
Davit menghampiri Zara yang terlihat sedang duduk santai di gazebo. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Entah siapa pria yang membuat gadis itu tersenyum bahagia.
"Zara sibuk nggak?"
"Emang ada apa, Kak Davit?"
"Zara bisa temani aku beli satai ayam ke gang depan sana. Nona sedang menginginkan."
Zara yang sedang berbicara di telepon segera mengakhiri panggilannya. Meminta orang di seberang sana untuk menutup teleponnya. Lagian pria disana juga mulai sibuk kembali di hari lemburnya.
"Kak Davit, Nona tidak mau makanan yang dibakar." Jelas Zara teringat bagaimana majikannya selalu menghindari makanan yang tersentuh asap secara langsung.
"Nona sedang ngidam Zara, jadi seleranya bisa berubah ubah. Bahkan yang disukai bisa saja sekarang dibenci, tapi yang di benci bisa jadi disukai. Aneh sekali bukan." Davit tersenyum.
"Benar juga kata Kak Davit." Zara mengekor Davit menuju mobil, setelah membenarkan baju yang ia kenakan dan jilbab instan yang ia kenakan.
Davit dan Zara berada satu mobil, ia sama sama duduk didepan. Zara sedari tadi melihat ke arah samping di sepanjang perjalanan. Membuat Davit merasa kalau Zara pasti tertekan dengan pernyataannya kemarin, atau mungkin hati dan cinta gadis itu memang sudah ada yang memiliki.
"Kenapa selalu menoleh kesana, sekali kali lihat kesini, sambil senyum gitu, kan manis, Kak Davit jadi senang lihatnya, Zara." Kelakar Davit, namun itu sebenarnya yang ia inginkan.
"Eh, iya Kak. Maaf."
Davit kembali membuka percakapan. "Zara, lupakan saja kalau pernyataan ku kemaren akhirnya hanya membuat kita berjarak seperti ini. Kamu sekarang jadi canggung dekat denganku begini"
"Nggak Kak, cuma sekarang Zara belum siap." ucap Zara ragu. Davit merasa kalau Zara sedang dalam dilema.
"Zara, apa ada pria lain yang memiliki rerasaan sama denganku ... terhadapmu?" Tanya Davit.
"Zara tidak tau Kak Davit, yang jelas Zara takut tak bisa menjadi yang terbaik buat kakak. Mending kalau ada yang lebih baik dari Zara kakak bisa mencoba membuka hati untuknya."
"Sudah punya pacar?" Davit mastikan lagi.
" Belum." Zara menggeleng.
"Zara, pilihanku tak pernah salah. Sayangnya sama kamu, masa harus pilih orang lain." Davit menepikan mobilnya karena ia sudah sampai, dan kali ini dia ingin berbicara lebih serius berbicara dengan Zara.
Zara menahan nafas sejenak lalu menghembuskan dengan kasar. "Aku bingung Kak Davit, aku bingung harus menerima cinta kak Davit atau ...."
Ucapan Zara menggantung, membuat Davit tercengang dan semakin penasaran. Siapa pria lain selain dirinya? Yang ternyata juga menyukai gadis yang beberapa hari ini mulai menggoda hatinya
Kau mencintai pria lain Zara? Atau dia mencintaimu? Siapa dia?
"Ti- ti-dak tidak ada."
"Jangan takut Zara, jujur saja, katakan padaku jika kau tidak mencintainya, maka aku akan siap bersaing dan memperjuangkan cintaku, tapi jika kau mencintainya maka aku kalah, aku tak bisa memaksakan cintaku padamu."
Tak bisa dipungkiri kalau Zara bimbang, Gadis itu bingung siapa yang sebenarnya ia sukai, didekat Davit dia juga bahagia, di dekat Mert dia juga merasa melayang di udara.
Zara tak tega menyakiti hati kedua pria itu, Ia berharap dia akan menemukan satu diantara kedua pria itu yang paling mencintai dan menerima keadaan dirinya.
"Kak Davit kita sudah sampai sebaiknya kita segera pesan satainya dulu, kita bisa menunggu sambil ngobrol lagi." Zara menginhatkan tujuan mereka jalan- jalan hari ini.
__ADS_1
Davit segera membuka pintu dan mendekat kepada abang tukang sate. Dia memesan seratus tusuk untuk take away, dan dua porsi untuk di makan di tempat.
Davit menghampiri Zara yang masih duduk di mobil membukakan pintu dan mengajak makan berdua. "Kita makan dulu, sambil nunggu pesanan jadi."
"Baik, Kak."
Zara dan Davit mencari kursi kosong, kebetulan di sudut ruangan nampak ada meja kosong plus dua kursi. Zara dan Davit segera menempati tempat itu.
Penjual menyodorkan dua es kelapa muda dan dua porsi nasi beserta daging ayam yang ditusuk. Zara dan Davit mulai menikmati makan siang mereka.
"Ini menu favorit saya juga, setelah tuan Miko, sepertinya calon putra Tuan Arsena nanti akan menjadi generasi penerus. Sama-sama suka sate" Kata Davit mulai menyantap makannya.
"Zara juga suka, rasanya enak, apalagi dimakan hangat hangat begini."
"Iya, kamu bener." Jawab Davit, sedangkan dimulutnya sedang penuh dengan nasi.
Tak lama mereka sudah selesai makan, mengingat pesanan Andini juga sudah siap dibungkus oleh Abang penjual.
