
Aku sudah sampai.
Sebuah pesan singkat melesat dari ponsel Miko untuk kakaknya, Arsena.
"Ya! Bersenang senanglah disana."
"Sayang, Miko dan Dara sudah sampai." Kata Arsena pada Andini.
"Syukurlah, semoga mereka bahagia disana." Kata Andini sambil menggeliat malas diatas ranjang kecil pembawa kenangan terindah itu.
Krucuk!
Suara perut Andini.
"Kamu lapar, ya?" Tanya Arsena.
"Hu'um bayinya yang lapar." Kata Andini malu-malu.
"Kalau begitu kita pesan take away aja ya!"
"Jangan, Baby twins ingin makan masakan Papanya."
"Benarkah? Apa ini salah satu ngidam?" Tanya Arsena dalam ketidaktahuannya.
"Benar, Ars ngidam itu bisa macam-macam. dan aneh-aneh pula." jelas Andini.
"Baiklah kalau begitu aku akan masak untuk Baby twins. Katakan ingin makan apa aja?" Kata Arsena penuh percaya diri. Seakan dia jago masak saja
"Nasi goreng plus sayuran. Dan syaratnya harus cepat!" ucap Andini.
"Itu sangat mudah." Arsena berjalan ke dapur, membuka kulkas kecil yang ada di dapur. Arsena tak menemukan apapun di dalamnya. Karena Andini belum belanja apapun.
Arsena kembali menemui Andini. "Cepat sekali, sudah jadi?"
"Belum." Kata Arsena cemberut. "Sayang, di kulkas tak ada apapun. Bagaimana aku akan memasak, dengan cepat."
Andini tertawa melihat suaminya bingung. Sepertinya ini saatnya mengerjai Arsena, itung itung sebagai balas dendam karena telah cemburu buta dan membuatnya sedih kemarin.
"Ars, di depan ada tukang sayur, sayurnya masih fresh, ikannya juga."
"Jadi maksud kamu aku harus belanja ke tukang sayur yang di depan?" Arsena memutar tubuhnya sambil meremas rambutnya, ia sedang bingung.
"Iya." Andini mengangguk mantap.
"Tidak, aku akan malu sama ibu-ibu diluar sana. Keren begini masa harus belanja sayur. Kalau ada yang mengenalku aku seorang Dirut utama PT Wilmar Sentosa bisa habis aku. Bisa hilang wibawa diri ini."
"Ya udah, kalau nggak mau." Andini memasang wajah sedih, menundukkan wajahnya sambil mengelus perutnya yang mulai lapar. "Jangan salahkan aku, kalau anakmu nanti suka ngileran. Sekarang dia pasti sangat sedih."
Andini melengos ke arah lain ia pura-pura sedang sedih sekaligus marah. " Baiklah aku akan belanja. Kalau tidak demi anakku aku pasti berfikir seribu kali untuk belanja seperti wanita."
Arsena akhirnya meninggalkan Andini sendiri di kamar. Benar kata Andini tak jauh dari komplek tempat tinggalnya ada tukang sayur yang biasa mangkal sejak pagi tadi. Arsena melihat banyak ibu-ibu sedang belanja.
Tiba-tiba Arsena ingat kalau ada Zara. Arsena segera mencari Zara, gadis itu terlihat sedang membersihkan lantai.
__ADS_1
"Zara!"
"Tuan?"
"Tolong bantu aku belanja bahan membuat nasi goreng jangan lupa sayurnya sekalian. Dan ingat ini rahasia, kamu harus hati-hati saat belanja, Andini nggak boleh lihat. Dan jangan bilang-bilang."
"Iya tuan." Zara segera belanja tanpa sepengetahuan Andini.
Sedangkan Andini baru turun dari ranjang lalu mandi.
Usai mandi Andini segera berjalan menuju ke dapur, hidungnya mengendus endus nasi goreng buatan Arsena yang mulai mengeluarkan aroma harum.
"Sayang ini nasi goreng spesial, sudah jadi" kata Arsena puas dengan karya nya.
Andini memeluk Arsena dari belakang. "Ini harum sekali, pasti rasanya sangat nikmat."
"Jelaaaas, siapa dulu yang memasak." Arsena menepuk dadanya bangga. Lalu membalikkan badan dan memeluk istri yang sedang ingin bermanja.
Arsena menuang nasi goreng dari penggorengan menjadi dua piring. Ia memberinya irisan mentimun tauge dan selada. Tak lupa telur mata sapi yang bentuknya berantakan.
Andini dan Arsena makan bersama, nasi goreng buatan Arsena rasanya tak terlalu buruk. Andini merasa senang dengan nasi goreng buatan Arsena.
Andini bersendawa, pertanda telah kenyang, satu piring sudah tandas di perutnya. Arsena bahagia melihat ekspresi puas di wajah Andini.
--------
Miko telah sampai di Bandara Internasional Istanbul. Dara dan Miko gegas menuju hotel berbintang lima dengan fasilitas sultan.
"Kak Miko hotelnya bagus banget, benar kita akan bermalam disini?" Memandang sekeliling hotel. Semua di desain sangat mewah.
"Ya benarlah, ini hadiah pernikahan jadi harus yang spesial donk, masa nginapnya di hotel murah." Miko tertawa geli memperhatikan tingkah polos Dara.
