Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 70. Campur tangan mama.


__ADS_3

"Apa ada yang ingin dibeli?" Tanya Arsena saat melihat ada banyak penjual pernak pernik di pinggir jalan, baju-baju murah dan mainan anak anak. Arsena fokus pada penjual aksesoris yang usianya kisaran 60 tahun.


Tak butuh jawaban dari Andini, pria itu menepikan mobilnya.


Ia segera membuka pintu sebelah kanan dan tak mengizinkan Andini turun. "Tunggu disini aja, aku cuma sebentar."


Arsena segera berjalan menuju ibu penjual aksesoris, gelang mainan, kalung imitasi dan hiasan untuk kerudung.


"Bu ... Berapa harga ini semua?"


Penjual itu terkejut seorang pria rupawan menghampirinya, apalagi dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya barusan.


"Em, Tuan Muda. Buat apa anda membeli ini semua, Tuan tak perlu kasihan sama saya dengan beli barang yang tak anda butuhkan, ini semua tak menarik bagi anda, ini hanya mainan anak kecil, setelah ini semua barang tak berharga ini pasti akan anda buang ke tong sampah." jelas ibu itu panjang lebar.


"Tidak Buk, saya ingin belikan buat Adek saya," ujar Arsena lagi.


Andini dari dalam mobil ia hanya bisa memandangi punggung suaminya. Tanpa mendengar apapun yang dibicarakan oleh suaminya dengan penjual aksesoris murah itu.


Dengan penjelasan panjang lebar akhirnya penjual aksesoris itu memberikan semua barang dagangannya dengan senang hati. sebagai imbalan, Arsena memberi banyak uang lebih.


Setelah selesai membeli aksesoris Arsena juga menghampiri penjual mainan dan baju ada ratusan setel baju dan mainan yang ia beli untuk anak anak.


Andini semakin bingung melihat tingkah suaminya Arsena kini membungkus semua belanjaannya dan menaruh di bagasi hingga penuh.


Doni asisten setia, siang tadi minta cuti mendadak selama setengah hari, entah janda mana yang berhasil menggetarkan hatinya hingga kini ia sibuk mengambil hati si janda.


"Ars, buat apa semuanya?"


Andini hanya bisa menerka, namun ia tetap penasaran kalau suaminya belum juga menjawab.


"Entar juga tau sendiri. Semua ini untuk kita. Untuk hubungan kita"


Andini makin tak mengerti, daripada terlihat bodoh, ia memilih untuk diam dan mengamati niat suaminya saja.


Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan yang mulai lengang.


Sampai di depan sebuah panti asuhan Arsena segera membelokkan mobilnya masuk halaman panti. Anak-anak yang melihat mobil tak asing ia berhamburan mendekat. Namun setelah tau yang turun bukanlah pria yang sama dengan setiap hari memberinya hadiah mereka terlihat kecewa dan diam.


"Hei ... hei ... Kenapa wajah kalian jadi murung lagi? Tadi kakak lihat kalian sangat bahagia?"


"Maaf mobilnya mirip? Kita kira yang datang om yang biasa datang ke panti ini mengirim kita hadiah."


"Em, jadi kalian mau hadiah?" Arsena membungjukan tubuhnya di depan anak- anak.


"Mau !!!!" Jawab anak panti serempak. Kalau tak salah jumlah mereka lebih dari tiga puluh anak.


Andini yang melihat Arsena banyak berubah ia sempat menitikkan air mata haru. Arsena yang ia kenal dulu dan sekarang sangat berbeda.


Andini kini menjilat ludahnya sendiri. Ia pernah bilang kalaupun Arsena adalah pria terakhir didunia ini, dia tak akan pernah jatuh cinta pada pria sombong seperti dia. Ha ... ha semua kata itu sudah terbalik sekarang. Bahkan bisa dibilang ia kini akan berat saat berjauhan.


Tapi hal itu juga berlaku untuk Arsena, pria itu juga pernah bilang terang terangan kepada Andini, untuk jadi pembantu saja dia akan berfikir seribu kali untuk menerimanya. Tapi kenyataan berbicara lain. Arsena sudah jatuh cinta dengan Andini. Mungkin pepatah 'Tresna jalaran saka kulina' kini sudah berlaku bagi mereka.


Yah begitulah cinta, mereka bisa lupa janji yang pernah diucapkan.


 


"Ndin sini !' Arsena memanggil Andini yang melamun di mobil sendirian. Hari semakin gelap. Maghrib sebentar lagi tiba. Arsena sekalian beristirahat sebentar di panti.


"Iya, aku akan turun." Andini bergegas turun tanpa menunda lagi.

__ADS_1


"Kakak tampan, apa kakak cantik ini pacarnya, ya!" Celoteh dari salah satu anak yang rambutnya curly.


"Huss ... Anak kecil tau apa soal pacar. Nggak boleh gitu donk. Ayo cium tangan, kakak"


Mereka semua segera berbaris dan mencium punggung tangan Arsena dan Andini bergantian.


" Kalian semua pinter, siapa yang mau hadiah?"


"Mauuuuu ....!" ucap mereka serempak.


Arsena setengah berlari segera menuju ke bagasi mobil mengeluarkan banyak hadiah untuk mereka.


"Anak anak ambil hadiah dari kakak nggak boleh berebut ya ! Ayo kalian ambilnya giliran"


Arsena segera membagikan pada mereka secara adil sesuai usia. Andini membantu mengeluarkan dari mobil, dan Arsena mengambil dari tangan Andini satu persatu. "Yang belum dapat kalian bisa minta lagi ya ..."


