Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 64. Selalu menjadi malaikat untuk Andini.


__ADS_3

Arsena terkejut, Lili yang pernah menjadi kesayangannya, sejak kapan dia mulai bisa memainkan benda berbahaya itu.


"Turunkan! Atau aku akan melupakanmu jika kau seorang wanita," gertak Miko. " "Berani maju selangkah saja aku pastikan kau akan menyusul kakakmu ke neraka."


Lili salah paham dengan ucapan Miko, ia mengira kakaknya sudah tiada, hingga ia nekat maju selangkah. Menodongkan pistol tepat mengarah di kepala Andini.


"Kau pembunuh Miko, sebagai balasannya sekarang Andini harus mati, wanita yang kalian berdua sayangi dia harus pergi untuk selamanya!" teriak Lili, ia menarik dan melepaskan tuas pistolnya.


Dorrr!


"Andini !!!" Miko mendorong Arsena untuk menyelamatkan Andini, hingga tubuh mereka berdua oleng dan terjatuh, peluru melesat kurang dari hitungan satu detik, menembus kepala Miko.


"Aaarrgg" Miko merasakan sakit di kepalanya, Miko memegangi kepalanya yang terluka. Darah berlomba keluar membasahi tangan dan sela-sela jarinya.


Arsena bingung melihat situasi rumit di depannya ia juga tak mungkin melepaskan Andini dan menolong Miko.


Lili melihat sasarannya meleset, tubuhnya bergetar hebat,harusnya Andini yang ia bunuh, bukan Miko. Lili menjatuhkan pistolnya di bawah kakinya dan berlari keluar.


Arsena segera memanggil Doni yang mengejar Lili, "Pak Doni hentikan, Miko lebih membutuhkan pertolongan! "


Doni berbalik haluan, ia membiarkan Lili lolos, dan mengindahkan panggilan tuannya.


"Lebih baik sekarang kita segera selamatkan Miko dan Andini. Cepat bawa Miko menuju helicopter." Perintah Arsena.


"Baik, Den." Doni merangkul tubuh Miko yang mulai melemah, menidurkan di kursi paling belakang. Sedangkan Andini dan Arsena di tengah bersebelahan tepat di belakang pilot.


Setelah semua sudah di dalam, pilot segera mengunci otomatis pintu helicopter


"Kita kembali ke Surabaya, nyawa Adik dan Istriku dalam bahaya. Jangan ulur waktu walau satu menit." Titah Arsena.


Pilot handal, segera menyalakan mesin, baling-baling helicopter mulai berputar. Arsena tak menemukan ketenangan sedikitpun melihat wanita yang dicintai dan adiknya terluka.


"Sayang bertahanlah, kita akan segera kembali, Arsena mengusap lelehan airmata di sudut netra Andini." Andini bersedih melihat Miko mengobarkan nyawa untuk dirinya.


Doni juga merasa gagal melindungi anak tuannya, ia sangat bersalah Andaikan Johan akan memecatnya hari ini mungkin ini hukuman yang pantas ia terima.


"Kuatkan diri, Aden. Den Miko pria yang kuat, Den Miko pasti baik-baik saja." ucap Doni menguatkan hati Miko.

__ADS_1


"Jangan khawatirkan aku Pak Doni, apakah Andini akan baik-baik saja." Miko berbicara dengan terbata.


"Nona Andini pasti akan baik saja. Percayalah, Den" hibur Johan.


Arsena, mendengar semua percakapan Miko, betapa khawatir Miko terhadap Andini. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Andini.


Mendengar kekhawatiran Miko terhadap Andini dengan telinganya sendiri ada yang terasa nyeri di ulu hati, wanita yang dicintai juga dicintai adiknya. Bahkan cintanya yang ia berikan kepada Andini mungkin tak sebanding dengan cinta Miko untuk Andini. Miko seperti malaikat penyelamat Andini.


Arsena menoleh ke belakang, ia melihat Kondisi Miko yang mengenaskan. "Miko, Andini pasti akan segera pulih, ia hanya mbutuhkan penawar racun di tubuhnya saja." Kata Arsena berusaha menenangkan.


"Girl, kamu harus segera sembuh, Girl" Rancau Miko lagi. Suara Miko semakin lemah, Miko kesakitan luar biasa hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. Darah Miko terus merembes walaupun sudah di ikat dengan sobekan lengan hem Doni.


"Den, Den, Den Miko !!" Doni berteriak memanggil nama Miko, Doni mengkhawatirkan kondisi Miko yang semakin lemah. Miko kini tak sadarkan diri.


"Pak, tolong lebih cepat lagi, nyawa adikku dalam bahaya." Ujar Arsena yang dilanda panik.


Dua jam perjalanan terasa sangat lama, Arsena sudah meminta Namira dan Vano untuk siaga menyongsong kehadiran dirinya dekat RS. Helicopter akan mendarat di lokasi yang ditentukan, di sebuah tanah lapang yang hendak di bangun RS tambahan.


Halicopter yang membawa Arsena dan kawan kawan sudah landing. Namira ikut serta turun langsung ke lapangan, melihat Miko dan Andini yang sedang dalam kondisi tragis.