"Kenapa harus pikirkan uang dia, uangnya sangat banyak, untuk biaya bulan madu ini, nggak mengabiskan keuntungan perusahaan selama sehari." Kata Miko. Mereka naik ke lift setelah selesai menemui resepsionis.
"Wah ... Kak Arsena ternyata uangnya sangat banyak."
"Hm ... Sangat berbeda dengan aku." Miko mulai merendahkan diri.
Kak jangan merendah gitu, berapapun penghasilan Kakak, Dara sayang banget sama kak Miko."
"Walaupun kakak seorang yang miskin no satu di dunia, Dara tetap mencintai Kak Miko, asalkan hati dan cinta kakak seutuhnya untuk Dara."
"Kakak, sayang sama kamu, Little,"Miko mengecup puncak kepala Dara.
Dara memejamkan mata saat bibir Miko menyentuh keningnya. "Makasi kak."
"Dara bolehkah kakak minta satu hal?"
Boleh, tapi apa?
Tolong jangan cemburu lagi. Cemburu buta bisa membuat orang yang kamu cintai ilfeel, dan itu bisa menyakiti hati orang lain, Kakak nggak suka dicemburui."
"Iya Dara janji." Kata Dara tanpa keberatan sedikitpun.
Dara masih setia menggamit lengan Miko sepanjang perjalanan menyusuri hotel besar nan Mewah itu, mereka berdua tak sabar
__ADS_1
Miko segera membuka kunci kamar hotel dengan memasukkan cardlock ke dalam handle. Pintu hotel terbuka secara otomatis.
Kamar hotel yang didesain ala kamar raja Turkey, sekali lagi membuat Dara membuka mulutnya lebar, tangannya reflek bergerak menutup mulutnya.
"Wooow amazing ....'
" Kak Miko, ini mengagumkan."
"Dara, apa kamu belum melihat kamar semewah ini sebelumnya?"
Dara menggeleng. "Belum pernah sama sekali, ini juga pertama kalinya Dara menginjakkan kaki di luar negeri."
Dara segera berlari menjatuhkan bobot tubuhnya diantar ranjang big size, berguling guling bebas merasakan empuknya kasur berseprei sutra. Miko tertawa geli melihat tingkah lucu istri kecilnya.
"Mandi dulu? Setelah itu istirahat sesukamu." Celetuk Miko yang melihat istrinya ber malasan.
"Kak aku mengantuk, aku tidur dulu ya?"
Miko menggelengkan kepala heran . "Terserahlah." Kata Miko.
Seorang office boy mengetuk pintu lalu menyerahkan koper. Mereka kembali pergi setelah Miko dan Dara memeriksa isi kopernya.
"Thanks you very much, you goth it right. This is mi suitcase." Kata Miko dengan bahasa Inggris karena Miko tak bisa bahasa Turki.
"Thanks you sir, Contact my if you need help." ujar office boy lalu membungkukkan punggungnya dan pergi.
Setelah office boy pergi Miko pergi ke kamar mandi. Selesai mandi Miko mengeringkan tubuhnya, dia mendekati Dara yang belum juga mau mandi.
"Mandilah, tubuhmu akan segar kembali, dan kita jalan-jalan." Kata Miko sambil menggigit mesra telinga Dara.
"Ih Kakak, geli." Kata Dara sambil memukul Miko dengan bantal dengan warna putih bersih.
Miko tak menghiraukan pukulan Dara. Ia bahkan memeluk tubuh Dara, sambil tangan jahilnya terus menggelitik.
"Oke, oke, Dara akan mandi. Tapi tolong lepaskan tangan Kakak" Dara berteriak sambil tertawa geli.
Miko yang hanya mengenakan handuk putih sebatas perut, mengangkat tubuh Dara ala bridal style menuju ke kamar mandi.
Dara mulai tak bergerak dalam dekapan Miko, gadis itu takut menjatuhkan benda yang hanya menempel di pinggang itu.
Miko menjatuhkan tubuh Dara di dalam bathup, Dara menatap Miko dengan tatapan sayu. dengan bibir yang telah basah. Bibir basah itu sangat menggoda. Namun Miko ingin memulai permainannya di tempat yang istimewa, bukan di sebuah bathup.
Usai mandi Dara duduk di gazebo yang dilengkapi dengan bantal dan tirai berwarna putih, menikmati embusan udara Istanbul yang lebih hangat dari negara asalnya. Ribuan burung di sekitar laut Marmara beterbangan dengan cantiknya, menambah keelokan kota Istanbul.
Miko tiba-tiba datang dari arah belakang membawa dua minuman dalam gelas. Minuman berwarna putih yang tak pernah ia minum sebelumnya.
Gelas berkaki satu dengan ukuran kecil itu terlihat menggiurkan, Miko menyerahkan satu gelas pada Dara lalu mereka bersulang. "Bagaimana? apakah kamu senang berada disini?"
"Dimanapun aku suka, asal itu denganmu, Kak." Kata Dara.
Dara mulai meneguk minuman yang sangat nikmat terasa dilidahnya, sedikit demi sedikit, minuman dalam gelas ramping itu akhirnya tandas juga di perutnya.
Tiba tiba Miko dengan sengaja menumpahkan minuman miliknya ke tubuh Dara. Dara kaget melihat minuman Miko mengenai dadanya dan serasa mengalir ke bagian tubuh lainnya.
"Kak!" Pekik Dara.
__ADS_1
Miko hanya membalas teriakan Dara dengan senyum nakalnya.
*happy reading.