"Oke, kak." ujar anak yang kira kira berusia 10 tahun.


" Seling-seling kesini ya kak, Aku senang kakak yang cantik dan tampan datang kesini!" Ujar Anak kecil lucu yang usianya kisaran empat tahun.


Andini segera menggendongnya dan mencium pipinya dengan gemas. Gadis kecil itu nampak malu-malu.


"Ars, dia ingin kita sering kesini." Kata Andini sambil mengulangi mengecup pipi. Dan terlihat anak itu tak menolak.


"Tentu donk, manis. Kakak akan sering kesini." Arsena mengacak rambut gadis kecil manis itu, bicaranya sungguh menggemaskan. Sambil mentowel pipinya yang cabi.


Bocah kecil itu merosot minta turun ketika pemilik panti mendekati Arsena dan Andini.


"Terima kasih banyak Mas, atas hadiahnya untuk anak anak, mereka terlihat sangat senang dengan kedatangan kalian. Kalau boleh tau kalian berdua ini siapa?"


Kenalkan Bu, ini Andini istri saya dan saya sendirI Arsena. Putra Johan atmaja.


Ibu panti itu sangat bahagia ternyata putranya juga baik.


"Semoga kalian cepat diberkati momongan ya"


"Amin, Bu." Arsena semangat menjawab.


Setelah lama berbasa basi dengan pemilik panti akhirnya Arsena memutuskan untuk pulang. tak lupa amplop yang lumayan tebal ia tinggalkan untuk pemilik panti.


Mereka pulang ketika hari telah malam. Rena sudah menunggu di gazebo, begitu melihat Andini dan putranya yang datang ia segera mendekat.


"Kalian baru pulang."


"Iya Ma." Jawab Andini dibarengi anggukan kepala.


"Syukur kalian berdua baik saja." Kata Rena lagi. Memegangi kedua lengan Andini dan menelisik dari atas hingga bawah.


"Tapi Miko terluka, Ma." Jelas Andini lagi.


"Bagus, dia memang sudah sepantasnya mendapat luka itu."


"Ma, dia terluka karena menyelamatkan kita." Jelas Arsena sambil beranjak masuk. Mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Ma, kita sangat ingin langsung istirahat boleh ya?" Kata Arsena tersenyum memandang istrinya. Andini juga tersipu malu.


Arsena kembali teringat rencana siang tadi, ia ingin segera melewati malam indahnya hanya dengan Andini.


"Tunggu," Rena menahan Andini.

__ADS_1


"Tapi aku ingin Andini membuatkan roti bakar sebentar."


"Ma, Andini itu capek." Arsena membela.


Ars kamu memang berlebihan, Andini saja tak keberatan.


"Mama kan bisa minta tolong pada bibi. Bibi 24 jam ada di rumah Ma." sanggah Arsena.


"Beda lah, dibuatkan menantu sama pembantu."


"Aku akan buatkan Ma." Andini beranjak masuk ke dapur.


"Baiklah, terimakasih." Rena tersenyum smirk.


"Ya udah aku keatas dulu, Nanti segera menyusul ya." Dengan sedikit kesal Arsena meninggalkan ruang tamu.


 


Ia Malam ini ingin tampil seperveck mungkin di depan Andini. Seluruh merk sabun mahal yang ada di kamar mandi sudah ia coba semua.


Arsena mengintip aktifitas Andini di dapur.


"Sayang.Apa masih lama?" panggilnya dari tangga.


"Enggak tinggal bentar, ayolah Ars tunggu disana jangan bikin masakan ku berantakan.


"Baiklah." Arsena kini memilih menunggu Andini di ruang kerja. Hingga berjam-jam lamanya. Arsena kembali bosan. Ia akhirnya menyusul Andini.


Ia mendapati dapur sudah sepi, lampunya juga sudah padam.


Arsena kini mencari ke ruang tamu.


Arsena kaget ternyata wanita itu tidur di sofa. Bahkan sekarang sudah jam dua belas malam.


Andini, sudah kuduga kamu akan menghindari malam ini, karena kamu tak benar-benar serius dengan hubungan kita.


Malam indah yang direncanakan berdua terlewati sia sia. Arsena pun kembali keruang kerja dengan kesal.


*Pagi hari*


Andini menggeliat malas, tubuhnya terasa pegal pegal. Ia terperanjat ketika mendapati dirinya tertidur di sofa.


"Arsena semalam pasti menungguku." Andini segera berlari menapaki tangga. Sepanjang langkahnya. Ia berdoa agar Arsena memaafkannya.


"Ars, aku minta maaf." Andini memeluknya dari belakang ketika ia mendapati seuaminya sedang menyisir rambutnya, penampilannya sudah rapi.


"Sudahlah, minggir, aku akan ke kantor."


"Tidak, aku tak akan mengizinkan jika kamu masih seperti ini."


"Minggir!" Arsena mendorong tubuh Andini hingga ia terjatuh di ranjang.


"Ars, aku sudah minta maaf, kenapa kau semarah ini?"


"Pikirkan sendiri!" ujar Arsena lalu meraih tas kerjanya dan pergi.


Andini sendiri heran, kenapa ia tiba tiba tertidur di sofa ruang tamu. Awalnya ia minum segelas air putih dan tiba tiba kepalanya pusing dan kantuk menyerang tak tertahan lagi. Mungkinkah ada sesuatu di dalam air itu?


*happy reading.

__ADS_1


__ADS_2