nasib perusahaan.
"Iya, Vina memang bisa dipercaya, jika soal pekerjaan aku acungi jempol."
Arsena melihat Andini bangkit dari duduknya. Memindahkan kepala Arsena pada bantal.
"Sayang mau kemana?"
"Mau ke surga, ke kamar mandi sayang, ini lagi jalan menuju kamar mandi, kan" Andini tersenyum sambil memegangi perutnya karena kebelet buang air.
Arsena hanya tersenyum sambil meremas rambutnya. Merasa kalau cinta dia ke Andini bukan bucin lagi, tapi ini lebih ke fase parah, kakaknya bucin.
__ADS_1
"Mau ikut kah?"
"Jangan memancing ya, dia mulai susah ditidurkan, kalau lihat kamu, Sayang." Arsena menyentuh juniornya yang sejak entah kapan mulai bangun.
Arsena mengamati istrinya dari belakang, ada perubahan yang baru ia sadari, Andini makin terlihat seksi saat hamil.
Andini sudah selesai dari kamar mandi, saat membuka pintu, tiba tiba sosok suami sudah tidur dengan pulas. Andini merasa kasian dengan suaminya yang sekarang, ia hanya berharap semuanya akan segera membaik.
********
Esok pagi
Arsena masih ingat kalau mama akan datang, sesuai perintah istrinya dia akan sedikit lembut pada mamanya. Andini selalu mengingatkan hal itu, bagaimanapun sikap Mama, Arsena wajib memberi kesempatan kedua, berharap bisa berubah
"Mama sudah berjanji akan datang hari ini, tapi lihat sendiri kan? Dia berbohong, dia masih belum berubah Andini." ujar Arsena sambil mengintai ke arah luar dengan menyibakkan korden jendela.
"Ars, tenang dulu. Mungkin masih dalam perjalanan." Kata Andini. Wanita itu sibuk menyiapkan hidangan sederhana yang telah dibeli Zara dari warung sebelah.
Arsena mulai lelah menunggu, dia menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang sudah usang. Ia kembali kecewa ternyata mama tak pernah berubah.
Tiba-tiba sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas, bergetar.
Andini lebih dulu mengambil, karena berada didekatnya. "Ars, papa menelepon."
"Papa, pasti ada yang penting?"
"Arsena pulanglah sekarang, kondisi mama tiba-tiba drop, sekarang kita semua berada di rumah sakit" kata papa dengan nada gugup.
" Dirumah sakit? Apa yang telah terjadi?" Arsena ikut panik mendengar suara papa yang gemetar.
"Iya, iya, Pa. Baiklah"
Tut! Johan menutup panggilannya. Ia begitu sedih dengan kondisi istrinya sedang tak sadar diri.
"Sayang kita ke rumah sakit sekarang, siapkan dirimu, mama sedang drop," perintah Arsena untuk Andini.
"Baiklah, Ars."
Arsena yang sudah rapi sejak tadi, segera membantu Andini, ia juga meminta Zara untuk menyiapkan keperluan yang penting untuk dibawa.
Arsena dan semuanya berjalan menuju jalanan beraspal. Setelah dilihat ada kendaraan offline sedang lewat, Arsena segera melambaikan tangan, dengan hati hati ia membimbing istrinya masuk di kursi penumpang. Seperti biasa, Zara duduk di dekat sopir, Arsena dan Andini memilih di tempat penumpang.
Tiga jam berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah rumah sakit besar di tengah kota, rumah sakit itu miliknya. Arsena segera menuju ke ruangan dimana mamanya dirawat.
Ruang VVIP dengan pelayanan VVIP.
Arsena bertemu dengan Doni dan Davit di depan ruang rawat Mama.
"Tuan, anda sudah datang," sapa Davit sopan.
"Gimana kondisi Mama Vit, Pak,?" Arsena juga menyalami pria yang kini menjadi papa mertuanya.
__ADS_1
Baru hari ini Doni kembali bekerja, kebetulan disaat hari pertamanya mulai bekerja lagi, ada kejadian yang tak diinginkan.
"Dimana, Papa? Kenapa mama bisa seperti ini? Apa mama sudah sadar?"
"Ada di dalam Den, menemani Nyonya. Di dalam hanya diizinkan satu atau dua orang saja yang boleh menjaga," jelas Johan dengan wajah sedih.
Melihat orang-orang memasang wajah sedih, Arsena dan Andini makin panik.
