Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 162. Keluarga kecil yang bahagia.


__ADS_3

"Andini tolong jangan bercanda seperti tadi." Arsena menyentuhkan bibirnya di kening Andini. Menenggelamkan wajah istrinya di dadanya.


" Dr.Andini Anda sudah siuman," sapa Namira yang mengejutkan Andini dan Arsena. Andini segera menjauhkan kepalanya dari dekapan suami.


Dr, Namira, rupanya sudah move-on, dia tak lagi memikirkan cintanya yang sepihak pada Arsena. Sikapnya terlihat normal dan baik pada Andini.


"Ars, tolong jaga jarak sedikit dari istrinya ya! Aku akan memeriksa queen on your heart," ujar Namira sambil tersenyum.


Andini tersipu. Pipinya memanas di pandang oleh Namira dan suaminya bersamaan. Apalagi Arsena telah menatapnya begitu mesra.


Andiri mendekatkan lengannya ke arah Namira, Namira sendiri yang memeriksa tensi Darah Andini. Namira mulai memompa alat yang ada ditangannya, gang sudah ia pasang di lengan Andini.


Namira mengernyitkan dahinya. "Tensinya masih rendah, Ars. Kamu sudah tau apa yang harus dilakukan seorang suami. Usahakan istri tercintamu ini istirahat yang cukup, dan bersiaplah menjadi papa seutuhnya, dan begadang setiap malam menjaga dua putramu."


"Ya, aku bahkan sangat siap untuk semua itu, Namira. Kau berkata seperti tak pernah mengenal aku saja. Aku akan menjadi papa terbaik untuk putraku."


"Ya, aku percaya padamu Arsena Atmaja. Sekarang waktunya Aku ucapkan selamat" Namira mengulurkan tangannya. Arsena menyambut uluran tangan Namira hingga tangan mereka terayun di udara.


Usai melepas tensi dari lengan Andini, Namira meminta agar si kecil segera diberi ASI pertama kali dari Mama.


Arsena segera menelepon Papa yang masih ada di taman rumah sakit bersama mama. Selang beberapa menit. Dia sudah sampai di ruangan rawat Andini.


Arsena menjemput si kecil yang ada di gendongan papa." Pah biarkan dia si kecil nen dulu dia sudah haus sejak tadi


"Kamu yang menata bantalnya di pangkuan Andini. Papa akan menaruh si kecil diatasnya. biar lebih mudah menyusunya."


Posisi Andini harus tegak meski sedang menyusui, dia tak boleh merunduk terlalu sering. nanti bisa kebiasaan. dan kata orang tua tua dulu, tulang ibu melahirkan itu kembali muda, dia akan mudah beradaptasi dengan kebiasaannya.


Arsena menata dua bantal dipangkuan Andini membuat posisi si bayi pas satu garis lurus dengan tempat mata air yang sebentar lagi bisa si lecil nikmati setiap saat.


Usai menyerahkan si kecil Johan pamit keluar dia segera mengeluarkan ponselnya ketika berjalan keluar. Entak siapa orang yang dihubungi.


Bayi pertama sudah di pangkuan, Andini masih berusaha membuka segel dari sumber mata air nya. Arsena ikut Andil dalam membantu.


Bayi cerdas itu mulai ikut sesuai intruksi Papa, dia sudah bisa menyesap pelan, walau Andini tak jarang meringis karena geli.


Si kecil belum bisa membuka segelnya, membuat dia kembali menangis dengan kencang. Selain itu bentuk Nen nya terlalu pandek" Sabar sayang, idih Papa banget ini sifatnya. Suka nggak sabar," celetuk Andini gemas."


"Sttt ... jangan nangis, nanti dedek bangun." Arsena terlihat lucu ketika berbicara dengan putranya. Mama yang berdiri hanya tersenyum sambil mengayun ayun bayi kedua yang sedang merengek minta asi juga.


"Kok ASI-nya susah keluarnya, ini bentuknya juga jadi lebih menggoda dan kencang begini." Arsena mulai ngelantur dia terkejut dengan benda kenyal yang paling disukai itu berubah kencang dan saking kencangnya membuat kurma di ujungnya menjadi kecil.


"Ars, sudah kamu jangan tergiur dengan kekencangan milik Andini itu, keduanya sudah di kontrak eklusif sama dua bayimu," canda Mama.


Arsena susah payah meneguk salivanya. " Iya, udah aku iklasin, tapi dua tahun itu lama juga ya." Arsena menggaruk tengkuknya.


"Idiiih ! jadi Papa, itu harus mengalah" cibir Rena mulai gemas dengan putra tercintanya.

__ADS_1


Mending sekarang kamu bantu menstimulasi biar bayimu cepet bisa Nen. Dia butuh kolostrum dari Andini biar kekebalan tubuhnya tinggi.


"Menstimulasi bagaimana sih ma, Arsena nggak ngerti?" tanya Arsena bodoh


"Kamu ini gimana sih, wong sudah biasanya, sekarang pake tanya. Ya dibantu itu dipencet pelan-pelan biar ASI-nya cepet keluar. kalau bukan kamu siapa coba."


"Oh...." Arsena hanya ber oh ria. Dia baru sadar kalau pekerjaan seperti itu masih berlanjut sampai usai melahirkan.


"Kalau begitu Papa pakarnya. Sini papa bantu ya Sayang." Arsena mulai memilin lembut benda kesayangannya itu hingga kini kurma itu sedikit menyembul dan mulai mengeluarkan isinya sedikit demi sedikit. Arsena segera mendekatkan bibir bayinya dan bayi pertama mulai bisa meneguk sedikit demi sedikit air nikmat dari puncak gunung himalaya itu.


