
Miko baru saja selesai Meeting dengan clien, buru-buru ia ingin pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang telah letih. Andaikan Papa menjodohkan Andini dengan Miko pasti saat pulang kerja seperti sekarang ini ia sangat bahagia.
Ada yang menyambutnya dengan senyum termanisnya ketika lelah bekerja, Miko pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini.
Sambil rebahan di sofa, Miko menghubungi Andini. Seharian bertemu rasanya tak cukup bagi Miko. Malam masih tak puas kalau belum mendengar suaranya.
Tut ... tut ... tut
Tut ... tut ... tut
"Kenapa lagi .... Kenapa saat di rumah Andini semakin susah dihubungi. Pasti Arsena memberi pekerjaan yang berat untuk Andini, hingga ia tak bisa di ganggu.
"Akhhh mungkin papa bisa membatalkan semua ini, Andini tak bahagia dengan Arsena, ia menderita, aku tak rela jika dia terus saja bersama pria arogant itu," gumam Miko pada dirinya sendiri.
Miko kini pulang kerumah, ia berharap Johan masih ada di rumahnya.
*****
"Selamat malam sayang, gimana kerjanya semua lancar kan?" Tanya Mita pada putra satu satunya, ketika baru menapakkan kaki di rumah luas namun sepi penghuni itu."
Mita mengecup kening Miko layaknya putra kecilnya dulu. Ia sangat menyayangi Miko. Tapi sayangnya Miko tak suka tinggal bersama Mita, karena tahu kenyataan kalau Mita bukan istri satu-satunya yang dimiliki papanya, ia harus bersaudara dengan Arsena yang selalu merendahkannya, dan merasa paling dirugikan.
"Ma, aku kesini mencari Papa."
"Tumben, memangnya ada perlu apa?" Mita tersenyum pada Miko, tapi di kepalanya menyimpan sebuah tanya.
"Papa sudah kembali pada, Rena,"
"Ma, sampai kapan Mama akan seperti ini, memiliki suami bekas orang, kenapa mama nggak cerai saja?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu Miko? Dia papa kandung kamu."
"Kalau dia papa kandung Miko kapan ia berusaha menyenangkan hati Miko? Kapan dia peduli pada Miko? Kalau dia memang sayang pada Miko kapan dia memberi kebahagiaan itu? Bahkan dia telah menikahkan gadis yang Miko sukai sejak pertama bertemu, dengan putra kesayangannya."
"Miko apa yang kamu katakan? Apa kamu mencintai Andini? Katakan Miko apa gadis yang kamu maksut itu Andini?"
"Iya, Miko menyukai Andini, dan harusnya yang menikah dengan Andini itu adalah Miko, bukan Arsena."
"Kenapa jadi seperti ini ... Miko papa menjodohkan Andini dan Arsena itu bukan tanpa sebab. Arsena itu keras kepala, jika ia disatukan dengan Andini, keras kepala Arsena sedikit demi sedikit akan melunak, dan ...."
"Arggghhh .... Tapi Andini tak akan bahagia Ma," pria itu memutar tubuhnya membelakangi mama dan meremas kepalanya. " Andini hanya milik Miko, Andini tak boleh dimiliki siapapun ...."
"Miko, jangan seperti ini, Andini itu istri Arsena, kamu bisa cari wanita lain selain dia ... Miko, jangan buat hubungan yang buruk ini akan semakin buruk."
"Tapi Ma ...."
"Miko, cukup!!!"
Mita membentak Miko, membuat Miko diam, baru kali ini melihat mama se marah itu. Miko yang tak mendapat pembelaan dari siapapun ia memilih pergi lagi.
Miko melajukan kendaraannya dengan kencang menuju kedai. Miko mengabil minuman beralkohol dengan dosis rendah dan meneguk dua kaleng sekaligus hingga habis. Ia butuh sedikit ketenangan untuk jiwanya yang lagi galau.
Miko kini kembali berjuang untuk mendapatkan cintanya. Cinta dari seorang wanita yang telah dimiliki pria lain. Sungguh malang nasib Miko, cintanya malah bersemi pada kakak ipar.
"Andini, apapun caranya aku akan berusaha memilikimu, aku yakin kita akan bersama, kamu jodohku, bukan si pria breng*** itu." Penglihatan Miko mulai berkunang-kunang, hingga ia segera ke mobilnya dan tidur sebentar di dalam mobil untuk memulihkan kondisinya yang sedang galau karena Andini.
--------
*Pukul delapan malam*
"Andini kita keluar sebentar, aku akan menjemputmu."
"Kemana?"
"Kita jalan-jalan Andini, kita rayakan kelulusan kita."
"Tapi Van, ini sudah malam dan aku harus menjaga suamiku."
__ADS_1
"Suami yang hanya status itu! ha ha."