Arsena mengintip dari kaca pengintai, ia melihat sosok mama sedang membujur tak bergerak. Nebulizer melekat di hidungnya serta layar EKG berdenting pelan di sisinya.
Papa Johan duduk di sisi kanan, sambil menggenggam tangan Rena. Sesekali pria yang hatinya sedang berkabut itu mencium punggung tangan istrinya.
Terlihat ada sorot penyesalan dari mata tuanya. Ia menyesal telah mengancam akan menceraikannya, sesungguhnya kata-kata itu ia lontarkan semata hanya untuk membuatnya berubah.
Sedangkan Arini ada disisi kiri. Dia tak kalah sedihnya dengan Johan. Hari ini menangis terisak-isak sambil memanggil-manggil mama, berharap mama bisa segera membuka matanya.
Melihat Arsena ada di luar kaca, ia segera keluar.
"Temui mama, kondisinya drop saat pagi tadi, dia pingsan saat menuruni anak tangga, sampai sekarang tak sadarkan diri, untung saja tidak tergelincir dari tangga, papa segera mendekat saat melihat dia mengaduh dadanya sakit."
Arsena tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya mendengar ketika Papa menjelaskan kronologi kejadiannya. Bingung, sedih merasa bersalah bercampur aduk menjadi satu. Sebesar apapun kesalahan rasa cinta untuk orang tuanya tetap ada di hati Arsena.
"Ars, melihat dari kejadiannya sepertinya, Mama terkena serangan jantung, semoga saja tak ada pembuluh darah yang pecah." ujar Andini disebelah Arsena dengan wajah sendu.
"Sayang, Mama sudah melakukan banyak salah padamu tolong maafkan dia ya?" Arsena mengecup kening Andini sebentar.
"Kamu yang sabar ya suamiku, Papa juga yang sabar ya. Mama pasti akan segera sadar, mari kita berdoa untuk kesembuhan mama." Andini memejamkan matanya menengadahkan tangannya keatas hanya memohon untuk kesembuhan Mama.
"Iya sayang. Papa beruntung memiliki menantu seperti kamu, Andini. Pemaaf dan juga baik hati." Johan ikut menirukan apa yang dilakukan Andini dan mengusap kedua telapaknya ke wajah.
Andini melihat adiknya melangkahkan kaki mendekati dirinya, ia segera memeluk Arini erat dan menciumi pipinya berulang kali, Gadis bermata indah dan memiliki senyum menawan itu sangat menyayangi Andini.
"Gimana sekolahnya Sayang?" tanya Andini.
"Arini sudah mau lulus Kak, tinggal nunggu wisuda saja. Sepertinya Arini ingin melanjutkan kuliah di Surabaya saja. Biar bisa bertemu keluarga setiap hari."
"Kangen banget sama adikku yang paling cantik ini." Andini gemas dengan wajah imut Arini. Sebelum menyapa kakaknya, Andini memeluk Arini sekali lagi.
"Kakak!" Arini memeluk Arsena.
"Arini kangen. Kakak lupa sama Arini, Ya? jarang telepon. Pasti karena kak Arsena sudah memilih Mbak Andini. Baiklah, sekarang kita putus, aku bukan satu satunya dihati kakak lagi."
"Hh ... Kamu paling bisa, Arini dan Mbak Andini akan selalu dihati kakak, sampai kapanpun. Mengerti!" Arsena mentowel hidung Arini. Mereka berusaha tersenyum disaat menitikkan airmata.
Andini dan semuanya menangis sedih bercampur haru, Andaikan tak mendapat kabar duka dari Mama, mungkin Arini masih tinggal di asrama hanya fokus dengan sekolahnya saja.
Arsena tidak ingin melihat Andini sedih, ia memerintahkan Zara untuk menemani Andini istirahat di ruang pribadinya yang kosong, karena Andini belum bisa aktif bekerja lagi, mengingat kondisi kandungannya yang lemah.
"Zara, bawa nona Andini ke ruangannya. Arini juga. Biar Papa dan Aku yang disini." perintah Arsena.
"Baik tuan." Zara menurut, ia membantu Arini membawa tas kecil berisi bedak dan alat mandi ala gadis muda.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya beristirahat di ruang pribadi Andini. Johan dan Arsena memilih duduk kembali di kursi yang disediakan oleh rumah sakit menjaga Rena.
*Happy reading*