Pintu helicopter terbuka, Miko segera dipindahkan ke brankar pasien. Tak ingin mengulur waktu lagi, Miko segera dimasukkan ke dalam mobil sehat dan segera dilarikan ke rumah sakit.


Sedangkan Andini menunggu mobil sehat berikutnya dan juga dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Miko. Kali ini Namira yang memberi penanganan untuk Andini.


Andini segera dimasukkan dalam UGD yang berbeda dengan Miko.


Andini hanya sebentar di dalam UGD lalu dibawa dalam ruang pemulihan. Sedangkan Miko belum menunjukkan kalau kondisinya masih baik saja. Miko semakin kritis. Peluru itu menembus tulang tengkoraknya dan mengenai bagian dalam kepala.


Arsena segera meminta Doni menghubungi Mita, agar segera menjenguk putranya. Mita segera meninggalkan butiknya menuju rumah sakit


Dalam kondisi seperti ini ia sangat terpukul, istrinya belum pulih oleh pengaruh obat terlarang, adik yang selama ini ia benci keberadaannya telah menyelamatkan nyawa dirinya sendiri dan istrinya.


Arsena berdiri di depan jendela kaca kecil yang biasa digunakan keluarga pasien untuk mengintip, ia melihat secara bergantian, sebentar memastikan Andini, dan sebentar melihat kondisi Miko yang tak bergerak sedikitpun.


Tiba-tiba seorang perawat mendekat ke arah kaca, menutup tirai pada kaca yang digunakan Arsena untuk mengintip keadaan Miko.


Perawat memohon maaf ia menangkupkan tangannya, serta memberikan pandangan redup pada Arsena, seakan meminta Arsena untuk banyak bersabar dan berdoa karena kondisi pasien kritis

__ADS_1


Dalam situasi seperti ini, Hati Arsena yang sekeras baja kini mulai melunak. Mulai melihat Miko dari sudut pandang seorang kakak. Betapa dia selama ini egois dan keras kepala, Miko yang tak pernah mengusik hidupnya dia malah membenci setiap tingkah laku dan geraknya.


*****


Seorang ibu-ibu memakai jilbab instan mendekat ke arah signage rumah sakit. Ia melihat daftar pasien yang tercantum dari atas hingga bawah. Ibu itu lupa membawa kacamata hingga pandangannya sedikit buram.


"Dara, tolong kamu baca! Kakak kamu dirawat di ruangan mana?"


Tiba-tiba gadis muda dengan wajah yang begitu familiar di ingatan Arsena mendekati sang ibu.


"Bu, kak Andini ternyata ada di ruang VVIP Flamboyan." Jawab gadis kecil yang baru saja lulus SMA itu usianya kisaran delapan belas tahun.


Arsena yang menunggu Andini di luar ruangan, ia segera menghampiri mertuanya, Arsena sempat pangling, Ibu Ana yang pernah dilihatnya dulu sangat kurus, tapi kini dia lebih muda dan segar. Wajahnya sangat mirip dengan Andini istrinya kulitnya juga putih.


"Ibu !" Panggil Arsena.


Ana menoleh ke arah sumber suara. "Siapa Ra, yang memanggil ibu?" Tanya Ana. Wanita itu mengerjabkan matanya berulang kali berharap pandangannya akan membaik.


"Itu kakak ipar, Bu." Andara menunjuk Arsena.


Arsena segera menghampiri mertua dan Adik iparnya. Menjabat tangan Andara dan mencium punggung tangan ibu. "Gimana kabar ibu?"


"Seperti yang kamu lihat Nak, ibu lebih baik dari yang kau lihat dulu, ibu sangat sehat."


Arsena sejenak bisa tersenyum melihat keluarga istrinya dalam keadaan sangat baik.


"Bagaimana dengan Nenek?" Tanya Arsena lagi menanyakan kabar nenek Sumi. Pertanyaan Arsena kali ini ditujukan pada Andara.


"Kak, Ars, kabar nenek juga baik sekali, gara-gara kak Ars belikan TV yang sangat besar, nenek suka sekali nonton TV ... Hanya saja nenek sekarang lututnya suka ngilu." ujar Andara polos, dengan gaya bicaranya khas anak ABG.


"Oh iya, gimana Andini? Apa dia sudah baikan?" Tanya Ana pada menantunya.


Arsena tadi sengaja memberi tahu ana kalau Andini hanya kurang enak badan, itu sebabnya Ana lebih tenang, jika tau cerita yang sebenarnya mungkin Ana akan panik dan histeris di sepanjang jalan.


Raut Arsena tiba-tiba bersedih, " Andini masih ditangani oleh sahabat saya, Dokter Namira. Mungkin sebentar lagi dia akan selesai memeriksa Andini."


Arsena kini mengajak ibu Ana duduk-duduk di kursi panjang. Kursi yang biasa digunakan untuk menunggu pasien, Arsena menceritakan pelan-pelan tentang rentetan kronologi yang telah menimpa Andini.

__ADS_1


"Nak Arsena, setahu ibu Andini anak yang baik, dia tidak pernah punya musuh?" Ana kini menangis terisak isak, setelah Ana tau kalau Andini telah di culik dan di aniaya.


"Ibu tenang saja, mulai sekarang saya akan berjanji memberikan yang terbaik untuk Andini putri ibu." Kata Arsena dengan tatapan sendu.


__ADS_2