"Baiklah Vanya, aku tunggu di depan rumah, dan nanti aku kirim alamatnya." Andini meleleh oleh bujuk Vanya.
Setelah Vanya menutup teleponnya Andini memeriksa kondisi Arsena sebentar. Ternyata pria itu belum tidur. Arsena baru saja keluar dari kamar mandi sehabis gosok gigi.
"Ars, aku akan keluar sebentar," pamit Andini.
"Kemana?" Arsena terlihat tak senang
"Aku akan jalan-jalan sama Vanya. Boleh ya, cuma merayakan kelulusan kita berdua, mungkin sekedar mencari udara di taman Kota."
"Tak ada izin." Kata Arsena sambil memunggungi Andini.
"Ars, sebentar saja, please. Boleh ya? Bukannya kalau malam hari, aku sudah selesai bekerja?
"Hanya dua jam, jika lebih, tidur diluar!!" kata Arsena, tak bisa di ganggu lagi.
"Oke, thanks ,Ars."
Andini menghampiri Arsena dan memeluk tubuhnya dari belakang, karena saking girangnya.
Andini segera meninggalkan Arsena sendirian di kamar. Vanya rupanya sudah datang. Gadis itu sudah turun dari mobil dan mengetuk pintu berulang kali.
Andini segera turun menghampiri Vanya di ruang tamu. Karena Bibi yang membukakan pintu. Ternyata Vanya tidak sendirian ia bersama Jesika teman satu fakultas namun beda kejuruan itu.
"Wow Andini hidupmu sungguh berubah ... Kau tinggal di istana ini hanya bersama Arsena si tampan itu," kata Jesika terkagum.
"Salah Jes , Arsena, Bibi dan Pak Karman, kita berempat. Bukan berdua." Kata Andini yang baru saja turun dari tangga.
Jesika dan Vanya kini melihat sendiri dengan mata kepalanya, kalau selama ini yang diceritakan Andini bukan bualan belaka. Andini ternyata sudah menikah dengan pria milyader yang selama ini ia kagumi ketenarannya di dunia maya.
"Yuk berangkat, suamiku hanya memberi izin dua jam, friends"
"Nggak dikenalin nie?"
"Udah kita berangkat saja, sebelum dia berubah pikiran."
"Oke kita berangkat sekarang. Malam ini kita akan bersenang senang ...." Jesika nampak kegirangan. Segera ia merengkuh kedua pundak sahabatnya, bergandengan keluar rumah menuju mobil Vanya.
Vanya gadis masa kini, ia memakai baju trendy dan kekinian sama halnya dengan Jesika, sedangkan Andini hanya memakai gaun biasa, gaun warna hijau navi tanpa lengan dan model payung di bagian roknya.
Mereka bertiga segera menyusuri keramaian kota. Perut kenyang membuat ia malas memasuki rumah makan dan sejenisnya.
"Andini, apakah kamu pernah ke club"
"Belum." Andini menggeleng.
"Oke kita akan mencoba malam ini ketempat hiburan yang satu itu, kita bersenang-senang disana gimana, Van?" Tanya Jesika.
"Oke, siapa takut." Kata Vanya.
Andini yang tak tau dunia malam, hanya bisa mengikut saja. Ia seperti orang bodoh yang celingukan mengamati hingar-bingar lampu kerlap kerlip dan suara musik yang memekakkan telinga.
"Ayo Andini kita bersenang senang disana." Jesika menunjuk segerombolan orang yang berjoget dan berpakaian seksi.
Vanya dan Jesika rupanya sudah sering ketempat hiburan seperti ini, buktinya ia sudah sangat rileks berjoget dan bernyanyi.
"Ayo, Dokter." Jesika memaksa.
"Maaf, aku tak bisa berjoget, aku akan menunggu kalian sambil duduk disana saja." Andini berjalan menjauh dari lokasi joget bebas itu, ia memilih duduk di kursi sambil melihat kawan-kawannya yang begitu bahagia, menikmati malam ini. Tertawa lepas tak punya beban hidup layaknya Andini.
Andini memilih duduk manis, memainkan ponselnya sambil minum juice buah yang ia pesan khusus.
"Hai, Baby cute ... Akhirnya kita bertemu lagi" Sapa seorang pria yang bertubuh jangkung, dengan rahang tegas, senyumnya manis layaknya seorang play boy. Pria itu mendekat dan menarik satu kursi, lalu duduk tepat di depan Andini.
"Devan !" pekik Andini.
__ADS_1
"Baby cute, nggak nyangka kamu juga suka mengunjungi tempat seperti ini juga."
"Mmmm a-aku hanya ... Aku butuh sedikit hiburan." Kata Andini berusaha rileks.