Bayi menyesap dengan rakus hingga kenyang. Setelah itu bayi pertama kembali tertidur. Arsena segera menidurkan di dalam ekubator yang sudah dipindahkan ke ruangannya. Papa baru itu kembali melakukan hal yang sama untuk bayi kedua yang mulai merengek minta nen juga.


Bayi kedua lebih mudah mendapatkan ASI-nya, karena bayi bertama tadi sudah membantu adiknya menemukan jalan mata air segar yang akan menjadi milik mereka berdua. namun bayi kedua juga harus bekerja keras membuka seger yang satunya.


Andini dengan senang sekali memandangi jagoan kecilnya. Dengan gemas ia menyentuhkan hidung bangir di pipi bayi mungilnya.


"My baby is always healthy. We love you." Kata Andini dengan air mata yang kembali berlinang. Kali ini bukan air mata derita, namun sebuah kebahagiaan yang tiada tara.


Arsena ikut merapatkan tubuhnya dan mengeratkan tangannya di pinggang istri sesekali mengusap punggung Andini.


"Terimaa kasih istriku, bidadari surgaku, wanita terakhir yang akan menemaniku hingga kita akan jadi nenek dan kakek nanti. Karena telah memberiku buah hati yang tampan-tampan, semua cinta dan sayangku sudah ku persembahkan untukmu." Kata Arsena penuh gombalan di pagi hari.


"Bagaimana jika kau mengingkarinya?"


"Ambil semua hartaku dan bunuh saja aku." Maka aku akan mati.


Sedangkan mama hanya tersenyum, kaget juga, sedalam itulah Arsena mencintai wanita pilihan Johan itu. Arsena seakan sudah pikun dia pernah berkata pada istrinya. 'Bahkan jadi pembantuku saja aku harus berfikir berulang kali.' Tapi apa kenyataan sekarang bahkan dia sudah menjadi bucin akut pada istrinya. Haha cinta memang sulit dimengerti.


"Wow kak, aku tak percaya semua yang kakak katakan. Aku yakin sekarang tak ada wanita yang mau denganmu, karena kau miskin." Arini tersenyum bahagia. Berjalan mendekat ke arah kakaknya. Saat bersama pasti akan ada sikap jahil antara mereka berdua. Entah mencubit atau menggigit. Jika ada mereka berdua ruangan pasti akan menjadi gaduh.


"Aku tak mau wanita lainnya lagi, aku sudah memiliki bidadari yang tak kan terganti sepanjang hidupku." Kata Arsena pada Arini sembari mengecup pipi Andini.


Wajah Andini berulang kali merona karena kata Masia Arsena.


Arini juga bahagia, kakaknya berada dalam dekapan wanita yang tepat. Cinta yang tulus, bukan wanita matre pengincar harta semata.


Usai menyusui bayi kedua, Andini merasakan perutnya mulai keroncongan, cairan infus hanya menambah nutrisi tapi tak bisa membuatnya kenyang.


"Kak, aku pengen gendong baby B ... Boleh kan?"


"Boleh." Andini mengangguk.


"Jangan, Arsena melarang. Arini ceroboh aku nggak izinin " Arsena menahan lengan Andini.


" Ars, ini keponakannya, dia akan hati-hati kok. Suatu saat Arini juga akan jadi Mama, dia harus belajar," bujuk Andini tak mau Arini kecewa.


"Kakak, itu semua masih lama kok. Lagian Arini harus kuliah."

__ADS_1


" Tapi sudah ada cowok kan?" kini oboran berpindah topik, Andini terus menggoda adik iparnya.


"Kak Andini tau aja."


"Kemaren yang antar sekolah itu."


"Apa? Kamu pacaran, Arini!? tanya Arsena serius.


"Enggak, Kak. teman aja, dia suka Arin gitu."


"Sudahlah nggak usah pacaran, lagian masih kecil juga," Arsena terlihat kesal.


"Iya, iya." Arini memajukan bibirnya.


"Dasar gadis ingusan, awas kalo nggak bisa jaga diri," ancam Arsena. Kalau bandel, gue bilang papa dinikahin tau rasa kamu."


"Resek banget sih, cuma berteman juga."


Obrolan panjang mereka kembali terhenti ketika Andini meringis merasakan nyeri di perutnya.


"Sayang kenapa?"


" Masih sakit Ars ... ?"


" Yang mana?


" Disini." Menunjuk perutnya "


"Mau buang puff."


"Enggak, tapi lapar."


" Baiklah, aku suapin."


"Arini akhirnya memilih pergi, setelah baby kedua tidur pulas di dalam ekubator.


Baru beberapa suap, Terdengar langkah kaki Miko masuk ke dalam, Dia ingin mengucapkan selamat pada Andini. " Apa aku ganggu?"


"Eh Miko, masuklah." Kata Mama Rena.


Miko masuk dengan gayanya yang cool rambut disisir ke belakang dan rapi. " Aku ucapin selamat ya, buat kalian berdua, semoga sukses jadi orang tua." Sambil mengulurkan tangan ke pada dua orang didepannya.


"Terimakasih, Miko." Arsena menyambut tangan Miko dengan cekatan dan menggenggam tangan Andini yang hendak bergerak.


"Aku do'akan, semoga kau juga cepat nyusul. Aku yakin mahligai yang kau bina akan makin kokoh dengan hadirnya buah hati," ujar Arsena sambil melepaskan tangan Miko.


"

__ADS_1


__ADS_2