"Zara. Sebentar." Davit menatap Zara dengan serius.
" Ada apa sih, Kak?" Zara mengurungkan menyesap es kelapa mudanya, menoleh ke arah Davit dengan harapan Davit akan membantu memberi tahu.
"Diam dulu, ada nasi nempel di pipi. Biar aku yang ambil"
"Benarkah? Mana? Aku tidak melihatnya?" Zara mengusap pipinya.
" Mana nggak ada?" Zara masih mengusap usap pipinya dengan jarinya.
" Ada, coba menoleh kesini, dan turunkan tangannya, aku akan ambilkan."
Davit menarik dagu Zara. Lalu tersenyum. "Very beautiful," ujar Davit sok sok'an bahasa inggris.
Wajah Zara merona ketika pria didepannya memuji dengan jarak sedekat ini, Zara memberanikan menatap Davit sesaat, tatapan itu segera berpindah pada jalanan yang ramai.
"Kak Davit jangan selalu merayu Zara, nanti bisa terbang melambung ke angkasa."
" Emangnya layang layang? Aku nggak sedang merayu, ini jujur."
"Zara kan kadi malu Kak. Dibilang cantik terus." Zara kembali mengaduk minumnya.
"Masa aku harus bilang jelek, kalau kenyataannya memang cantik."
" Zara ...." Davit mengikuti arah pandangan Zara.
Zara rupanya tak mendengar Davit berbicara dia sedang fokus pada seseorang yang berdiri di depan abang penjual satay yang sedang asyik mengayunkan kipasnya.
"Bang, satu porsi, seperti biasa banyakin sambalnya." ujar pria itu.
__ADS_1
" Siap, Den" Abang penjual menampakkan jempolnya.
Mert melihat sekeliling ia mencari satu kursi kosong. Ternyata ada kursi kosong lagi dibelakang Zara, yang baru saja ditinggal oleh penghuninya baru saja.
Mert mendekati Zara dan Davit. "Zara kau disini juga, berdua saja sama Davit? Tanya Mert terlihat sedang berusaha bersikap biasa.
"Oh, Tuan Mert, Aku sedang menemani Kak David membeli makanan, pesanan dari Nona Andini, sekalian diajak makan sama Kak Davit.
"Ya, nggak apa-apa, Davit, bisa tunggu sebentar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Zara."
"Silahkan Tuan, saya akan menunggu kalian berbicara." Mert, akhirnya mengambil satu kursi dan duduk di dekat Zara.
Mert yang sedang menunggu pesanan sedangkan Zara dan Davit tinggal menghabiskan minumnya saja.
"Oh iya, ngomong ngomong Tuan juga sering makan disini?" Tanya Zara.
"Ya, aku suka mampir disini ketika jalanan masih macet, sambil menunggu macet reda aku sekalian makan." ujar Mert dengan nada suara ringan.
"Zara, aku belikan sesuatu buat kamu, tadinya pengen aku berikan pas ketemu di rumah, tapi berhubung sudah ketemu disini jadi aku berikan sekarang."
"Tapi Tuan, Anda tak perlu repot belikan apapun buat saya?"
"Tolong terima, Zara. Aku hanya ingin membelikan dirimu saja, tak mungkin aku belikan pada orang lain." ujar pria tampan pemilik bulu lebat di dadanya itu. Mert terkadang suka membuka dua kancing hemnya ketika gerah, hingga bulu itu bisa dilihat oleh siapapun di dekatnya.
Mert meraih lengan gadis itu dan menaruh arloji cantik ditelapaknya. Bentuknya cantik dan berkilau, jika dipakai oleh Zara sudah pasti akan menambah keanggunannya.
"Tuan, saya tidak bisa menerima barang mahal ini."
Zara mengembalikan lagi ke tangan Mert.
"Zara jangan kecewakan aku, ini harganya tak seberapa. Tapi setidaknya kau menghargai aku yang membelikannya untukmu." Mert membuat Arloji itu melingkar di lengan Zara.
Zara kini dalam dilema, Mert terlihat begitu tulus, Davit juga begitu baik. Akankah Davit marah jika dia menerima pemberian Mert. Di depan matanya pula.
"Oh iya Davit, apa pesanan yang take away sudah selesai?" Mert melihat di tangan Davit sudah menenteng sebuah kantong plastik.
Sudah Tuan, kita tinggal pulang. Zara ayo kita pulang. Davit meraih tangan Zara yang satunya.
"Tunggu Davit. Lepaskan tangan Zara. Aku ingin dia menemani aku makan siang sebentar, ada yang ingin aku bicarakan."
"Kalau begitu, biar aku menunggu disini."
"Davit, please kerja samanya, Boy ... Ini pribadi, aku malu jika kau mendengarnya." Mert keberatan Davit selalu di dekat Zara.
" Please, boy."Mert menangkupkan tangannya membuat Davit semakin kesal.
"Zara apa kamu ingin pulang bersamaku? Atau bersama Tuan Mert?" Davit memberi pilihan yang sulit untuk Zara putuskan.
Davit bisa merasakan kalau pria kelahiran Turkie itu memiliki perasaan kepada gadis yang diincarnya. Setelah dia melihat sendiri dua menit tadi telah memberikan Zara arloji yang harganya menghabiskan satu bulan gajinya.
"Kak, Davit biarkan aku pulang bersama Tuan Mert, aku ingin mendengar apa yang ingin ia katakan." Akhirnya Zara memutuskan pilihannya.
__ADS_1