"Sudahlah, Baby cute, nggak usah grogi gitu, kita sama, seharian lelah bekerja kita akan bersenang senang di malam hari."
"Yuk, kita gabung sama mereka." Kata Devan sambil meraih lengan Andini.
Andini menarik lengannya kembali. "Maaf, Kamu saja, aku sedang tak ingin," tolak Andini.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini saja, Baby cute." Kata Devan penuh rayu.
Andini melihat dua kawannya sudah mabuk, dan kini ia bingung pulang dengan siapa? Arsena hanya memberinya waktu dua jam saja.
Andini memberi kode pada dua sahabatnya, mengajak pulang. Namun Vanya dan Jesika menolak. Mereka malah mengijinkan Andini pulang duluan.
Vanya dan Jesika masih menikmati malam panjangnya, sesekali meneguk minuman dan kembali berjoget.
"Andini, kamu kenapa sepertinya gelisah?" Tanya Devan. Memperhatikan Andini yang mulai tak tenang.
"Aku harus pulang sekarang."
"Oke, mau aku anter, Baby."
"Iya, terima kasih." Andini menolak dengan halus.
"Ayolah, jangan takut, kita sudah saling mengenal sebelumnya ,Bukan?" Devan mendesak.
Akhirnya dengan berat hati Andini mengangguk setuju.
Andini dan Devan keluar dari clup malam beriringan, Andini di depan dan Devan di belakang. Pria itu tak fokus pada jalanan. Selama berjalan menuju parkir ia hanya mengamati punggung Andini yang sedikit terbuka.
Devan membukakan pintu depan untuk Andini, pria itu setengah berlari segera membuka sisi pintu yang satunya.
Devan tersenyum sebelum menyalakan kemudinya, Andini membalas senyuman Devan.
Devan dan Andini akhirnya pulang bersama, mereka melewati jalanan yang mulai sepi, bahkan dibeberapa titik ada jalanan yang gelap gulita.
"Baby cute, kenapa buru-buru sekali, apa tak sebaiknya kita keliling sebentar, ini masih sangat sore." Kata Devan sesaat melihat arlojinya yang baru menunjukkan pukul 10 malam.
Andini menggelengkan kepala "Tidak Dev, aku ingin pulang saja," tolaknya.
"Oke, kita pulang"
"Kenapa Dev," tanya Andini ketika mobil yang ia naiki tiba-tiba mogok.
"Sial, pasti mogok lagi."
"Emang sering seperti ini? Kenapa mobil sebagus ini bisa mogok." Andini mulai gelisah, Karena ia hanya berdua saja dengan Devan di jalanan gelap gulita.
"Entahlah Andini, kita tunggu saja sebentar, tukang derek pasti akan segera datang." kata Devan setelah mengutak atik handphonenya sebentar. Terlihat Devan mendiamkan mobilnya begitu saja, tanpa berusaha mengecek mesin atau lainnya yang mungkin bisa diperbarui sendiri.
Andini dan Devan menunggu tukang derek yang datang. Devan sesekali menawari minuman beralkohol yang ia simpan di mobilnya.
Andini mulai risih berdua saja dengan pria itu di mobil. Andini menggerakkan tangannya membuka kunci mobil. Namun mobil mewah itu tentu tak bisa dibuka karena Devan sudah menguncinya dengan kunci otomatis.
"Hei mau kemana cantik." Devan mencekal lengan Andini.
"Aku tunggu di luar saja." Kata Andini, berusaha membuka pintu. "Tolong buka kuncinya. Aku tak nyaman terus disini."
"Sudahlah, tunggu di dalam saja. Sambil menunggu, kita bersenang senang sebentar." Devan berbicara dengan nada menggoda.
Devan mulai menyentuh dagu Andini dan menarik, membuat wajah Andini mendongak menghadap ke arahnya. Bibir merah muda berlapis lipglos yang terlihat berkilau itu sangat menggoda lelaki yang menyukainya sejak pandangan pertama itu.
"Kau sangat manis, Baby cute. Kau pasti bukan ART biasa di rumah majikanmu."
"Tolong Tuan, jangan seperti ini." Andini berbicara dengan bibir bergetar. Andini bisa merasakan tubuh pria itu menghangat tatapannya mulai liar, tak semanis saat masih di club tadi.
__ADS_1
"Gadis semanis dirimu, tak pantas jadi ART di rumah itu, layani aku malam ini, Aku akan menjadikanmu ratu di istanaku." Pria itu menggeser duduknya, tak berhenti mendekati Andini. Andini yang tersudut hanya bisa meneteskan air mata.
Di dalam ketakutan, Andini menyusupkan tangannya ke dalam tas, meraih handponenya dan berusaha memanggil siapapun yang bisa dihubungi. Yang jelas nomor itu tersambung pada orang yang terakhir meneleponnya.